Mooneta High School

Mooneta High School
Day's out


__ADS_3

Meski Oliver sama sekali tidak mempermasalahkan hal


tersebut, tapi tetap saja ia merasa bersalah. Karena bagaimanapun juga, Oliver


bisa jadi seperti itu akibat ulahnya. Mereka berdua dibawa ke salah satu sudut


toko untuk menenangkan diri. Dia tidak bisa menyuguhkan apa pun kecuali teh


hangat.


Jika dilihat dari grak-geriknya yang cukup leluasa,


kelihatannya asumsi Nhea soal pria ini benar. Itu adlaah Paman Johnson si


pemilik toko. Dia terlalu tahu banyak soal tempat ini. Sehingga tidak mungkin


jika ia hanya seorang pelanggan biasa. Bahkan biar pun sudah sering berkunjung


kemari, tidak menjamin jika seorang pelanggan akan tahu seluk beluk ruangan


ini.


“Apa kalian sudah lama berada di sini sebelum aku datang?”


tanya pria itu sambil membereskan meja.


“Belum terlalu lama,” jawab Oliver dengan apa adanya.


“Tapi, omong-omong apakah anda pemilik toko ini?” tanya Nhea


secara tiba-tiba.


Sontak semua mata kini tertuju ke arahnya. Oliver juga ingin


menanyakan hal serupa tadi. Namun, mendadak ia mengurungkan niatnya begitu


saja. Tidak ada alasan yang jelas. Namun, kini ia tidak perlu merasa penasaran


lagi. Karena Nhea sudah mewakilkan perasaannya.


“Benar, aku pemiliknya!” jawab pria tersebut secara


antusias.


“Toko ini memang kosong tadi. Aku pergi sebentar ke toko


serba ada untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang mulai kosong. Ku kira


hari ini tidak akan ada pengunjung lagi sama seperti kemarin. Jadi, tidak


masalah jika aku membiarkannya begitu saja untuk sementara waktu. Tapi,


ternyata kalian berdua datang,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Kedua gadis yang tengah duduk di hadapannya tampak menyimak


setiap kalimat pria itu dengan seksama. Memastikan jika tidak ada satu pun yang


terlewat. Ternyata dugaan mereka selama ini benar. Pria yang tengah berbicara


dengan mereka saat ini adalah Paman Johnson. Biarpun banyak yang tahu soal keberadaan


Paman yang satu ini, tapi tetap saja Oliver tidak bisa mengenalinya. Mereka


belum pernah bertemu sebelumnya. ia hanya mendengar kabar burung begitu saja.


Seperti yang semua orang tahu jika tidak sembarang orang


bisa keluar dari gerbang akademi sihir Mooneta dengan bebas. Termasuk para


siswanya. Hal itu pula yang menyebabkan Oliver tidak memiliki kesempatan untuk


bertemu dengan Paman Johnson. Ini adalah pertemuan pertama mereka. Mungkin juga

__ADS_1


merangkap sebagai pertemuan terakhir. Sekali lagi, kita tidak bisa memastikan


apa pun yang akan terjadi di masa depan.


“Apakah kalian salah satu dari peserta kompetisi dalam


festival sihir nanti?”


Kini giliran Paman Johnson yang bertanya kepada mereka.


“Benar Paman!” balas Oliver.


“Sungguh? Dari akademi sihir mana kalian berasal?” tanya


pria itu lagi.


“Belakangan ini pusat kota, termasuk pasar berubah menjadi


ramai dalam semalam. Ada banyak orang yang datang dari luar tempat ini untuk


mengikuti festival tersebut,” jelasnya dengan panjang lebar.


Tidak bisa dipungkiri. Apa yang dikatakan oleh pria itu ada


benarnya juga. Kota ini mendadak menjadi penuh dan sesak akibat kedatangan


begitu banyak pengunjung dalam waktu yang bersamaan. Mereka semua tahu jika


kota ini tidak sebesar yang dibayangkan. Tapi, setidaknya masih cukup untuk


menampung semua orang. Masih ada sedikit ruang yang tersedia untuk mereka.


“Kami berasal dari akademi sihir Mooneta,” ucap Nhea secara


gamblang.


“Sungguh?” balasnya.


