
Eun Ji Hae tidak ingin ambil pusing soal masalah Bibi Ga Eun
tadi. Mungkin wanita itu memang sedang terbawa suasana saja. Selain itu dia
pasti sedang sedih. Belakangan ini situasinya memang sedang tidak baik-baik
saja. tidak mudah bagi mereka untuk melewati semuanya dengan begitu saja.
Beberapa hari terakhir memang banyak menguras tenaga dan pikiran mereka.
Membuat semua orang kelelahan dan kewalahan untuk menghadapinya. Tapi mau tak
mau, mereka memang harus tetap melewati hal tersebut. Ini adalah sesuatu yang
disebut sebagai sebuah proses.
Berproses memang bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan.
Pasti ada saja tantangannya. Namun dari sana kita bisa belajar, jika tidak
semua hal yang kita inginkan akan tercapai dengan mudah, dibutuhkan yang namanya
perjuangan dan kerja keras. Tentu saja harus berusaha juga. Semuanya harus
dilakukan dalam porsinya masing-masing agar tetap seimbang. Karena sesuatu yang
berlebihan itu tidak baik pada prinsip dasarnya.
Bahkan hal terkecil yang ada di muka bumi ini pun, memiliki
prosesnya sendiri. Meski tidak terlalu dianggap penting dan memiliki dampak
besar terhadap sekitarnya, ia tetap melakukan sebuah proses. Karena pada
dasarnya, semua hal yang ada di alam semesta memang selalu bergerak untuk
menuju suatu perubahan.
Semesta sudah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa.
Mahluk hidup yang berada di dunia ini hanya berwenang untuk menjalani semua hal
yang sudah diaturkan itu. Tidak peduli apakah hal it sesuai atau malah
bertentangan dengan batinnya sendiri. Ia tetap harus melakukan hal itu.
Eun Ji Hae berencana untuk tidak kemana-mana. Ia hanya bosan
jika harus berada di dala mkamar seharian penuh. Eun Ji Hae tidak biasa untuk
melakukan hal tersebut. Namun, bukan berarti ia akan keluar dan melanggar
peraturan yang sedang berlaku saat ini. Gadis itu cukup taat peraturan. Jadi,
kemungkinan besar ia memang tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Lagi
pula ia termasuk seorang gadis yang cerdas. Semua orang tahu sedang seperti apa
situasi di luar sana. Ia tidak mungkin bertindak sembrono dan makah
membahayakan dirinya sendiri. Eun Ji Hae pasti berpikir panjang, atau
setidaknya berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut. Dia tidak sebodoh
dan sekonyol itu. Lagi pula untuk apa ia bersusah payah membahayakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Eun Ji Hae telah memutuskan untuk berkeliling sekolah saja
sambil mencari udara segar. Ia akan tetap berada di dalam ruangan ini. Tidak
akan keluar sampai situasinya kondusif. Meski sebenarnya ia tidak tahu pasti
kapan semuanya akan berangsur membaik. Sampai saat ini sama sekali tidak ada
tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut. Malah sebaliknya. Situasi terlihat
semakin memburuk.
Semua orang tentunya berharap yang terbaik. Begitu pula
dengan Eun Ji Hae. Dia selalu mengusahakan yang terbaik yang ia bisa untuk
mempertahankan sekolah ini. Meskipun tak jarang jika ia mendapatkan perlakuan
yang baginya terasa kurang adil. Terutama kepada Bibi Ga Eun. Hal yang paling
membekas di dalam ingatannya sampai saat ini adalah tentang kutukan phoenix.
Eun Ji He bahkan masih mengingat tiap detik kejadiannya waktu itu. Dia tidak
akan melupakannya dengan mudah. Pasalnya, hal tersbut masih membekas di dalam
ingatan Eun Ji Hae.
Gadis itu sudah sampai di lantai paling bawah. Sepanjang ia
menyusuri lorong sejak tadi, sama sekali tidak ada satupun pintu atau jendela
yang terbuka. Apalagi jendela yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar.
