Mooneta High School

Mooneta High School
Penyusup Asing


__ADS_3

Sebenarnya ada satu cara yang bisa dilakukan untuk


menghentikan salju abadi. Tapi masalahnya, mereka harus keluar untuk mencari


hal tersebut. Tidak ada seorang pun yang bisa keluar pada cuasa seperti ini.


Jika mereka tidak ingin membeku karena salju abadi, maka mereka harus tetap


berada di dalam ruangan untuk menghindari serbuk-serbuk es menyentuh lapisan


terluar dari kulit mereka.


Hanya ada satu cara yang bisa mematahkan kutukan ini. Mereka


harus meracik sebuah ramuan khusus. Bahan utamanya terdiri dari air mata duyung


klan neptunus, kumis naga yang selama ini bersembunyi di balik gunung, serta


yang terpenting adalah serbuk salju abadi dari daratan yang pernah terkutuk


sebelumnya.


Jika ketiga bahan itu tadi disatukan, maka akan menjadi


ramuan pematah kutukan. Mereka hanya perlu terbang lebih tinggi dari pada awan,


kemudian menyempotkannya secara merata dari langit. Dengan begitu salju abadi


akan tiada. Tapi pada kenyataannya, untuk melakukan semua itu tidak sama


mudahnya dengan melakukan hal tersebut.


Resikonya cukup besar. Ini terlalu berbahaya untuk mereka.


Tapi di sisi lain, tidak ada opsi selain membuat ramuan pematah kutukan. Tidak


ada lagi cara lainnya. Pertama-tama, mereka harus berani terlebih dahulu.


Di tengan malam yang sunyi ketika semua orang telah


tertidur, termasuk Chanwo. Tidak ada satu orang pun yang masih terjaga kali


ini. Jiwa mereka sudah berada dalam dimensi lain yang kerap disebut sebagai


alam bawah sadar.


Suasana di setiap sudut ruangan terasa begitu tenang, namun


mencekam. Membuat siapa saja yang masih berkeliaran di atas pukul dua belas


malam seperti ini pasti akan berdigik ngeri sepanjang jalan. Samar-samar, tercium


aroma anyir bekas pembunuhan yang masih menempel di permukaan ubin. Menambah kesan


angker tempat ini. Meskipun begitu, tetap saja penghuninya tidak merasa terusik


sama sekali. Mereka sudah terbiasa dengan suasana serupa selama lebih dari lima


tahun. Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi jika tiba-tiba hal yang tidak masuk


di akal terjadi.


Semua orang sedang meringkuk di atas kasurnya masing-masing.


Berlindung di balik selimut untuk menghindari udra musin dingin yang berpotensi


untuk membuat mereka jtauh sakit kapan saja.


Tapi tidak dengan satu orang ini. Dia bukan salah satu


bagian dari Sekolah Mooneta. Bukan pegawai, staff pengajar atau bahkan siswa


dan anggota keluarga sekali pun. Tapi gadis ini masih berkeliaran pada jam


segini di tempat yang sama sekali bukan merupakan daerah kekuasaannya.


Bukan. Dia bukan penyusup. Namun lebih tepatnya mata-mata.


Seorang gadis bermata tajam dengan tinggi kurang lebih sekitar 175 cm tengah


berkeliaran di tempat ini. Menyusuri setiap koridor dengan hanya seorang diri,


tanpa ada siapa pun yang menemaninya. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya dan


apa tujuannya. Apa yang sedang dilakukan gadis itu sendirian di tengah malam


seperti ini.


Ia menggunakan jubah panjang berwara hitam yang nyaris


menutupi seluruh tubuh jenjangnya. Ada sedikit ornamen bulu serigala yang


dijatih bersamaan dengan penutup kepalanya. Sepertinya jubah itu memang telah


dirancang dengan sedemikian rupa untuk mencegah udara dingin masuk menembus


pori-porinya. Sehingga dia tidak akan merasa kedinginan sepanjang musim dingin

__ADS_1


seperti ini.


