Mooneta High School

Mooneta High School
Final Test


__ADS_3

Semua orang akan mendapatkan gilirannya masing-masing.


Tenang saja. Tidak perlu khawatir. Tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan


di sini. Mereka cukup adail dalam melakukan setiap hal selama ini. Bahkan,


anak-anak Mooneta telah ditanamkan hal tersebut sejak awal pertama kali masuk


ke dalam akademi ini.


Sekarang sudah hampir separuh dari total keseluruhan siswa


telah sukses menjalankan misinya hingga akhir. Mereka yang telah selesai


melakukan evaluasi akhir akan ditempatkan pada barisan yang berbeda. Gunanya


agar pelatih tidak merasa kebingungan.


Sementara itu, Nhea dan Jang Eunbi sendiri sama sekali belum


mendapatkan gilirannya. Berada di barisan akhir membuat mereka mau tak mau


harus menunggu sedikit lebih lama daripada yang lain. Sebenarnya itu bukan


masalah sama sekali. Nhea tidak keberatan jika harus menunggu lebih lama lagi.


Gadis itu sadar jika ia tidak memiliki hak untuk melakukan hal tersebut. Lagipula


Nhea sama sekali tidak ingin memberontak atau hanya sekedar bertanya kapan


gilirannya. Dia bukan tipikal orang yang suka mencari masalah.


Sekarang sudah memasuki dua barisan di depan mereka yang


melakukan misi. Hanya tersisa beberapa menit terakhir sebelum memasuki giliran


mereka. Ada satu barisan lagi yang harus maju. Sebelum pada akhirnya mereka


yang maju lebih dulu.


Tidak bisa dipungkiri jika dirinya mulai merasa gugup.


Tangannya terasa dingin. Entah kenapa. Tidak ada yang tahu jelas. Salah satu


organ yang tersembunyi di balik tulang rusuknya terasa berdetak lebih cepat


dari biasanya. Temponya perlahan naik secara teratur hingga mencapai titik


kecepatan tertentu.


Untung saja Nhea masih mampu untuk mengeendalikan dirinya


sendiri. Sehingga tidak perlu terlalu cemas. Setidaknya kini ia sudah tidak


terlalu gugup. Kenapa ia harus bersikap seperti ini sementara teman-temannya


yang lain bersikap biasa saja. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah yang akan


terjadi dalam beberapa menit ke depan sama sekali bukan sesuatu yang besar dan


berarti. Jika mereka semua bisa bersikap demikian, kenapa Nhea harus memberikan


reaksi yang berlebihan.


Mereka semua sama. Nyaris tidak ada bedanya sama sekali.


Nhea sama saja dengan Jang Eunbi dan teman-temannya yang lain. Namun, mungkin


ada beberapa hal yang membuat mereka berbeda. Tapi, tetap saja. Perbedaan


tersebut tidak akan terlihat kontras jika  dilihat secara kasat mata.


“Selanjutnya!” sahut pelatih dari depan. Hal tersebut sontak


berhassil membuyarkan seluruh isi kepala gadis ini.


Barisan yang berada tepat di depannya sudah selesai


melakukan evaluasi. Meski nilainya tidak diumumkan pada saat itu, tapi tetap


saja jika ia yakin kalau hasilnya pasti tidak akan mengecewakan. Teman-temannya


melakukan evaluasi dengan cukup bagus. Tidak ada yang melakukan kesalahan fatal


sejauh ini. Entahlah dengan dirinya. Tidak ada yang bisa memastikan masa depan.


Termasuk dirinya.


Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera maju untuk mengambil posisi.


Kebetulan ia berada pada barisan yang sama dengan Jang Eunbi. Itu artinya


mereka akan melakukan misi pertama secara bersamaan. Kemudian seperti biasanya,


misi kedua akan dilakukan secara personal. Sejak awal aturannya memang sudah


seperti itu. Tidak bisa diganggu gugat sama sekali.


Sesuai dengan harapannya. Misi pertama pada evaluasi kali


ini berhasil ia laksanakan dengan baik. Anak panah gadis ini melesat dari busur


panah dan mendarat di atas papan target. Tepat sasaran. Bisa dikatakan jika


hasil dari misi pertama ini cukup memuaskan bagi semua orang. Tidak hanya bagi


Nhea saja. Ternyata mereka semua memang hebat. Tidak ada yang bisa dianggap


sebelah mata. Semua orang memiliki potensi yang cukup hebat.