Eun Ji Hae mengamati sekitarnya yangmasih terlihat begitu
berdiam diri di adalam kamarnya masing-masing sambil menunggu aba-aba untuk
menyelamatkan diri. Atau malah sebagian sudah pasrah jika kali ini dirinya akan
berakhir di tempat ini.
“Hei!” sapa seseorang sambil menepuk pelan pundah gadis ini.
Eun Ji Hae sontak terkejut. Fokusnya yang semula mengarah
kepada pemandangan mengerikan yang ada di luar sana, kini terlihkan ke arah
sumber suara. Jantung gadis itu rasanya hampir copot. Ia terus memegangi
dadanya sejak tadi. Tempo detak jantungnya melesat naik secara tiba-tiba. Beruntung
Eun Ji Hae tidak pingsan di tempat pada saat itu.
Eun Ji Hae mengambil jeda sebentar untuk menenangkan
dirinya. Sembari mengatur napasnya yang ikut memburu seiring dengan detak
jantungnya yang kian berpacu. Setelah merasa jauh lebih baik, Eun Ji Hae
kembali menegakkan badannya menghadap gadis itu. Coba tebak siapa yang datang
kali ini. Bukan Choi Ara, Bibi Ga Eun atau pun ibu dan ayahnya. Tetap Nhea yang
merupakan adik tirinya.
__ADS_1
Padahal gadis itu sama sekali tidak berniat untuk
mengejutkan Eun Ji Hae sama sekali. Tapi ternyata kedatangannya malah membuat
jantung gadis yang beberapa tahun lebih
tua darinya itu nyaris pingsan. Dengan perasaan yang tidak enak, Nhea
berinisiatif untuk langsung meminta maaf kepada Eun Ji Hae. Bagaimana pun juga
ini tetap kesalahannya. Meskipun Nhea telah melakukannya secara tidak sengaja. Yang
namanya salah tetap saja salah. Dan ia harus meminta maaf. Tidak ada kata tawar
menawar di sini. Itu adalah sebuah hal kecil yang ditanamkan oleh Bibi Ga Eun
sewaktu mengasuhnya dulu. Wanita itu berhasil menggantikan posisi Wilson dan
Vallery dengan sangat sempurna. Ia telah menjadi pengganti yang tepat bagi
Nhea.
“Ada perlu apa denganku?!” tanya Eun Ji Hae dengan nada bicara
yang terkesan ketus.
“A-aa-aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu,” jawab
gadis itu dengan ragu.
Suaranya sempat terputus-putus karena gugup. Namun Eun Ji Hae
masih bisa menangkap maksud dari perkataannya barusan dengan jelas. Ini adalah pertama
kalinya bagi Nhea untuk berbicara secara langsung dengan Eun Ji Hae. Seisi sekolah
menyeganinya. Termasuk gadis ini sekali pun. Tidak peduli meski sebenarnya Nhea
dengan Eun Ji Hae masih memiliki hubungan kekerabatan secara tidak langsung. Auranya
terlihat begitu mencekam jika dilihat dari jarak sedekat ini. Siapapun yang
berada di sekitar Eun Ji Hae pasti akan langsung merasa terintimidasi. Karena sejujurnya,
energi Eun Ji Hae jauh lebih mendominasi saat ini. Entah dengan situasi yang
lain. Tapi yang jelas, itu adalah apa yang Nhea rasakan saat ini.
“Mau bicara soal apa?” tanya Eun Ji Hae yang mulai
terpancing rasa penasarannya.
“Bisakah kita pergi ke suatu tempat terlebih dahulu dan
membicarakannya empat mata?” usul Nhea.
Eun Ji Hae tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya
tersebut. Melainkan diam sejenak untuk mengambil keputusan. Sampai akhirnya ia
menyetujui permintaan gadis itu. Nhea mengajak Eun Ji Hae untuk pergi ke sebuah
ruangan kelas yang tak jauh dari sana. Kebanyakan fasilitas umum sekolah ini
memang sedang kosong dan tak berpenghuni sama sekali. Pasalnya, mereka semua
__ADS_1
dengan berada di kamarnya masing-masing untuk saat ini sampai waktu yang tidak
ditentukan.