Mooneta High School

Mooneta High School
The Topic


__ADS_3

Setelah makan siang biasanya mereka akan kembali ke asrama


untuk beristirahat. Tapi, sebagian lagi juga malah melakukan hal lainnya.


Sebenarnya terserah mereka mau melakukan apa. Tidak ada salahnya.


Jadwal kelas mereka baru akan dilaksanakan setelah makan


malam. Jadi, bisa dikatakan jika anak-anak itu punya cukup banyak waktu luang.


Nhea dan Oliver memutuskan untuk langsung kembali ke


kamarnya masing-masing setelah perjamuan makan siang. Mereka perlu jam


istitahat yang cukup. Staminanya harus dijaga. Tidak boleh sampai jatuh sakit


hanya karena latihan keras. Hari ini mereka harus menjaga dirinya baik-baik


supaya besok bisa memberikan hasil yang terbaik saat bertanding.


"Aku sudah mengembalikan sepatumu ke tempatnya semula.


Juga sudah ku bersihkan," ujar Oliver sambil menenteng sepatu barunya.


"Omong-omong terima kasih banyak telah meminjamkanku


sepatumu untuk hari ini," lanjutnya kemudian.


"Tenang saja. Tidak usah terlalu berlebihan,"


balas Nhea dengan nada datar.


“Kau tahu betul bagaimana aku bisa menjalani hari ini tanpa


bantuanmu,” ujar Oliver. Kali ini dia tidak main-main dengan ucapannya.


Gadis itu menjatuhkan dirinya di atas kasur. Tepat pada sisi


kanan Nhea. Dengan sepatu yang masih berada di tangannya. Oliver sama sekali


belum ada mencoba sepatu ini sejak tadi. Terakhir kali pada saat masih berada


di toko. Kebetulan ukurannya pas. Sehingga Oliver bisa langsung mengambilnya


tanpa pusing-pusing.


Ia sama sekali belum sempat untuk menggunakannya setelah


membeli. Hal tersebut disebabkan akibat jadwal mereka yang cukup padat tadi.


Sehingga tidak ada waktu luang lagi yang bisa dimanfaatkan. Bahkan untuk


sekedar mengganti sepatu saja tidak bisa.


Sekarang sudah jauh lebih baik. Setidaknya mereka tidak


perlu lagi terikat pada suatu jadwal tertentu. Sekarang mereka sudah kembali


bebas. Meski kebebasan yang didapatkan memang tidak sebesar sebelumnya. Tapi


tidak apa. Sama-sama bebas pada intinya.


Beberapa orang tampak berkeliaran di luar sana. Namun, tidak


sedikit pula yang lebih memilih untuk tetap berada di kamar asramanya


masing-masing. Nhea dan Oliver adalah salah satu dari mereka.


“Ku harap kita bisa bisa bertemu dengan Paman Johnson di


lain waktu. Semoga itu bukan hanya wacana semata,” ujar Oliver secara

__ADS_1


tiba-tiba.


Sepatu yang baru ia dapatkan ini selalu berhasil


mengingatkannya kepada pria itu. Andai saja pria bernama Johnson itu tetap


berada di akademi dan tak memutuskan keluar setelah lulus. Mereka pasti akan


sangat beruntung karena bisa bertemu dengannya setiap saat.


Paman Johnson memberikan sepatu ini secara cuma-cuma kepada


Oliver. Dengan alasan karena mereka adalah adik-adiknya yang berasal dari


akademi yang sama. Padahal beberapa hari ini tokonya sedang sepi. Berbanding terbalik


dengan kondisi pasar yang ramai dan membludak oleh manusia.


Ia tidak merasa rugi sama sekali. Malah, pria itu merasa


senang karena pada akhirnya ada seseorang yang berkunjung ke tokonya. Terlebih orang


itu adalah Nhea dan Oliver yang tak lain dan tak bukan adalah adik-adik kelasnya.


Meskipun perbedaan usia mereka cukup jauh, tapi mereka tetap saja berasal dari


keluarga yang sama. Yaitu keluarga besar akademi sihir Mooneta.


