Mooneta High School

Mooneta High School
About You


__ADS_3

Chanwo memutuskan untuk duduk si samping gadis ini. Sepertinya mereka berdua perlu beberapa waktu pribadi untuk mengatasi stress setelah perang hebat ini usai. Jauh daari keramaian dan hanya ada diri mereka sendiri, itu sudah jauh lebih dari sekedar cukup. Chanwo menyandarkan kepalanya ke salah satu sisi dinding menara, sambil menatap kosong langit-langit di atasnya.


“Kelihatannya tempat ini sangat tak terawat ” ujar Chanwo secara gamblang.


Nhea lantas segera mengalihkan pandangannya ke arah pria ini. Yang ia maksud dengan tak terawatt adalah menara pengawas ini. Karena hanya tempat inilah satu-satunya tempat yang dirasa paling terpencil dan jarang terjamah oleh para pemiliknya.


“Lihat saja begitu banyak tanaman merambat yang tumbuh dengan sesuka hatinya di sini,” ucap Chanwo yang masih terus memberikan komentar tentang apa yang baru saja ia lihat itu.


“Bagaimana bisa mereka membiarkan semua ini terjadi?” lanjutnya.


“Kurasa mereka memang sengaja melakukannya. Entah untuk memperkuat nuansa mistik sekolah ini, atau memang untuk menyembunyikan keberadaan menara. Setahuku ini adalah tempat yang cukup rahasia karena ini digunakan sebagai tempat untuk mengintai musuh. Jadi ku pikir wajar saja jika mereka membiarkan tanaman liar ini untuk tetap berada di sini, tanpa menganggapnya sebagai sebuah parasit,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Ku rasa mereka memang tak peduli dengan tempat ini. Padahal masih banyak hal lain yang jauh lebih layak utnuk merahasiakan tempat ini,” protes Chanwo tak puas.


“Lagipula sekolah ini memang sangat ketinggalan zaman bukan? Mereka mengisolir diri dari dunia modern yang sedang berlangsung saat ini,” ujar Nhea dengan santainya.


“Apa kau merendahkan sekolahmu sendiri?” tanya Chanwo terkejut.


“Memang seperti itu kenyataannya, yang realistis saja,” balas gadis itu, acuh tak acuh.


Chanwo menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tak habis pikir dengan perilaku gadis ini barusan. Bagaimana bisa dia menjelek-jelekkan nama sekolahnya sendiri. Tapi ia rasa mungkin Nhea juga tak pernah terlalu bersemangat untuk membanggakan sekolah ini. Gadis ini benar-benar sangat sulit untuk ditebak apa maunya.


“Sudahlah! Kenapa kita harus mempermasalahkan soal menara ini,” ucap Nhea sambil mendengus kesal.

__ADS_1


“Kau benar,” balasnya setuju.


Chanwo mencuri pandang beberapa kali ke arah lapangan, untuk melihat bagaimana situasi di sana. Semua siswa terlihat kebingungan hrus bereaksi bagaimana atas berakhirnya semua ini. Di satu si mereka tentu saja mereka mereasa senang karena bisa terbebas dari ketakutan terbesar yang terus menghantui mereka selama ini. Namun, di sisi lain sepertinya tidak begitu menyenangkan untuk Ga Eun.


Pada akhirnya semua cerita yang pernah dimulai, harus di akhiri juga. Entah kita sudah siap atau bahkan belum sama sekali. Sama seperti saat pertama kali ia datang, tak pernah ada seorangpun yang siap akan hal itu. Tapi semuanya harus terjadi dan mengalir begitu saja dengan takdir sebagai penggerak utamanya.


Namun, siapa kira jika sebuah cerita harus berakhir seperti ini. Penghabisan tragis yang sangat miris, membuat hati setiap ornag yang tak sengaja melihatnnya menjadi begitu teriris. Tapi kembali lagi kepada prinsip dasarnya jika semua cerita harus berakhir, meski tak semuanya sama seperti apa yang kita inginkan. Pilihannya hanya ada dua, antara bahagia atau menyedihkan.


“Apakah aku harus menceritakan tentang siapa diriku?” tanya Chanwo dengan ragu-ragu.


