Mooneta High School

Mooneta High School
Salju Abadi


__ADS_3

Eun Ji Hae sama sekali belum menyadari jika dirinya tengah


dibicarakan oleah anak-anak itu. Siapa lagi memangnya jika bukan Nhea dan


teman-temannya. Bahkan sampai saat ini mereka masih memperdebatkan soal masalah


itu. Berawal dari topik pembahasan yang sepele, nyaris membuat perpecahan di


antara mereka semua. Tapi untungnya pada anak mudah itu bukan lah tipikal orang


yang mudah terprovokasi. Apalagi Jongdae. Dia adalah tipikal orang yang


berpikir panjang dan matang sebelum mengambil sebuah keputusan.


Nhea bertemu dengan orang-orang yang tepat di sekolah ini.


Mereka semua telah memberikan banyak perngaruh poditif kepada dirinya. Tidak


bisa dipungkiri jika memang seperti inilah lingkungan pertemanan yang sehat.


Sebenarnya ada banyak aspek yang perlu ditinjau dan tidak hanya sebatas satu


landasan saja.


Perlahan, kelas yang mereka tempat mulai berangsur penuh.


Satu persatu siswa memasuki ruangan untuk memulai pelajaran. Kurang dari lima


menit lagi jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Wajar saja jika saat ini


semua bangku terisi penuh. Tidak ada satupun yang tersisa. Suasananya pun


mendadak berubah. Kehadiran mereka berhasil memecah keheningan suasana.


Untung saja di mata pelajaran yang pertama ini tidak ada


ujian. Jadi masih ada sedikit waktu bagi gadis itu untuk mempersiapkan segala


sesuatu yang ia perlukan. Meskipun belum genap satu bulan berada di sekolah


ini, Nhea tetap harus mengikuti ujian seperti yang lainnya. Dia disama ratakan


oleh para siswa lain, karena dianggap mampu untuk mengikuti ujian. Mengingat,


gadis itu memang berasal dari anggota keluarga. Yang secara tidak langsung, itu


berarti Nhea telah mewarisi kemampuan sihir dari kedua orang tuanya. Ia bisa


melakukan hal tersebut tanpa perlu berlatih sama sekali. Nhea memang telah


memiliki bakat alami sejak lahir.


Kemampuan gadis itu akan semakin bertambah kuat begitu ia


mempelajarinya lebih jauh lagi. Itu adalah tujuan utama dari Bibi Ga Eun,


sekaligus kedua orang tuanya. Mereka berharap gadis itu menyadari kemampuannya


yang selama ini tidak ia sadari sama sekali. Nhea tidak akan terkalahkan.


Dengan begitu, mereka bisa mempercayakan gadis ini untuk memimpin Sekolah


Mooneta untuk ke depannya.


Semua orang percaya jika sekolah ini akan aman di bawah


pengawasan Nhea. Tidak akan ada seorangpun yang berani bermain-main dengannya.


Lihat saja sekarang, bagaimana seluruh warga sekolah menghormatinya. Hanya ada


beberapa yang memiliki niat jahat kepada gadis itu, tapi tidak pernah


kesampaian untuk melakukannya hanya karena satu dan lain hal. Rencana kecil


saja tidak mempan untuk gadis itu. Lantas bagaimana mereka akan menyingkirkan


Nhea dengan mudah.


Memang tidak mudah untuk menyingkirkan gadis ini, asal


mereka tahu saja. Selain kuat, ia juga memiliki beberapa orang yang setia untuk


membelanya. Dan yang terpenting adalah, mereka juga tidak kalah kuat dengan


gadis itu. Jadi jika mereka semua digabungkan menjadi satu,mungkin tidak akan ada


seorangpun yang sanggup untuk mengimbangi kekuatannya.


“Selamat siang semuanya!” sapa salah satu pengajar yang


ternyata sudah memasuki ruangan kelas.


“Siang bu!” balas seluruh siswa dengan serentak.


“Silahkan duduk di tempatnya masing-masing,” persilahkan


wanita itu.


Pelajaran kali ini adalah tentang cara pemusatan pikiran.


Lebih tepatnya untuk melatih fokus dan konsentrasi mereka. Bagaimanapun juga,


kedua hal itu tidak bisa terlepas dari dunia sihir. Kita harus benar-benar


hadir saat akan mengucapkan mantra. Baik secara fisik maupun pikiran. Keduanya


harus hadir untuk menciptakan kombinasi yang sempurna. Dengan begitu sihir baru


akan bekerja.


“Hari ini apakah ada tugas?” tanya Jang Eunbi kepada


seseorang yang duduk di sebelahnya. Siapa lagi jika bukan Oliver.


