Mooneta High School

Mooneta High School
Jealousy


__ADS_3

Yang benar saja. Semuanya terjadi sesuai dengan dugaan Nhea


sebelumnya. Kali ini Eun Ji Hae tidak akan melewatkan jam makannya begitu saja.


Dia harus menjaga kesehatannya. Meski tidak ikut bertangsing besok, tapi ia


memegang tanggung jawab yang besar terhadap anak-anak ini. Pasti perlu tenaga


yang besar untuk mengendalikan mereka semua di saat yang bersamaan. Harus


diakui jika itu bukan pekerjaan yang mudah. Tidak sembarang orang bisa


melakukannya.


Eun Ji Hae telah bekerja keras hari ini. Seperti yang


kebanyakan orang tahu jika ia telah menjadi asisten pribadi Bibi Ga Eun.


Otomatis ada banyak pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya. Mau tak mau ia tetap


harus melakukannya. Demi alasan professional.


Hari ini Eun Ji Hae harus mendata ulang lagi seluruh siswa


yang diikut sertakan ke tiap-tiap cabang lomba. Kemudian ia akan menyerahkannya


kepada tim pendaftaran final nanti malam. Kebetulan sekali nanti malam setiap


perwakilan dari masing-masing akademi akan melakukan rapat untuk koordinasi.


Sebelum memulai kompetisinya, mereka harus melakukan acara pembukaan festival


terlebih dahulu. Semua orang tentu ingin agar acaranya berlangsung lancar dan


kondusif dari awal hingga akhir. Tidak ada hal buruk yang terjadi selama


festival. Oleh sebab itu meskipun saling bersaing pada saat berada di arena


pertandingan, mereka harus tetap bekerja sama demi kelangsungan acara tersebut.


Eun Ji Hae adalah orang yang ditunjuk sebagai perwakilan


akademi sihir Mooneta untuk menghadiri rapat tersebut. Gadis itu memang mulai


banyak diandalkan sejak kutukannya dipatahkan.


“Cepatlah kemari dan duduk!” sahut Bibi Ga Eun dari meja


makan.


“Semua orang telah menunggumu sejak tadi,” lanjutnya.


Sebenarnya Eun Ji Hae bukan hanya satu-satunya orang yang


sedang ditunggu sejak tadi. Masih ada beberapa siswa yang mengantri untuk


mendapatkan makanan di sana. Berdasarkan aturan yang berlaku, mereka baru akan


bisa memulai jamuan makan setelah semua kursi terisi penuh. Mereka tidak akan


meninggalkan siapa pun.


“Bagaimana? Apa kau sudah menyelesaikan semua yang suruh


tadi?” interupsi Bibi Ga Eun begitu gadis itu sampai di meja makan.


“Tenang saja. Semuanya sudah selesai. Aku selalu mengerjakan


setiap hal dengan cepat,” jawab Eun Ji Hae tanpa mengalihkan pandangannya.


“Kalau begitu, jangan sampai lupa untuk menghadiri rapat


nanti malam,” balas wanita itu. dia hanya sekedar mengingatkan saja agar Eun Ji

__ADS_1


Hae tidak lupa dengan hal penting yang satu itu.


“Aku bukan orang yang pelupa!” sarkasnya sambil berdecak


sebal.


Mendapati balasan seperti itu hanya membuat Bibi Ga Eun


menghela napas dengan pasrah. Tidak ada gunanya untuk tetap menasehati gadis


itu. Dia terlalu keras kepala. Bahkan ayah dan ibunya saja sampai hampir


menyerah untuk menghadapi kelakuannya. Hubungan yang ia ciptakan dengan orang


lain tidak pernah berakhir baik. Termasuk dengan keluarganya sendiri.


Di sisi lain ada alasan tersendiri kenapa Eun Ji Hae


melakukan semua itu. Dia bukan tipikal orang yang akan bertindak tanpa suatu


landasan. Belakangan ini pekerjaan yang ia lakukan cukup banyak dan berat.


Tidak bisa dipungkiri jika selain menyita perhatiannya, hal tersebut juga


membuatnya harus kehilangan banyak tenaga. Bukan hanya tenaga saja. Bahkan


pikirannya juga ikut terkuras pada saat yang bersamaan. Ia telah kehilangan


banyak hal penting di dalam hidupnya selama ini.


