Mooneta High School

Mooneta High School
Fullmoon


__ADS_3

‘TAP! TAP! TAP!’


Nhea melangkah sendirian menyusuri koridor yang sudah sepi itu sendirian. Suara telapak sepatunya yang beradu dengan permukaan lantai terdengar semakin nyaring. Bahkan sangking sunyinya, ia sampai bisa mendengar suara deruan napasya sendiri. Sekarang sudah lewat tengah malam. Jadi, wajar saja jika tidak ada siapa-siapa di sini. Mungkin hanya Nhea lah satu-satunya orang yang masih berkeliaran di tengah malam seperti ini.


Tempat yang mengusung gaya arsitektur era victoria ini ternyata jauh lebih seram jika dilihat saat malam hari. Setiap sudutnya nyaris gelap. Minim cahaya yang tersedia di tempat ini. Bahkan sesekali Nhea harus melewati koridor yang gelap gulita. Itu karena semua lenteranya telah dipadamkan. Bayangkan saja, ia harus melangkah dengan benar. Padahal tidak ada seberkas cahaya pun yang menyapa pandangannya.


Nhea hampir sampai di kamarnya. Saat ini ia sedang menyusuri koridor yang akan mengarah langsung ke ruangan itu. Semoga saja suara langkah kakinya ini tidak mengganggu orang lain. Volumenya cukup besar. Ia bahkan tidak bisa meredam kebisingan yang satu itu.


‘SYUTT!!!’


Ia terkesiap. Gadis itu menghentikan langkahnya seketika. Tepat saat ia melihat sebuah bayangan hitam melintas dengan cepat di depannya. Bulu kuduknya meremang. Dengar. Dia tidak percaya dengan hantu karena tidak pernah melihat mahluk itu sebelumnya. Tapi, kini pendirian itu bisa saja berubah.


“Apa itu tadi?” gumamnya pelan.


Nhea masih berusaha untuk terus berpikir positif. Meski rasanya ia nyaris mati ketakutan. Di sisi lain rasa penasarannya jauh lebih besar dari pada apa pun. Ia tahu jika ini tidak benar sama sekali. Nhea terus berusaha untuk menahan dirinya sendiri agar tidak mencari tahu apa yang sedang terjadi di sana. Lebih baik tidak tahu sama sekali, dari pada harus mengetahui fakta yang tidak ingin dia ketahui. Beberapa hal memang sengaja disembunyikan oleh semesta dengan alasan tertentu.


Tak ingin ambil pusing soal mahluk apa tadi yang barusan dilihatnya, Nhea kembali melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke kamar. Tubuhnya sudah letih. Ia perlu istirahat.

__ADS_1


“Aku pasti mengalami halusinasi tadi,” gumamnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Ia hanya sedang berusaha untuk mengurangi rasa cemasnya yang sudah terlalu berlebihan.


Hanya tinggal melewati lima pintu lagi, maka ia akan langsung menemukan kamarnya. Biasanya Oliver sudah tidur pada jam segini.


‘KRIET!!!’


Gadis itu membuka pintu dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau mengganggu siapa pun. Apalagi sekarang sudah waktunya untuk tidur. Salah Nhea sendiri. Kenapa ia masih berkeliaran di luar sana sampai malam begini.


Ternyata Oliver telah tidur lebih dulu. Sepertinya ia tahu jika Nhea sedang ada urusan. Jadi, tidak mencari gadis itu. Oliver juga tidak menunggunya sampai pulang.


Hari sudah semakin larut. Tapi, Nhea tidak kunjung terlelap. Tubuhnya sudah berbaring di atas kasur sejak tadi. Begitu pula matanya yang sudah tertutup. Bersamaan dengan kegiatan yang sebelumnya. Tapi, mendadak rasa kantuknya menghilang seketika.


Nhea tidak bisa tidur meski ia merasa lelah. Berbagai cara telah ia lakukan agar bisa terlelap. Tapi, hasilnya nihil. Gadis itu memutuskan untuk bangun sejenak. Ia berjanji kepada dirinya sendiri hanya sebentar saja.


