Mooneta High School

Mooneta High School
Grand Opening


__ADS_3

Mereka bangun pagi-pagi sekali tadi karena begitu


bersemangat. Terutama Oliver. Dia adalah orang yang paling tampak menonjol di


sini. Gadis itu sepertinya sudah tidak sabar untuk berkompetisi. Atau,


jangan-jangan ia hanya ingin memamerkan sepatu barunya yang ia dapat dari Paman


Johnson.


Menurut penuturan Eun Ji Hae, mereka akan berangkat ke pusat


kota setelah selesai sarapan. Tenang saja. Anak-anak itu tidak akan terlambat.


Mereka bisa sampai di sana hanya dalam waktu hitungan menit. Bahkan kurang dari


lima belas menit mungkin. Itu jika berjalan kaki. Berbeda lagi ceritanya jika


menunggangi pegasus, atau naik sapu terbang.


Tapi, mereka tidak mungkin melakukan hal tersebut. Pusat


kota terlalu ramai. Tidak ada ruang yang tersisa sedikit pun bagi mereka untuk


meletakkan hewan-hewan itu. Mereka juga tidak mungkin membawa masuk pegasus


atau sapu terbang sampai ke dalam arena pertandingan.


Acara pembukaan baru akan dimulai sekitar pukul sepuluh pagi


nanti. Jadi, masih ada waktu bagi mereka untuk mengisi energi terlebih dahulu.


Akademi sihir Mooneta biasanya akan menggelar perjamuan makan pagi sekitar jam


tujuh sampai jam delapan pagi. Mereka bahkan masih memiliki waktu dua jam lagi


sebelum upacara pembukaan. Waktu yang tersisa setelah salarapan jauh lebih dari


cukup untuk menempuh perjalanan ke pusat kota.


Hari ini kurang lebih masih sama seperti satu hari


sebelumnya. Anak-anak itu mendapatkan perlakuan baik dari akademinya.


Sebenarnya, ini bukan yang pertama kali. Hanya saja, diperlakukan dengan baik


di saat semacam ini seperti memberikan kesan yang lebih istimewa.


“Kau lihat? Mereka memberikan kita makanan enak lagi,” bisik


Oliver kepada temannya. Siapa lagi jika bukan Nhea. Hanya dengan gadis itu saja


ia berbicara saat ini.


“Ayolah, ini bukan pertama kalinya mereka memberikan kita


makanan yang enak,” ujar Nhea dengan nada sedikit mengeluh.


“Jadi, selama ini maksudmu masakan mereka tidak enak


begitu?” lanjutnya.


“Bukan begitu!” tepis Oliver dengan cepat. Ia tidak mau


sampai ada kesalahpahaman yang terjadi di sini.


“Menu hari ini dan kemarin adalah masakan paling enak yang


pernah mereka buat sejauh ini!” celetuk Oliver.


Sementara itu, Nhea hanya bisa menarik kedua sudut bibirnya


hingga membentuk senyuman tipis.


Tanpa buang-buang waktu lagi, mereka segera beranjak menuju


salah satu tempat duduk yang masih kosong. Sembari menunggu yang lainnya

__ADS_1


selesai, mungkin mereka bisa menghabiskan waktunya dengan berbincang ringan.


Tidak harus yang sampai menguras pikiran. Apalagi sampai membuat kepalamu


terasa ingin pecah.


Nhea memilih untuk buka suara lebih dulu begitu sampai di


meja makan dengan mengajukan beberapa pertanyaan acak. Tidak terlalu penting


memang jika dipikir-pikir. Anggaplah jika ini hanya basa-basi.


“Bagaimana hubunganmu dengan Jongdae?” tanya gadis itu


secara tiba-tiba.


“Tidak kenapa-kenapa. Masih sama seperti biasanya,” jawab


Oliver secara gamblang.


“Tidak ada hal istimewa yang terjadi. Kau tahu itu,”


tukasnya kemudian.


Ia mendapatkan anggukan dari Nhea. Menyatakan jika lawan


bicaranya saat itu setidaknya paham dengan penjelasan yang ia berikan barusan.


“Kalian harus lebih sering berbicara dan menghabiskan waktu


bersama. Bagaimanapun kalian adalah kakak adik,” jelas Nhea dengan panjang


lebar.


“Saudara kandung!” tegasnya sekali lagi.