Semua orang tampak memiliki potensi yang sama besar di sini.


Sulit untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Kehebatan mereka semua sama


rata. Mungkin anak-anak ini akan menjadi juara satunya semua. Bahkan pelatih


mereka sendiri mengakui hal tersebut.


Bibi Ga Eun dan Eun Ji Hae tidak melakukan usaha yang


sia-sia selama ini. Mereka rela sampai mengorbankan waktu tidurnya hanya demi


membagikan departmen. Keduanya tidak salah pilih orang. Mereka berhasil


menempatkan lara siswa di bidangnya masing-masing. Dari awal nyaris tidak ada


rasa kecewa sama sekali yang ia rasakan sebagai pelatih cabang lomba memanah.


Bahkan keputusan untuk memindahkan Jang Eunbi dari departmen


ilmu sihir tingkat lanjut ke departmen memanah tidak bisa diragukan lagi. Eun


Ji Hae dan Bibi Ga Eun adalah sosok pemikir. Mereka pasti telah memikirkan


segala resiko sebelum melakukan suatu hal. Tidak asal.


Awalnya seisi akademi sempat geger. Ada dua belah pihak. Ada


yang pro dan juga kontra. Sebagian menentang keputusan pindahnya Jang Eunbi


dengan berbagai alasan. Sementara sisanya malah mendukung. Pasalnya, mereka

__ADS_1


tidak benar-benar yakin jika gadis itu bisa beradaptasi dengan cepat. Tapi,


kini ia berhasil membuktikannya. Tidak perlu banyak bicara. Tindakannya selama


ini sudah cukup untuk membungkam mulut mereka semua.


Ia akan sangat mengapresiasi semua orang yang telah bekerja


keras di sini. Tidak hanya itu saja. Mereka juga ikut ambil alih dalam berbagai


hal yang menyangkut kepentingan bersama.


***


Perlombaan musim ini dilakukan di salah satu arena terbuka


yang tidak jauh dari akademi sihir Mooneta. Mereka bahkan bisa sampai di sana


hanya dalam waktu kurang dari satu jam saja. Berbeda dengan akademi sihir lain


yang mau tak mau terpaksa harus menempuh perjalanan berhari-hari untuk mencapai


tempat tersebut.


Kali ini mereka yang datang dari jauh, seperti Reodal dan


Orton tidak menumpang pada akademi sihir Mooneta. Para panitia lomba telah


menyediakan tempat khusus bagi mereka untuk membangun pasak-pasak perkemahan.


Arenanya cukup luas untuk menampung semua peserta yang ikut terlibat di


dalamnya.


“Aku penasaran apakah Reodal akan kembali muncul lagi pada


kompetisi musim ini setelah kejadian kemarin,” gumam Eun Ji Hae di dalam hati.


Gadis itu sedang sibuk untuk menghabiskan waktu di dalam


kamarnya. Dua hari lagi lomba sudah dimulai. Persiapan mereka sudah cukup


matang sejauh ini. Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Padangan Eun Ji Hae


mengarah ke luar jendela. Tepat di seberang sana ia berhasil menangkap sebuah


keramaian. Padahal sekarang sudah satu jam sejak matahari terbenang. Tapi


nyatanya hal tersebut tidak berarti apa-apa bagi mereka.


Arena perlombaan sudah mulai


dipenuhi oleh ratusan atau bahkan ribuan manusia. Apa yang ia lihat saat ini


belum jumlah total seluruh peserta. Kita lihat saja bagaimana jadinya tempat


itu nanti ketika hari H.


Ini adalah hari terakhir bagi mereka sebelum berkompetisi.


Karena kemarin-kemarin mereka sudah memaksakan diri untuk terus berlatih, maka


sekarang adalah waktu yang tepat untuk bersantai. Tidak baik jika terus


memaksakan diri. Apalagi sampai melewati batas tertentu.