“Enggak ada,” jawab gadis itu dengan apa adanya.


Jang Eunbi menganggukkan perkataannya, paham dengan maksud


gadis itu.


Ia mengajukan pertanyaan kepada orang yang tepat. Karena


Oliver terkenal sebagai murid yang teladan. Selain itu dia juga hebat. Oleh


sebab itu sama sekali tidak ada keraguan bagi para petinggi sekolah saat


memilih gadis ini sebagai ketua asrama. Dia memang bisa diandalkan. Tidak perlu


meragukannya lagi.


Saat kelas baru saja hendak dimulai, tiba-tiba mereka


mendengar suara keributan yang jika ditelisik lebih jauh ternyata berasal dari


pelataran depan. Para Griffin yang sedang berjaga seperti biasanya, mendadak


berisik. Entah apa yang membuat sikap mereka mendadak berubah. Sontak


keberisikan itu memancing atensi seluruh sekolah. Pasalnya bukan hanya satu


atau dua griffin yang berbunyi. Tetapi nyaris semuanya. Bahkan hewan-hewan yang


masih berada di dalam kandang saja ikut menyahuti. Sehingga mereka terdengar


seperti saling bersahut-sahutan.


Melihat guru yang sedang masuk di kelas mereka pada saat itu


menepi ke jendela untuk melihat situasi di luar. Mencari tahu apa yang


sebenarnya sedang terjadi di sini. pasalnya tidak biasanya mereka berisik


seperti ini. Pasti ada sesuatu yang salah. Atau paling tidak pasti ada


penyebabnya kenapa merek bisa seperti itu.


“Tidak mungkin,” gumam pengajar tersebut sambil mundur


beberapa langkah dari posisinya saat ini.

__ADS_1


Ia terlihat begitu kaget dan tidak percaya. Bahkan ia sampai


tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Wanita itu sungguh terperanjat kaget.


Otomatis reaksi darinya itu membuat kami ikut penasaran juga.


“Ada apa?” tanya Nhea kepada Oliver.


Gadis yang dimaksud hanya bisa menggeleng-gelengkan  kepalanya dengan pasrah. Ia sendiri juga


tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini hingga membuat salah satu dari


pengajarnya itu merasa tidak baik-baik saja. Pasti ada sesatu yang cukup


genting. Semoga saja bukan hal yang berbahaya.


Semua orang bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang


terjadi di tempat ini. Tidak ada seorangpun yang berniat untuk menjelaskan


semua itu kepada mereka. Paling tidak berikan saja taka kuncinya. Maka semua


orang akan segera paham, tanpa perlu menejlaskan dengan panjang lebar.


“Permisi bu! Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi


di luar?” celetuk Jongdae.


Pada akhirnya pria itu memutuskan untuk buka suara lebih


dulu. Pertanyaan yang baru saja ia ajukan itu telah mewakili pertanyaan semua orang


yang berada di sini. Pasalnya mereka semua juga memiliki pertanyaan yang sama.


Wanita tersebut kelihatannya juga bingung harus bereaksi


bagaimana. Ia terlalu panik sampai lupa untuk mengendalikan dirinya. Ia


terlihat kehabisan kata-kata.


“Kalian tetap di sini dan jangan kemana-mana. Ibu akan


segera kembali,” jelas wanita tersebut sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan


tempat ini sekarang juga.


Bukannya menjawab pertanyaan para murid, wanita itu malah


mengalihkan pembicaraannya dan pergi begitu saja. Meninggalkan para anak


didiknya dengan sebuah pertanyaan besar yang masih tersisa di benak mereka.


Dan  sekarang semua itu seperti misteri


yang belum dapat dipecahkan.


Perasaan semua orang kini semakin campur aduk rasanya.


Mereka tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Karena pada dasarnya mereka sendiri


juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini. Apakah itu sesuatu yang baik


atau malah sebaliknya.


Oliver beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke jendela


untuk memeriksa keadaan di luar sana. Dia tidak bisa hanya berdiam diri di


sini, semetara rasa penasarnnya semakin tak terbendung. Ia sudah tak bisa


menahan dirinya lagi. Gadis itu harus segera mencari tahu jawabannya, sebelum


situasi semakin tak terkendali.


Kini giliran seisi kelas yang kembali dibuat panik oleh


reaksi Oliver yang tak jauh berbeda dengan reaksi wanita itu tadi. Kini semua


orang semakin dibuat kebingungan.


“Kenapa?” tanya salah satu murid yang ada di dalam kelas.


