Mooneta High School

Mooneta High School
Hold On


__ADS_3

Sejak tadi perhatian gadis itu hanya tertuju kepada Chanwo.


Ia terus memperhatikannya dengan seksama. Mendengar setiap kisah yang


disampaikan oleh pria itu. Terlepas apakah kisah tersebut benar adanya, atau


hanya mengada-ada. Untuk saat ini ia tidak menghiraukan hal tersebut sama


sekali.


“Karena kau sudah tahu latar belakang ayahmu, maka aku yakin


jika kau pasti paham kenapa bisa memiliki darah berbeda di dalam tubuh yang


sama,” ujar pria itu dengan penuh kesabaran.


“Tapi, bukankah itu berarti aku hanya memiliki dua darah


berbeda?” tanya Nhea untuk memastikan.


“Darah manusia dan juga dari klan bayangan yang diwariskan


kepadaku,” jelasnya kemudian.


Mendengar pernyataan tersebut, Chanwo hanya bisa


menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir. Berhadapan dengan gadis


yang satu ini memang memerlukan kesabaran. Terkhusunya pada situasi tertentu


yang mengharuskan dirimua untuk meningkatan level kesabaran.


“Apa kau melupakan kecerobohan yang sempat kau lakukan tepat


sebelum serangan musim dingin Ify?” tanya Chanwo sambil menahan emosinya.


Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Sama sekali tidak


ada jawaban dari gadis itu. Sepertinya ia masih sibuk berkutat dengan


pikirannya sendiri. Tapi, hasilnya tetap saja nihil. Karena Nhea masih belum


menemukan jawabannya juga. Pada akhirnya ia menyerah. Akan terasa jauh lebih


mudah jika ia mendengarkan jawabannya langsung dari Chanwo, daripada harus


dipaksa untuk berpikir pada pukul tiga dini hari seperti ini.


“Kalau kau masih tidak ingat juga, biar kuingatkan pada satu


hal,” ucap Chanwo.


“Karena ide konyolmu untuk membangun portal pertahanan, maka


kau sempat tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Suhu tubuhmu menurun,


bahkan nyaris tak tertolong,” celoteh pria itu dengan panjang lebar.


Alih-alih menjelaskan, perkataan pria itu tadi malah


terdengar seperti sebuah sindiran halus bagi Nhea. Chanwo pasti sengaja


menujukan kalimat sarkas tersebut kepadanya.


“Tapi, setidaknya hal itu berhasil menyelamatkan kita,”


cicit Nhea yang diam-diam memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri.


Ucapan Nhea tetap saja terdengar sampai ke telinga pria itu.


Padahal volume suaranya sudah pada level paling rendah yang ia bisa. Bahkan


terdengar jauh lebih pelan dari sekedar berbisik. Chanwo yang mendengar kalimat

__ADS_1


tersebut hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Sebenarnya ia tidak


ingin membahas tentang itu lagi. Namun untuk membuat Nhea mengerti, ia perlu menyinggung


sedikit soal peristiwa kelam beberapa saat lalu.


“Kuharap kau tidak lupa jika aku yang menoolongmu lebih dulu


pada saat itu. Jauh sebelum kedua orang tuamu datang dan memberikan pertolongan


lain,” ucapnya dengan penuh harap.


“Apa itu berarti ada hubungannya dengan bekas gigitan di


leherku pada saat itu?” tanya Nhea dengan penuh rasa curiga.


“Ternyata ingatanmu cukup kuat,” puji Chanwo.


Sekarang Nhea mulai paham. Ternyata jawaban dari pertanyaan


beberapa waktu lalu telah ia temukan sekarang. Beberapa hal memang tidak bisa


dijelaskan secara langsung. Atau bahkan malah ada yang tidak bisa dijelaskan


sama sekali.


“Aku mengambil sebagian darah manusia di dalam tubuhmu dan


menukarnya dengan darah dari klan vampir,” beber Chanwo.


“Hanya dengan itu kau bisa bertahan. Karena darah dari klan


vampir terkenal memiliki daya imun yang cukup kuat. Paling tidak kau akan


bertahan hingga beberapa hari ke depan,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Aku juga sengaja menyisakan darah manusia sedikit di dalam


tubuhmu, agar kau bisa hidup sebagai manusia normal pada umumnya. Aku yakin


timpal ptia itu kemudian.


Penjelasan Chanwo tadi terasa bgitu mengejutkan baginya. Ternyata


selama ini ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui. Bukan tentang orang


lain kali ini. Melainkan tentang dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melewatkan


hal penting tersebut.


Jika Chanwo tidak datang kemari untuk mencari Nhea, kemudian


mereka duduk bersama, mungkin Nhea tidak akan pernah mengetahui rahasia


tersebut.


Ketika Nhea sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri,


secara mendadak pria itu meraih tangannya. Sontak Nhea langsung terkesiap.


“Oleh sebab itu, jangan pernah terluka lagi. Atau kau akan


kehilangan darah warisan ibumu sepenuhnya,” pesan Chanwo di akhir kalimat.


Untuk beberapa menit di awal, Nhea masih tetap bergeming. Kali


ini bukan karena ia tidak mengerti apa yang sedang dimaksud oleh pria itu. Melainkan,


karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


“Kenapa harus darah manusia yang dikorbankan setiap kali aku


terluka?” tanya Nhea.

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu kenapa, tapi memang begitu prinsipnya,”


jawab Chanwo dengan apa adanya.


Ia tidak menutupi apa pun dari gadis itu. Chanwo sudah


berkata yang sejujurnya. Semoga Nhea juga percaya. Kali ini Chanwo benar-benar


tidak tahu. Ia hanya menyampaikan apa yang berada di dalam jangkauan


pengetahuannya saja.


“Kalau begitu, kembali lah ke asrama. Aku yakin jika


sebentar lagi Jongdae akan berkeliling untuk memeriksa kamar kalian,” titah


Nhea sekaligus mengingatkan di saat yang bersamaan.


Sudah lebih dari empat puluh menit mereka bercengkrama di


sini. Sebentar lagi matahari akan segera terbit dari ufuk timur. Itu artinya,


hari baru akan segera dimulai. Bagaimana bisa waktu begitu cepat berlalu. Nhea


bahkan belum sempat tidur. Tapi, anehnya bagaimana bisa ia tidak merasakan


kantuk sedikit pun. Padahal ia terjaga semalaman.


“Aku pergi dulu kalau begitu,” pamit Chanwo.


“Jika kau keluar lewat jendela, maka itu akan terasa jauh


lebih aman,” usul gadis itu yang kemudian diiyakan oleh Chanwo.


“Jangan beri tahu siapa pun jika aku berada di sini


sekarang,” pesan Nhea yang terakhir kalinya sebelum pria itu pergi.


Chanwo hanya membalasnya dengan senyuman tipis, sambil


berkata, “Sebenarnya ayahmu juga tahu jika kau di sini. Cara kami menemukanmu


sama. Hanya saja, ia memilih untuk pura-pura tidak tahu.”


“Wilson ingin memberikanku ruang dan waktu untuk berdamai


dengan dirimu sendiri,” tambahnya kemudian.


“Jadi, tidak perlu merasa cemas. Kembalilah jika kau sudah


merasa baik-baik saja,” pesan Chanwo untuk yang terakhir kalinya sebelum


benar-benar pergi.


Selayaknya seorang vampir pada umumnya, ia mmemanjat


pilar-pilar bangunan dengan begitu handal. Sebelum pada akhirnya kembali masuk


ke kamar asrama melalui jendela juga. Sepertinya mereka akan lebih sering


menggunakan jendela setelahnya. Itu adalah satu-satunya akses paling aman untuk


bepergian ke berbagai tempat di saat yang tidak terlalu tepat.


Tepat setelah punggung pria itu menghilang dari hadapannya,


Nhea kembali menutup kaca jendela tersebut. Sekali lagi, tidak boleh ada


seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Meski sekarang Chanwo sudah tahu. Dan


kabarnya Wilson juga.


Tapi, Nhea percaya kepada mereka

__ADS_1


berdua. Baik Chanwo maupun Wilson tidak akan membocorkan informasi tersebut


kepada siapa pun. Mereka begitu menghargai privasi Nhea.


__ADS_2