
Sudah hampir lebih dari setengah jam Nhea belum kunjung
kembali juga. Sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jika gadis itu
akan segera keluar. Sementara itu, Oliver tidak bisa duduk dengan tenang. Ia
terus saja berjalan mondar-mandir, sambil harap-harap cemas.
Saat ini ada banyak hal buruk yang ia pikirkan di dalam
kepalanya. Jika bisa kembali ke dalam sana, mungkin Oliver sudah melakukannya.
Ia akan menjemput gadis itu ke dalam untuk memastikan jika Nhea sungguh
baik-baik saja.
Tapi, sayangnya Oliver tidak bisa melakukan opsi yang satu
itu dengan sembarangan. Harus ada persiapan yang matang sebelumnya. Mereka
tidak bisa melakukan hal tersebut secara spontan. Bahkan rencana dengan
persiapan matang saja tidak akan menjamin jika semuanya akan berjalan dengan
lancar.
Sekarang ia merasa kebingungan. Oliver harus berbuat
sesuatu. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan sejauh ini. Oliver merasa kecewa.
Sebab, ia bahkan tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri di saat seperti ini.
Sungguh payah. Pantas saja jika orang-orang menyebutnya sebagai pengecut.
Meski tidak tahu apa yang tengah terjadi di dalam sana, tapi
Oliver yakin betul jika ada sesuatu yang tidak beres. Jangan pernah meragukan
intuisinya. Apalagi ia seorang wanita. Biasanya mereka akan lebih peka. Itu
sebabnya banyak wanita lebih mengandalkan intuisinya daripada akal sehatnya.
Hal tersebut benar adanya.
Di sisi lain, Nhea masih berkutit dengan pintu kayu jati
tersebut. Tidak ada alasan untuk menyerah. Bagaimanapun caranya, ia tetap harus
keluar dari tempat ini. Cepat atau lambat.
Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Nhea tidak bisa membuat
Oliver menunggu terlalu lama di luar sana. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu
segera beralih untuk menghampiri jendela kaca besar yang berada di ujung
ruangan. Jendela tersebut akan langsung menghubungkan ruangan ini dengan dunia
luar. Dari sana Nhea bisa langsung menghadap ke taman.
Nhea sama sekali tidak tahu dimana posisi Oliver saat ini. Mereka
tidak pernah saling berkomunikasi lagi setelah berpisah di ujung lorong tadi. Nhea
memintanya untuk menunggu di luar gedung. Seharusnya, ia bisa menemukan Oliver
dengan mudah dari jendela ini.
Dengan perlahan namun pasti, gadis itu berusaha untuk
membuka jendela tersebut dengan perlahan. Tidak menutup kemungkinan jika
__ADS_1
engselnya akan kembali berderit jika Nhea membuka jendela tersebut. Jadi, ia
harus berhati-hati. Tidak boleh sampai ada kesalahan sekecil apa pun.
Setelah berhasil terbuka, Nhea langsung berdiri di
tengah-tengah. Menempatkan dirinya pada posisi paling srategis. Hanya dari
tempat ini ia bisa mengawasi seisi sekolah selain dari menara pengawas. Nhea memicingkan
kedua matanya. Kemudian dengan setajam
elang ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Satu-satunya hal yang
perlu ia cari saat inia dalah Oliver.
Jika gadis itu memang masih berada di taman, maka seharusnya
tidak sesulit itu untuk menemukannya. Nhea bisa langsung mendapatkan keberadaan
Oliver hanya dalam waktu kurang dari lima detik.
Tak ingin membuat lebih banyak keributan lagi, Nhea segera
memikirkan cara lain untuk mencuri perhatian gadis itu selain memanggilnya. Bisa-bisa
seisi gedung akan terbangun karenanya. Beruntung kali ini otaknya bisa diajak
bekerja sama. Nhea kembali menemukan ide cemerlang dalam waktu kurang dari lima
detik. Sepertinya ia bisa menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat jika
begitu caranya.
Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera mengambil sebilah tongkat
sihir yang terselip di balik saku seragamnya. Mereka selalu membawa benda yang
artinya kemampuan membidik Nhea tidak bisa diragukan lagi.
Tidak ada salahnya jika ia memanfaatkan kemampuannya yang
satu itu untuk menyelamatkan diri. Setidaknya kemampuannya akan berguna di
dalam kehidupan sehari-hari. Selain dalam pertandingan tentunya.
‘BUGH!’
Sebuah suara berhasil tercipta secara sengaja ketika Nhea
melemparkan tongkatnya kea rah Oliver. Sungguh sebuah hal yang tidak pernah ia
prediksi sebelumnya. Tongkat tersebut berhasil mengenai kepala gadis itu.
Menghantam tulang tengkorak Oliver lebih tepatnya. Sehingga gadis itu memekin
kesakitan.
Secara refleks Oliver sontak mengedarkan pandangannya. Berusaha
untuk mencari tahu dari mana asalnya benda yang satu ini. Kenapa tiba-tiba
muncul.
“Siapa yang berani cari gara-gara denganku?” gerutunya sebal
sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
“Hei!” sahut Nhea dengan nada sedikit berbisik.
Sekali lagi perlu diingatkan, jika mereka tidak boleh
__ADS_1
berisik di sini. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertingkah aneh.
Gadis itu terus melambai-lambaikan tangannya. Berusaha sekuat
tenaga untuk menarik perhatian Oliver. Beruntung Oliver termasuk orang yang
cepat tanggap dengan sekitarnya. Sehingga, Nhea tidak perlu bersusah payah
untuk mencuri atensi darinya.
“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Oliver, masih dengan
suara berbisik.
“Ada sedikit masalah di sini. Pintunya terkunci. Jadi, aku
tidak bisa keluar,” jelas Nhea secara singkat.
Oliver lantas langsung membungkam mulutnya. Entah kenapa ia
tetap saja merasa terkejut. Padahal, sebelumnya Oliver sudah memperdiksi jika
ada sesuatu yang salah di sini. Rencana mereka sama sekali tidak mulus seperti
apa yang dipikirkan di awal.
“Lalu, bagaimana caranya agar kau bisa keluar dari sana?”
tanya Oliver.
Nhea hanya bisa menggidikkan bahunya. Ia sungguh tidak tahu
harus berbuat apa. Gadis itu sudah kehabisan akal sejak awal. Ia bahkan mulai
mencapai titik pasrah. Jika memang kemungkinan terburuk yang selama ini ia
bayangkan sungguh terjadi. Nhea tidak akan pernah keluar dari tempat ini. Mungkin
jika begitu, maka ia harus tidur di sini untuk satu malam, atau bahkan lebih.
“Kau tetap di situ dan jangan kemana-mana! Aku akan segera
kembali,” pamit Oliver kemudian pergi begitu saja tanpa berniat menunggu balasan
dari gadis itu sama sekali.
Nhea hanya menghela napasnya sambil menggeleng pelan. Ia tidak
habis pikit melihat kelakuan temannya yang satu itu. Nhea memutuskan untuk
tetap berada di sana dan tidak kemana-mana. Tidak ada salahnya untuk mengikuti
perkataan gadis itu. Meski hanya sekali saja.
Nhea menyandarkan dirinya pada salah satu sisi jendela. Setidaknya
bangunan ipasti cukup kuat untuk menahan berat tubuhnya yang tidak seberapa
ini. Gadis itu melemparkan pandangannya ke langit. Banyak hal yang bisa ia
lihat di sana. Kemudian, gadis itu menghela napasnya dengan berat.
Kali ini Nhea merasa jauh lebih tenang dari pada sebelumnya.
Entah karena mulai pasrah dengan keadaan, atau malah karena ia sudah bisa
mengendalikan emosinya sendiri. Tapi, sepertinya mustahil jika opsi kedua
sungguh terjadi . Nhea bukan orang yang mudah mengendalikan dirinya sendiri. Emosinya
mudah terpancing. Bahkan biarpun itu hanya karena hal kecil saja. Nhea memang
__ADS_1
masih sulit untuk ditebak.