Mooneta High School

Mooneta High School
First Meeting


__ADS_3

Eun Ji Hae tidak ingin ambil pusing soal masalah Bibi Ga Eun


tadi. Mungkin wanita itu memang sedang terbawa suasana saja. Selain itu dia


pasti sedang sedih. Belakangan ini situasinya memang sedang tidak baik-baik


saja. tidak mudah bagi mereka untuk melewati semuanya dengan begitu saja.


Beberapa hari terakhir memang banyak menguras tenaga dan pikiran mereka.


Membuat semua orang kelelahan dan kewalahan untuk menghadapinya. Tapi mau tak


mau, mereka memang harus tetap melewati hal tersebut. Ini adalah sesuatu yang


disebut sebagai sebuah proses.


Berproses memang bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan.


Pasti ada saja tantangannya. Namun dari sana kita bisa belajar, jika tidak


semua hal yang kita inginkan akan tercapai dengan mudah, dibutuhkan yang namanya


perjuangan dan kerja keras. Tentu saja harus berusaha juga. Semuanya harus


dilakukan dalam porsinya masing-masing agar tetap seimbang. Karena sesuatu yang


berlebihan itu tidak baik pada prinsip dasarnya.


Bahkan hal terkecil yang ada di muka bumi ini pun, memiliki


prosesnya sendiri. Meski tidak terlalu dianggap penting dan memiliki dampak


besar terhadap sekitarnya, ia tetap melakukan sebuah proses. Karena pada


dasarnya, semua hal yang ada di alam semesta memang selalu bergerak untuk


menuju suatu perubahan.


Semesta sudah mengatur semuanya dengan sedemikian rupa.


Mahluk hidup yang berada di dunia ini hanya berwenang untuk menjalani semua hal


yang sudah diaturkan itu. Tidak peduli apakah hal it sesuai atau malah


bertentangan dengan batinnya sendiri. Ia tetap harus melakukan hal itu.


Eun Ji Hae berencana untuk tidak kemana-mana. Ia hanya bosan


jika harus berada di dala mkamar seharian penuh. Eun Ji Hae tidak biasa untuk


melakukan hal tersebut. Namun, bukan berarti ia akan keluar dan melanggar


peraturan yang sedang berlaku saat ini. Gadis itu cukup taat peraturan. Jadi,


kemungkinan besar ia memang tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Lagi


pula ia termasuk seorang gadis yang cerdas. Semua orang tahu sedang seperti apa


situasi di luar sana. Ia tidak mungkin bertindak sembrono dan makah


membahayakan dirinya sendiri. Eun Ji Hae pasti berpikir panjang, atau


setidaknya berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut. Dia tidak sebodoh


dan sekonyol itu. Lagi pula untuk apa ia bersusah payah membahayakan dirinya sendiri.

__ADS_1


Eun Ji Hae telah memutuskan untuk berkeliling sekolah saja


sambil mencari udara segar. Ia akan tetap berada di dalam ruangan ini. Tidak


akan keluar sampai situasinya kondusif. Meski sebenarnya ia tidak tahu pasti


kapan semuanya akan berangsur membaik. Sampai saat ini sama sekali tidak ada


tanda-tanda yang menunjukkan hal tersebut. Malah sebaliknya. Situasi terlihat


semakin memburuk.


Semua orang tentunya berharap yang terbaik. Begitu pula


dengan Eun Ji Hae. Dia selalu mengusahakan yang terbaik yang ia bisa untuk


mempertahankan sekolah ini. Meskipun tak jarang jika ia mendapatkan perlakuan


yang baginya terasa kurang adil. Terutama kepada Bibi Ga Eun. Hal yang paling


membekas di dalam ingatannya sampai saat ini adalah tentang kutukan phoenix.


Eun Ji He bahkan masih mengingat tiap detik kejadiannya waktu itu. Dia tidak


akan melupakannya dengan mudah. Pasalnya, hal tersbut masih membekas di dalam


ingatan Eun Ji Hae.


Gadis itu sudah sampai di lantai paling bawah. Sepanjang ia


menyusuri lorong sejak tadi, sama sekali tidak ada satupun pintu atau jendela


yang terbuka. Apalagi jendela yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar.


