Mooneta High School

Mooneta High School
Upacara Penghormatan


__ADS_3

Ketika jamuan makan malam hampir


selesai, beberapa orang mulai beranjak dari tempat duduknya masng-masing.


Mereka tidak akan pergi kemana-mana. Hanya mengantarkan piring kotor, kemudian


kembali lagi ke meja. Peraturannya memang begitu. Tidak ada yang boleh pergi


dari tempat ini sebelum semua orang selesai makan.


“Setelah selesai sarapan, jangan


lupa jika pagi ini kita memiliki agenda!” seru Eun Ji Hae dari depan sana.


Sontak kini semua mata tertuju


kepada gadis itu.


“Baik, Kakak Ji!” jawab


anak-anak tersebut secara bersamaan.


Jika boleh jujur, Oliver sendiri


bahkan nyaris lupa tentang itu. Mungkin jika Eun Ji Hae tidak mengingatkannya


tadi, ia sungguhan akan lupa.


“Berapa lama upacara


penghormatan akan berlangsung?” tanya Chanwo.


“Entahlah, mungkin akan memakan


waktu sampai hampir memasuki waktu makan siang,” jawab Jang Eunbi dengan apa


adanya.


Berdasarnya pengalamannya,


upacara penghargaan memang selalu memakan waktu yang lumayan panjang. Apalagi jika


jumlah pesertanya banyak. Semua tergantung kepada jumlah peserta. Tahun lalu


sendiri, mereka berhasil melaksanakan upacara penghormatan lebih dari enam jam.


Upacaranya dimulai tepat pada pukul sembilan dan selesai pukul tiga sore.


“Kalian tahu? Sebenarnya aku


sangat malas untuk pergi ke acara itu nanti,” ungkap Oliver sambil menyandarkan


tubuhnya di sandaran kursi.


“Kalau begitu, tidak perlu


datang ke upacara tersebut!” balas Jang Eunbi dengan antusias.


“Aku pasti akan melakukannya


jika diperbolehkan,” tukas Oliver.


Pasti nanti akan terasa cukup


membosankan. Sebab, tidak ada satu pun hal yang bisa ia lakukan. Mereka hanya


akan mendengarkan pidato dari banyak orang. Oliver pribadi jarang mendengarkannya


secara seksama. Hanya mereka yang benar-benar menikmati acara tersebut yang


akan melakukannya.


“Semoga kata-kata sambutan dari


mereka tidak sampai dua halaman,” cicit Oliver sambil harap-harap cemas.


***


Semua orang kini beralih ke aula


utama. Tempat itu memiliki bangunan tersendiri yang sengaja dipisahkan dari


bagunan lainnya. Betapa istimewanya tempat itu sampai mendapatkan perlakuan

__ADS_1


khusus.


Aula memang terkenal cukup


jarang digunakan. Hanya ketika ada acara-acara tertentu saja. Tidak selamanya. Jika


kau sudah diminta untuk masuk ke dalam aula, maka itu berarti kehadiranmu di


sana cukup penting. Dan acara yang kau hadiri pun tidak bisa dibilang sebagai


acara sembarangan. Oliver yang sudah hidup di sana bertahun-tahun sebagai seorang


siswa sudah tahu betul bagaimana lika-liku akademi ini.


Sebagian besar dari mereka sudah


sampai di dalam ruangan. Nyaris semua tempat duduk sudah terisi penuh. Hanya tersisa


beberapa lagi. Seharusnya jumlah kursi yang ada di sini cukup untuk menampung


mereka semua. Sebelum ruangan ini digunakan, mereka pasti sudah memperhitungkan


segalanya.


“Sudah lama sekali aku tidak


datang kemari,” ungkap Oliver yang kemudian diangguki oleh teman-temannya yang


lain.


Terakhir kali Oliver menginjakkan


kakinya di aula adalah saat persidangan darurat di gelar. Menjelang kepindahan


mereka menuju Reodal, ada banyak hal yang perlu diperbincangkan. Nhea dan


Oliver menajdi salah satu bagian yang terlibat di dalamnya.


Sementara itu, yang lainnya


berkunjung kemari sudah cukup lama. Dan bagi Chanwo sendiri, ini adalah


pengalaman pertama baginya untuk bisa sampai di aula akademi Mooneta. Gaya arsitekturnya


istana tempatnya tinggal selama ini saja kalah.


“Pantas saja selama ini


orang-orang selalu menyebutkan jika akademi ini merupakan kastil kerajaan yang


tersembunyi,” gumamnya.