Gadis itu terlihat masih tetap berjalan menyusuri setiap


jalanan yang ada di tempat ini. Ia tampak tengah mencari sesuatu, tapi entah


apa. Keberadaannya di gedung utama sama sekali tidak membuahkan hasil apa pun.


Dia tak dapat menemukan hal yang ia cari di sana.


Kemudian gadis itu beralih ke gedung asrama putra. Para


wanita dilarang keras untuk menginjakkan kaki di tempat itu. Tentu saja untuk


mencegah hal yang tak diinginkan terjadi. Tapi untuk pertama kalinya, seorang


gadis asing memberanikan diri untuk melanggar aturan tersebut.


Langkahnya terhenti tepat di ujung anak tangga yang


menghubungkan antara lantai satu dengan lantai di atasnya. Dia tidak langsung


menapaki setiap anak tangga yang berjejer di depannya saat ini.


“Dia ada di sekitar sini,” gumam Hwang Ji Na.


Benar. Kalian tidak salah kira. Ini adalah Hwang Ji Na. Dia


kembali setelah sekian lama. Gadis itu memutuskan untuk keluar dari dalam gua


tempat tinggalnya dan meninggalkan hutan kegelapan demi menyusul Chanwo. Dia


akan membawa pria itu kembali.


Menurut kabar terakhir yang ia dengar, pria itu sedang


berada di sekolah ini. Itu sebabnya Hwang Ji Na bisa sampai ke sini. Dia datang


untuk menemui pria itu. Terakhir kali mereka berkomunikasi satu sama lain


sekitar seminggu yang lalu dengan cara telepati. Tidak ada alat bantu yang bisa


mempermudah hubungan mereka untuk saling berkomunikasi.


Hwang Ji Na kembali mengendus. Memastikan jika aroma yang ia


berhasil tertangkap oleh indera penciumannya saat ini benar aroma milik pria


itu. Mereka sudah lama tidak bertemu, sampai-sampai Hwang Ji Na nyaris


melupakan aroma khas dari Chanwo.


kakinya pada anak tangga pertama. Ia mulai berjalan naik ke atas menuju lantai


dua. Aromanya semakin terasa kuat. Tapi sampai detik ini ia bahkan belum


benar-benar yakin jika aroma itu benar miliki Chanwo.


Langkah Hwang Ji Na kembali terhenti begitu ia menyelesaikan


deretan anak tangga itu. Pandangannya lurus menghadap ke depan, hingga ia bisa


melihat apa yang berada di ujung lorong seberang sana. Ada sebuah tangga


lainnya di sana. Tangga yang menghubungkan lantai dua dengan lantai tiga yang


merupakan puncak tertinggi dari bangunan ini.


Hwang Ji Na mengalihkan perhatiannya dari anak tangga yang


berada di ujung. Tidak ada sesuatu yang bisa ia temukan di sini. Ia kembali


fokus pada aroma yang kembali menyapa indera penciumannya kali ini. Namun kali


ini intensitasnya terasa jauh lebih tinggi dari pada yang sebelumnya.


Hwang Ji Na mulai melangkah maju, mencari asal bau tersebut.


‘CEKLEK!!!’


Suara barusan berhasil membuat gadis itu terpelonjak kaget.


Ia mundur beberapa langkah dan memutuskan untuk bersembuyi di balik sebuah


patung. Ternyata ada seorang pria yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


“Mengejutkan saja!” umpatnya dengan volume pelan. Ia tentu


tak ingin ketahuan selama berada di tempat ini.


Pandangannya lekat menyoroti pria itu yang masih setengah


sadar itu. Ia bahkan berjalan tanpa membuak kedua kelopak matanya. Bagaimana


bisa. Pria itu berjalan menuruni tangga. Tak tahu akan pergi ke mana. Mungkin ke


kamar mandi. Tadi ia sempat menemukan ruangan itu di lantai paling bawah saat

__ADS_1


mengamati tempat ini. Beruntung pria yang tadi itu sama sekali tidak menyadari


keberadaan Hwang Ji Na di sini. Jika tidak, bisa habis dia.


