
Setelah makan siang biasanya mereka akan kembali ke asrama
untuk beristirahat. Tapi, sebagian lagi juga malah melakukan hal lainnya.
Sebenarnya terserah mereka mau melakukan apa. Tidak ada salahnya.
Jadwal kelas mereka baru akan dilaksanakan setelah makan
malam. Jadi, bisa dikatakan jika anak-anak itu punya cukup banyak waktu luang.
Nhea dan Oliver memutuskan untuk langsung kembali ke
kamarnya masing-masing setelah perjamuan makan siang. Mereka perlu jam
istitahat yang cukup. Staminanya harus dijaga. Tidak boleh sampai jatuh sakit
hanya karena latihan keras. Hari ini mereka harus menjaga dirinya baik-baik
supaya besok bisa memberikan hasil yang terbaik saat bertanding.
"Aku sudah mengembalikan sepatumu ke tempatnya semula.
Juga sudah ku bersihkan," ujar Oliver sambil menenteng sepatu barunya.
"Omong-omong terima kasih banyak telah meminjamkanku
sepatumu untuk hari ini," lanjutnya kemudian.
"Tenang saja. Tidak usah terlalu berlebihan,"
balas Nhea dengan nada datar.
“Kau tahu betul bagaimana aku bisa menjalani hari ini tanpa
bantuanmu,” ujar Oliver. Kali ini dia tidak main-main dengan ucapannya.
Gadis itu menjatuhkan dirinya di atas kasur. Tepat pada sisi
kanan Nhea. Dengan sepatu yang masih berada di tangannya. Oliver sama sekali
belum ada mencoba sepatu ini sejak tadi. Terakhir kali pada saat masih berada
di toko. Kebetulan ukurannya pas. Sehingga Oliver bisa langsung mengambilnya
tanpa pusing-pusing.
Ia sama sekali belum sempat untuk menggunakannya setelah
membeli. Hal tersebut disebabkan akibat jadwal mereka yang cukup padat tadi.
Sehingga tidak ada waktu luang lagi yang bisa dimanfaatkan. Bahkan untuk
sekedar mengganti sepatu saja tidak bisa.
Sekarang sudah jauh lebih baik. Setidaknya mereka tidak
perlu lagi terikat pada suatu jadwal tertentu. Sekarang mereka sudah kembali
bebas. Meski kebebasan yang didapatkan memang tidak sebesar sebelumnya. Tapi
tidak apa. Sama-sama bebas pada intinya.
Beberapa orang tampak berkeliaran di luar sana. Namun, tidak
sedikit pula yang lebih memilih untuk tetap berada di kamar asramanya
masing-masing. Nhea dan Oliver adalah salah satu dari mereka.
“Ku harap kita bisa bisa bertemu dengan Paman Johnson di
lain waktu. Semoga itu bukan hanya wacana semata,” ujar Oliver secara
__ADS_1
tiba-tiba.
Sepatu yang baru ia dapatkan ini selalu berhasil
mengingatkannya kepada pria itu. Andai saja pria bernama Johnson itu tetap
berada di akademi dan tak memutuskan keluar setelah lulus. Mereka pasti akan
sangat beruntung karena bisa bertemu dengannya setiap saat.
Paman Johnson memberikan sepatu ini secara cuma-cuma kepada
Oliver. Dengan alasan karena mereka adalah adik-adiknya yang berasal dari
akademi yang sama. Padahal beberapa hari ini tokonya sedang sepi. Berbanding terbalik
dengan kondisi pasar yang ramai dan membludak oleh manusia.
Ia tidak merasa rugi sama sekali. Malah, pria itu merasa
senang karena pada akhirnya ada seseorang yang berkunjung ke tokonya. Terlebih orang
itu adalah Nhea dan Oliver yang tak lain dan tak bukan adalah adik-adik kelasnya.
Meskipun perbedaan usia mereka cukup jauh, tapi mereka tetap saja berasal dari
keluarga yang sama. Yaitu keluarga besar akademi sihir Mooneta.