Gadis itu sungguh berharap agar Oliver mau mengindahkan


sarannya yang satu ini. Ada sedikit rasa penyesalan di dalan relung hatinya.


Tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Ia merasa bersalah terhadap keduanya.


mereka menjadi tidak baik-baik saja. Katakanlah jika mereka berdua sudah saling


memaafkan. Tapi, sesuatu yang telah rusak tidak akan pernah kembali seperti


dulu lagi.


“Menurutmu, apa hal yang paling menakutkan di dunia ini?”


tanya Oliver kepada temannya.


Nhea yang mendapatkan pertanyaan seperti itu tidak langsung


menjawab. Melainkan tetap bergeming untuk beberapa saat. Memaksa kepalanya


untuk berpikir.


“Kepergian,” jawab gadis itu beberapa saat kemudian.


Jika boleh jujur, Oliver merasa terkejut sekaligus bingung


mendengar perkataan gadis itu tadi. Bagaimana bisa Nhea memberikan jawaban


demikian. Hanya ada satu kata, namun cukup untuk merangkum arti dari


keseluruhan resah yang ia rasa.


“Kau tidak suka jika ada yang pergi, begitu?” tanya Oliver


sekali lagi untuk memastikan.


“Bukannya semua orang tidak suka dengan yang namanya


kepergian?” tanya Nhea balik.


Kini mereka saling merenung untuk sesaat. Melemparkan

__ADS_1


pandangan satu sama lain untuk mencari jawaban tersembunyi. Benar juga.


Memangnya siapa yang suka dengan kata “Pergi”. Baik dia yang pergi atau malah


ditinggal pergi. Keduanya sama saja. Tidak ada yang merasa baik.


“Mereka yang pergi, sesungguhnya adalah orang yang paling


ingin menetap,” ujar Oliver dengan suara rendah.


“Lantas jika ingin menetap, kenapa mereka harus pergi?”


tanya Nhea lagi.


“Mungkin situasinya sudah tidak memungkinkan untuk tetap


bertahan,” jawab Oliver dengan apa adanya.


Untuk beberapa saat mereka saling membisu seribu bahasa.


Atmosfir di antara keduanya mendadak berubah menjadi hening. Tak peduli


seberapa riuh ruangan ini sekarang. Kedua gadis itu sedang tenggelam di dalam


pikirannya masing-masing. Menyelam lebih jauh lagi untuk mendapatkan fakta.


“Kau harus tahu satu hal ini. Ibuku pernah mengatakannya


kepadaku saat masih kecil,” ujar Oliver yang kemudian berhasil mendapatkan


atensi dari lawan bicaranya.


“Mereka yang pergi tidak benar-benar pergi lalu menghilang


begitu saja,” bebernya.


“Orang-orang itu hanya bergerak menepi karena situasi yang


tak memungkinkan untuk tetap bertahan di tempat yang sama. Setelah pergi,


mereka akan tetap menunggu dan bertahan di tempat yang baru. Bukankah setiap


hal yang ada di dunia ini akan selalu bergerak?” jelasnya dengan panjang lebar


yang kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


Lagi-lagi apa yang dikatakan oleh gadis ini cukup masuk


akal. Entah bagaimana caranya ia masih bisa mengingat semua itu di dalam


kepalanya. Padahal Nhea yakin jika Ibunya sudah mengatakan hal itu cukup lama.


Oliver sendiri mengaku bahwa waktu itu dia masih kecil.


“Benar, mereka menanti,” gumam Nhea.


“Tapi, orang yang ditinggalkan olehnya belum tentu bisa


menyusul ke tempat penantian yang baru,” kata gadis itu kemudian.


“Jangan terlalu dipikirkan,” balas Oliver acuh tak acuh.


Dia tidak suka jika harus membahas hal ini sebenarnya. Sama


saja seperti Nhea. mereka pernah sama-sama ditinggalkan sebelum pada akhirnya


bertemu di akademi sihir Mooneta.


Ibu Oliver dan Jongdae sengaja mengirimkan anak-anaknya ke


sini sebelum akhirnya menghilang secara misterius. Ia mendapatkan kabar itu


dari salah satu teman dekatnya yang kemudian masuk ke akademi ini juga. Itu


adalah informasi terakhir yang sempat ia dengar.


Sementara itu, siapa yang tidak

__ADS_1


tahu bagaimana kisah Nhea dan keluarga kecilnya. Nyaris semua orang di akademi


ini tahu seperti apa alur kisahnya.


__ADS_2