
Eun Ji Hae sama sekali belum menyadari jika dirinya tengah
dibicarakan oleah anak-anak itu. Siapa lagi memangnya jika bukan Nhea dan
teman-temannya. Bahkan sampai saat ini mereka masih memperdebatkan soal masalah
itu. Berawal dari topik pembahasan yang sepele, nyaris membuat perpecahan di
antara mereka semua. Tapi untungnya pada anak mudah itu bukan lah tipikal orang
yang mudah terprovokasi. Apalagi Jongdae. Dia adalah tipikal orang yang
berpikir panjang dan matang sebelum mengambil sebuah keputusan.
Nhea bertemu dengan orang-orang yang tepat di sekolah ini.
Mereka semua telah memberikan banyak perngaruh poditif kepada dirinya. Tidak
bisa dipungkiri jika memang seperti inilah lingkungan pertemanan yang sehat.
Sebenarnya ada banyak aspek yang perlu ditinjau dan tidak hanya sebatas satu
landasan saja.
Perlahan, kelas yang mereka tempat mulai berangsur penuh.
Satu persatu siswa memasuki ruangan untuk memulai pelajaran. Kurang dari lima
menit lagi jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Wajar saja jika saat ini
semua bangku terisi penuh. Tidak ada satupun yang tersisa. Suasananya pun
mendadak berubah. Kehadiran mereka berhasil memecah keheningan suasana.
Untung saja di mata pelajaran yang pertama ini tidak ada
ujian. Jadi masih ada sedikit waktu bagi gadis itu untuk mempersiapkan segala
sesuatu yang ia perlukan. Meskipun belum genap satu bulan berada di sekolah
ini, Nhea tetap harus mengikuti ujian seperti yang lainnya. Dia disama ratakan
oleh para siswa lain, karena dianggap mampu untuk mengikuti ujian. Mengingat,
gadis itu memang berasal dari anggota keluarga. Yang secara tidak langsung, itu
berarti Nhea telah mewarisi kemampuan sihir dari kedua orang tuanya. Ia bisa
melakukan hal tersebut tanpa perlu berlatih sama sekali. Nhea memang telah
memiliki bakat alami sejak lahir.
Kemampuan gadis itu akan semakin bertambah kuat begitu ia
mempelajarinya lebih jauh lagi. Itu adalah tujuan utama dari Bibi Ga Eun,
sekaligus kedua orang tuanya. Mereka berharap gadis itu menyadari kemampuannya
yang selama ini tidak ia sadari sama sekali. Nhea tidak akan terkalahkan.
Dengan begitu, mereka bisa mempercayakan gadis ini untuk memimpin Sekolah
Mooneta untuk ke depannya.
Semua orang percaya jika sekolah ini akan aman di bawah
pengawasan Nhea. Tidak akan ada seorangpun yang berani bermain-main dengannya.
Lihat saja sekarang, bagaimana seluruh warga sekolah menghormatinya. Hanya ada
beberapa yang memiliki niat jahat kepada gadis itu, tapi tidak pernah
kesampaian untuk melakukannya hanya karena satu dan lain hal. Rencana kecil
saja tidak mempan untuk gadis itu. Lantas bagaimana mereka akan menyingkirkan
Nhea dengan mudah.
Memang tidak mudah untuk menyingkirkan gadis ini, asal
mereka tahu saja. Selain kuat, ia juga memiliki beberapa orang yang setia untuk
membelanya. Dan yang terpenting adalah, mereka juga tidak kalah kuat dengan
gadis itu. Jadi jika mereka semua digabungkan menjadi satu,mungkin tidak akan ada
seorangpun yang sanggup untuk mengimbangi kekuatannya.
“Selamat siang semuanya!” sapa salah satu pengajar yang
ternyata sudah memasuki ruangan kelas.
“Siang bu!” balas seluruh siswa dengan serentak.
“Silahkan duduk di tempatnya masing-masing,” persilahkan
wanita itu.
Pelajaran kali ini adalah tentang cara pemusatan pikiran.
Lebih tepatnya untuk melatih fokus dan konsentrasi mereka. Bagaimanapun juga,
kedua hal itu tidak bisa terlepas dari dunia sihir. Kita harus benar-benar
hadir saat akan mengucapkan mantra. Baik secara fisik maupun pikiran. Keduanya
harus hadir untuk menciptakan kombinasi yang sempurna. Dengan begitu sihir baru
akan bekerja.
“Hari ini apakah ada tugas?” tanya Jang Eunbi kepada
seseorang yang duduk di sebelahnya. Siapa lagi jika bukan Oliver.
