
Sejak tadi perhatian gadis itu hanya tertuju kepada Chanwo.
Ia terus memperhatikannya dengan seksama. Mendengar setiap kisah yang
disampaikan oleh pria itu. Terlepas apakah kisah tersebut benar adanya, atau
hanya mengada-ada. Untuk saat ini ia tidak menghiraukan hal tersebut sama
sekali.
“Karena kau sudah tahu latar belakang ayahmu, maka aku yakin
jika kau pasti paham kenapa bisa memiliki darah berbeda di dalam tubuh yang
sama,” ujar pria itu dengan penuh kesabaran.
“Tapi, bukankah itu berarti aku hanya memiliki dua darah
berbeda?” tanya Nhea untuk memastikan.
“Darah manusia dan juga dari klan bayangan yang diwariskan
kepadaku,” jelasnya kemudian.
Mendengar pernyataan tersebut, Chanwo hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir. Berhadapan dengan gadis
yang satu ini memang memerlukan kesabaran. Terkhusunya pada situasi tertentu
yang mengharuskan dirimua untuk meningkatan level kesabaran.
“Apa kau melupakan kecerobohan yang sempat kau lakukan tepat
sebelum serangan musim dingin Ify?” tanya Chanwo sambil menahan emosinya.
Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Sama sekali tidak
ada jawaban dari gadis itu. Sepertinya ia masih sibuk berkutat dengan
pikirannya sendiri. Tapi, hasilnya tetap saja nihil. Karena Nhea masih belum
menemukan jawabannya juga. Pada akhirnya ia menyerah. Akan terasa jauh lebih
mudah jika ia mendengarkan jawabannya langsung dari Chanwo, daripada harus
dipaksa untuk berpikir pada pukul tiga dini hari seperti ini.
“Kalau kau masih tidak ingat juga, biar kuingatkan pada satu
hal,” ucap Chanwo.
“Karena ide konyolmu untuk membangun portal pertahanan, maka
kau sempat tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Suhu tubuhmu menurun,
bahkan nyaris tak tertolong,” celoteh pria itu dengan panjang lebar.
Alih-alih menjelaskan, perkataan pria itu tadi malah
terdengar seperti sebuah sindiran halus bagi Nhea. Chanwo pasti sengaja
menujukan kalimat sarkas tersebut kepadanya.
“Tapi, setidaknya hal itu berhasil menyelamatkan kita,”
cicit Nhea yang diam-diam memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri.
Ucapan Nhea tetap saja terdengar sampai ke telinga pria itu.
Padahal volume suaranya sudah pada level paling rendah yang ia bisa. Bahkan
terdengar jauh lebih pelan dari sekedar berbisik. Chanwo yang mendengar kalimat
__ADS_1
tersebut hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Sebenarnya ia tidak
ingin membahas tentang itu lagi. Namun untuk membuat Nhea mengerti, ia perlu menyinggung
sedikit soal peristiwa kelam beberapa saat lalu.
“Kuharap kau tidak lupa jika aku yang menoolongmu lebih dulu
pada saat itu. Jauh sebelum kedua orang tuamu datang dan memberikan pertolongan
lain,” ucapnya dengan penuh harap.
“Apa itu berarti ada hubungannya dengan bekas gigitan di
leherku pada saat itu?” tanya Nhea dengan penuh rasa curiga.
“Ternyata ingatanmu cukup kuat,” puji Chanwo.
Sekarang Nhea mulai paham. Ternyata jawaban dari pertanyaan
beberapa waktu lalu telah ia temukan sekarang. Beberapa hal memang tidak bisa
dijelaskan secara langsung. Atau bahkan malah ada yang tidak bisa dijelaskan
sama sekali.
“Aku mengambil sebagian darah manusia di dalam tubuhmu dan
menukarnya dengan darah dari klan vampir,” beber Chanwo.
“Hanya dengan itu kau bisa bertahan. Karena darah dari klan
vampir terkenal memiliki daya imun yang cukup kuat. Paling tidak kau akan
bertahan hingga beberapa hari ke depan,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Aku juga sengaja menyisakan darah manusia sedikit di dalam
tubuhmu, agar kau bisa hidup sebagai manusia normal pada umumnya. Aku yakin
timpal ptia itu kemudian.
