
Yang benar saja. Semuanya terjadi sesuai dengan dugaan Nhea
sebelumnya. Kali ini Eun Ji Hae tidak akan melewatkan jam makannya begitu saja.
Dia harus menjaga kesehatannya. Meski tidak ikut bertangsing besok, tapi ia
memegang tanggung jawab yang besar terhadap anak-anak ini. Pasti perlu tenaga
yang besar untuk mengendalikan mereka semua di saat yang bersamaan. Harus
diakui jika itu bukan pekerjaan yang mudah. Tidak sembarang orang bisa
melakukannya.
Eun Ji Hae telah bekerja keras hari ini. Seperti yang
kebanyakan orang tahu jika ia telah menjadi asisten pribadi Bibi Ga Eun.
Otomatis ada banyak pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya. Mau tak mau ia tetap
harus melakukannya. Demi alasan professional.
Hari ini Eun Ji Hae harus mendata ulang lagi seluruh siswa
yang diikut sertakan ke tiap-tiap cabang lomba. Kemudian ia akan menyerahkannya
kepada tim pendaftaran final nanti malam. Kebetulan sekali nanti malam setiap
perwakilan dari masing-masing akademi akan melakukan rapat untuk koordinasi.
Sebelum memulai kompetisinya, mereka harus melakukan acara pembukaan festival
terlebih dahulu. Semua orang tentu ingin agar acaranya berlangsung lancar dan
kondusif dari awal hingga akhir. Tidak ada hal buruk yang terjadi selama
festival. Oleh sebab itu meskipun saling bersaing pada saat berada di arena
pertandingan, mereka harus tetap bekerja sama demi kelangsungan acara tersebut.
Eun Ji Hae adalah orang yang ditunjuk sebagai perwakilan
akademi sihir Mooneta untuk menghadiri rapat tersebut. Gadis itu memang mulai
banyak diandalkan sejak kutukannya dipatahkan.
“Cepatlah kemari dan duduk!” sahut Bibi Ga Eun dari meja
makan.
“Semua orang telah menunggumu sejak tadi,” lanjutnya.
Sebenarnya Eun Ji Hae bukan hanya satu-satunya orang yang
sedang ditunggu sejak tadi. Masih ada beberapa siswa yang mengantri untuk
mendapatkan makanan di sana. Berdasarkan aturan yang berlaku, mereka baru akan
bisa memulai jamuan makan setelah semua kursi terisi penuh. Mereka tidak akan
meninggalkan siapa pun.
“Bagaimana? Apa kau sudah menyelesaikan semua yang suruh
tadi?” interupsi Bibi Ga Eun begitu gadis itu sampai di meja makan.
“Tenang saja. Semuanya sudah selesai. Aku selalu mengerjakan
setiap hal dengan cepat,” jawab Eun Ji Hae tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kalau begitu, jangan sampai lupa untuk menghadiri rapat
nanti malam,” balas wanita itu. dia hanya sekedar mengingatkan saja agar Eun Ji
__ADS_1
Hae tidak lupa dengan hal penting yang satu itu.
“Aku bukan orang yang pelupa!” sarkasnya sambil berdecak
sebal.
Mendapati balasan seperti itu hanya membuat Bibi Ga Eun
menghela napas dengan pasrah. Tidak ada gunanya untuk tetap menasehati gadis
itu. Dia terlalu keras kepala. Bahkan ayah dan ibunya saja sampai hampir
menyerah untuk menghadapi kelakuannya. Hubungan yang ia ciptakan dengan orang
lain tidak pernah berakhir baik. Termasuk dengan keluarganya sendiri.
Di sisi lain ada alasan tersendiri kenapa Eun Ji Hae
melakukan semua itu. Dia bukan tipikal orang yang akan bertindak tanpa suatu
landasan. Belakangan ini pekerjaan yang ia lakukan cukup banyak dan berat.
Tidak bisa dipungkiri jika selain menyita perhatiannya, hal tersebut juga
membuatnya harus kehilangan banyak tenaga. Bukan hanya tenaga saja. Bahkan
pikirannya juga ikut terkuras pada saat yang bersamaan. Ia telah kehilangan
banyak hal penting di dalam hidupnya selama ini.
