
Semua orang akan mendapatkan gilirannya masing-masing.
Tenang saja. Tidak perlu khawatir. Tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan
di sini. Mereka cukup adail dalam melakukan setiap hal selama ini. Bahkan,
anak-anak Mooneta telah ditanamkan hal tersebut sejak awal pertama kali masuk
ke dalam akademi ini.
Sekarang sudah hampir separuh dari total keseluruhan siswa
telah sukses menjalankan misinya hingga akhir. Mereka yang telah selesai
melakukan evaluasi akhir akan ditempatkan pada barisan yang berbeda. Gunanya
agar pelatih tidak merasa kebingungan.
Sementara itu, Nhea dan Jang Eunbi sendiri sama sekali belum
mendapatkan gilirannya. Berada di barisan akhir membuat mereka mau tak mau
harus menunggu sedikit lebih lama daripada yang lain. Sebenarnya itu bukan
masalah sama sekali. Nhea tidak keberatan jika harus menunggu lebih lama lagi.
Gadis itu sadar jika ia tidak memiliki hak untuk melakukan hal tersebut. Lagipula
Nhea sama sekali tidak ingin memberontak atau hanya sekedar bertanya kapan
gilirannya. Dia bukan tipikal orang yang suka mencari masalah.
Sekarang sudah memasuki dua barisan di depan mereka yang
melakukan misi. Hanya tersisa beberapa menit terakhir sebelum memasuki giliran
mereka. Ada satu barisan lagi yang harus maju. Sebelum pada akhirnya mereka
yang maju lebih dulu.
Tidak bisa dipungkiri jika dirinya mulai merasa gugup.
Tangannya terasa dingin. Entah kenapa. Tidak ada yang tahu jelas. Salah satu
organ yang tersembunyi di balik tulang rusuknya terasa berdetak lebih cepat
dari biasanya. Temponya perlahan naik secara teratur hingga mencapai titik
kecepatan tertentu.
Untung saja Nhea masih mampu untuk mengeendalikan dirinya
sendiri. Sehingga tidak perlu terlalu cemas. Setidaknya kini ia sudah tidak
terlalu gugup. Kenapa ia harus bersikap seperti ini sementara teman-temannya
yang lain bersikap biasa saja. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah yang akan
terjadi dalam beberapa menit ke depan sama sekali bukan sesuatu yang besar dan
berarti. Jika mereka semua bisa bersikap demikian, kenapa Nhea harus memberikan
reaksi yang berlebihan.
Mereka semua sama. Nyaris tidak ada bedanya sama sekali.
Nhea sama saja dengan Jang Eunbi dan teman-temannya yang lain. Namun, mungkin
ada beberapa hal yang membuat mereka berbeda. Tapi, tetap saja. Perbedaan
tersebut tidak akan terlihat kontras jika dilihat secara kasat mata.
“Selanjutnya!” sahut pelatih dari depan. Hal tersebut sontak
berhassil membuyarkan seluruh isi kepala gadis ini.
Barisan yang berada tepat di depannya sudah selesai
melakukan evaluasi. Meski nilainya tidak diumumkan pada saat itu, tapi tetap
saja jika ia yakin kalau hasilnya pasti tidak akan mengecewakan. Teman-temannya
melakukan evaluasi dengan cukup bagus. Tidak ada yang melakukan kesalahan fatal
sejauh ini. Entahlah dengan dirinya. Tidak ada yang bisa memastikan masa depan.
Termasuk dirinya.
Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera maju untuk mengambil posisi.
Kebetulan ia berada pada barisan yang sama dengan Jang Eunbi. Itu artinya
mereka akan melakukan misi pertama secara bersamaan. Kemudian seperti biasanya,
misi kedua akan dilakukan secara personal. Sejak awal aturannya memang sudah
seperti itu. Tidak bisa diganggu gugat sama sekali.
Sesuai dengan harapannya. Misi pertama pada evaluasi kali
ini berhasil ia laksanakan dengan baik. Anak panah gadis ini melesat dari busur
panah dan mendarat di atas papan target. Tepat sasaran. Bisa dikatakan jika
hasil dari misi pertama ini cukup memuaskan bagi semua orang. Tidak hanya bagi
Nhea saja. Ternyata mereka semua memang hebat. Tidak ada yang bisa dianggap
sebelah mata. Semua orang memiliki potensi yang cukup hebat.
