
Meski Oliver sama sekali tidak mempermasalahkan hal
tersebut, tapi tetap saja ia merasa bersalah. Karena bagaimanapun juga, Oliver
bisa jadi seperti itu akibat ulahnya. Mereka berdua dibawa ke salah satu sudut
toko untuk menenangkan diri. Dia tidak bisa menyuguhkan apa pun kecuali teh
hangat.
Jika dilihat dari grak-geriknya yang cukup leluasa,
kelihatannya asumsi Nhea soal pria ini benar. Itu adlaah Paman Johnson si
pemilik toko. Dia terlalu tahu banyak soal tempat ini. Sehingga tidak mungkin
jika ia hanya seorang pelanggan biasa. Bahkan biar pun sudah sering berkunjung
kemari, tidak menjamin jika seorang pelanggan akan tahu seluk beluk ruangan
ini.
“Apa kalian sudah lama berada di sini sebelum aku datang?”
tanya pria itu sambil membereskan meja.
“Belum terlalu lama,” jawab Oliver dengan apa adanya.
“Tapi, omong-omong apakah anda pemilik toko ini?” tanya Nhea
secara tiba-tiba.
Sontak semua mata kini tertuju ke arahnya. Oliver juga ingin
menanyakan hal serupa tadi. Namun, mendadak ia mengurungkan niatnya begitu
saja. Tidak ada alasan yang jelas. Namun, kini ia tidak perlu merasa penasaran
lagi. Karena Nhea sudah mewakilkan perasaannya.
“Benar, aku pemiliknya!” jawab pria tersebut secara
antusias.
“Toko ini memang kosong tadi. Aku pergi sebentar ke toko
serba ada untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang mulai kosong. Ku kira
hari ini tidak akan ada pengunjung lagi sama seperti kemarin. Jadi, tidak
masalah jika aku membiarkannya begitu saja untuk sementara waktu. Tapi,
ternyata kalian berdua datang,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Kedua gadis yang tengah duduk di hadapannya tampak menyimak
setiap kalimat pria itu dengan seksama. Memastikan jika tidak ada satu pun yang
terlewat. Ternyata dugaan mereka selama ini benar. Pria yang tengah berbicara
dengan mereka saat ini adalah Paman Johnson. Biarpun banyak yang tahu soal keberadaan
Paman yang satu ini, tapi tetap saja Oliver tidak bisa mengenalinya. Mereka
belum pernah bertemu sebelumnya. ia hanya mendengar kabar burung begitu saja.
Seperti yang semua orang tahu jika tidak sembarang orang
bisa keluar dari gerbang akademi sihir Mooneta dengan bebas. Termasuk para
siswanya. Hal itu pula yang menyebabkan Oliver tidak memiliki kesempatan untuk
bertemu dengan Paman Johnson. Ini adalah pertemuan pertama mereka. Mungkin juga
__ADS_1
merangkap sebagai pertemuan terakhir. Sekali lagi, kita tidak bisa memastikan
apa pun yang akan terjadi di masa depan.
“Apakah kalian salah satu dari peserta kompetisi dalam
festival sihir nanti?”
Kini giliran Paman Johnson yang bertanya kepada mereka.
“Benar Paman!” balas Oliver.
“Sungguh? Dari akademi sihir mana kalian berasal?” tanya
pria itu lagi.
“Belakangan ini pusat kota, termasuk pasar berubah menjadi
ramai dalam semalam. Ada banyak orang yang datang dari luar tempat ini untuk
mengikuti festival tersebut,” jelasnya dengan panjang lebar.
Tidak bisa dipungkiri. Apa yang dikatakan oleh pria itu ada
benarnya juga. Kota ini mendadak menjadi penuh dan sesak akibat kedatangan
begitu banyak pengunjung dalam waktu yang bersamaan. Mereka semua tahu jika
kota ini tidak sebesar yang dibayangkan. Tapi, setidaknya masih cukup untuk
menampung semua orang. Masih ada sedikit ruang yang tersedia untuk mereka.
“Kami berasal dari akademi sihir Mooneta,” ucap Nhea secara
gamblang.
“Sungguh?” balasnya.