“Enggak ada,” jawab gadis itu dengan apa adanya.
Jang Eunbi menganggukkan perkataannya, paham dengan maksud
gadis itu.
Ia mengajukan pertanyaan kepada orang yang tepat. Karena
Oliver terkenal sebagai murid yang teladan. Selain itu dia juga hebat. Oleh
sebab itu sama sekali tidak ada keraguan bagi para petinggi sekolah saat
memilih gadis ini sebagai ketua asrama. Dia memang bisa diandalkan. Tidak perlu
meragukannya lagi.
Saat kelas baru saja hendak dimulai, tiba-tiba mereka
mendengar suara keributan yang jika ditelisik lebih jauh ternyata berasal dari
pelataran depan. Para Griffin yang sedang berjaga seperti biasanya, mendadak
berisik. Entah apa yang membuat sikap mereka mendadak berubah. Sontak
keberisikan itu memancing atensi seluruh sekolah. Pasalnya bukan hanya satu
atau dua griffin yang berbunyi. Tetapi nyaris semuanya. Bahkan hewan-hewan yang
masih berada di dalam kandang saja ikut menyahuti. Sehingga mereka terdengar
seperti saling bersahut-sahutan.
Melihat guru yang sedang masuk di kelas mereka pada saat itu
menepi ke jendela untuk melihat situasi di luar. Mencari tahu apa yang
sebenarnya sedang terjadi di sini. pasalnya tidak biasanya mereka berisik
seperti ini. Pasti ada sesuatu yang salah. Atau paling tidak pasti ada
penyebabnya kenapa merek bisa seperti itu.
“Tidak mungkin,” gumam pengajar tersebut sambil mundur
beberapa langkah dari posisinya saat ini.
__ADS_1
Ia terlihat begitu kaget dan tidak percaya. Bahkan ia sampai
tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Wanita itu sungguh terperanjat kaget.
Otomatis reaksi darinya itu membuat kami ikut penasaran juga.
“Ada apa?” tanya Nhea kepada Oliver.
Gadis yang dimaksud hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah. Ia sendiri juga
tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini hingga membuat salah satu dari
pengajarnya itu merasa tidak baik-baik saja. Pasti ada sesatu yang cukup
genting. Semoga saja bukan hal yang berbahaya.
Semua orang bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang
terjadi di tempat ini. Tidak ada seorangpun yang berniat untuk menjelaskan
semua itu kepada mereka. Paling tidak berikan saja taka kuncinya. Maka semua
orang akan segera paham, tanpa perlu menejlaskan dengan panjang lebar.
“Permisi bu! Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi
di luar?” celetuk Jongdae.
Pada akhirnya pria itu memutuskan untuk buka suara lebih
dulu. Pertanyaan yang baru saja ia ajukan itu telah mewakili pertanyaan semua orang
yang berada di sini. Pasalnya mereka semua juga memiliki pertanyaan yang sama.
Wanita tersebut kelihatannya juga bingung harus bereaksi
bagaimana. Ia terlalu panik sampai lupa untuk mengendalikan dirinya. Ia
terlihat kehabisan kata-kata.
“Kalian tetap di sini dan jangan kemana-mana. Ibu akan
segera kembali,” jelas wanita tersebut sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan
tempat ini sekarang juga.
Bukannya menjawab pertanyaan para murid, wanita itu malah
mengalihkan pembicaraannya dan pergi begitu saja. Meninggalkan para anak
didiknya dengan sebuah pertanyaan besar yang masih tersisa di benak mereka.
Dan sekarang semua itu seperti misteri
yang belum dapat dipecahkan.
Perasaan semua orang kini semakin campur aduk rasanya.
Mereka tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Karena pada dasarnya mereka sendiri
juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini. Apakah itu sesuatu yang baik
atau malah sebaliknya.
Oliver beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke jendela
untuk memeriksa keadaan di luar sana. Dia tidak bisa hanya berdiam diri di
sini, semetara rasa penasarnnya semakin tak terbendung. Ia sudah tak bisa
menahan dirinya lagi. Gadis itu harus segera mencari tahu jawabannya, sebelum
situasi semakin tak terkendali.
Kini giliran seisi kelas yang kembali dibuat panik oleh
reaksi Oliver yang tak jauh berbeda dengan reaksi wanita itu tadi. Kini semua
orang semakin dibuat kebingungan.
“Kenapa?” tanya salah satu murid yang ada di dalam kelas.
“Kami semua tahu kalau hari ini sedang turun salju!” sahut
siswa yang lainnya.
