
Sampai saat ini belum ada yang mengetahui siapa pemiliki
kalung tersebut. Jika dilihat dari bentuk serta modelnya, sepertinya ini
perhhiasan kuno. Mungkin memang peninggalan dari zaman dahulu. Tampak jelas
jika itu adalah barang antik.
Oliver juga tidak tahu jelas sebenarnya. Tapi, gadis itu
sudah berasumsi demikian sejak awal. Dugaannya semakin kuat ketika ia
mengetahui sebuah fakta kalau nakas yang berada di dalam kamarnya saat ini
tidak kalah tua umurnya. Kabarnya, semua fasilitas yang berada di tempat ini
memang sudah ada sejak lama. Tidak pernah diganti sama sekali sejak angkatan
pertama lulus.
Bayangkan saja sudah setua apa barang-barang itu sekarang. Paman
Johnson adalah penikmat fasilitas itu untuk yang pertama kalinya.
Dari sana mereka bisa menyimpulkan jika kalung tersebut
merupakan peninggalan pemiliki kamar yang lama. Angkatan yang sudah lulus jauh
sebelum mereka datang. Selama ini Oliver tidak pernah menyadari keberadaan
kalung tersebut. Karena memang ia terlalu sibuk. Tidak ada waktu untuk hanya
sekedar memeriksa nakas. Terlebih ketika ia diminta untuk menjabat sebagai
ketua asrama putri.
“Lalu, apa kau tahu siapa penghuni kamar sebelum dirimu?”
tanya Nhea.
“Tidak sama sekali,” balas gadis itu secara gamblang.
Mereka berdua sejak tadi tengah sibuk membicarakan soal
penghuni kamar sebelumnya. Keriuhan suasana hari ini tidak menjadi penghalang.
Bahkan semua suara berisik itu tidak cukup untuk memecah konsentrasi mereka.
Untuk pertama kalinya Nhea bisa bertahan untuk tetap fokus pada situasi yang
tidak mendukung.
Atmosfir keduanya jauh berbeda dengan lingkungan sekitar. Mereka
seperti memiliki dunia sendiri. Ada suatu portal yang tercipta secara tidak
langsung. Energi keduanya berbeda jauh dengan yang lain.
“Menurutmu, apakah kita perlu mencari tahu lebih lagi soal
kalung tersebut?” tanya Nhea lagi.
“Tentu saja!” balas Oliver dengan antusias.
Mereka sudah banyak bercerita sejak tadi. Tapi, masih belum
sampai ke inti pembahasannya. Bukan pemiliki kamar sebelumnya yang menjadi sasaran
utama dalam topik pembahasan kali ini. Oliver sama sekali tidak bermaksud
demikian.
Tapi, di sisi lain mereka juga perlu tahu siapa pemiliki
kamar sebelumnya. Sedikit banyaknya, mereka harus mendengarkan cerita dari
orang tersebut terlebih dahulu. Sebelum pada akhirnya menarik keputusan
__ADS_1
sendiri. Terkadang kesimpulan yang mereka buat tidak harus selalu dari
pandangan mereka saja. Ada banyak sudut pandang yang bisa ikut diperhatikan
dalam proses pengambilan keputusan di sini.
“Kapan kau pertama kali menempati kamar itu?” tanya
Nhea.Tampaknya gadisi tu mulai merasa penasaran juga. Nhea sudah terbawa
suasana.
“Sekitar lima tahun lalu,” jawab Oliver dengan apa adanya.
“Itu adalah hari pertamaku diterima sebagai salah satu siswa
di akademi sihir Mooneta. Kemudian Nyonya kepala sekolah memberikan kamar itu
padaku,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Saat aku sampai ke sana, kondisinya masih kosong.
Sepertinya memang sudah lama ditinggalkan,” tukasnya.
Nhea hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Entah sudah
berapa kali ia melakukan hal yang sama untuk hari ini. Gadis itu terlalu sering
mengangguk dari pada berbicara.
“Apa waktu itu banyak kamar yang kosong?” tanya Nhea sekali
lagi untuk memastikan.
Diam-diam di dalam kepalanya ia sudah mulai menemukan satu
skenario. Entah itu benar atau tidak, biarlah menjadi urusan belakangan. Untuk
sementara, isi kepalanya saat ini hanya akan menjadi dugaan saja. Kebenarannya
memang belum terbukti sama sekali.