Kedua gadis itu mengangguk dengan antusias untuk mengiyakan
“Kita berasal dari akademi yang sama,” ujarnya.
Pria itu masih terkagum-kagum. Dia sama sekali tidak percaya
bisa bertemu dengan para juniornya dari akademi itu. Selama ini yang ia tahu,
mereka tidak boleh keluar dari akademi. Makanya terasa begitu mengejutkan saat
mendapati dua siswa Mooneta yang berkeliaran di pasar seperti ini. Apalagi
sampai masuk ke tokonya dan berhasil menemukan keberadaannya.
“Bagamana kalian bisa tahu?” tanya Paman Johnson.
“Siapa yang tidak tahu soal dirimu memangnya? Aku berani
bertaruh jika seluruh siswa Mooneta tahu banyak soal Paman,” jelas Oliver.
Lagi-lagi ia tidak langsung membalas perkataan dari
anak-anak itu. Otaknya masih menolak untuk percaya.
“Kau merupakan lulusan terbaik pada saat itu. Bukankah
seluruh penghuni akademi adalah keluarga? Jadi wajar saja jika kita semua
saling mengenal sekarang,” papar Nhea dengan panjang lebar.
“Tunggu dulu! Bagaimana kalian bisa keluar dari akademi
itu?” tanya Paman Johnson.
“Bisa habis kalian kalau sampai tertangkap!” lanjutnya.
__ADS_1
Nhea dan Oliver hanya tersenyum tipis ke arah pria itu.
Sulit untuk diartikan apa maksud dari raut wajah mereka. Pria itu sontak kebingungan. Dia tidak bisa
mengerti apa pun, padahal otaknya sudah bekerja dengan semaksimal mungkin.
“Hari ini adalah hari kebebasan kami. Bibi Ga Eun memberikan
kelonggaran atas aturan tersebut bagi kami,” ungkap Nhea secara
terang-terangan.
“Khusus untuk hari ini saja!” tegasnya sekali lagi.
Kapan lagi mereka bisa merasakan hal langka seperti ini jika
tidak sekarang. Besok-besok mereka belum tentu akan mendapatkan hal yang sama. Oleh
sebab itu semua orang memutuskan untuk pergi ke luar dan berjalan-jalan. Karena
besok mereka akan bertanding dan setelahnya kebijakan semula akan kembali
diterapkan.
“Sungguh tidak masuk akal,” gumam Paman Johson.
Tidak peduli sekeras apa ia berusaha untuk meyakinkan
dirinya sendiri, tetap saja ia masih tak percaya. Jalan pikiran Bibi Ga Eun
sungguh tidak dapat diprediksi.
“Tapi, aku turut senang atas kebebasan kalian!” tukasnya.
Pria itu ikut seenang secara tidak langsung. Karena
bagaimanapun juga, mereka adalah generai paling beruntung. Selama sejarah
akademi sihir Mooneta berdiri sejak awal, tidak ada yang pernah merasakan
kebijakan tersebut. Paling tidak sekali dalam seumur hidupnya. Mereka baru akan
bisa bebas pergi dari akademi ini setelah lulus. Sama seperti apa yang
dilakukan oleh Paman Johnson saat itu.
“Sebenarnya kami berencana untuk membeli sepatu pantofel ke
sini,” ujar Oliver berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Tunggu sebentar! Aku akan memilihkanmu beberapa sepatu yang
menjadi incaran banyak orang ketika datang kemari,” ucap Paman Johnson sebelum
akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya.
Mereka harus menemukan sepatu yng tepat dengan cepat.
Kemudian menyelesaikan semua urusannya. Setelah itu baru kembali ke akademi
lagi. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, mereka harus kembali lagi ke
akademi sebelum jam makan siang. Tidak boleh ada yang terlambat untuk
menghadiri acara jamuan makan. Dari awal semua orang sudah sepakat dengan
peraturan tersebut. Jika mereka melanggarnya, maka ia akan dianggap sebagai
pembangkang dan siap untuk menerima konsekuensinya.
Tidak ada waktu lagi untuk
berlama-lama di tempat ini. Mereka tidak ingin membuat masalah di hari yang
__ADS_1
bahagia.