Mooneta High School

Mooneta High School
Got The Key


__ADS_3

Kemungkinan besar, mereka adalah


orang terakhir yang sampai ke sini. Pasalnya, Eun Ji Hae sudah tidak ada lagi


di sana. Gadis itu biasanya akan tetap berada di ruangan Bib Ga Eun selama


masih dalam jam tugas. Ia tidak akan beranjak kemana-mana. Terkecuali jika


memang ada sesuatu yang cukup penting dan tidak bisa dinomor duakan.


‘TOK! TOK! TOK!’


Nhea masih berdiri tepat di depan


pintu masuk ruangan Bibi Ga Eun sambil sesekali mengetok pintu jati tersebut. Namun,


tampaknya sama sekali tidak ada jawaban dari dalam sana. Entah memang Eun Ji


Hae yang tidak dengar, atau memang gadis itu yang sedang pergi. Ringkasnya,


tidak ada siapa-siapa lagi di sana.


Tak ingin terburu-buru, Nhea dan


Oliver memutuskan untuk tetap berada di sana. Menunggu di depan pintu sampai


ada yang membukakan pintu masuk untuk mereka. Atau paling tidak ada sebuah


jawaban dari dalam. Nhea dan Oliver bisa saja langsung masuk ke dalam


sebenarnya. Selama ada Nhea, perbuatan seperti itu tidak akan menjadi masalah. Lagipula


mereka memang tidak memiliki niat buruk sebelumnya. Kedua gadis itu hanya ingin


menyerahkan kertas daftar hadir siswa seperti biasanya. Namun, kali ini


terkesan sedikit terlambat.


Nhea bisa saja menerobos masuk ke


dalam sana sekarang juga. Jangan lupakan jika anggota keluarga memiliki akses


khusus tak terbatas kemana-mana. Mereka bisa menjelajahi sudut terpencil sekalipun


dari akademi ini.


Selain relasi, kekuasaan juga


penting di sini. Hanya mereka yang berkuasa yang akan didengar. Orang biasa


sepertimu tidak akan berpengaruh apa-apa. Tidak peduli jika kau menyuarakan


kebenaran atau bahkan sebaliknya.


“Mau sampai kapan kita tetap


menunggu di sini?” tanya Oliver untuk memastikan.


Pasalnya, sudah lebih dari lima


belas menit mereka berjongkok di depn pintu ini. Tapi, hasilnya sama saja.


Nihil. Sama sekali tidak ada perkembangan berarti.


Nhea menghela napasnya dengan kasar.


Gadis itu kemudian bangkit dari posisinya saat ini. Jika dipikir-pikir kembali,


apa yang dikatakan oleh Oliver barusan ada benarnya juga. Mereka tidak bisa


menunggu lebih lama lagi di sini. Sekarang sudah terlalu larut malam. Anak-anak


itu perlu segera kembali ke kamar asramanya. Meskipun malam ini tidak akan ada pemeriksaan,


karena Oliver sendiri sudah merasa kelelahan. Ia tidak akan sanggup untuk


berkeliling bangunan asrama dan mengecek ruangan yang ada di sana secara

__ADS_1


satu-persatu.


Kalau bisa, saat ini saja ia sudah


merobohkan dirinya. Tidak peduli dimana saja ia akan tergeletak. Oliver sudah


tidak menghiraukan hal tersebut lagi sekarang. Energinya banyak terkuras habis


hari ini.


“Kau tetaplah di sini dan beri tahu


aku jika Eun Ji Hae sudah datang,” pesan Nhea.


“Memangnya kau mau kemana?” tanya


gadis itu.


“Aku akan pergi ke ruang penyimpanan


untuk mengambil kunci ruangan ini,” jawabnya dengan apa adanya, kemudian pergi


meninggalkan Oliver begitu saja.


Ia bahkan sama sekali tidak berniat


untuk menunggu jawaban lebih lanjut dari Oliver. Baginya, semakin cepat ia


menyelesaikan pekerjaan yang satu ini, maka akan semakin cepat pula mereka


beristirahat.


Sebagai anggota keluarga, ini bukan


pertama kalinya gadis itu berkujung ke gedung utama. Meski tidak sesering yang


lainnya, setidaknya ia tahu persis dimana saja letak ruangan-ruangan penting. Salah


satunya adalah ruangan penyimpanan.


semacamnya. Ia bukan penyusup. Nhea tidak akan mendapatkan masalah serius jika


kedapatan masih berkeliaran di gedung utama pada tengah malam seperti ini.


