Mooneta High School

Mooneta High School
Knowing


__ADS_3

Sampai saat ini belum ada yang mengetahui siapa pemiliki


kalung tersebut. Jika dilihat dari bentuk serta modelnya, sepertinya ini


perhhiasan kuno. Mungkin memang peninggalan dari zaman dahulu. Tampak jelas


jika itu adalah barang antik.


Oliver juga tidak tahu jelas sebenarnya. Tapi, gadis itu


sudah berasumsi demikian sejak awal. Dugaannya semakin kuat ketika ia


mengetahui sebuah fakta kalau nakas yang berada di dalam kamarnya saat ini


tidak kalah tua umurnya. Kabarnya, semua fasilitas yang berada di tempat ini


memang sudah ada sejak lama. Tidak pernah diganti sama sekali sejak angkatan


pertama lulus.


Bayangkan saja sudah setua apa barang-barang itu sekarang. Paman


Johnson adalah penikmat fasilitas itu untuk yang pertama kalinya.


Dari sana mereka bisa menyimpulkan jika kalung tersebut


merupakan peninggalan pemiliki kamar yang lama. Angkatan yang sudah lulus jauh


sebelum mereka datang. Selama ini Oliver tidak pernah menyadari keberadaan


kalung tersebut. Karena memang ia terlalu sibuk. Tidak ada waktu untuk hanya


sekedar memeriksa nakas. Terlebih ketika ia diminta untuk menjabat sebagai


ketua asrama putri.


“Lalu, apa kau tahu siapa penghuni kamar sebelum dirimu?”


tanya Nhea.


“Tidak sama sekali,” balas gadis itu secara gamblang.


Mereka berdua sejak tadi tengah sibuk membicarakan soal


penghuni kamar sebelumnya. Keriuhan suasana hari ini tidak menjadi penghalang.


Bahkan semua suara berisik itu tidak cukup untuk memecah konsentrasi mereka.


Untuk pertama kalinya Nhea bisa bertahan untuk tetap fokus pada situasi yang


tidak mendukung.


Atmosfir keduanya jauh berbeda dengan lingkungan sekitar. Mereka


seperti memiliki dunia sendiri. Ada suatu portal yang tercipta secara tidak


langsung. Energi keduanya berbeda jauh dengan yang lain.


“Menurutmu, apakah kita perlu mencari tahu lebih lagi soal


kalung tersebut?” tanya Nhea lagi.


“Tentu saja!” balas Oliver dengan antusias.


Mereka sudah banyak bercerita sejak tadi. Tapi, masih belum


sampai ke inti pembahasannya. Bukan pemiliki kamar sebelumnya yang menjadi sasaran


utama dalam topik pembahasan kali ini. Oliver sama sekali tidak bermaksud


demikian.


Tapi, di sisi lain mereka juga perlu tahu siapa pemiliki


kamar sebelumnya. Sedikit banyaknya, mereka harus mendengarkan cerita dari


orang tersebut terlebih dahulu. Sebelum pada akhirnya menarik keputusan

__ADS_1


sendiri. Terkadang kesimpulan yang mereka buat tidak harus selalu dari


pandangan mereka saja. Ada banyak sudut pandang yang bisa ikut diperhatikan


dalam proses pengambilan keputusan di sini.


“Kapan kau pertama kali menempati kamar itu?” tanya


Nhea.Tampaknya gadisi tu mulai merasa penasaran juga. Nhea sudah terbawa


suasana.


“Sekitar lima tahun lalu,” jawab Oliver dengan apa adanya.


“Itu adalah hari pertamaku diterima sebagai salah satu siswa


di akademi sihir Mooneta. Kemudian Nyonya kepala sekolah memberikan kamar itu


padaku,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Saat aku sampai ke sana, kondisinya masih kosong.


Sepertinya memang sudah lama ditinggalkan,” tukasnya.


Nhea hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Entah sudah


berapa kali ia melakukan hal yang sama untuk hari ini. Gadis itu terlalu sering


mengangguk dari pada berbicara.


“Apa waktu itu banyak kamar yang kosong?” tanya Nhea sekali


lagi untuk memastikan.


Diam-diam di dalam kepalanya ia sudah mulai menemukan satu


skenario. Entah itu benar atau tidak, biarlah menjadi urusan belakangan. Untuk


sementara, isi kepalanya saat ini hanya akan menjadi dugaan saja. Kebenarannya


memang belum terbukti sama sekali.


“Iya, benar!” pekik Oliver di tengah keramaian suasana.


“Tapi, bagaimana kau bisa tahu soal itu?” tanya gadis itu


kemudian. Kali ini nada bicaranya terdengar jauh lebih santai dari pada yang


sebelumnya.


“Ah, kalau soal itu aku hanya menebak saja,” dalih Nhea.


Padahal sebenarnya ia tahu jika asrama memang sempat pernah


sepi. Nyaris tak berpenghuni. Bahkan pada waktu itu hanya satu lantai yang


digunakan dari total keseluruhan bangunan. Ada banyak penghuni asrama yang


meninggal tepat pada musim dingin tujuh tahun lalu. Mereka gugur pada saat


serangan tahunan Ify datang. Waktu itu pertahanan mereka memang belum cukup


kuat untuk melawan.


Jumah korban yang meninggal pada waktu itu jauh lebih banyak


dari pada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan hampir menyentuh angka tujuh puluh


persen dari total populasi siswa yang terdaftar di akademi ini. Sejarahnya


tercatat pada buku sejarah akademi yang sempat diletakkan di perpustakaan.


Kemudian beberapa tahun setelahnya, buku tersebut kembali dipindahkan ke ruang


penyimpanan khusus.


Ada banyak alasan yang mendasari kepindahannya. Mulai dari

__ADS_1


luka yang mendalam, hingga kisah lainnya. Mereka tidak ingin terus berlarut


dalam kesedihan. Itu sebabnya, buku sejarah tersebut tidak lagi ditampilkan di


perpustakaan. Keberadaannya masih disembunyikan secara sengaja oleh pihak


akademi.


Tidak banyak yang tahu soal kejadian tersebut. Terutama


Oliver. Yang ia tahu selama ini hanyalah jika memang  pada saat itu tidak terlalu banyak yang


berminat untuk masuk ke sekolah ini. Sehingga asrama kosong dan hanya lantai


dasar saja yang dipakai.


“Waktu itu hanya sedikit yang berhasil di terima pada tahun


tersebut. Mungkin sekitar tiga puluh orang,” jelas Oliver sebatas


pengetahuannya.


“Ternyata memang benar. Mereka sengaja menyembunyiakan fakta


tersebut dari para siswa,” batin Nhea dalam hati.


Gadis itu berdeham beberapa saat setelah Oliver


menyelesaikan kalimatnya barusan. Dia harus melakukan sesuatu untuk kembali


menetralisir suasana.


“Tidakkah sebaiknya kita bertanya kepada Bibi Ga Eun saja


soal siapa pemilik kamar tersebut sebelumnya?” usul Nhea secara spontan. Ia


sama sekali tidak pernah merencanakan jika dirinya akan mengatakan hal tersebut


sebelumnya. Sungguh. Semua terjadi di luar kendalinya.


“Itu sudah lama sekali,” balas Oliver.


Gadis itu tampaknya tidak terlalu yakin dengan usul Nhea


kali ini. Tidak masuk akal. Dari sekian banyak siswa, dia mana bisa mengingat


siapa salah satunya. Terlebih Bibi Ga Eun kali ini tidak bisa dikatakan muda


lagi. Dia sudah cukup berumur, meski belum terlalu tua. Sekarang saja, ia jauh


lebih banyak meminta Eun Ji Hae untuk melakukan pekerjaan pokoknya. Ingatan


wanita itu tidak bisa diandalkan sepenuhnya sekarang. Daya kerja otaknya sudah


mulai menurun.


“Aku yakin jika mereka masih memiliki catatannya. Kita bisa


memakai yang satu itu!” usul Nhea kembali.


“Catatan?” tanya Oliver sembari mengerutkan dahinya,


pertanda tak mengerti.


“Apa kau tidak tahu kalau setiap tahunnya mereka selalu


melakukan pendataan ulang terhadap isi asrama?” tanya Nhea balik untuk


memastikan.


Rasanya aneh. Bagaimana bisa


Oliver yang tengah menjabat sebagai seorang ketua asrama bisa tidak tahu


perihal tersebut. Padahal, bukan satu atau dua tahun ia tinggal di sini. Kecuali,


tadi ia baru sebulan berada di akademi ini. Wajar saja jika bertanya begitu. Tapi,

__ADS_1


ini malah sebaliknya.


__ADS_2