“Kami semua tahu kalau hari ini sedang turun salju!” sahut


siswa yang lainnya.


Mereka sudah tampak tak sabar untuk mendengar jawabannya


dari gadis itu. Tentang apa yang sedang terjadi di sini sebenarnya. Kenapa semua


orang memberikan reaksi yang sama persis. Jika dilihat sekilas, semuana tampa


baik-baik saja. Sama seperti suasana pagi hari sebelumnya. Hanya saja ada satu


hal yang terasa janggal di sini. Yaitu semua keribuatan yang terjadi tanpa


sebab yang jelas. Agaknya hal tersebut cukup membingunkan bagi mereka. Karena menurut


kebanyakan orang memang tidak ada yang salah di sini. Memangnya dimana letak


kesalahannya. Kenapa hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya dan


kemnapa yang lain tidak. Memangnya apa masalahnya.


“Cepat katakan pada kami!” desak yang lainnya.


“Jangan membuat kami menunggu terlalu lama dengan rasa


penasaran yang sudah berlebihan ini!” protes seseorang dari sudut sana.


“Memangnya apa yang salah dengan salju itu. Semua orang juga


tahu jika hari ini salju sedang turun,” timpal yang lainnya.


Suasana kelas menjadi semakin riuh dan tak terkendali.


“Diam!” bentak Oliver.


Suaranya yang begitu menggelegar, berhasil memecah keriuhan


suasana di sini. Membuat semua orang tadi langsung bungkam dan tak berani


berkutik sedikitpun. Mereka tidak akan bisa mendengar jawabannya dengan baik


jika tetap berisi seperti ini. Setidaknya berikan Oliver waktu untuk


menjelaskan semuanya. Bagaimana mereka mau mengerti jika tidak ada yang


mendengarkan. Hal pertama yang perlu dilakukan di sini adalah berdamai dengan


ego mereka masing-masing. Hal itu tidak akan diperlukan saat ini.


“Kalian dengar baik-baik ucapanku!” perintahnya.


“Karena aku tidak akan mengulanginya untuk yang kedua kali,”


jelas gadis yang tengah berdiri di depan kelas saat ini dengan penuh penekanan.


Kini seisi kelas telah hening dan ia bisa mulai untuk


berbicara. Tidak bisa dipungkiri jika orang-orang merasa cukup penasaran. Bahkan


beberapa di antaranya malah merasa sangat penasaran.


“Yang kalian lihat saat ini bukan salju biasa. Melainkan


salju abadi,” papar gadis itu dengan singkat padat dan jelas.


Oliver tahu betul apa yang sedang terjadi di sini.


“Lalu, apa artinya?” celetuk salah seorang murid.


“Sebaiknya mulai hari ini kalian tidak boleh melewatkan jam


pelajaran sejarah,” sindir Oliver.


“Salju abadi bisa membekukan apapun. Ia akan menyelimuti


seluruh tempat. Sesuai dengan namanya, salju ini bersifat abadi dan tidak akan

__ADS_1


pernah hilang. Kita pernah membahas hal ini pada pelajaran sejarah setahun yang


lalu. Ku rasa kalian masih mengingatnya dengan jelas. Kejadian ini terakhir


terjadi seribu tahun yang lalu,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Apa setelah seribu tahun itu, saljunya akan mencair?”


tanyanya kemudian.


“Tidak sama sekali,” jawab gadis itu dengan yakin.


“Sampai saat ini salju itu masih ada dan sekarang tempatnya


sudah ditinggalkan,” lanjutnya.


“Sebaiknya kalian buka kembali buku sejarah milik kalian. Aku


yakin jika catatannya masih tertinggal di sana,” cicit Oliver kemudian hendak


kembali ke tempat duduknya dengan perasaan was-was.


Tapi mendadak seseorang muncul dari balik pintu dan


mengatakan, “Jadi kalian sudah tahu lebih dulu?”


Itu adalah wanita yang baru saja berpamitan keluar tadi. Ia sudah


kembali sekarang. Tidak ada yang bisa dijelaskan dari raut wajahnya. Dengan langkah


berat, ia memasuki ruangan kelas.


Semua orang berharap agar ia datang membawa kabar baik. Mereka


tidak ingin mendengar kabar buruk lagi, setelah Oliver baru saja menyampaikan


hal tersebut secara terang-terangan. Tapi jika dilihat baik-baik dari raut


wajahnya, ia tidak menggambarkan hal demikian. Jadi sebaiknya, jangan menaruh


harapan terlalu tinggi. Akan percuma juga jika kenyataan yang terjadi di


lapangan sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Memang tidak ada


salahnya untuk berharap. Tapi tetap saja kembali kepada prinsip utamanya, jika


sesuatu yang berlebihan itu tidak baik sama sekali. Jadi sewajarnya saja.