Pria itu masih terus memandangi


setiap desain interior ruangan ini. Sebenarnya, siapa yang mengerjakan


semuanya? Kenapa bisa begitu detail? Satu-satunya hal yang membuat ia merasa kagum


di sini adalah ukiran Icarus pada langit-langit ruangan. Chanwo sendiri tidak


paham apa filosofinya. Tapi, yang jelas saaat ini ia tengah mengakui keindahan


bangunan tersebut.


“Selama ini orang-orang selalu


menyebut jika akademi sihir Mooneta adalah sebuah kerajaan dengan sistem yang


tersembunyi. Namun, menurutku tidak sama sekali. Ini hanya akademi sihir biasa,”


celoteh Oliver dengan panjang lebar.


Sontak pria itu merasa kaget. Karena


ternyata diam-diam Oliver mendengarkan semua perkataannya.


“Tapi, jika dilihat sekilas


memang mirip seperti sebuah kastil kerajaan,” ungkap Chanwo secara gamblang.


Tidak ada satu pun di antara


mereka yang tahu kebenarannya. Apakah akademi sihir Mooneta benar akademi biasa

__ADS_1


atau malah ada rahasia tersembunyi di baliknya. Baik Oliver maupun Chanwo,


mereka sama-sama mendengar dari cerita orang lain. Begitu banyak rumor yang


beredar di luar sana tentang akademi tersebut.


Seperti yang mereka ketahui


bersama, jika kata-kata orang lain belum tentu benar. Bahkan mereka bercerita


tanpa berdasarkan bukti yang kuat. Tidak ada fakta yang bisa membenarkan


kalimat tersebut. Kecuali jika situasi sebaliknya terjadi, maka mereka mungkin


akan percaya. Karena itu bukan hanya sekedar asumsi atau bahkan praduga.


Setelah semua


orang masuk ke dalam aula tersebut, seluruh pintu ditutup rapat-rapat. Hanya menyisakan


beberapa lubang fentilasi yang memang sengaja dbiarkan terbuka. Jika yang satu


itu ditutup juga, mereka pasti akan kehabisan napas di dalamnya.  Pasokan oksigen untuk ratusan orang dalam


satu ruangan tidak akan memadai. Pada akhirnya mereka akan berebut oksigen


untuk bertahan hidup.


Eun Ji Hae naik ke atas podium


untuk memberikan salam serta membacakan tata tertib acaranya. Saat gadis itu


berdiri di sana saja, Oliver mulai mengehela napas dengan kasar. Sebentar lagi


rasa bosan akan segera menyelimutinya. Dan kalian tahu apa bagian paling


buruknya di sini? Ia sama sekali tidka bisa berbuat apa-apa untuk keluar dari


zona tersebut. Jadi, selama acara berlangsung ia akan emrasa bosan yang


teramat.


“Apa jangan-jangan Nhea sengaja


melarikan diri karena sudah tahu soal agenda ini terlebih dahulu?” tebak Jang


Eunbi.


“Hei! Mana mungkin!” tepis  Oliver.


Kalau pun ia memang tahu soal


acara ini lebih dulu, Nhea pasti akan memberi tahu yang lainnya. Lagipula untuk


apa melarikan diri hanya karena hal itu. Oliver yakin betul jika temannya yang


satu itu pergi karena masih merasa sakit hati. Tamparan dari Eun Ji Hae bukan


hanya menyakiti fisiknya saja, namun juga perasaannya. Sampai sekarang, gadis


itu masih belum bisa memaafkan Eun Ji Hae.


Lagi-lagi Oliver menghela


napasnya. Kali ini bukan karena bosan. Melainkan sebab Nhea kembali menguasai


isi pikirannya. Gadis itu berhasil membuatnya cemas lagi kali ini.


“Apa pun itu, aku harus bisa


menemukannya hari ini,” batin Oliver dalam hati.


Gadis itu suah bertekad untuk


melakukan pencarian kembali kali ini. Jika bukan mereka yang bergerak, lantas


siapa lagi. Lihat saja bagaimana sikap mereka semua yang berpura-pura bodoh.


Bahkan keluarga Nhea sendiri sama sekali tak ambil pusing soal menghilangnya


gadis itu. Oliver sampai tak habis pikir dibuatnya.


“Apakah yang seperti itu yang selama ini mereka sebut

__ADS_1


sebagai keluarga?” gumamnya pelan.


__ADS_2