Semua orang tampak memiliki potensi yang sama besar di sini.
Sulit untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Kehebatan mereka semua sama
rata. Mungkin anak-anak ini akan menjadi juara satunya semua. Bahkan pelatih
mereka sendiri mengakui hal tersebut.
Bibi Ga Eun dan Eun Ji Hae tidak melakukan usaha yang
sia-sia selama ini. Mereka rela sampai mengorbankan waktu tidurnya hanya demi
membagikan departmen. Keduanya tidak salah pilih orang. Mereka berhasil
menempatkan lara siswa di bidangnya masing-masing. Dari awal nyaris tidak ada
rasa kecewa sama sekali yang ia rasakan sebagai pelatih cabang lomba memanah.
Bahkan keputusan untuk memindahkan Jang Eunbi dari departmen
ilmu sihir tingkat lanjut ke departmen memanah tidak bisa diragukan lagi. Eun
Ji Hae dan Bibi Ga Eun adalah sosok pemikir. Mereka pasti telah memikirkan
segala resiko sebelum melakukan suatu hal. Tidak asal.
Awalnya seisi akademi sempat geger. Ada dua belah pihak. Ada
yang pro dan juga kontra. Sebagian menentang keputusan pindahnya Jang Eunbi
dengan berbagai alasan. Sementara sisanya malah mendukung. Pasalnya, mereka
__ADS_1
tidak benar-benar yakin jika gadis itu bisa beradaptasi dengan cepat. Tapi,
kini ia berhasil membuktikannya. Tidak perlu banyak bicara. Tindakannya selama
ini sudah cukup untuk membungkam mulut mereka semua.
Ia akan sangat mengapresiasi semua orang yang telah bekerja
keras di sini. Tidak hanya itu saja. Mereka juga ikut ambil alih dalam berbagai
hal yang menyangkut kepentingan bersama.
***
Perlombaan musim ini dilakukan di salah satu arena terbuka
yang tidak jauh dari akademi sihir Mooneta. Mereka bahkan bisa sampai di sana
hanya dalam waktu kurang dari satu jam saja. Berbeda dengan akademi sihir lain
yang mau tak mau terpaksa harus menempuh perjalanan berhari-hari untuk mencapai
tempat tersebut.
Kali ini mereka yang datang dari jauh, seperti Reodal dan
Orton tidak menumpang pada akademi sihir Mooneta. Para panitia lomba telah
menyediakan tempat khusus bagi mereka untuk membangun pasak-pasak perkemahan.
Arenanya cukup luas untuk menampung semua peserta yang ikut terlibat di
dalamnya.
“Aku penasaran apakah Reodal akan kembali muncul lagi pada
kompetisi musim ini setelah kejadian kemarin,” gumam Eun Ji Hae di dalam hati.
Gadis itu sedang sibuk untuk menghabiskan waktu di dalam
kamarnya. Dua hari lagi lomba sudah dimulai. Persiapan mereka sudah cukup
matang sejauh ini. Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Padangan Eun Ji Hae
mengarah ke luar jendela. Tepat di seberang sana ia berhasil menangkap sebuah
keramaian. Padahal sekarang sudah satu jam sejak matahari terbenang. Tapi
nyatanya hal tersebut tidak berarti apa-apa bagi mereka.
Arena perlombaan sudah mulai
dipenuhi oleh ratusan atau bahkan ribuan manusia. Apa yang ia lihat saat ini
belum jumlah total seluruh peserta. Kita lihat saja bagaimana jadinya tempat
itu nanti ketika hari H.
Ini adalah hari terakhir bagi mereka sebelum berkompetisi.
Karena kemarin-kemarin mereka sudah memaksakan diri untuk terus berlatih, maka
sekarang adalah waktu yang tepat untuk bersantai. Tidak baik jika terus
memaksakan diri. Apalagi sampai melewati batas tertentu.
Seperti yang sudah dikabarkan sebelumnya, jika hari ini
tidak ada latihan. Yang kemarin adalah latihan sekaligus evaluasi terakhir. Akademi
sihir Mooneta sejauh ini merasa cukup percaya diri. Tidak ada yang bisa
mengklain jika mereka yang terbaik sebelum pengumuman resmi keluar. Tapi,
tapi juga tidak bisa dikatakan buruk juga.
Mereka akan mulai hidup dengan normal mulai hari ini. Hanya
satu hari saja. Hari kebebasan. Lebih tepatnya mereka akan dibebaskan dari
segala hal yang menyangkut dengan lomba. Anak-anak itu bisa melakukan apa saja
yang mereka inginkan. Tidak ada seorang pun yang berhask melarangnya. Bahkan
termasuk Eun Ji Hae sekalipun. Mereka semua pasti akan merasa cukup bahagia.
Setidaknya untuk satu hari berharga ini.
“Apakah kau melihat sepatu pantofelku?” tanya Oliver.
“Dimana terakhir kali kau meletakkannya?” tanya Nhea balik.
“Seperti yang kau tahu jika kita selalu meletakkan sepatu
tepat di depan pintu masuk,” jelasnya kemudian.
“Kalau begitu jelas tidak ada yang akan mencurinya,” balas
Nhea secara gamblang.
Ia terlalu sibuk untuk memperhatikan penampilannya saat ini
melalui pantulan kaca cermin. Sampai-sampai Nhea sama sekali tidak memalingkan
pandangannya ke arah Oliver yang tengah berbicara kepadanya pada saat itu.
Tapi, untungnya Oliver sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal kecil
tersebut.
“Sudah ketemu?” tanya Nhea kembali setelah menyelesaikan
kegiatannya.
“Belum,” jawab Oliver dengan pasrah.
Sepertinya ia sudah mulai menyerah. Tidak ada yang tahu
entah kemana hilangnya sepatu pantofel tersebut. Padahal sebelumnya Oliver
tidak pernah mengalami kejadian seperti ini sama sekali. Semua barang-barangnya
selalu berada di dalam kamar ini. Lagipula memangnya siapa yang mau
menyembunyikan atau bahkan mencuri sepatu pantofel tua miliknya. Mereka bsa
menemukan yang jauh lebih baik di pasar.
Oliver menghempaskan dirinya ke ujung kasur. Tatapannya
berubah sendu. Seolah ada awan kelabu yang tengah menutupi wajahnya saat ini. Itu
adalah satu-satunya sepatu yang ia miliki. Jika benar menghilang, maka Oliver
tidak akan bisa pergi kemana-mana.
Ia nyaris tidak percaya jika lagi-lagi sebuah nasib buruk
telah menimpanya. Sepertinya semesta tengah berbalik menyerang. Dewi Fortuna
bahkan sudah tidak berpihak kepadanya lagi. Entah kesalahan macam apa yang
__ADS_1
telah ia perbuat.
“Aku masih memiliki satu pasang sepatu pantofel lagi jika
kau mau,” tawar Nhea.
Oliver hampir lupa soal hal itu. Nhea memang memiliki dua
pasang sepatu sebelumnya. Biasanya ia selalu menggunakannya secara bergantian.
Tapi, karena kali ini Oliver sedang kehilangan sepatu satu-satunya, tidak ada
salahnya jika gadis itu memakai sepatu Nhea untuk sementara waktu. Setidaknya
sampai sepatu miliknya ketemu kembali.
“Apakah aku sungguh bisa menggunakan sepatumu untuk
sementara waktu?” tanya Oliver. Binar manik matanya penuh harapan.
“Tentu!” balas Nhea sambil mengangguk antusias.
Sontak hal tersebut berhasil membuat Oliver merassa girang
sekaligus lega. Setidaknya Nhea telah membantunya untuk menyelesaikan satu
masalah yang ia dapatkan pagi ini.
“Ambil saja! Aku menyimpannya di bawah lemari pakaian,” ujar
Nhea sembari membenarkan kerah bajunya.