***


Setelah merasa situasinya kembali normal, ia mulai keluar


dari tempat pesembunyiannya dan kembali memyusuri koridor dengan


mengendap-endap. Kemungkinan pria itu akan kembali lagi setelah beberapa menit


kemudian. Dalam tenggang waktu yang tergolong singkat itu, ia bisa memanfaatkannya


untuk mulai bergerak.


Hwang Ji Na tidak ingin membuang-buang waktu dengan begitu


saja. dia harus bergerak dengan cepat. Terlepas dari segala ancaman yang


mungkin terjadi, cepat atau lambat ia harus menemukan Chanwo. Hanya itu


tujuannya untuk datang kemari. Tidak ada yang lainnya. Ia rela menempuh cuaca


dingin di sepanjang jalan demi menemui pria itu.


Dia harus segera menemukan keberadaan Chanwo sebelum ria itu


kembali ke atas. Atau hal yang paling buruk, mungkin saja ia akan tertangkap


basa oleh orang lain. Ketika seorang gadis berada di asrama pria, itu sama saja


dengan mencari masalah. Begitu pula sebaliknya. Ada batas-batas tertentu dari


tempat ini yang tidak bisa mereka langgar. Aturan dibuat untuk dipatuhi dan


bukan untuk dilanggar.


Untuk yang kesekian kalinya langkah kaki gadis ini kembali


terhenti. Saat ini ia berdiri tepat di depan sebuah pintu kamar salah satu


siswa. Entah kenapa Hwang Ji Na merasakan jika aroma itu berasal dari dalam


ruangan ini. Pasti Chanwo ada di dalam. Ia sangat yakin soal hal itu.


Tanpa pikit panjang lagi, Hwang Ji Na segera membuka pintu


tersebut secara perlahan. Kebetulan memang tidak terkunci dari dalam. Ia berusaha


untuk tidak membuat keributan sama sekali atau bahkan penciptakan suara-suara. Hal


tersebut bisa menarik atensi umum. Biarpun saat ini sekelilingnya tidak ada


orang sama sekali, namun siapa yang akan mengira jika ada seseorang yang


diam-diam sedang mengawasinya saat ini.


Hwang Ji Na langsung melangkah masuk ke dalam begitu


pintunya terbuka. Dia tidak ingin buang-buang waktu dengan berlama-lama di luar


seperti itu. Tempat ini terlalu bahaya baginya. Ada banyal hal tak terduga yang


bisa saja terjadi.


Sesampainya di dalam, ia langsung menutup pintunya agar


tidak ada seorang pun yang merasa curiga. Hwang Ji Na mendapati seorang pria


dengan posisi tidur yang meringkuk seperti seekor kucing. Dia tidak yakin jika


itu adalah Chanwo, karena ia belum melihat wajahnya. Pria itu tidur dengan


posisi memunggungi Hwang Ji Na. Tapi jika dilihat dari aroma yang


dikeluarkannya, aroma ini sama persis dengan miliki pria itu.


Dengan sangat hati-hati, Hwang Ji Na mulai berjalan mendekat


untuk memastikan apakah pria ini benar Chanwo atau bukan. Tepat saat tersisa


beberapa langkah lagi, mendadak ia mundur kembali beberapa langkah ke belakang.


Hwang Ji Na terkejut bukan main saat pria itu mendadak berbalik. Ternyata benar


jika seorang pria yang tengah terlelap di hadapannya ini adalah Chanwo. Pria itu


masih tetap tidur, meski ada Hwan Ji Na di sini. Seharusnya dia bisa merasakan


hal itu dengan jelas.


Tempo detak jantungnya melonjak naik dengan cepat. Membuat pola


napas gadis itu ikut berantakan. Ia bersandar pada tembok dengan salah satu


tangan yang berusaha untuk menopang dirinya. Jantung gadia itu hampir saja

__ADS_1


copot rasanya. Jika yang tadi itu bukan Chanwo, maka ia sudah habis di tangan


gadis ini. Hwang Ji Na bukan tipikal orang yang penyabar.


__ADS_2