Kedua gadis itu mengangguk dengan antusias untuk mengiyakan


“Kita berasal dari akademi yang sama,” ujarnya.


Pria itu masih terkagum-kagum. Dia sama sekali tidak percaya


bisa bertemu dengan para juniornya dari akademi itu. Selama ini yang ia tahu,


mereka tidak boleh keluar dari akademi. Makanya terasa begitu mengejutkan saat


mendapati dua siswa Mooneta yang berkeliaran di pasar seperti ini. Apalagi


sampai masuk ke tokonya dan berhasil menemukan keberadaannya.


“Bagamana kalian bisa tahu?” tanya Paman Johnson.


“Siapa yang tidak tahu soal dirimu memangnya? Aku berani


bertaruh jika seluruh siswa Mooneta tahu banyak soal Paman,” jelas Oliver.


Lagi-lagi ia tidak langsung membalas perkataan dari


anak-anak itu. Otaknya masih menolak untuk percaya.


“Kau merupakan lulusan terbaik pada saat itu. Bukankah


seluruh penghuni akademi adalah keluarga? Jadi wajar saja jika kita semua


saling mengenal sekarang,” papar Nhea dengan panjang lebar.


“Tunggu dulu! Bagaimana kalian bisa keluar dari akademi


itu?” tanya Paman Johnson.


“Bisa habis kalian kalau sampai tertangkap!” lanjutnya.

__ADS_1


Nhea dan Oliver hanya tersenyum tipis ke arah pria itu.


Sulit untuk diartikan apa maksud dari raut wajah mereka.  Pria itu sontak kebingungan. Dia tidak bisa


mengerti apa pun, padahal otaknya sudah bekerja dengan semaksimal mungkin.


“Hari ini adalah hari kebebasan kami. Bibi Ga Eun memberikan


kelonggaran atas aturan tersebut bagi kami,” ungkap Nhea secara


terang-terangan.


“Khusus untuk hari ini saja!” tegasnya sekali lagi.


Kapan lagi mereka bisa merasakan hal langka seperti ini jika


tidak sekarang. Besok-besok mereka belum tentu akan mendapatkan hal yang sama. Oleh


sebab itu semua orang memutuskan untuk pergi ke luar dan berjalan-jalan. Karena


besok mereka akan bertanding dan setelahnya kebijakan semula akan kembali


diterapkan.


“Sungguh tidak masuk akal,” gumam Paman Johson.


Tidak peduli sekeras apa ia berusaha untuk meyakinkan


dirinya sendiri, tetap saja ia masih tak percaya. Jalan pikiran Bibi Ga Eun


sungguh tidak dapat diprediksi.


“Tapi, aku turut senang atas kebebasan kalian!” tukasnya.


Pria itu ikut seenang secara tidak langsung. Karena


bagaimanapun juga, mereka adalah generai paling beruntung. Selama sejarah


akademi sihir Mooneta berdiri sejak awal, tidak ada yang pernah merasakan


kebijakan tersebut. Paling tidak sekali dalam seumur hidupnya. Mereka baru akan


bisa bebas pergi dari akademi ini setelah lulus. Sama seperti apa yang


dilakukan oleh Paman Johnson saat itu.


“Sebenarnya kami berencana untuk membeli sepatu pantofel ke


sini,” ujar Oliver berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.


“Tunggu sebentar! Aku akan memilihkanmu beberapa sepatu yang


menjadi incaran banyak orang ketika datang kemari,” ucap Paman Johnson sebelum


akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya.


Mereka harus menemukan sepatu yng tepat dengan cepat.


Kemudian menyelesaikan semua urusannya. Setelah itu baru kembali ke akademi


lagi. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, mereka harus kembali lagi ke


akademi sebelum jam makan siang. Tidak boleh ada yang terlambat untuk


menghadiri acara jamuan makan. Dari awal semua orang sudah sepakat dengan


peraturan tersebut. Jika mereka melanggarnya, maka ia akan dianggap sebagai


pembangkang dan siap untuk menerima konsekuensinya.


Tidak ada waktu lagi untuk


berlama-lama di tempat ini. Mereka tidak ingin membuat masalah di hari yang

__ADS_1


bahagia.


__ADS_2