Mereka sudah tampak tak sabar untuk mendengar jawabannya
dari gadis itu. Tentang apa yang sedang terjadi di sini sebenarnya. Kenapa semua
orang memberikan reaksi yang sama persis. Jika dilihat sekilas, semuana tampa
baik-baik saja. Sama seperti suasana pagi hari sebelumnya. Hanya saja ada satu
hal yang terasa janggal di sini. Yaitu semua keribuatan yang terjadi tanpa
sebab yang jelas. Agaknya hal tersebut cukup membingunkan bagi mereka. Karena menurut
kebanyakan orang memang tidak ada yang salah di sini. Memangnya dimana letak
kesalahannya. Kenapa hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya dan
kemnapa yang lain tidak. Memangnya apa masalahnya.
“Cepat katakan pada kami!” desak yang lainnya.
“Jangan membuat kami menunggu terlalu lama dengan rasa
penasaran yang sudah berlebihan ini!” protes seseorang dari sudut sana.
“Memangnya apa yang salah dengan salju itu. Semua orang juga
tahu jika hari ini salju sedang turun,” timpal yang lainnya.
Suasana kelas menjadi semakin riuh dan tak terkendali.
“Diam!” bentak Oliver.
Suaranya yang begitu menggelegar, berhasil memecah keriuhan
suasana di sini. Membuat semua orang tadi langsung bungkam dan tak berani
berkutik sedikitpun. Mereka tidak akan bisa mendengar jawabannya dengan baik
jika tetap berisi seperti ini. Setidaknya berikan Oliver waktu untuk
menjelaskan semuanya. Bagaimana mereka mau mengerti jika tidak ada yang
mendengarkan. Hal pertama yang perlu dilakukan di sini adalah berdamai dengan
ego mereka masing-masing. Hal itu tidak akan diperlukan saat ini.
“Kalian dengar baik-baik ucapanku!” perintahnya.
“Karena aku tidak akan mengulanginya untuk yang kedua kali,”
jelas gadis yang tengah berdiri di depan kelas saat ini dengan penuh penekanan.
Kini seisi kelas telah hening dan ia bisa mulai untuk
berbicara. Tidak bisa dipungkiri jika orang-orang merasa cukup penasaran. Bahkan
beberapa di antaranya malah merasa sangat penasaran.
“Yang kalian lihat saat ini bukan salju biasa. Melainkan
salju abadi,” papar gadis itu dengan singkat padat dan jelas.
Oliver tahu betul apa yang sedang terjadi di sini.
“Lalu, apa artinya?” celetuk salah seorang murid.
“Sebaiknya mulai hari ini kalian tidak boleh melewatkan jam
pelajaran sejarah,” sindir Oliver.
“Salju abadi bisa membekukan apapun. Ia akan menyelimuti
seluruh tempat. Sesuai dengan namanya, salju ini bersifat abadi dan tidak akan
__ADS_1
pernah hilang. Kita pernah membahas hal ini pada pelajaran sejarah setahun yang
lalu. Ku rasa kalian masih mengingatnya dengan jelas. Kejadian ini terakhir
terjadi seribu tahun yang lalu,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Apa setelah seribu tahun itu, saljunya akan mencair?”
tanyanya kemudian.
“Tidak sama sekali,” jawab gadis itu dengan yakin.
“Sampai saat ini salju itu masih ada dan sekarang tempatnya
sudah ditinggalkan,” lanjutnya.
“Sebaiknya kalian buka kembali buku sejarah milik kalian. Aku
yakin jika catatannya masih tertinggal di sana,” cicit Oliver kemudian hendak
kembali ke tempat duduknya dengan perasaan was-was.
Tapi mendadak seseorang muncul dari balik pintu dan
mengatakan, “Jadi kalian sudah tahu lebih dulu?”
Itu adalah wanita yang baru saja berpamitan keluar tadi. Ia sudah
kembali sekarang. Tidak ada yang bisa dijelaskan dari raut wajahnya. Dengan langkah
berat, ia memasuki ruangan kelas.
Semua orang berharap agar ia datang membawa kabar baik. Mereka
tidak ingin mendengar kabar buruk lagi, setelah Oliver baru saja menyampaikan
hal tersebut secara terang-terangan. Tapi jika dilihat baik-baik dari raut
wajahnya, ia tidak menggambarkan hal demikian. Jadi sebaiknya, jangan menaruh
harapan terlalu tinggi. Akan percuma juga jika kenyataan yang terjadi di
lapangan sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Memang tidak ada
salahnya untuk berharap. Tapi tetap saja kembali kepada prinsip utamanya, jika
sesuatu yang berlebihan itu tidak baik sama sekali. Jadi sewajarnya saja.
