
Dalam buku tersebut disebutkan jika Sofia pernah menempati
salah satu kamar yang berada di lantai tiga. Lebih tepatnya berada pada urutan
kelimat jika dihitung dari lorong paling ujung dekat anak tangga. Posisinya
berada tepat di sebelah kiri. Yang tidak lain dan tidak bukan itu berarti
adalah kamar Oliver dan juga Nhea.
Ternyata mimpi buruk yang terjadi kepadanya selama beberapa
hari belakangan ini merupakan sebuah pertanda. Semesta sedang berusaha untuk
memberinya petunjuk. Namun, Nhea sama sekali tidak menyadari hal tersebut.
Padahal sejak awal ia harus sudah paham jika setiap hal yang berada di dunia
ini memang saling berkaitan. Bahkan dua hal yang tampak jauh sekali pun tidak
terkecuali. Karena pada dasarnya mereka tetap memiliki kedekatan. Entah dari
sisi yang mana satu.
Sekarang ia sudah mengerti. Buku ini menjelaskan semua hal
yang tidak ia ketahui. Setidaknya sekarang semua pertanyaan yang sempat muncul
di dalam kepalanya sudah terjawab. Tidak ada lagi keraguan. Setidaknya sekarang
ia sudah mulai dapat bernapas dengan lega.
Hal yang selama ini ia anggap semabagi misteri, ternyata
bukan misteri seutuhnya. Mereka hanya menyembunyikan sebagian besar fakta.
Sehingga beberapa hal terkesan tidak masuk akal. Bahkan terasa janggal juga. Namun,
sekarang ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut lagi.
“Jadi, kalung itu milik mendiang Sofia?” gumam Nhea.
Gadis itu mendadak teringat kepada sebuah kalung yang
mendadak muncul di lehernya. Padahal Nhea ingat dengan jelas jika ia tidak
pernah menyentuh benda itu lagi. Bahkan gadis itu hampir lupa jika ia pernah
menemukan kalung tersebut sebelumnya.
Penurut penuturan yang berada di buku ini, Sofia memang
sempat meninggalkan beberap barang berharganya. Seperti kalung dan beberapa
pakaiannya di lemari. Bahkan bukan hanya itu saja. Buku pelajaran hingga buku
harian, semuanya masih berada di meja belajarnya pada waktu itu.
Tepat setelah kematiannya yang terasa mengejamkan, pihak
pengelola gedung membersihkan kamar tersebut. Tentu keluarga yang memerintahkannya.
Jika tidak Bibi Ga Eun, pasti Vallery. Pasalnya, hanya mereka berdua yang
memiliki kewenangan di sini pada waktu itu. Bahkan Wilson saja belum termasuk
ke dalamnya.
Sebagian besar barang-barang gadis itu dibakar. Tepat pada
__ADS_1
hari pemakamannya. Mereka bilang jika barang-barang akan membawa energi sang
pemilik bersamanya. Oleh sebab itu, setelah kepergian Sofia mereka begitu
berambisi untuk benar-benar membuatnya menghilang dari tempat ini. Seolah tidak
ada lagi tempat yang tersisa baginya. Hanya ruang penyimpananlah yang bisa ia
gunakan satu-satunya.
Namun, di sisi lain ada hal menarik yang bisa ia temukan di
sini. Sepertinya mereka melewatkan kalung tersebut secara tidak sengaja ketika
membersihkan kamar tersebut. Karena terlalu banyak barang, wajar saja jika
benda kecil tersebut terlewatkan.
Ia sudah meninggal sejak bertahun-tahun yang lalu. Sudah sangat
lama. Tepat pada awal peradaban akademi ini. Kisahnya harus berakhir, tamat
dengan cepat. Padahal ceritanya baru saja dimulai. Sungguh miris. Sepertinya sejak
awal kelahirannya, Dewi Fortuna sama sekali tidak ingin berpihak kepada gadis
itu.
Kini Nhea yakin jika jiwa Sofia masih berada di sekitar
sini. Mungkin, ialah yang memasangkan kalung tersebut kepadanya waktu itu.