Seperti yang sudah dikabarkan sebelumnya, jika hari ini


tidak ada latihan. Yang kemarin adalah latihan sekaligus evaluasi terakhir. Akademi


sihir Mooneta sejauh ini merasa cukup percaya diri. Tidak ada yang bisa


mengklain jika mereka yang terbaik sebelum pengumuman resmi keluar. Tapi,


tapi juga tidak bisa dikatakan buruk juga.


Mereka akan mulai hidup dengan normal mulai hari ini. Hanya


satu hari saja. Hari kebebasan. Lebih tepatnya mereka akan dibebaskan dari


segala hal yang menyangkut dengan lomba. Anak-anak itu bisa melakukan apa saja


yang mereka inginkan. Tidak ada seorang pun yang berhask melarangnya. Bahkan


termasuk Eun Ji Hae sekalipun. Mereka semua pasti akan merasa cukup bahagia.


Setidaknya untuk satu hari berharga ini.


“Apakah kau melihat sepatu pantofelku?” tanya Oliver.


“Dimana terakhir kali kau meletakkannya?” tanya Nhea balik.


“Seperti yang kau tahu jika kita selalu meletakkan sepatu


tepat di depan pintu masuk,” jelasnya kemudian.


“Kalau begitu jelas tidak ada yang akan mencurinya,” balas


Nhea secara gamblang.


Ia terlalu sibuk untuk memperhatikan penampilannya saat ini


melalui pantulan kaca cermin. Sampai-sampai Nhea sama sekali tidak memalingkan


pandangannya ke arah Oliver yang tengah berbicara kepadanya pada saat itu.


Tapi, untungnya Oliver sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal kecil


tersebut.


“Sudah ketemu?” tanya Nhea kembali setelah menyelesaikan


kegiatannya.


“Belum,” jawab Oliver dengan pasrah.


Sepertinya ia sudah mulai menyerah. Tidak ada yang tahu


entah kemana hilangnya sepatu pantofel tersebut. Padahal sebelumnya Oliver


tidak pernah mengalami kejadian seperti ini sama sekali. Semua barang-barangnya


selalu berada di dalam kamar ini. Lagipula memangnya siapa yang mau


menyembunyikan atau bahkan mencuri sepatu pantofel tua miliknya. Mereka bsa


menemukan yang jauh lebih baik di pasar.


Oliver menghempaskan dirinya ke ujung kasur. Tatapannya


berubah sendu. Seolah ada awan kelabu yang tengah menutupi wajahnya saat ini. Itu


adalah satu-satunya sepatu yang ia miliki. Jika benar menghilang, maka Oliver


tidak akan bisa pergi kemana-mana.


Ia nyaris tidak percaya jika lagi-lagi sebuah nasib buruk


telah menimpanya. Sepertinya semesta tengah berbalik menyerang. Dewi Fortuna


bahkan sudah tidak berpihak kepadanya lagi. Entah kesalahan macam apa yang

__ADS_1


telah ia perbuat.


“Aku masih memiliki satu pasang sepatu pantofel lagi jika


kau mau,” tawar Nhea.


Oliver hampir lupa soal hal itu. Nhea memang memiliki dua


pasang sepatu sebelumnya. Biasanya ia selalu menggunakannya secara bergantian.


Tapi, karena kali ini Oliver sedang kehilangan sepatu satu-satunya, tidak ada


salahnya jika gadis itu memakai sepatu Nhea untuk sementara waktu. Setidaknya


sampai sepatu miliknya ketemu kembali.


“Apakah aku sungguh bisa menggunakan sepatumu untuk


sementara waktu?” tanya Oliver. Binar manik matanya penuh harapan.


“Tentu!” balas Nhea sambil mengangguk antusias.


Sontak hal tersebut berhasil membuat Oliver merassa girang


sekaligus lega. Setidaknya Nhea telah membantunya untuk menyelesaikan satu


masalah yang ia dapatkan pagi ini.


“Ambil saja! Aku menyimpannya di bawah lemari pakaian,” ujar


Nhea sembari membenarkan kerah bajunya.


Tanpa pikir panjang lagi, Oliver langsung bergegas untuk


menuju ke arah lemari. Tubuhnya sengaja ia bungkukkan sedikit untuk mengintip


ke bawah kolong lemari. Guna untuk mencari sesuatu yang dimaksud oleh Nhea


tadi.