“Seperti yang sudah kalian dengar sebelumnya, jika salju
abadi telah turun. Ini adalah siklus seribu tahun sekali. Tepat seribu tahun
yang lalu,hal sertupa terjadi di daratan utara. Sekarang tempat itu menjadi tak
berpenghuni karena suhu udara yang cukup ekstrem,” jelas wanita itu dengan
panjang lebar.
Ini baru awal. Belum masuk ke inti permasalahannya. Semua
orang sedang harap-harap cemas di sini. Berharap agar hal yang sama tidak
kembali terjadi kepada mereka. Bagaimana bisa mereka semua meninggalkan tempat
ini begitu saja. Lantas bagaimana dan kemana mereka akan pindah. Tidak semudah
itu untuk menemukan tempat baru. Akan lebih baik jika seperti itu. Bagaimana jika
para petinggi sekolah malah membuat keputusan untuk membubarkan mereka. Beberapa
mungkin akan kembali rumahnya
masing-masing. Namun di sisi lain hal tersebut justru akan menjadi sebuah
masalah bari bgi mereka yang tidak memiliki keluarga sama sekali. Akan pergi
kemana mereks setelah ini.
“Untuk sementara waktu, kalian jangan pergi keluar terlebih
dahulu. Salju abadi cukup berbahaya. Ia bisa membekukan segalanya. Jadi, jangan
sembarangan untuk mendekati, apalagi sampai menyentuhnya. Perlu trik khusus
agar kalian tidak membeku begitu butiran halus itu menyentuh kulit kalian,”
paparnya secara detail.
Mungkin tadi para petinggi sekolah dan juga anggota keluarga
sempat berembuk sebentar untuk memutuskan bagaimana jalan keluarnya. Sekali lagi,
semua ini hanya bersifat sementara. Sampai mereka berhasil menemukan jalan
keluar yang paling baik. Semua orang juga tahu jika tidak mudah untuk melakukan
hal tersebut. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Termasuk segala resiko
yang mungkin terjadi. Tidak bisa terburu-buru dalam memutuskan sesuatu yang
besar dan penting seperti ini.
“Mungkin untuk saat ini hanya itu yang bisa saya sampaikan. Selebihnya,
kami akan terus memberitahu kalian informasi terbaru,” ujarnya.
“Berhubungan situasi di luar sedang gawat, jadi kami perlu
melakukan beberapa hal. Oeleh sebab itu, kelas kita akan selesai sampai di
sini. Segera kembali ke kamar asrama kalian masing-masing. Tetap berada di dalam
ruangan dan jangan pergi kemana-mana,” jelas wanita paruh baya itu dengan
panjang lebar. Ia juga terlihat menegaskan kembali beberapa hal penting agar
tidak dilewatkan begitu saja.
Semua orang menginginkan yang terbaik di sini. Itu sebabnya,
untuk menjaga keamanan dan keselamatan bersama, mereka harus saling
mengingatkan satu sama lain. Pada saat-saat seperti inilah kerja sama akan
sangat dibutuhkan.
“Satu lagi!” celetuk wanita tersebut sebelum pergi.
“Pastikan tubuh kalian selalu dalam kondisi yang hangat,”
ujarnya.
“Baik bu!” balas semua orang secara bersamaan.
“Baiklah, silahkan kembali ke kamar asrama kalian
masing-masing,” finalnya.
Bukan hanya kelas mereka saja yang dibatalkan untuk hari
ini. Tapi seluruh kelas telah dibatalkan begitu saja. Semua orang terkait harus
mendiskusikan soal hal ini. Mereka harus memutar otak dan mendapatkan jalan
keluarnya dengan segera. Tidak ada waktu lagi.
Sementara semua siswa kembali ke kamarnya masing-masing,
beberapa pejabat sekolah serta orang-orang penting lainnya membagi tugas. Ada yang
bertugas untuk menertibkan siswa, menutup semua pintu utama dan juga jendela. Membacakan
matra tertentu untuk mengurangi curahan salju yang turun dan berbagai macam
lainnya. Mereka sedang bekerja sama dengan satu tujuan utama. Yaitu
menghentikan saju abadi ini. Meskipun rasanya tidak mungkin. Sudah tidak ada
harapan lagi. Pada akhrinya, tempat ini akan berakhir sama persis seperti
__ADS_1
tempat lain yang sudah pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya.