
Mereka bangun pagi-pagi sekali tadi karena begitu
bersemangat. Terutama Oliver. Dia adalah orang yang paling tampak menonjol di
sini. Gadis itu sepertinya sudah tidak sabar untuk berkompetisi. Atau,
jangan-jangan ia hanya ingin memamerkan sepatu barunya yang ia dapat dari Paman
Johnson.
Menurut penuturan Eun Ji Hae, mereka akan berangkat ke pusat
kota setelah selesai sarapan. Tenang saja. Anak-anak itu tidak akan terlambat.
Mereka bisa sampai di sana hanya dalam waktu hitungan menit. Bahkan kurang dari
lima belas menit mungkin. Itu jika berjalan kaki. Berbeda lagi ceritanya jika
menunggangi pegasus, atau naik sapu terbang.
Tapi, mereka tidak mungkin melakukan hal tersebut. Pusat
kota terlalu ramai. Tidak ada ruang yang tersisa sedikit pun bagi mereka untuk
meletakkan hewan-hewan itu. Mereka juga tidak mungkin membawa masuk pegasus
atau sapu terbang sampai ke dalam arena pertandingan.
Acara pembukaan baru akan dimulai sekitar pukul sepuluh pagi
nanti. Jadi, masih ada waktu bagi mereka untuk mengisi energi terlebih dahulu.
Akademi sihir Mooneta biasanya akan menggelar perjamuan makan pagi sekitar jam
tujuh sampai jam delapan pagi. Mereka bahkan masih memiliki waktu dua jam lagi
sebelum upacara pembukaan. Waktu yang tersisa setelah salarapan jauh lebih dari
cukup untuk menempuh perjalanan ke pusat kota.
Hari ini kurang lebih masih sama seperti satu hari
sebelumnya. Anak-anak itu mendapatkan perlakuan baik dari akademinya.
Sebenarnya, ini bukan yang pertama kali. Hanya saja, diperlakukan dengan baik
di saat semacam ini seperti memberikan kesan yang lebih istimewa.
“Kau lihat? Mereka memberikan kita makanan enak lagi,” bisik
Oliver kepada temannya. Siapa lagi jika bukan Nhea. Hanya dengan gadis itu saja
ia berbicara saat ini.
“Ayolah, ini bukan pertama kalinya mereka memberikan kita
makanan yang enak,” ujar Nhea dengan nada sedikit mengeluh.
“Jadi, selama ini maksudmu masakan mereka tidak enak
begitu?” lanjutnya.
“Bukan begitu!” tepis Oliver dengan cepat. Ia tidak mau
sampai ada kesalahpahaman yang terjadi di sini.
“Menu hari ini dan kemarin adalah masakan paling enak yang
pernah mereka buat sejauh ini!” celetuk Oliver.
Sementara itu, Nhea hanya bisa menarik kedua sudut bibirnya
hingga membentuk senyuman tipis.
Tanpa buang-buang waktu lagi, mereka segera beranjak menuju
salah satu tempat duduk yang masih kosong. Sembari menunggu yang lainnya
__ADS_1
selesai, mungkin mereka bisa menghabiskan waktunya dengan berbincang ringan.
Tidak harus yang sampai menguras pikiran. Apalagi sampai membuat kepalamu
terasa ingin pecah.
Nhea memilih untuk buka suara lebih dulu begitu sampai di
meja makan dengan mengajukan beberapa pertanyaan acak. Tidak terlalu penting
memang jika dipikir-pikir. Anggaplah jika ini hanya basa-basi.
“Bagaimana hubunganmu dengan Jongdae?” tanya gadis itu
secara tiba-tiba.
“Tidak kenapa-kenapa. Masih sama seperti biasanya,” jawab
Oliver secara gamblang.
“Tidak ada hal istimewa yang terjadi. Kau tahu itu,”
tukasnya kemudian.
Ia mendapatkan anggukan dari Nhea. Menyatakan jika lawan
bicaranya saat itu setidaknya paham dengan penjelasan yang ia berikan barusan.
“Kalian harus lebih sering berbicara dan menghabiskan waktu
bersama. Bagaimanapun kalian adalah kakak adik,” jelas Nhea dengan panjang
lebar.
“Saudara kandung!” tegasnya sekali lagi.
Gadis itu sungguh berharap agar Oliver mau mengindahkan
sarannya yang satu ini. Ada sedikit rasa penyesalan di dalan relung hatinya.
Tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Ia merasa bersalah terhadap keduanya.
mereka menjadi tidak baik-baik saja. Katakanlah jika mereka berdua sudah saling
memaafkan. Tapi, sesuatu yang telah rusak tidak akan pernah kembali seperti
dulu lagi.
“Menurutmu, apa hal yang paling menakutkan di dunia ini?”
tanya Oliver kepada temannya.
Nhea yang mendapatkan pertanyaan seperti itu tidak langsung
menjawab. Melainkan tetap bergeming untuk beberapa saat. Memaksa kepalanya
untuk berpikir.
“Kepergian,” jawab gadis itu beberapa saat kemudian.
Jika boleh jujur, Oliver merasa terkejut sekaligus bingung
mendengar perkataan gadis itu tadi. Bagaimana bisa Nhea memberikan jawaban
demikian. Hanya ada satu kata, namun cukup untuk merangkum arti dari
keseluruhan resah yang ia rasa.
“Kau tidak suka jika ada yang pergi, begitu?” tanya Oliver
sekali lagi untuk memastikan.
“Bukannya semua orang tidak suka dengan yang namanya
kepergian?” tanya Nhea balik.
Kini mereka saling merenung untuk sesaat. Melemparkan
__ADS_1
pandangan satu sama lain untuk mencari jawaban tersembunyi. Benar juga.
Memangnya siapa yang suka dengan kata “Pergi”. Baik dia yang pergi atau malah
ditinggal pergi. Keduanya sama saja. Tidak ada yang merasa baik.
“Mereka yang pergi, sesungguhnya adalah orang yang paling
ingin menetap,” ujar Oliver dengan suara rendah.
“Lantas jika ingin menetap, kenapa mereka harus pergi?”
tanya Nhea lagi.
“Mungkin situasinya sudah tidak memungkinkan untuk tetap
bertahan,” jawab Oliver dengan apa adanya.
Untuk beberapa saat mereka saling membisu seribu bahasa.
Atmosfir di antara keduanya mendadak berubah menjadi hening. Tak peduli
seberapa riuh ruangan ini sekarang. Kedua gadis itu sedang tenggelam di dalam
pikirannya masing-masing. Menyelam lebih jauh lagi untuk mendapatkan fakta.
“Kau harus tahu satu hal ini. Ibuku pernah mengatakannya
kepadaku saat masih kecil,” ujar Oliver yang kemudian berhasil mendapatkan
atensi dari lawan bicaranya.
“Mereka yang pergi tidak benar-benar pergi lalu menghilang
begitu saja,” bebernya.
“Orang-orang itu hanya bergerak menepi karena situasi yang
tak memungkinkan untuk tetap bertahan di tempat yang sama. Setelah pergi,
mereka akan tetap menunggu dan bertahan di tempat yang baru. Bukankah setiap
hal yang ada di dunia ini akan selalu bergerak?” jelasnya dengan panjang lebar
yang kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
Lagi-lagi apa yang dikatakan oleh gadis ini cukup masuk
akal. Entah bagaimana caranya ia masih bisa mengingat semua itu di dalam
kepalanya. Padahal Nhea yakin jika Ibunya sudah mengatakan hal itu cukup lama.
Oliver sendiri mengaku bahwa waktu itu dia masih kecil.
“Benar, mereka menanti,” gumam Nhea.
“Tapi, orang yang ditinggalkan olehnya belum tentu bisa
menyusul ke tempat penantian yang baru,” kata gadis itu kemudian.
“Jangan terlalu dipikirkan,” balas Oliver acuh tak acuh.
Dia tidak suka jika harus membahas hal ini sebenarnya. Sama
saja seperti Nhea. mereka pernah sama-sama ditinggalkan sebelum pada akhirnya
bertemu di akademi sihir Mooneta.
Ibu Oliver dan Jongdae sengaja mengirimkan anak-anaknya ke
sini sebelum akhirnya menghilang secara misterius. Ia mendapatkan kabar itu
dari salah satu teman dekatnya yang kemudian masuk ke akademi ini juga. Itu
adalah informasi terakhir yang sempat ia dengar.
Sementara itu, siapa yang tidak
__ADS_1
tahu bagaimana kisah Nhea dan keluarga kecilnya. Nyaris semua orang di akademi
ini tahu seperti apa alur kisahnya.