Paman Johnson sudah menjadi bagian dari akademi itu sejak


awal pertama kali terbentuk. Secara tidak langsung, ia pasti tahu banyak soal


Mooneta. Mulai dari asal usulnya hingga kisah tersembunyi lainnya yang belum


pernah terungkap sama sekali. Sebenarnya ada banyak informasi penting yang bisa


mereka dapatkan dari Paman Johnson. Namun, yang tadi sepertinya bukan


Nhea sangat berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi. Ada banyak pertanyaan


dengan sebuah tanda tanya besar yang tersimpan di dalam kepalanya untuk


sementara waktu. Dia tetap akan menyimpannya sampai bertemu Paman Johnson lagi.


Karena memang hanya pria itu saja yang bisa menjawab semua pertanyaan ini.


“Menurutmu, apakah besok dia akan datang ke festival?” tanya


Oliver secara tiba-tiba.


Nhea mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Menatapnya


sekilas, kemudian segera membuang pandangannya lagi. Kali ini kedua bola


matanya tertuju kepada langit-langit ruangan yang tampaknya mulai dipenuhi oleh


beberapa sarang laba-laba. Begitu halus, sehingga tidak mudah terlihat oleh


mata telanjang. Perlu diamati secara seksama untuk menemukan keberadaannya.


Gadis itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Oliver


barusan. Ia malah menghela napasnya dengan kasar. Melepaskan segala beban


pikiran yang selama ini memenuhi kepalanya. Nhea membarkan semua hal itu


menguap ke udara bersamaan dengan hembusan napasnya tadi. Meski ia  tidak benar-benar yakin jika semuanya akan


kembali baik-baik saja setelah ia menghela napas. Karena pada dasarnya bernapas


adalah hal wajar yang dilakukan oleh setiap manusia. Tidak ada sisi istimewanya

__ADS_1


sama sekali.


“Mungkin dia hanya akan datang pada saat acara pembukaan


saja,” jawab Nhea setelah membisu selama beberapa saat.


Kini giliran Oliver yang menghela napasnya. Seolah tidak


terima dengan pernyataan dari gadis itu barusan, ia memutar bola matanya malas.


Entahlah, mungkin dia juga mulai bersikap pasrah.


“Padahal aku sangat berharap agar dia hadir di arena


pertandingan dan memberikan semangat kepada kita,” ungkap Oliver dengan berat


hati. Pasalnya, ia tahu betul jika hal tersebut tidak akan pernah terjadi.


“Dia mungkin akan melakukannya nanti jika ada waktu luang,”


balas Nhea acuh tak acuh.


Apa yang dikatakan oleh Nhea ada benarnya juga. Pria itu


pasti memiliki urusan pribadi yang tidak mereka ketahui. Ada urutan dalam


daftar priorotasnya. Mungkin anak-anak dari akademi sihir Mooneta dan festival


sihir itu ada pada urutan terakhir di dalam daftar prioritasnya.


Mari berpikir realistis saja. Paman Johnson tidak mungkin


mengabaikan urusannya yang lain hanya demi menyaksikan pertandingan mereka. Belum


tentu akademi sihir Mooneta akan kembali menjadi pemenangnya. Padahal sudah


jelas jika ada hal lain yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar


menyaksikan pertandingan.


Misalnya saja soal toko sepatu itu. Dia tidak akan bisa


meninggalkan tokonya tanpa pengawasan seorang pun. Walau sebenarnya Paman


Johnson sudah cukup sering melakukan hal tersebut. Dan terbukti memang jika


tidak ada yang berniat jahat selama ia pergi. Tidak pernah ada laporan


pencurian dari tokonya. Semua aman-aman saja. Sepertinya para pencuri tidak


terlalu tertarik untuk merampas sepatu langsung dari tokonya. Mereka lebih


memilih sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah sepatu.


“Adalah suatu kebanggaan bagi kita jika Paman Johnson jika


ia hadir dalam acara besok. Apalagi sampai menyaksikan pertandingan kita,” ujar


Oliver yang mulai membayangkan bagaimana serunya esok hari dengan kehadiran


pria itu.


“Jika ia sungguh datang, maka itu adalah sebuah


keberuntungan besar bagi kita. Namun, jika tidak juga tidak apa-apa. Pasti


masih ada kesempatan yang lainnya,” jelas Nhea dengan panjang lebar. Ia tidak


ingin temannya yang satu ini sampai terlalu menaruh rasa percaya kepada sesama


manusia.

__ADS_1


__ADS_2