Penjelasan Chanwo tadi terasa bgitu mengejutkan baginya. Ternyata
selama ini ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui. Bukan tentang orang
lain kali ini. Melainkan tentang dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melewatkan
hal penting tersebut.
Jika Chanwo tidak datang kemari untuk mencari Nhea, kemudian
mereka duduk bersama, mungkin Nhea tidak akan pernah mengetahui rahasia
tersebut.
Ketika Nhea sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri,
secara mendadak pria itu meraih tangannya. Sontak Nhea langsung terkesiap.
“Oleh sebab itu, jangan pernah terluka lagi. Atau kau akan
kehilangan darah warisan ibumu sepenuhnya,” pesan Chanwo di akhir kalimat.
Untuk beberapa menit di awal, Nhea masih tetap bergeming. Kali
ini bukan karena ia tidak mengerti apa yang sedang dimaksud oleh pria itu. Melainkan,
karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Kenapa harus darah manusia yang dikorbankan setiap kali aku
terluka?” tanya Nhea.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu kenapa, tapi memang begitu prinsipnya,”
jawab Chanwo dengan apa adanya.
Ia tidak menutupi apa pun dari gadis itu. Chanwo sudah
berkata yang sejujurnya. Semoga Nhea juga percaya. Kali ini Chanwo benar-benar
tidak tahu. Ia hanya menyampaikan apa yang berada di dalam jangkauan
pengetahuannya saja.
“Kalau begitu, kembali lah ke asrama. Aku yakin jika
sebentar lagi Jongdae akan berkeliling untuk memeriksa kamar kalian,” titah
Nhea sekaligus mengingatkan di saat yang bersamaan.
Sudah lebih dari empat puluh menit mereka bercengkrama di
sini. Sebentar lagi matahari akan segera terbit dari ufuk timur. Itu artinya,
hari baru akan segera dimulai. Bagaimana bisa waktu begitu cepat berlalu. Nhea
bahkan belum sempat tidur. Tapi, anehnya bagaimana bisa ia tidak merasakan
kantuk sedikit pun. Padahal ia terjaga semalaman.
“Aku pergi dulu kalau begitu,” pamit Chanwo.
“Jika kau keluar lewat jendela, maka itu akan terasa jauh
lebih aman,” usul gadis itu yang kemudian diiyakan oleh Chanwo.
“Jangan beri tahu siapa pun jika aku berada di sini
sekarang,” pesan Nhea yang terakhir kalinya sebelum pria itu pergi.
Chanwo hanya membalasnya dengan senyuman tipis, sambil
berkata, “Sebenarnya ayahmu juga tahu jika kau di sini. Cara kami menemukanmu
sama. Hanya saja, ia memilih untuk pura-pura tidak tahu.”
“Wilson ingin memberikanku ruang dan waktu untuk berdamai
dengan dirimu sendiri,” tambahnya kemudian.
“Jadi, tidak perlu merasa cemas. Kembalilah jika kau sudah
merasa baik-baik saja,” pesan Chanwo untuk yang terakhir kalinya sebelum
benar-benar pergi.
Selayaknya seorang vampir pada umumnya, ia mmemanjat
pilar-pilar bangunan dengan begitu handal. Sebelum pada akhirnya kembali masuk
ke kamar asrama melalui jendela juga. Sepertinya mereka akan lebih sering
menggunakan jendela setelahnya. Itu adalah satu-satunya akses paling aman untuk
bepergian ke berbagai tempat di saat yang tidak terlalu tepat.
Tepat setelah punggung pria itu menghilang dari hadapannya,
Nhea kembali menutup kaca jendela tersebut. Sekali lagi, tidak boleh ada
seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Meski sekarang Chanwo sudah tahu. Dan
kabarnya Wilson juga.
Tapi, Nhea percaya kepada mereka
__ADS_1
berdua. Baik Chanwo maupun Wilson tidak akan membocorkan informasi tersebut
kepada siapa pun. Mereka begitu menghargai privasi Nhea.