
Kemungkinan besar, mereka adalah
orang terakhir yang sampai ke sini. Pasalnya, Eun Ji Hae sudah tidak ada lagi
di sana. Gadis itu biasanya akan tetap berada di ruangan Bib Ga Eun selama
masih dalam jam tugas. Ia tidak akan beranjak kemana-mana. Terkecuali jika
memang ada sesuatu yang cukup penting dan tidak bisa dinomor duakan.
‘TOK! TOK! TOK!’
Nhea masih berdiri tepat di depan
pintu masuk ruangan Bibi Ga Eun sambil sesekali mengetok pintu jati tersebut. Namun,
tampaknya sama sekali tidak ada jawaban dari dalam sana. Entah memang Eun Ji
Hae yang tidak dengar, atau memang gadis itu yang sedang pergi. Ringkasnya,
tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Tak ingin terburu-buru, Nhea dan
Oliver memutuskan untuk tetap berada di sana. Menunggu di depan pintu sampai
ada yang membukakan pintu masuk untuk mereka. Atau paling tidak ada sebuah
jawaban dari dalam. Nhea dan Oliver bisa saja langsung masuk ke dalam
sebenarnya. Selama ada Nhea, perbuatan seperti itu tidak akan menjadi masalah. Lagipula
mereka memang tidak memiliki niat buruk sebelumnya. Kedua gadis itu hanya ingin
menyerahkan kertas daftar hadir siswa seperti biasanya. Namun, kali ini
terkesan sedikit terlambat.
Nhea bisa saja menerobos masuk ke
dalam sana sekarang juga. Jangan lupakan jika anggota keluarga memiliki akses
khusus tak terbatas kemana-mana. Mereka bisa menjelajahi sudut terpencil sekalipun
dari akademi ini.
Selain relasi, kekuasaan juga
penting di sini. Hanya mereka yang berkuasa yang akan didengar. Orang biasa
sepertimu tidak akan berpengaruh apa-apa. Tidak peduli jika kau menyuarakan
kebenaran atau bahkan sebaliknya.
“Mau sampai kapan kita tetap
menunggu di sini?” tanya Oliver untuk memastikan.
Pasalnya, sudah lebih dari lima
belas menit mereka berjongkok di depn pintu ini. Tapi, hasilnya sama saja.
Nihil. Sama sekali tidak ada perkembangan berarti.
Nhea menghela napasnya dengan kasar.
Gadis itu kemudian bangkit dari posisinya saat ini. Jika dipikir-pikir kembali,
apa yang dikatakan oleh Oliver barusan ada benarnya juga. Mereka tidak bisa
menunggu lebih lama lagi di sini. Sekarang sudah terlalu larut malam. Anak-anak
itu perlu segera kembali ke kamar asramanya. Meskipun malam ini tidak akan ada pemeriksaan,
karena Oliver sendiri sudah merasa kelelahan. Ia tidak akan sanggup untuk
berkeliling bangunan asrama dan mengecek ruangan yang ada di sana secara
__ADS_1
satu-persatu.
Kalau bisa, saat ini saja ia sudah
merobohkan dirinya. Tidak peduli dimana saja ia akan tergeletak. Oliver sudah
tidak menghiraukan hal tersebut lagi sekarang. Energinya banyak terkuras habis
hari ini.
“Kau tetaplah di sini dan beri tahu
aku jika Eun Ji Hae sudah datang,” pesan Nhea.
“Memangnya kau mau kemana?” tanya
gadis itu.
“Aku akan pergi ke ruang penyimpanan
untuk mengambil kunci ruangan ini,” jawabnya dengan apa adanya, kemudian pergi
meninggalkan Oliver begitu saja.
Ia bahkan sama sekali tidak berniat
untuk menunggu jawaban lebih lanjut dari Oliver. Baginya, semakin cepat ia
menyelesaikan pekerjaan yang satu ini, maka akan semakin cepat pula mereka
beristirahat.
Sebagai anggota keluarga, ini bukan
pertama kalinya gadis itu berkujung ke gedung utama. Meski tidak sesering yang
lainnya, setidaknya ia tahu persis dimana saja letak ruangan-ruangan penting. Salah
satunya adalah ruangan penyimpanan.
semacamnya. Ia bukan penyusup. Nhea tidak akan mendapatkan masalah serius jika
kedapatan masih berkeliaran di gedung utama pada tengah malam seperti ini.