Sejauh ini hanya Nhea yang diajak berinteraksi dengannya. Belum ada orang lain
yang mengetahui eksistensi jiwa Sofia di tempat ini. Bahkan, jangan-jangan
mereka juga tidak tahu kalau sebenarnya ada seorang siswa yang bernama Sofia
Selama ini mereka telah menutupi beitu banyak hal dari semua
orang. Nhea yakin jika anggota keluarga adalah pelakunya. Mereka berperang
besar dalam menggerakkan rencana ini. Seperti yang kita ketahui bersama, jika
tidak ada orang yang lain yang memiliki akses sebanyak anggota keluarga. Hanya anggota
keluarga yang memiliki akses tanpa batas di akademi sihir ini.
Beruntung Nhea merupakan salah satunya. Sehingga ia bisa
memasuki ruang penyimpanan, tanpa perlu takut terkena masalah. Meski sebenarnya
kemungkinan besar jika ia akan mendapatkan masalah. Tapi, hal tersebut tidak
akan terjadi jika ia bisa menghindar. Nhea cukup ahli dalam mengontrol situasi.
Sementara orang lain tidak mengetahui keberadaannya, maka gadis itu akan tetap
aman.
“Apa Sofia begitu mempercayaiku?” tanya Nhea kepada dirinya
sendiri.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya dengan segera ke arah
mahkota tersebut. Sejak kemarin ia sama sekali belum menyentuhnya. Padahal Nhea
berniat untuk menurunkannya lagi kemarin. Hanya sekedar untuk memandanginya
__ADS_1
kembali dari jarak yang jauh lebih dekat. Namun, pada kenyataannya buku Sofia
berhasil mengalihkan perhatiannya. Sampai Nhea nyaris tidak ingat lagi dengan
mahkota tersebut.
“Apa mahkota ini sungguh milikku?” batinnya dalam hati,
sambil tetap menyoroti benda tersebut dengan lamat-lamat.
Sejujurnya ia masih tidak begitu yakin untuk mengklain
mahkota tersebut sebagai miliknya. Maksudnya, bagaimana bisa ia mengetahui
kalau benda tersebut benar miliknya? Bagaimana jika ternyata itu adalah milik
orang lain. Terakhir kali mahkota tersebut digunakan pada saat acara pernikahan
Vallery.
Pihak keluarga inti kerajaan memiliki salah satu langganan
untuk menempah perhiasan. Namanya Tuan Ferdy. Dia memutuskan untuk tinggal di
negeri ini, setelah sebelumnya sempat mengalami konflik yang cukup besar
bersama keluarga besarnya. Tuan Ferdy pindah dari Inggris dan memulai kehidupan
baru di sini.
Sepertinya sekarang ia sudah meninggal. Atau malah masih
tetap hidup. Tidak ada yang tahu tentang keberadaannya sekarang. Keluarga mereka
sudah lama tidak berhubungan dengan Tuan Ferdy. Sudah lebih dari sepuluh tahun
yang lalu mereka tidak berkomunikasi satu sama lain. Jadi, wajar saja jika
tidak ada yang tahu soal kabar terbaru pria itu.
Awalnya, mahkota tersebut memang sengaja dibuatkan sebagai
hadiah pernikahan Vallery dari keluarga besar mereka. Setelahnya wanita itu
berencana untuk menyimpannya dan kemudian memberikan mahkota tersebut kepada
anaknya suatu saat nanti. Namun, sekarang Vallery tidak tahu harus
memberikannya ke siapa. Hanya ada dua pilihan, Eun Ji Hae atau Nhea.
Sebenarnya Nhea adalah orang yang paling berhak jika
dibandingkan dengan Eun Ji Hae. Gadis itu bahkan tidak memiliki hubungan darah
sama sekali dengan Vallery. Bagaimanapun juga, Eun Ji Hae tetap hanya sebagai
anak angkat. Tidak lebih.
Meski terdengar terlalu kasar dan tidak beretika sama
sekali, tapi itulah kebenarannya. Baik Nhea mau pun Eun Ji Hae harus tahu. Mereka
berhak untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah sebagai keluarga
kita harus saling terbuka dan merasa sakling percaya satu sama lain? Lantas
kenapa masih ada yang ditutup-tutupi? Sebenarnya mereka sungguh menganggap
hubungan mereka sebagai sebuah keluarga, atau tidak sama sekali?
__ADS_1
Andai semua orang tahu lebih cepat, pasti akan jauh lebih
baik. Eun Ji Hae tidak perlu terus berharap lebih kepada mereka.