Setelah mendapatkan apa yang ia mau, gadis itu langsung


kembali bersama Nhea. Mereka berencana untuk langsung pergi ke gedung utama


seperti biasanya. Kali ini tidak ada panggilan secara khusus. Keduanya hanya


ingin menghadiri jamuan makan. Tidak ada sesuatu yang istimewa kali ini.


Nhea dan Oliver berjalan beriringan. Selama perjalanan


menuju gedung utama, mereka sering berpapasan dengan beberaoa orang lainnya.


Yang kebanyakan adalah penghuni asrama.


“Kenapa kita tidak pernah berpapasan dengan Jang Eunbi


lagi?” tanya Oliver dengan nada sedikit bergumam.


“Entahlah, sepertinya dia selalu sibuk akhir-akhir ini,”


balas Oliver acuh tak acuh.


Hubungan Oliver sendiri dengan Jang Eunbi memang sudah tidak


seperti dulu lagi. Mereka jadi lebih jarang berkomunikasi satu sama lain.


Bahkan Jongdae sendiri tampaknya juga mulai menjaga jarak dengan adiknya


sendiri. Entah atas dasar apa mereka melakukan hal tersebut.


Tidak perlu merassa bersalah. Lagipula Nhea sudah memaafkan


mereka semua. Jangan terlalu diambil pusing. Mereka tidak seburuk itu di mata


Nhea dan Oliver. Tidak ada seseorang yang tak pernah berbuat salah sedikit pun.


Meski sudah berada di dalam departmen yang sama, hal


tersebut tidak menjamin jika hubungan Nhea dan Jang Eunbi akan membaik. Mereka


tetap saja merasa canggung. Suasananya sudah tidak seperti dulu lagi. Bukan


Nhea yang berbuat lebih dulu. Melainkan mereka lah yang memilih untuk menjaga


jarak dengannya. Beruntung ia masih memiliki Oliver. Setidaknya gadis itu bisa


menjadi temannya lagi setelah kesalah pahaman waktu itu.


Bisa dibilang jika Oliver adalah satu-satunya orang yang


masih tetap berada di sisinya sampai saat ini. Tidak peduli dengan apa yang


telah terjadi di masa lalu. Bagaimanapun juga, yang terpenting di sini adalah


masa depan. Orang-orang memang selalu datang dan pergi. Karena memang seperti


itulah prinsip semesta sejak awal. Tidak pernah ada yang menetap. Semua hal


selalu terus bergerak.


Nhea meletakkan sendoknya di atas piring. Kemudian mengambil


segelas air putih yang berada di hadapannya. Kali ini Nhea selesai lebih dulu


daripada Oliver.


Ia menyeka daerah sekitar mulutnya yang mungkin tampak


berantakan setelah selesai makan. Pandangannya beralih ke arah Oliver yang


tengah sibuk menghabiskan makanannya. Lagi-lagi mereka duduk dalam posisi yang


berdekatan. Akhir-akhir ini memang selalu begitu. Jika tidak di samping, maka


di depan. Nhea dan Oliver tidak pernah terpisah jauh.


"Kau sudah selesai?" tanya Nhea yang kemudian


mendapati anggukan dari gadis itu.


"Tidak biasanya kau selesai lebih awal daripada


aku," ujar Oliver secara gamblang.


"Entahlah, hari ini aku bisa mengalahkanmu dengan


mudah," balas gadis itu dengan sedikit bergurau.


Tapi, apa yang dikatakan oleh Oliver ada benarnya juga.


Tidak biasanya ia menyelesaikan makan lebih cepat. Tapi kali ini malah terjadi


kebalikannya.


Karena setelah ini tidak ada


jadwal latihan, itu artinya mereka memiliki waktu luang. Tidak main-main.


Mereka semua akan dibebaskan sampai empat jam ke depan. Nhea dan Oliver memilih


untuk memanfaatkan jam kosong tersebut dengan pergi ke pasar. Ini adalah sebuah

__ADS_1


kesempatan yang bagus. Setidaknya Nhea pernah menginjakkan kaki di luar dari


akademi ini paling tidak sekali selama tinggal di sini.


__ADS_2