Tanpa pikir panjang lagi, Oliver langsung bergegas untuk
menuju ke arah lemari. Tubuhnya sengaja ia bungkukkan sedikit untuk mengintip
ke bawah kolong lemari. Guna untuk mencari sesuatu yang dimaksud oleh Nhea
tadi.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, gadis itu langsung
kembali bersama Nhea. Mereka berencana untuk langsung pergi ke gedung utama
seperti biasanya. Kali ini tidak ada panggilan secara khusus. Keduanya hanya
ingin menghadiri jamuan makan. Tidak ada sesuatu yang istimewa kali ini.
Nhea dan Oliver berjalan beriringan. Selama perjalanan
menuju gedung utama, mereka sering berpapasan dengan beberaoa orang lainnya.
Yang kebanyakan adalah penghuni asrama.
“Kenapa kita tidak pernah berpapasan dengan Jang Eunbi
lagi?” tanya Oliver dengan nada sedikit bergumam.
“Entahlah, sepertinya dia selalu sibuk akhir-akhir ini,”
balas Oliver acuh tak acuh.
Hubungan Oliver sendiri dengan Jang Eunbi memang sudah tidak
seperti dulu lagi. Mereka jadi lebih jarang berkomunikasi satu sama lain.
Bahkan Jongdae sendiri tampaknya juga mulai menjaga jarak dengan adiknya
sendiri. Entah atas dasar apa mereka melakukan hal tersebut.
Tidak perlu merassa bersalah. Lagipula Nhea sudah memaafkan
mereka semua. Jangan terlalu diambil pusing. Mereka tidak seburuk itu di mata
Nhea dan Oliver. Tidak ada seseorang yang tak pernah berbuat salah sedikit pun.
Meski sudah berada di dalam departmen yang sama, hal
tersebut tidak menjamin jika hubungan Nhea dan Jang Eunbi akan membaik. Mereka
tetap saja merasa canggung. Suasananya sudah tidak seperti dulu lagi. Bukan
Nhea yang berbuat lebih dulu. Melainkan mereka lah yang memilih untuk menjaga
jarak dengannya. Beruntung ia masih memiliki Oliver. Setidaknya gadis itu bisa
menjadi temannya lagi setelah kesalah pahaman waktu itu.
Bisa dibilang jika Oliver adalah satu-satunya orang yang
masih tetap berada di sisinya sampai saat ini. Tidak peduli dengan apa yang
telah terjadi di masa lalu. Bagaimanapun juga, yang terpenting di sini adalah
masa depan. Orang-orang memang selalu datang dan pergi. Karena memang seperti
itulah prinsip semesta sejak awal. Tidak pernah ada yang menetap. Semua hal
selalu terus bergerak.
Nhea meletakkan sendoknya di atas piring. Kemudian mengambil
segelas air putih yang berada di hadapannya. Kali ini Nhea selesai lebih dulu
daripada Oliver.
Ia menyeka daerah sekitar mulutnya yang mungkin tampak
berantakan setelah selesai makan. Pandangannya beralih ke arah Oliver yang
tengah sibuk menghabiskan makanannya. Lagi-lagi mereka duduk dalam posisi yang
berdekatan. Akhir-akhir ini memang selalu begitu. Jika tidak di samping, maka
di depan. Nhea dan Oliver tidak pernah terpisah jauh.
"Kau sudah selesai?" tanya Nhea yang kemudian
mendapati anggukan dari gadis itu.
"Tidak biasanya kau selesai lebih awal daripada
aku," ujar Oliver secara gamblang.
"Entahlah, hari ini aku bisa mengalahkanmu dengan
mudah," balas gadis itu dengan sedikit bergurau.
Tapi, apa yang dikatakan oleh Oliver ada benarnya juga.
Tidak biasanya ia menyelesaikan makan lebih cepat. Tapi kali ini malah terjadi
kebalikannya.
Karena setelah ini tidak ada
jadwal latihan, itu artinya mereka memiliki waktu luang. Tidak main-main.
Mereka semua akan dibebaskan sampai empat jam ke depan. Nhea dan Oliver memilih
untuk memanfaatkan jam kosong tersebut dengan pergi ke pasar. Ini adalah sebuah
__ADS_1
kesempatan yang bagus. Setidaknya Nhea pernah menginjakkan kaki di luar dari
akademi ini paling tidak sekali selama tinggal di sini.