
Ketika jamuan makan malam hampir
selesai, beberapa orang mulai beranjak dari tempat duduknya masng-masing.
Mereka tidak akan pergi kemana-mana. Hanya mengantarkan piring kotor, kemudian
kembali lagi ke meja. Peraturannya memang begitu. Tidak ada yang boleh pergi
dari tempat ini sebelum semua orang selesai makan.
“Setelah selesai sarapan, jangan
lupa jika pagi ini kita memiliki agenda!” seru Eun Ji Hae dari depan sana.
Sontak kini semua mata tertuju
kepada gadis itu.
“Baik, Kakak Ji!” jawab
anak-anak tersebut secara bersamaan.
Jika boleh jujur, Oliver sendiri
bahkan nyaris lupa tentang itu. Mungkin jika Eun Ji Hae tidak mengingatkannya
tadi, ia sungguhan akan lupa.
“Berapa lama upacara
penghormatan akan berlangsung?” tanya Chanwo.
“Entahlah, mungkin akan memakan
waktu sampai hampir memasuki waktu makan siang,” jawab Jang Eunbi dengan apa
adanya.
Berdasarnya pengalamannya,
upacara penghargaan memang selalu memakan waktu yang lumayan panjang. Apalagi jika
jumlah pesertanya banyak. Semua tergantung kepada jumlah peserta. Tahun lalu
sendiri, mereka berhasil melaksanakan upacara penghormatan lebih dari enam jam.
Upacaranya dimulai tepat pada pukul sembilan dan selesai pukul tiga sore.
“Kalian tahu? Sebenarnya aku
sangat malas untuk pergi ke acara itu nanti,” ungkap Oliver sambil menyandarkan
tubuhnya di sandaran kursi.
“Kalau begitu, tidak perlu
datang ke upacara tersebut!” balas Jang Eunbi dengan antusias.
“Aku pasti akan melakukannya
jika diperbolehkan,” tukas Oliver.
Pasti nanti akan terasa cukup
membosankan. Sebab, tidak ada satu pun hal yang bisa ia lakukan. Mereka hanya
akan mendengarkan pidato dari banyak orang. Oliver pribadi jarang mendengarkannya
secara seksama. Hanya mereka yang benar-benar menikmati acara tersebut yang
akan melakukannya.
“Semoga kata-kata sambutan dari
mereka tidak sampai dua halaman,” cicit Oliver sambil harap-harap cemas.
***
Semua orang kini beralih ke aula
utama. Tempat itu memiliki bangunan tersendiri yang sengaja dipisahkan dari
bagunan lainnya. Betapa istimewanya tempat itu sampai mendapatkan perlakuan
__ADS_1
khusus.
Aula memang terkenal cukup
jarang digunakan. Hanya ketika ada acara-acara tertentu saja. Tidak selamanya. Jika
kau sudah diminta untuk masuk ke dalam aula, maka itu berarti kehadiranmu di
sana cukup penting. Dan acara yang kau hadiri pun tidak bisa dibilang sebagai
acara sembarangan. Oliver yang sudah hidup di sana bertahun-tahun sebagai seorang
siswa sudah tahu betul bagaimana lika-liku akademi ini.
Sebagian besar dari mereka sudah
sampai di dalam ruangan. Nyaris semua tempat duduk sudah terisi penuh. Hanya tersisa
beberapa lagi. Seharusnya jumlah kursi yang ada di sini cukup untuk menampung
mereka semua. Sebelum ruangan ini digunakan, mereka pasti sudah memperhitungkan
segalanya.
“Sudah lama sekali aku tidak
datang kemari,” ungkap Oliver yang kemudian diangguki oleh teman-temannya yang
lain.
Terakhir kali Oliver menginjakkan
kakinya di aula adalah saat persidangan darurat di gelar. Menjelang kepindahan
mereka menuju Reodal, ada banyak hal yang perlu diperbincangkan. Nhea dan
Oliver menajdi salah satu bagian yang terlibat di dalamnya.
Sementara itu, yang lainnya
berkunjung kemari sudah cukup lama. Dan bagi Chanwo sendiri, ini adalah
pengalaman pertama baginya untuk bisa sampai di aula akademi Mooneta. Gaya arsitekturnya
istana tempatnya tinggal selama ini saja kalah.
“Pantas saja selama ini
orang-orang selalu menyebutkan jika akademi ini merupakan kastil kerajaan yang
tersembunyi,” gumamnya.
