
Takdir tidak selalu tentang hal buruk atau bahkan hanya hal baik saja. Keduanya bisa terjadi di saat yang bersamaan. Mungkin terasa aneh dan kurang masuk akal. Tapi, hal seperti itu benar adanya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.
Memang begitu cara semesta bekerja. Ia penuh dengan kejutan. Sulit untuk diprediksi. Terkadang ia merahasiakan setiap hal dari para mahluk hidup.
“Kau ini! Dasar bodoh!” sarkas Oliver sembari melayangkan pukulannya kepada kepala Nhea.
Otomatis gadis itu menggunakan kedua tangannya untuk melindungi kepalanya dari amukan Oliver. Bisa-bisa otaknya bermasalah karena hantaman ini. Ia sungguh tidak main-main. Bahkan Nhea sama sekali tidak pernah mengira jika tenaga gadis itu akan begitu kuat.
Oliver sungguh kesal. Bukan hanya itu saja. Kesal, marah, tak terima. Semua hal tersebut bercampur menjadi satu. Sehingga jika orang lain bertanya bagaimana perasaannya saat ini, mungkin Oliver tidak akan bisa menjawab. Sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata.
“Sampai kapan kau akan memukuliku seperti ini terus?!” seru Nhea masih dengan kepala yang tertunduk.
Satu hal yang tidak bisa ia lakukan saat ini adalah melawan. Nhea sama sekali tidak memiliki hal yang satu itu. Ia tidak bisa menghindar, karena memang semua ini bisa terjadi akibat
kesalahannya sendiri. Semua orang tahu soal itu.
“Padahal kau bisa pergi bersamaku tadi!” pekik Oliver tepat di telinga gadis itu.
“Coba saja tadi kita pergi berdua. Maka kau tidak akan terjebak di sana. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun berusaha untuk mencelakaimu,” jelas gadis itu dengan penuh penekanan.
Tampaknya Oliver bukan hanya marah kepada gadis ini saja akibat kecerobohannya. Tapi, juga kepada orang lain yang belum jelas identitasnya. Yang pasti, dia adalah orang yang menjebak Nhea secara sengaja di dalam bilik kamar mandi.
Oliver berambisi untuk menemukan orang tersebut. Cepat atau lambat. Mereka pasti akan segera menangkapnya. Dia sudah banyak berulah sejauh ini. Tapi, sayangnya orang tersebut tidak pernah bisa ditangkap. Aksinya terlalu sempurna. Ia tidak pernah meninggalkan jejak sedikit pun.
__ADS_1
***
Lupakan soal kejadian yang tadi. Sekarang pekara terjebak di dalam kamar mandi tidak jauh lebih penting dari pengumuman nomer urut peserta. Beruntung Oliver bisa menemukan Nhea tepat sebelum pengumuman berlangsung. Jika tidak, mungkin ia akan kehilangan kesempatan untuk menghadiri acara.
Bukan hanya itu saja. Nhea mungkin juga tidak akan pernah mengetahui kapan ia akan bertanding. Ada hal paling buruk yang bisa saja terjadi. Gadis itu tidak bisa ikut bertanding jika ia masih terjebak di sana. Karena dari awal saja, mereka sudah menyusun rencana dengan sedemikian rupa. Itu memang menjadi tujuan dari sekumpulan orang misterius tersebut.
Tak ingin ambil pusing soal hal yang terjadi barusan, Nhea dan Oliver duduk di antara teman-tamannya yang lain. Mereka tampak menikmati makan siangnya. Meski yang tersaji hanya roti lapis dengan isian daging saja. setidaknya masih bisa untuk mengganjal perut mereka.
“Bagaimana kita bisa mengetahui siapa pelakunya?” tanya Nhea secara tiba-tiba.
Padahal di awal mereka sudah berjanji untuk tidak membahas hal itu terlebih dahulu. Oliver juga sudah bersusah payah menyingkirkan hal tersebut dari dalam kepalanya. Tapi, semua itu terasa tidak ada gunanya sekarang.