“Seperti yang sudah kalian dengar sebelumnya, jika salju


abadi telah turun. Ini adalah siklus seribu tahun sekali. Tepat seribu tahun


yang lalu,hal sertupa terjadi di daratan utara. Sekarang tempat itu menjadi tak


berpenghuni karena suhu udara yang cukup ekstrem,” jelas wanita itu dengan


panjang lebar.


Ini baru awal. Belum masuk ke inti permasalahannya. Semua


orang sedang harap-harap cemas di sini. Berharap agar hal yang sama tidak


kembali terjadi kepada mereka. Bagaimana bisa mereka semua meninggalkan tempat


ini begitu saja. Lantas bagaimana dan kemana mereka akan pindah. Tidak semudah


itu untuk menemukan tempat baru. Akan lebih baik jika seperti itu. Bagaimana jika


para petinggi sekolah malah membuat keputusan untuk membubarkan mereka. Beberapa


mungkin akan kembali  rumahnya


masing-masing. Namun di sisi lain hal tersebut justru akan menjadi sebuah


masalah bari bgi mereka yang tidak memiliki keluarga sama sekali. Akan pergi


kemana mereks setelah ini.


“Untuk sementara waktu, kalian jangan pergi keluar terlebih


dahulu. Salju abadi cukup berbahaya. Ia bisa membekukan segalanya. Jadi, jangan


sembarangan untuk mendekati, apalagi sampai menyentuhnya. Perlu trik khusus


agar kalian tidak membeku begitu butiran halus itu menyentuh kulit kalian,”


paparnya secara detail.


Mungkin tadi para petinggi sekolah dan juga anggota keluarga


sempat berembuk sebentar untuk memutuskan bagaimana jalan keluarnya. Sekali lagi,


semua ini hanya bersifat sementara. Sampai mereka berhasil menemukan jalan


keluar yang paling baik. Semua orang juga tahu jika tidak mudah untuk melakukan


hal tersebut. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Termasuk segala resiko


yang mungkin terjadi. Tidak bisa terburu-buru dalam memutuskan sesuatu yang


besar dan penting seperti ini.


“Mungkin untuk saat ini hanya itu yang bisa saya sampaikan. Selebihnya,


kami akan terus memberitahu kalian informasi terbaru,” ujarnya.


“Berhubungan situasi di luar sedang gawat, jadi kami perlu


melakukan beberapa hal. Oeleh sebab itu, kelas kita akan selesai sampai di


sini. Segera kembali ke kamar asrama kalian masing-masing. Tetap berada di dalam


ruangan dan jangan pergi kemana-mana,” jelas wanita paruh baya itu dengan


panjang lebar. Ia juga terlihat menegaskan kembali beberapa hal penting agar


tidak dilewatkan begitu saja.


Semua orang menginginkan yang terbaik di sini. Itu sebabnya,


untuk menjaga keamanan dan keselamatan bersama, mereka harus saling


mengingatkan satu sama lain. Pada saat-saat seperti inilah kerja sama akan


sangat dibutuhkan.


“Satu lagi!” celetuk wanita tersebut sebelum pergi.


“Pastikan tubuh kalian selalu dalam kondisi yang hangat,”


ujarnya.


“Baik bu!” balas semua orang secara bersamaan.


“Baiklah, silahkan kembali ke kamar asrama kalian


masing-masing,” finalnya.


Bukan hanya kelas mereka saja yang dibatalkan untuk hari


ini. Tapi seluruh kelas telah dibatalkan begitu saja. Semua orang terkait harus


mendiskusikan soal hal ini. Mereka harus memutar otak dan mendapatkan jalan


keluarnya dengan segera. Tidak ada waktu lagi.


Sementara semua siswa kembali ke kamarnya masing-masing,


beberapa pejabat sekolah serta orang-orang penting lainnya membagi tugas. Ada yang


bertugas untuk menertibkan siswa, menutup semua pintu utama dan juga jendela. Membacakan


matra tertentu untuk mengurangi curahan salju yang turun dan berbagai macam


lainnya. Mereka sedang bekerja sama dengan satu tujuan utama. Yaitu


menghentikan saju abadi ini. Meskipun rasanya tidak mungkin. Sudah tidak ada


harapan lagi. Pada akhrinya, tempat ini akan berakhir sama persis seperti

__ADS_1


tempat lain yang sudah pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya.


__ADS_2