
Eun Ji Hae sibuk dengan dirinya sendiri. Gadis itu sengaja menjaga jarak dengan para anggota keluarga, setelah kejadian tadi. Termasuk kepada Wilson dan Bibi Ga Eun. Ia sama sekali tidak bisa memberikan toleransi terhadap tindakan tak menyenangkan yang ditujukan kepadanya tadi. Eun Ji Hae sama sekali tidak mengatakan jika Wilson salah karena membela Bibi Ga Eun. Hal tersebut sangat wajar terjadi. Mereka memiliki ikatan darah satu sama lain. Pembelaan untuk hal kecil bukan masalah sama sekali. Mereka telah dianugerahkan naluri alami untuk saling melindungi satu sama lain. Berbeda dengan Eun Ji Hae. Ia hanya berdiri sendiri di sini. Tidak ada yang bisa menolongnya.
Kejadian tadi benar-benar memberikannya sebuah tamparan keras yang berhasil membuka kedua matanya. Bagaimana bisa selama ini ia tidak menyadari hal itu sama sekali. Bertahun-tahun lamanya ia hidup dalam dusta.
Setiap kata yang terlontar dari mulut Bibi Ga Eun dan Wilson telah menghancurkan hatinya yang dari awal memang tak pernah merasa baik-baik saja. hal tersebut membuatnya terpukul mundur ke belakang. Harusnya, dari awal dia memang sadar diri. Eun Ji Hae hanya anak angkat. Ify jauh lebih berhak atas segalanya yang menyangkut Mooneta dari pada gadis itu. Tapi, selama ini Eun Ji Hae selalu bersikap seolah ia jauh lebih baik dari pada Ify. Dia terlalu serakah dan kini mulai sadar secara perlahan.
Ternyata, menjadi anggota keluarga tidak selamanya berarti jika kau berbeda dari yang lain. Mereka sama sekali tidak diperlakukan secara istimewa. Semuanya terlihat sama. Itu hanya asumsi orang-orang.
“Kenapa mereka harus mengangkatku sebagai anaknya dan memberikanku posisi di keluarga ini?” tanya Eun Ji Hae pada dirinya sendiri. Padahal, ia tahu dengan jelas jika jawabannya sama sekali tidak tersedia untuk saat ini.
“Mereka bisa saja meletakkanku di sekolah, sama seperti yang lainnya. Lagi pula ada banyak anak yang terlantar dan dibiarkan menjadi siswa sekolah ini,” gumamnya.
Apa yang dikatakan oleh gadis ini ada benarnya juga. Dari sekian banyak anak yang pernah diterlantarkan di sekitar sekolah ini dengan sengaja, kenapa harus Eun Ji Hae yang diangkat menjadi anggota keluarga. Padahal ia sama sekali tidak pernah menginginkan hal tersebut. Itu bukan tujuannya. Eun Ji Hae tidak pernah memohon untuk hal tersebut.
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika dari awal ia sudah mengetahui resikonya, mungkin Eun Ji Hae sudah mengundurkan diri dari anggota keluarga. Dia tidak berhak untuk berada di sana. itu bukan posisinya. Terlebih setelah Nhea datang. Gadis itu berhasil mengguncang segalanya. Nhea adalah orang yang seharusnya berdiri di posisi yang tengah ditempati oleh Eun Ji Hae saat ini.
Eun Ji Hae membalikkan badannya seklias. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru untuk mencari keberadaan Nhea. Ternyata gadis itu tengah berjalan tepat di belakangnya. Tentu saja bersama ketiga teman dekatnya yang baru saja ia temui belakangan ini. Mereka menjadi akrab satu sama lain sejak Nhea menginjakkan kakiknya di sekolah ini. Sebelum Nhea datang, mereka bertiga memang sudah berteman dengan baik. Tapi, tidak pernah sedekat sekarang.
Kehadiran Nhea di tempat ini benar-benar membawa banyak perubahan. Tidak hanya pada satu aspek saja. Melainkan nyaris terhadap semua hal yang ada pada kehidupan sehari-hari mereka.