Eun Ji Hae mengamati sekitarnya yangmasih terlihat begitu


berdiam diri di adalam kamarnya masing-masing sambil menunggu aba-aba untuk


menyelamatkan diri. Atau malah sebagian sudah pasrah jika kali ini dirinya akan


berakhir di tempat ini.


“Hei!” sapa seseorang sambil menepuk pelan pundah gadis ini.


Eun Ji Hae sontak terkejut. Fokusnya yang semula mengarah


kepada pemandangan mengerikan yang ada di luar sana, kini terlihkan ke arah


sumber suara. Jantung gadis itu rasanya hampir copot. Ia terus memegangi


dadanya sejak tadi. Tempo detak jantungnya melesat naik secara tiba-tiba. Beruntung


Eun Ji Hae tidak pingsan di tempat pada saat itu.


Eun Ji Hae mengambil jeda sebentar untuk menenangkan


dirinya. Sembari mengatur napasnya yang ikut memburu seiring dengan detak


jantungnya yang kian berpacu. Setelah merasa jauh lebih baik, Eun Ji Hae


kembali menegakkan badannya menghadap gadis itu. Coba tebak siapa yang datang


kali ini. Bukan Choi Ara, Bibi Ga Eun atau pun ibu dan ayahnya. Tetap Nhea yang


merupakan adik tirinya.

__ADS_1


Padahal gadis itu sama sekali tidak berniat untuk


mengejutkan Eun Ji Hae sama sekali. Tapi ternyata kedatangannya malah membuat


jantung gadis  yang beberapa tahun lebih


tua darinya itu nyaris pingsan. Dengan perasaan yang tidak enak, Nhea


berinisiatif untuk langsung meminta maaf kepada Eun Ji Hae. Bagaimana pun juga


ini tetap kesalahannya. Meskipun Nhea telah melakukannya secara tidak sengaja. Yang


namanya salah tetap saja salah. Dan ia harus meminta maaf. Tidak ada kata tawar


menawar di sini. Itu adalah sebuah hal kecil yang ditanamkan oleh Bibi Ga Eun


sewaktu mengasuhnya dulu. Wanita itu berhasil menggantikan posisi Wilson dan


Vallery dengan sangat sempurna. Ia telah menjadi pengganti yang tepat bagi


Nhea.


“Ada perlu apa denganku?!” tanya Eun Ji Hae dengan nada bicara


yang terkesan ketus.


“A-aa-aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu,” jawab


gadis itu dengan ragu.


Suaranya sempat terputus-putus karena gugup. Namun Eun Ji Hae


masih bisa menangkap maksud dari perkataannya barusan dengan jelas. Ini adalah pertama


kalinya bagi Nhea untuk berbicara secara langsung dengan Eun Ji Hae. Seisi sekolah


menyeganinya. Termasuk gadis ini sekali pun. Tidak peduli meski sebenarnya Nhea


dengan Eun Ji Hae masih memiliki hubungan kekerabatan secara tidak langsung. Auranya


terlihat begitu mencekam jika dilihat dari jarak sedekat ini. Siapapun yang


berada di sekitar Eun Ji Hae pasti akan langsung merasa terintimidasi. Karena sejujurnya,


energi Eun Ji Hae jauh lebih mendominasi saat ini. Entah dengan situasi yang


lain. Tapi yang jelas, itu adalah apa yang Nhea rasakan saat ini.


“Mau bicara soal apa?” tanya Eun Ji Hae yang mulai


terpancing rasa penasarannya.


“Bisakah kita pergi ke suatu tempat terlebih dahulu dan


membicarakannya empat mata?” usul Nhea.


Eun Ji Hae tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya


tersebut. Melainkan diam sejenak untuk mengambil keputusan. Sampai akhirnya ia


menyetujui permintaan gadis itu. Nhea mengajak Eun Ji Hae untuk pergi ke sebuah


ruangan kelas yang tak jauh dari sana. Kebanyakan fasilitas umum sekolah ini


memang sedang kosong dan tak berpenghuni sama sekali. Pasalnya, mereka semua

__ADS_1


dengan berada di kamarnya masing-masing untuk saat ini sampai waktu yang tidak


ditentukan.


__ADS_2