“Iya, benar!” pekik Oliver di tengah keramaian suasana.
“Tapi, bagaimana kau bisa tahu soal itu?” tanya gadis itu
kemudian. Kali ini nada bicaranya terdengar jauh lebih santai dari pada yang
sebelumnya.
“Ah, kalau soal itu aku hanya menebak saja,” dalih Nhea.
Padahal sebenarnya ia tahu jika asrama memang sempat pernah
sepi. Nyaris tak berpenghuni. Bahkan pada waktu itu hanya satu lantai yang
digunakan dari total keseluruhan bangunan. Ada banyak penghuni asrama yang
meninggal tepat pada musim dingin tujuh tahun lalu. Mereka gugur pada saat
serangan tahunan Ify datang. Waktu itu pertahanan mereka memang belum cukup
kuat untuk melawan.
Jumah korban yang meninggal pada waktu itu jauh lebih banyak
dari pada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan hampir menyentuh angka tujuh puluh
persen dari total populasi siswa yang terdaftar di akademi ini. Sejarahnya
tercatat pada buku sejarah akademi yang sempat diletakkan di perpustakaan.
Kemudian beberapa tahun setelahnya, buku tersebut kembali dipindahkan ke ruang
penyimpanan khusus.
Ada banyak alasan yang mendasari kepindahannya. Mulai dari
__ADS_1
luka yang mendalam, hingga kisah lainnya. Mereka tidak ingin terus berlarut
dalam kesedihan. Itu sebabnya, buku sejarah tersebut tidak lagi ditampilkan di
perpustakaan. Keberadaannya masih disembunyikan secara sengaja oleh pihak
akademi.
Tidak banyak yang tahu soal kejadian tersebut. Terutama
Oliver. Yang ia tahu selama ini hanyalah jika memang pada saat itu tidak terlalu banyak yang
berminat untuk masuk ke sekolah ini. Sehingga asrama kosong dan hanya lantai
dasar saja yang dipakai.
“Waktu itu hanya sedikit yang berhasil di terima pada tahun
tersebut. Mungkin sekitar tiga puluh orang,” jelas Oliver sebatas
pengetahuannya.
“Ternyata memang benar. Mereka sengaja menyembunyiakan fakta
tersebut dari para siswa,” batin Nhea dalam hati.
Gadis itu berdeham beberapa saat setelah Oliver
menyelesaikan kalimatnya barusan. Dia harus melakukan sesuatu untuk kembali
menetralisir suasana.
“Tidakkah sebaiknya kita bertanya kepada Bibi Ga Eun saja
soal siapa pemilik kamar tersebut sebelumnya?” usul Nhea secara spontan. Ia
sama sekali tidak pernah merencanakan jika dirinya akan mengatakan hal tersebut
sebelumnya. Sungguh. Semua terjadi di luar kendalinya.
“Itu sudah lama sekali,” balas Oliver.
Gadis itu tampaknya tidak terlalu yakin dengan usul Nhea
kali ini. Tidak masuk akal. Dari sekian banyak siswa, dia mana bisa mengingat
siapa salah satunya. Terlebih Bibi Ga Eun kali ini tidak bisa dikatakan muda
lagi. Dia sudah cukup berumur, meski belum terlalu tua. Sekarang saja, ia jauh
lebih banyak meminta Eun Ji Hae untuk melakukan pekerjaan pokoknya. Ingatan
wanita itu tidak bisa diandalkan sepenuhnya sekarang. Daya kerja otaknya sudah
mulai menurun.
“Aku yakin jika mereka masih memiliki catatannya. Kita bisa
memakai yang satu itu!” usul Nhea kembali.
“Catatan?” tanya Oliver sembari mengerutkan dahinya,
pertanda tak mengerti.
“Apa kau tidak tahu kalau setiap tahunnya mereka selalu
melakukan pendataan ulang terhadap isi asrama?” tanya Nhea balik untuk
memastikan.
Rasanya aneh. Bagaimana bisa
Oliver yang tengah menjabat sebagai seorang ketua asrama bisa tidak tahu
perihal tersebut. Padahal, bukan satu atau dua tahun ia tinggal di sini. Kecuali,
tadi ia baru sebulan berada di akademi ini. Wajar saja jika bertanya begitu. Tapi,
__ADS_1
ini malah sebaliknya.