Orang-orang tidak akan pernah mengerti soal hal tersebut.


Tidak sampai mereka berada di posisi paling nyata. Mereka pasti akan selalu


menolak untuk percaya.


Mereka terlalu mudah menilai orang lain. Padahal apa yang


tahu seperti apa isi hati orang lain. Oleh sebab itu, berlakulah dengan sebaik


mungkin.


Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi sejauh ini.


Mungkin orang lain tampak bahagia karena mereka bisa bebas melakukan apa saja


setidaknya untuk sehari saja. Tapi, siapa yang tahu apa yang telah dilalui oleh


Eun Ji Hae. Tampaknya ia tak baik-baik saja. Kelelahan. Energinya banyak


terkuras. Dia adalah pihak yang paling dirugikan jika soal tenaga dalam hal


ini.


Padahal ada banyak pihak yang terlibat dalam festival nanti.


Tapi, Eun Ji Hae menjadi orang dengan tingkat kesibukan di atas rata-rata. Dia


adalah orang yang paling sibuk di seluruh akademi Mooneta jika dibandingkan


dengan yang lain.


"Hari ini staff dapur memasak makanan spesial. Kau


harus mencobanya," ujar Vallery berusaha untuk menenangkan putrinya.


Diam-diam Nhea memperhatikan hal tersebut dari kejauhan.


Jika boleh jujur, ada rasa cemburu yang terbersit di dalam hatinya. Namun,


tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Diam adalah cara paling ampuh untuk


mengatasi semuanya.

__ADS_1


"Ternyata memang benar. Ibu jauh lebih akrab dengan


Kakak Ji," gumamnya dalam hati.


Nhea sangat tak suka melihat pemandangan seperti itu.


Seharusnya ialah yang mendapatkan kasih sayang dari Vallery. Bukan Eun Ji Hae.


Gadis itu sudah mendapatkan segalanya sejak awal. Mereka bahkan sudah bersama


sejak Eun Ji Hae masih kecil. Menghabiskan waktu bersama hingga hari ini.


Sedangkan Nhea selalu menjadi pihak yang selaku diacuhkan. Kehadirannya tak


pernah dianggap ada.


Dari awal Nhea sudah menjadi pihak yang disingkirkan secara


tidak langsung oleh keluarganya. Selama ini ia banyak menghabiskan waktu


bersama Bibi Ga Eun. Tapi itu dulu. Bahkan sekarang wanita itu sudah tidak


peduli lagi dengannya. Bibi Ga Eun jauh lebih mementingkan urusan pekerjaannya.


Sebenarnya wajar saja jika ia melakukan hal itu.


Sekarang, Oliver adalah satu-satunya orang yang terus


bersamanya sdlama dua puluh empat jam. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka


sejauh ini. Padahal, menurut prinsip semesta, setiap pertemuan pasti berakhir


dengan perpisahan. Tidak ada yang abadi. Orang-orang datang dan pergi.


“Hei!” sahut Oliver karena melihat temannya tak kunjung


menyantap makan siang miliknya.


“Ada apa?” tanya Nhea.


Oliver sukses membuat isi pikiran gadis ini buyar seketika.


Ternyata lagi-lagi ia melamun. Hal tersebut selalu terjadi tanpa


sepengetahuannya. Gadis itu sama sekali tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Ia akui jika soal yang satu itu.


“Kenapa kau belum makan juga?” tanya Oliver. Dia perlu


memastikan sesuatu di sini.


“Ah, benar!” balas Nhea dengan canggung.


Dia hampir lupa. Bukan lupa. Lebih tepatnya Nhea sama sekali


tidak tahu jika perjamuannya telah dimulai. Gadis ini benar-benar tenggelam di


dalam pikirannya sendiri.


Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera meraih sendok garpu


miliknya. Kemudian menyuapkan sesendok pasta ke dalam mulutnya. Dia harus bertindak


biasa saja. Seperti tidak ada apa-apa. Kemampuan adaptasi sangat diperlukan.


Ini adalah salah satu cara paling ampuh untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan


yang ia benci. Nhea tahu betul jika Oliver akan menginterupsinya nanti. Jadi,


secepat mungkin ia harus mengalihkan perhatiannya sebelum gadis itu berbicara


lebih banyak lagi.

__ADS_1


__ADS_2