Matanya lurus menatap ke luar jendela. Entah kenapa langit mala mini terlihat lauh lebih teduh dengan ribuan benda langit yang menggantung di sana. Nhea hampir melupakan sesuatu. Malam ini tepat malam bulan purnama. Menurut keyakinan mereka, para ruh akan kembali bangkit pada saat siklus bulan purnama telah tiba. Mereka menganggapnya sebagai malam suci. Ruh yang bangkit hanya mereka yang terpilih. Orang-orang baik yang selalu melakukan hal positif semasa hidupnya.


Ada beberapa versi yang mengatakan tentang malam bulan purnama. Mulai dari kebangkitan ruh baik, bahkan ada juga yang mengatakan jika ruh jahat juga akan ikut bangkit. Pantas saja jika Nhea sempat menemukan beberapa dupa yang terpasang di dekat lentera. Ternyata memang sengaja dipasang untuk menetralisir atmosfir yang terbilang kurang stabil pada malam ini. Nhea juga bisa merasakan hal tersebut dengan jelas. Suasananya sendang berbeda dari biasanya. Bukan hanya gadis itu saja. Tapi, sepertinya semua orang juga tahu.

__ADS_1


Nhea memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Beringsut ke arah jendela. Dia berencana untuk mengamati suasana di luar sana pada jam segini. Harusnya sekarang bulan purnama tidak terlalu memiliki efek samping lagi terhadap perubahan energi di bumi. Puncaknya adalah tengah malam tadi. Pantas saja kelas selesai lebih cepat dan mereka diminta untuk segera kembali ke asramanya masing-masing. Tapi, Eun Ji Hae dan Nhea bahkan masih berkeliaran di gedung sekolah pada saat itu. Mereka sama sekali tidak mengindahkan aturan yang berlaku. Tapi, jika dipikir-pikir sebenarnya tidak apa. Lagipula hanya sekali saja mereka melanggar. Biasanya tidak pernah sama sekali. Keduanya selalu dikenal sebagai siswa yang cukup teladan.


“Apa setiap klan memiliki hubungan yang cukup erat dengan bulan purnama?” gumamnya.


Nhea kini tengah duduk termangu di depan jendela. Gadis itu tidak berencana untuk membuka kacanya sama sekali. Terlalu bersiko. Lagipula sekarang sudah malam. Hampir pagi lebih tepatnya. Meski sebenarnya di awal dia berniat untuk menghirup udara ringan malam hari. Namun, setelah dipertimbangkan lebih lanjut, sebaiknya ia mengurungkan niat tersebut.


“Sepertinya semua klan akan mengalami puncak dari kehidupan klan mereka pada malam bulan purnama. Sebuah siklus bulan paling penting yang selalu ditungu-tunggu oleh seluruh mahluk hidup di bumi,” celotehnya dengan panjang lebar.


Nhea terus bermonolong. Tenang saja, Oliver tidak akan terganggu karenanya. Nhea berbicara dengan sangat pelan. Bahkan nyaris seperti berbisik. Lagipula Oliver bukan tipikal orang yang terlalu sensitive dengan sesuatu. Dia nyaris tidak pernah terbangun di malam hari. Gadis itu selalu tertidur pulas sepanjang malam. Tapi, tidak pernah bermimpi indah. Dia melewati setiap malam tanpa mimpi sama sekali.


“Tidur nyenyak saja, jangan mimpi indah.”


Oliver pernah berkata seperti itu kepada Nhea.


Meski begitu, bukan berarti jika dia tidak pernah bermimpi indah sama sekali seumur hidupnya. Tentu saja pernah. Paling tidak lebih dari sepuluh kali jika dihitung-hitung sampai hari ini.


Nhea menghela napasnya. Dia merasa lelah dan ingin semuanya kembali normal. Bukan. Bukan tempat ini. Melainkan kehidupannya. Nhea ingin kembali hidup seperti layaknya manusia biasa seperti dulu. Ada kehidupan yang diam-diam ia rindukan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2