Orang-orang tidak akan pernah mengerti soal hal tersebut.
Tidak sampai mereka berada di posisi paling nyata. Mereka pasti akan selalu
menolak untuk percaya.
Mereka terlalu mudah menilai orang lain. Padahal apa yang
tahu seperti apa isi hati orang lain. Oleh sebab itu, berlakulah dengan sebaik
mungkin.
Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi sejauh ini.
Mungkin orang lain tampak bahagia karena mereka bisa bebas melakukan apa saja
setidaknya untuk sehari saja. Tapi, siapa yang tahu apa yang telah dilalui oleh
Eun Ji Hae. Tampaknya ia tak baik-baik saja. Kelelahan. Energinya banyak
terkuras. Dia adalah pihak yang paling dirugikan jika soal tenaga dalam hal
ini.
Padahal ada banyak pihak yang terlibat dalam festival nanti.
Tapi, Eun Ji Hae menjadi orang dengan tingkat kesibukan di atas rata-rata. Dia
adalah orang yang paling sibuk di seluruh akademi Mooneta jika dibandingkan
dengan yang lain.
"Hari ini staff dapur memasak makanan spesial. Kau
harus mencobanya," ujar Vallery berusaha untuk menenangkan putrinya.
Diam-diam Nhea memperhatikan hal tersebut dari kejauhan.
Jika boleh jujur, ada rasa cemburu yang terbersit di dalam hatinya. Namun,
tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Diam adalah cara paling ampuh untuk
mengatasi semuanya.
__ADS_1
"Ternyata memang benar. Ibu jauh lebih akrab dengan
Kakak Ji," gumamnya dalam hati.
Nhea sangat tak suka melihat pemandangan seperti itu.
Seharusnya ialah yang mendapatkan kasih sayang dari Vallery. Bukan Eun Ji Hae.
Gadis itu sudah mendapatkan segalanya sejak awal. Mereka bahkan sudah bersama
sejak Eun Ji Hae masih kecil. Menghabiskan waktu bersama hingga hari ini.
Sedangkan Nhea selalu menjadi pihak yang selaku diacuhkan. Kehadirannya tak
pernah dianggap ada.
Dari awal Nhea sudah menjadi pihak yang disingkirkan secara
tidak langsung oleh keluarganya. Selama ini ia banyak menghabiskan waktu
bersama Bibi Ga Eun. Tapi itu dulu. Bahkan sekarang wanita itu sudah tidak
peduli lagi dengannya. Bibi Ga Eun jauh lebih mementingkan urusan pekerjaannya.
Sebenarnya wajar saja jika ia melakukan hal itu.
Sekarang, Oliver adalah satu-satunya orang yang terus
bersamanya sdlama dua puluh empat jam. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka
sejauh ini. Padahal, menurut prinsip semesta, setiap pertemuan pasti berakhir
dengan perpisahan. Tidak ada yang abadi. Orang-orang datang dan pergi.
“Hei!” sahut Oliver karena melihat temannya tak kunjung
menyantap makan siang miliknya.
“Ada apa?” tanya Nhea.
Oliver sukses membuat isi pikiran gadis ini buyar seketika.
Ternyata lagi-lagi ia melamun. Hal tersebut selalu terjadi tanpa
sepengetahuannya. Gadis itu sama sekali tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Ia akui jika soal yang satu itu.
“Kenapa kau belum makan juga?” tanya Oliver. Dia perlu
memastikan sesuatu di sini.
“Ah, benar!” balas Nhea dengan canggung.
Dia hampir lupa. Bukan lupa. Lebih tepatnya Nhea sama sekali
tidak tahu jika perjamuannya telah dimulai. Gadis ini benar-benar tenggelam di
dalam pikirannya sendiri.
Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera meraih sendok garpu
miliknya. Kemudian menyuapkan sesendok pasta ke dalam mulutnya. Dia harus bertindak
biasa saja. Seperti tidak ada apa-apa. Kemampuan adaptasi sangat diperlukan.
Ini adalah salah satu cara paling ampuh untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan
yang ia benci. Nhea tahu betul jika Oliver akan menginterupsinya nanti. Jadi,
secepat mungkin ia harus mengalihkan perhatiannya sebelum gadis itu berbicara
lebih banyak lagi.
__ADS_1