__ADS_1
Sepertinya gadis itu memang sudah ditakdirkan untuk membawa perubahan. Ia seperti dewi yang membawa misi perubahan bagi semesta. Sejauh ini, Eun Ji Hae sudah bisa menarik beberapa kesimpulan. Jika Nhea memang benar adalah orang yang membawa perubahan. Tapi, tidak semua perubahan yang terjadi harus selalu menjadi lebih baik. Terkadang semesta tidak bisa berjalan dengan seirama. Begitulah caranya bekerja.
***
Mereka sudah melalui begitu banyak rintangan untuk sampai pada ujung dari hutan ini yang sekaligus menjadi perbatasan antara hutan dengan dunia luar. Tidak perlu takut akan hewan buas. Mereka tidak akan menyerang selama tidak merasa terusik. Itu adalah prinsip yang dipegang oleh semua orang di Mooneta. Mereka sudah lama bersahabat dengan berbagai hewan liar selain griffin dan juga pegasus.
Pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah tersebut benar adanya bagi mereka. Bahkan semua orang di dunia ini pasti setuju dengan kalimat tadi.
Mereka sudah beberapa kali bertemu dengan hewan-hewan buas nan liar yang menjadi penghuni abadi tempat ini. Bukan hanya naga saja, melainkan harimau serta beberapa kelompok rusa. Mereka tidak terlalu mengancam.
Kebanyakan hewan akan melakukan siklus hibernasi pada saat musim dingin seperti ini. Jadi, tidak banyak yang terlihat berlalu lalang di hutan. Hanya beberapa diantaranya yang memang sedang kelaparan atau hendak melakukan hal lain. Sehingga mau tak mau harus menunda waktu tidurnya.
Tapi, tidak semua hewan akan melakukan hibernasi. Mereka terkadang ada juga yang sama sekali tidak melakukan hal tersebut. Salah satunya adalah kawanan serigala hutan. Para rombongan tak sengaja berpapasan dengan hewan-hewan menyebalkan itu. Dari matanya terlihat jelas jika kepribadiannya sangat tak bersahabat.
Mereka tengah terjebak dalam situasi yang serba sulit sekarang ini. Ada banyak hal yang perlu diwaspadai.
“Ada berapa banyak hewan buas memangnya di hutan ini?!” gerutu Eun Ji hae kesal.
Tak bisa dipungkiri, jika ia sama paniknya dengan yang lain. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Karena ini adalah pertama kalinya bagi mereka untuk berhadapan dengan sekelompok serigala kelaparan.
__ADS_1
Dapat dilihat dengan jelas jika mereka tengah menggeram di depan sana. Dengan garang menghadang segerombolan manusia yang jauh lebih banyak dari pada kawanannya sendiri. Jika soal jumlah, mereka pasti kalah.
“Cepat lakukan sesuatu!” perintah Chanwo kepada seorang gadis yang berada di sampingnya.
Hwang Ji Na bahkan tampak tercengang tak percaya. Tubuhnya mematung ditempat. Pandangannya lurus mengarah ke depan. Ia berhasil menangkap pemandangan yang tak menyenangkan jauh di depan sana.
“Hey!” sahut Chanwo sekali lagi karena Hwang Ji Na masih tetap bergeming.
“Ada apa?” tanya gadis itu sebagai respon.
“Lakukan sesuatu!” seru Chanwo sekali lagi.
“Aku harus apa?” tanya Hwang Ji Na secara gamblang. Pasalnya, ia sungguh tak tahu harus melakukan apa.
Chanwo berdecak sebal sambil mengacak-acak rambutnya. Bagaimana bisa seekor serigala alpha tidak tahu harus bagaimana saat dihadapkan pada situasi seperti ini. Semua orang juga tahu jika klan alpha terlahir sebagai pemimpin.
“Bukankan kau sama dengan mereka? Lantas kenapa malah bertanya kepadaku?!” sarkas pria itu.
“Aku sungguh tak tahu harus bagaimana,” ungkap Hwang Ji Na.
__ADS_1
“Ini adalah pertama kalinya bagiku berhadapan dengan mereka,” akunya.
Chanwo sama sekali tidak habis pikir dengan gadis ini. Bukannya segera bertindak, ia malah memusingkan sesuatu yang tidak penting sama sekali.