Pria itu masih terus memandangi
setiap desain interior ruangan ini. Sebenarnya, siapa yang mengerjakan
semuanya? Kenapa bisa begitu detail? Satu-satunya hal yang membuat ia merasa kagum
di sini adalah ukiran Icarus pada langit-langit ruangan. Chanwo sendiri tidak
paham apa filosofinya. Tapi, yang jelas saaat ini ia tengah mengakui keindahan
bangunan tersebut.
“Selama ini orang-orang selalu
menyebut jika akademi sihir Mooneta adalah sebuah kerajaan dengan sistem yang
tersembunyi. Namun, menurutku tidak sama sekali. Ini hanya akademi sihir biasa,”
celoteh Oliver dengan panjang lebar.
Sontak pria itu merasa kaget. Karena
ternyata diam-diam Oliver mendengarkan semua perkataannya.
“Tapi, jika dilihat sekilas
memang mirip seperti sebuah kastil kerajaan,” ungkap Chanwo secara gamblang.
Tidak ada satu pun di antara
mereka yang tahu kebenarannya. Apakah akademi sihir Mooneta benar akademi biasa
__ADS_1
atau malah ada rahasia tersembunyi di baliknya. Baik Oliver maupun Chanwo,
mereka sama-sama mendengar dari cerita orang lain. Begitu banyak rumor yang
beredar di luar sana tentang akademi tersebut.
Seperti yang mereka ketahui
bersama, jika kata-kata orang lain belum tentu benar. Bahkan mereka bercerita
tanpa berdasarkan bukti yang kuat. Tidak ada fakta yang bisa membenarkan
kalimat tersebut. Kecuali jika situasi sebaliknya terjadi, maka mereka mungkin
akan percaya. Karena itu bukan hanya sekedar asumsi atau bahkan praduga.
Setelah semua
orang masuk ke dalam aula tersebut, seluruh pintu ditutup rapat-rapat. Hanya menyisakan
beberapa lubang fentilasi yang memang sengaja dbiarkan terbuka. Jika yang satu
itu ditutup juga, mereka pasti akan kehabisan napas di dalamnya. Pasokan oksigen untuk ratusan orang dalam
satu ruangan tidak akan memadai. Pada akhirnya mereka akan berebut oksigen
untuk bertahan hidup.
Eun Ji Hae naik ke atas podium
untuk memberikan salam serta membacakan tata tertib acaranya. Saat gadis itu
berdiri di sana saja, Oliver mulai mengehela napas dengan kasar. Sebentar lagi
rasa bosan akan segera menyelimutinya. Dan kalian tahu apa bagian paling
buruknya di sini? Ia sama sekali tidka bisa berbuat apa-apa untuk keluar dari
zona tersebut. Jadi, selama acara berlangsung ia akan emrasa bosan yang
teramat.
“Apa jangan-jangan Nhea sengaja
melarikan diri karena sudah tahu soal agenda ini terlebih dahulu?” tebak Jang
Eunbi.
“Hei! Mana mungkin!” tepis Oliver.
Kalau pun ia memang tahu soal
acara ini lebih dulu, Nhea pasti akan memberi tahu yang lainnya. Lagipula untuk
apa melarikan diri hanya karena hal itu. Oliver yakin betul jika temannya yang
satu itu pergi karena masih merasa sakit hati. Tamparan dari Eun Ji Hae bukan
hanya menyakiti fisiknya saja, namun juga perasaannya. Sampai sekarang, gadis
itu masih belum bisa memaafkan Eun Ji Hae.
Lagi-lagi Oliver menghela
napasnya. Kali ini bukan karena bosan. Melainkan sebab Nhea kembali menguasai
isi pikirannya. Gadis itu berhasil membuatnya cemas lagi kali ini.
“Apa pun itu, aku harus bisa
menemukannya hari ini,” batin Oliver dalam hati.
Gadis itu suah bertekad untuk
melakukan pencarian kembali kali ini. Jika bukan mereka yang bergerak, lantas
siapa lagi. Lihat saja bagaimana sikap mereka semua yang berpura-pura bodoh.
Bahkan keluarga Nhea sendiri sama sekali tak ambil pusing soal menghilangnya
gadis itu. Oliver sampai tak habis pikir dibuatnya.
“Apakah yang seperti itu yang selama ini mereka sebut
__ADS_1
sebagai keluarga?” gumamnya pelan.