“Dimana kunci ruangan Bibi Ga Eun?”
gumamnya sambil tetap mencari.
Gadis itu langsung mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari satu objek yang ia maksud
sejak tadi. Tempat ini tidak terlalu besar memang. Tapi, cukup untuk memuat
semua benda penting di dalamnya. Salah satunya adalah kunci cadangan. Untuk saat
ini, kunci asli selalu berada di tangan Eun Ji Hae. Sementara itu, kunci
lainnya yang serupa sengaja disimpan di ruang penyimpanan untuk alasan
keamanan.
Tidak sulit baginya untuk menemukan
kunci tersebut. Baru berjalan beberapa langkah saja, kedua netranya sudah bisa
menangkap sebuah objek yang tidak lagi asing. Itu adalah sesuatu yang telah ia
cari sejak tadi. Cahaya jingga dari lilin yang terpantul melalui permukaan
logam tersebut berhasil menarik perhatiannya.
Tanpa pikir panjang lagi, Nhea
segera menghampiri kotak tersebut. Ia yakin betul jika yang berada di
hadapannya saat ini adalah kunci cadangan dari ruangan Bibi Ga Eun. Setelah mendapatkan
__ADS_1
apa yang ia mau, gadis itu bergegas kembali untuk menghampiri Oliver yang masih
menunggunya di koridor. Ia tidak mau membuat gadis itu menunggu terlalu lama.
Mungkin Nhea tidak akan mendapatkan
masalah jika berkeliaran di gedung utama pada waktu yang selarut ini. Namun,
akan berbeda ceritanya jika itu adalah Oliver. Mungkin akan terjadi hal yang
sebaliknya terhadap gadis itu. Bisa habis Oliver jika sampai Eun Ji Hae
menemukannya di sana. Bukan hanya Eun Ji Hae saja sebenarnya yang paling
berpotensi untuk mencurigai Oliver. Melainkan seluruh penghuni bangunan
tersebut.
Nhea akan menjadi satu-satunya orang
yang memihak gadis itu nanti. Jika sampai hal buruk di luar dugaan terjadi. Namun,
di sisi lain mereka sama sekali tidak pernah berharap agar kejadian konyol
seperti itu benar-benar terjadi.
‘TAP! TAP! TAP!’
Nhea berusaha untuk mempercepat
langkah kakinya. Nyaris berlari saat ini. Tidak peduli seberapa keras kebisingan
yang ia ciptakan. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah, bagaimana
caranya agar ia cepat sampai di depan ruangan Bibi Ga Eun. Jika saja mereka
sudah belajar bagaimana cara melakukan teleportasi, mungkin ia tidak perlu
pusing-pusing lagi sekarang.
“Kau sudah sampai?” interupsi Oliver
begitu Nhea sampai.
Sosok yang ditanyai hanya mengangguk
pelan untuk mengiyakan perkataan gadis tersebut. Tanpa buang-buang waktu lagi,
ia segera menyerahkan kuncinya kepada Oliver.
Ternyata langkah kaki Nhea sudah
terdengar dengan jelas sejak ia masih berada di ujung koridor. Itu sebabnya
Oliver tampak begitu sumringah ketika gadis itu tiba. Padahal, sebelumnya ia
sempat was-was. Khawatir jika ia akan tertangkap oleh Eun Ji Hae. Bagian
terburuknya adalah, mungkin saja ia akan dituduh yang tidak-tidak oleh gadis
itu. Tapi, untung saja kedatangan Nhea berhasil mematahkan semua asumsinya.
Tak ingin buang-buang waktu lebih
banyak lagi, Oliver segera membuka pintu tersebut. Nhea berhasil mendapatkan
kunci yang tepat. Sejauh ini rencana mereka berjalan lancar. Tidak ada halangan
sama sekali.
Setelah selesai dengan urusannya,
Oliver kembali menutup pintu tersebut. Tak lupa untuk menguncinya pula. Mereka perlu
memastikan jika perbuatan mereka barusan tidak akan meninggalkan jejak sedikit
pun. Eun Ji Hae bisa curiga nanti.
__ADS_1