Paman Johnson sudah menjadi bagian dari akademi itu sejak
awal pertama kali terbentuk. Secara tidak langsung, ia pasti tahu banyak soal
Mooneta. Mulai dari asal usulnya hingga kisah tersembunyi lainnya yang belum
pernah terungkap sama sekali. Sebenarnya ada banyak informasi penting yang bisa
mereka dapatkan dari Paman Johnson. Namun, yang tadi sepertinya bukan
Nhea sangat berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi. Ada banyak pertanyaan
dengan sebuah tanda tanya besar yang tersimpan di dalam kepalanya untuk
sementara waktu. Dia tetap akan menyimpannya sampai bertemu Paman Johnson lagi.
Karena memang hanya pria itu saja yang bisa menjawab semua pertanyaan ini.
“Menurutmu, apakah besok dia akan datang ke festival?” tanya
Oliver secara tiba-tiba.
Nhea mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Menatapnya
sekilas, kemudian segera membuang pandangannya lagi. Kali ini kedua bola
matanya tertuju kepada langit-langit ruangan yang tampaknya mulai dipenuhi oleh
beberapa sarang laba-laba. Begitu halus, sehingga tidak mudah terlihat oleh
mata telanjang. Perlu diamati secara seksama untuk menemukan keberadaannya.
Gadis itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Oliver
barusan. Ia malah menghela napasnya dengan kasar. Melepaskan segala beban
pikiran yang selama ini memenuhi kepalanya. Nhea membarkan semua hal itu
menguap ke udara bersamaan dengan hembusan napasnya tadi. Meski ia tidak benar-benar yakin jika semuanya akan
kembali baik-baik saja setelah ia menghela napas. Karena pada dasarnya bernapas
adalah hal wajar yang dilakukan oleh setiap manusia. Tidak ada sisi istimewanya
__ADS_1
sama sekali.
“Mungkin dia hanya akan datang pada saat acara pembukaan
saja,” jawab Nhea setelah membisu selama beberapa saat.
Kini giliran Oliver yang menghela napasnya. Seolah tidak
terima dengan pernyataan dari gadis itu barusan, ia memutar bola matanya malas.
Entahlah, mungkin dia juga mulai bersikap pasrah.
“Padahal aku sangat berharap agar dia hadir di arena
pertandingan dan memberikan semangat kepada kita,” ungkap Oliver dengan berat
hati. Pasalnya, ia tahu betul jika hal tersebut tidak akan pernah terjadi.
“Dia mungkin akan melakukannya nanti jika ada waktu luang,”
balas Nhea acuh tak acuh.
Apa yang dikatakan oleh Nhea ada benarnya juga. Pria itu
pasti memiliki urusan pribadi yang tidak mereka ketahui. Ada urutan dalam
daftar priorotasnya. Mungkin anak-anak dari akademi sihir Mooneta dan festival
sihir itu ada pada urutan terakhir di dalam daftar prioritasnya.
Mari berpikir realistis saja. Paman Johnson tidak mungkin
mengabaikan urusannya yang lain hanya demi menyaksikan pertandingan mereka. Belum
tentu akademi sihir Mooneta akan kembali menjadi pemenangnya. Padahal sudah
jelas jika ada hal lain yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar
menyaksikan pertandingan.
Misalnya saja soal toko sepatu itu. Dia tidak akan bisa
meninggalkan tokonya tanpa pengawasan seorang pun. Walau sebenarnya Paman
Johnson sudah cukup sering melakukan hal tersebut. Dan terbukti memang jika
tidak ada yang berniat jahat selama ia pergi. Tidak pernah ada laporan
pencurian dari tokonya. Semua aman-aman saja. Sepertinya para pencuri tidak
terlalu tertarik untuk merampas sepatu langsung dari tokonya. Mereka lebih
memilih sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah sepatu.
“Adalah suatu kebanggaan bagi kita jika Paman Johnson jika
ia hadir dalam acara besok. Apalagi sampai menyaksikan pertandingan kita,” ujar
Oliver yang mulai membayangkan bagaimana serunya esok hari dengan kehadiran
pria itu.
“Jika ia sungguh datang, maka itu adalah sebuah
keberuntungan besar bagi kita. Namun, jika tidak juga tidak apa-apa. Pasti
masih ada kesempatan yang lainnya,” jelas Nhea dengan panjang lebar. Ia tidak
ingin temannya yang satu ini sampai terlalu menaruh rasa percaya kepada sesama
manusia.
__ADS_1