“Dimana kunci ruangan Bibi Ga Eun?”


gumamnya sambil tetap mencari.


Gadis itu langsung mengedarkan


pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari satu objek yang ia maksud


sejak tadi. Tempat ini tidak terlalu besar memang. Tapi, cukup untuk memuat


semua benda penting di dalamnya. Salah satunya adalah kunci cadangan. Untuk saat


ini, kunci asli selalu berada di tangan Eun Ji Hae. Sementara itu, kunci


lainnya yang serupa sengaja disimpan di ruang penyimpanan untuk alasan


keamanan.


Tidak sulit baginya untuk menemukan


kunci tersebut. Baru berjalan beberapa langkah saja, kedua netranya sudah bisa


menangkap sebuah objek yang tidak lagi asing. Itu adalah sesuatu yang telah ia


cari sejak tadi. Cahaya jingga dari lilin yang terpantul melalui permukaan


logam tersebut berhasil menarik perhatiannya.


Tanpa pikir panjang lagi, Nhea


segera menghampiri kotak tersebut. Ia yakin betul jika yang berada di


hadapannya saat ini adalah kunci cadangan dari ruangan Bibi Ga Eun. Setelah mendapatkan

__ADS_1


apa yang ia mau, gadis itu bergegas kembali untuk menghampiri Oliver yang masih


menunggunya di koridor. Ia tidak mau membuat gadis itu menunggu terlalu lama.


Mungkin Nhea tidak akan mendapatkan


masalah jika berkeliaran di gedung utama pada waktu yang selarut ini. Namun,


akan berbeda ceritanya jika itu adalah Oliver. Mungkin akan terjadi hal yang


sebaliknya terhadap gadis itu. Bisa habis Oliver jika sampai Eun Ji Hae


menemukannya di sana. Bukan hanya Eun Ji Hae saja sebenarnya yang paling


berpotensi untuk mencurigai Oliver. Melainkan seluruh penghuni bangunan


tersebut.


Nhea akan menjadi satu-satunya orang


yang memihak gadis itu nanti. Jika sampai hal buruk di luar dugaan terjadi. Namun,


di sisi lain mereka sama sekali tidak pernah berharap agar kejadian konyol


seperti itu benar-benar terjadi.


‘TAP! TAP! TAP!’


Nhea berusaha untuk mempercepat


langkah kakinya. Nyaris berlari saat ini. Tidak peduli seberapa keras kebisingan


yang ia ciptakan. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah, bagaimana


caranya agar ia cepat sampai di depan ruangan Bibi Ga Eun. Jika saja mereka


sudah belajar bagaimana cara melakukan teleportasi, mungkin ia tidak perlu


pusing-pusing lagi sekarang.


“Kau sudah sampai?” interupsi Oliver


begitu Nhea sampai.


Sosok yang ditanyai hanya mengangguk


pelan untuk mengiyakan perkataan gadis tersebut. Tanpa buang-buang waktu lagi,


ia segera menyerahkan kuncinya kepada Oliver.


Ternyata langkah kaki Nhea sudah


terdengar dengan jelas sejak ia masih berada di ujung koridor. Itu sebabnya


Oliver tampak begitu sumringah ketika gadis itu tiba. Padahal, sebelumnya ia


sempat was-was. Khawatir jika ia akan tertangkap oleh Eun Ji Hae. Bagian


terburuknya adalah, mungkin saja ia akan dituduh yang tidak-tidak oleh gadis


itu. Tapi, untung saja kedatangan Nhea berhasil mematahkan semua asumsinya.


Tak ingin buang-buang waktu lebih


banyak lagi, Oliver segera membuka pintu tersebut. Nhea berhasil mendapatkan


kunci yang tepat. Sejauh ini rencana mereka berjalan lancar. Tidak ada halangan


sama sekali.


Setelah selesai dengan urusannya,


Oliver kembali menutup pintu tersebut. Tak lupa untuk menguncinya pula. Mereka perlu


memastikan jika perbuatan mereka barusan tidak akan meninggalkan jejak sedikit


pun. Eun Ji Hae bisa curiga nanti.

__ADS_1


__ADS_2