“Kenapa kau harus membahasnya sekarang? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas soal itu lagi untuk sementara waktu?!” celoteh Oliver dengan panjang lebar.
Ia tampak lebih lucu dari pada biasanya. Pasalnya, gadis itu masih tetap mengomel meski makanan di mulutnya belum benar-benar tertelan. Nhea hampir tertawa pada saat itu karenanya. Beruntung ia tidak kelepasan. Mungkin Oliver akan kembali diomeli jika begitu caranya.
Kemudian gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Begitu pula dengan Oliver. Suasana di antara mereka berdua kembali hening. Tidak ada lagi suara saling bersahutan seperti dulu.
“Perhatian semuanya!” sahut seseorang dari arah depan sana.
Dari warna suaranya sudah bisa ditebak siapa yang sedang berusaha untuk menairk perhatian semua orang di sini. Jelas jika itu adalah Eun Ji Hae. Ia menjadi cukup mudah untuk dikenali karena suaranya.
Mendapati sorakan seperti itu dari salah satu pemandu yang bertanggung jawab atas mereka, sontak semua orang lantas mengalihkan pandangannya ke arah Eun Ji Hae. Dia berhasil menarik atensi semua orang hanya dalam waktu kurang dari lima detik.
__ADS_1
“Semuanya dengarkan aku!” titah Eun Ji Hae.
Mereka bahkan telah melakukan itu sebelum ia mengatakannya.
“Sebentar lagi nomer urut peserta akan segera diumukan. Aku dengar jika nomernya akan terbagi secara acak. Jadi, aku harap siapa pun yang mendapatkan urutan paling awal atau bahkan terakhir agar bersiap setelah ini,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
“Kalian bisa langsung pergi ke hall utama untuk mendengarkan pengumumannya,” timpal gadis itu sekali lagi.
Tanpa menunggu balasan dari mereka sama sekali, Eun Ji Hae langsung beranjak pergi dari sana. Ia bahkan tidak memberikan kesempatan kepada anak-anak itu untuk mengajukan pertanyaan jika ada yang kurang jelas. Baginya, informasi tersebut cukup ringan untuk dicerna. Sehingga mereka semua pasti paham. Tidak perlu sampai menjelaskan lebih dari satu kali. Hanya buang-buang waktu saja.
“Setelah ini kita akan pergi ke hall utama bersama-sama,” ucap Oliver yang kemudian mendapatkan anggukan kecil dari Nhea.
Mereka berdua masih terlalu sibuk mengurusi makan siangnya.
“Satu hal lagi yang perlu kau ingat!” ujar Oliver dengan penuh penekanan.
“Apa?” tanya Nhea dengan nada datar.
Oliver memutar pandangannya dengan malas. Bicara dengan gadis ini benar-benar menguji kesabaran. Beruntung saat ini Nhea sedang tidak berhadapan dengan orang lain. Belum tentu mereka bisa mengendalikan emosinya sama seperti Oliver.
“Jangan pernah pergi terlalu jauh dariku!” peringatinya sekali lagi.
“Kau harus selalu berada di bawah pengawasanku jika tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk,” jelasnya dengan panjang lebar.
__ADS_1
Alih-alih sebuah peringatan, kalimat tersebut malah terdengar seperti sebuah ancaman bagi Nhea. Kali ini Oliver sedang tidak bercanda. Ia sungguhan. Bisa dilihat dari raut wajah serta nada bicaranya yang terlihat serius. Biasanya Oliver memang jarang untuk menunjukkan ekspresi seperti itu. Hanya pada saat-saat tertentu saja. Tidak selalu. Tergantung situasi dan kondisinya.
Oliver bukan orang yang sembarang. Ia tahu betul kapan harus melakukan sesuatu dan kapan tidak. Bisa dikatakan jika gadis itu cukup bijaksana. Kalau dibandingkan dengan Eun Ji Hae, mungkin mereka memiliki beberapa kesamaan secara spesifik. Dua orang itu memiliki kepribaadian yang tidak jauh berbeda.