Gadis yang duduk di sebelahnya itu lantas menoleh sekilas, sebelum akhirnya kembali menatap kosong lantai ubin.


“Hal itu memang perlu untuk pertemuan pertama seperti ini,” balas Nhea.


“Tapi tak apa jika kau keberatan. Aku tak akan pernah memaksanya,” lanjutnya.


“Baguslah kalau begitu,” balas Nhea.


Pria itu terlihat menarik napasnya dalam-dalam sebelum memulai untuk berbicara. Sepertinya ia cukup gugup untuk melakukannya, meskipun pada awalnya ia sempat yakin sesaat. Tapi, kini ia kembali untuk memberanikan dirinya lagi.


“Kau masih ingat soal kisah batu rubi yang pernah kau dengar sewaktu di kelas?” tanya Chanwo basa-basi.


Gadis yang menjadi satu-satunya lawan bicaranya saat itu hanya mengangguk lemah. Ia tak banyak bicara, karena tujuan utamanya hanya ingin mendengarkan cerita dari Chanwo.

__ADS_1


“Rubi itu terpecah menjadi beberapa bagian dan terpental kesegala arah,” lanjutnya.


“Kaum kami cukup beruntung karena telah mendapatkan dua serpihan rubi itu secara sekaligus di waktu yang bersamaan. Banyak orang yang menginginkan benda itu, tapi kami adalah orang beruntung. Tak ada seorangpun yang ingin masuk ke sana untuk sekedar mengambil kembali rubi itu. Tempat itu terlalu menakutkan bagi mereka, bahkan bagiku juga,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Dua?” tanya Nhea.


“Itu artinya kau masih memiliki yang satunya lagi, bukan?” lanjutnya.


Kini giliran Chanwo yang mengangguk, untuk megiyakan perkataan gadis itu.


“Sejujurnya aku tak terlalu hapal dengan nama-nama daerah tempat serpihan rubi itu berada sekarang. Jadi jika kau memiliki batu rubi itu, maka artinya seharusnya kau berasal dari salah satu daerah itu,” ujar Nhea dengan sikap kritisnya yang mendadak muncul.


“Aku tak terlalu yakin untuk memberitahumu soal ini, tapi bagaimanapun di awal tadi aku sduah berjanji akan memberitahu semuanya,” jelas Chanwo sembari menghela napas.


“Aku, wanita itu tadi dan semua orang-orang misterius itu berasal dari utara,” ungkapnya secara blak-blakan.


Kedua bola mata gadis ini membulat dengan sempurna saat Chanwo memberitahu hal itu kepadanya. Kata utara  saja sudah cukup untuk menjadi sebuah petunjuk baginya. Satu-satunya daerah di bagian utara yang menjadi tempat pendaratan kasar dari batu rubi itu adalah hutan kegelapan. Semua orang di sini tahu betul jika hutan itu adalah tempat terkutuk dan merupakan tempat tinggal bagi ribuan bahkan juttaan mahluk aneh.


Nhea memang tak tahu terlalu banyak soal tempat itu. Tapi , ia sempat mendengar beberapa cerita soal kengerian hutan yang satu itu. Sampai saat ini tak ada seorangpun yang berani menginjakkan kakinya di sana. Jika tidak salah yang menghuni tempat itu adalah kaum kegelapan yang terdiri atas dua klan bagian, yaitu klan bayangan dan para vampir.


Gadis itu sontak bergerak mundur beberapa langkah, saat ia tahu jika yang ia hadapi saat ini adalah sebuah ancaman besar. Ia tak pernah menduga jika dirinya akan bertemu secara langsung dengan salah seorang dari mereka.


“Jadi, apa kau pemimpin mereka?”

__ADS_1


Tiba-tiba saja pertanyaan yang sempat ia lontarkan itu, kembali terngiang dengan jelas di kepalanya. Seolah mengingatkannya jika bahaya sedang mengancam dan mengingatkannya kembali jika Chanwo merupakan pemimpin dari kaum kegelapan itu.


Di saat yang bersamaan, ketika Nhea memilih menghindar darinya, Chanwo dengan sigap berhasil meraih salah satu pergelangan tangan gadis ini. Sontak Nhea semakin ketakutan tak menentu saat semuanya mulai terasa jelas seperti saat ini.


__ADS_2