Mooneta High School

Mooneta High School
Arteri


__ADS_3

Ada banyak hal yang mereka bicarakan pada saat itu. Tidak


hanya sebatas soal kejadian kemarin saja. Hampir semua hal yang terlintas di


dalam pikiran mereka, akan segera disuarakan saat itu juga. Belakangan ini


hubungan Nhea dengan pria itu mulai membaik. Setidaknya, sekarang mereka telah


jauh lebih akrab daripada sebelumnya.


Nhea pada akhirnya bisa menemukan teman selain Oliver,


Jongdae dan juga Jang Eunbi. Dan yang terpenting, ia bisa mempercayainya


sekarang. Chanwo adalah satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh


kesahnya. Bahkan, Nhea bisa mendapatkan informasi soal anggota klan dari


dirinya secara cuma-cuma. Mungkin akan berbeda ceritanya jika dibandingkan


dengan Wilson. Pria itu tidak akan berlaku demikian.


Untuk sekarang, hanya Chanwo yang bisa ia percaya. Tidak


perlu alasan tersendiri untuk menentukan hal tersebut. Ia hanya sedang


mengikuti intuisinya saja. Dan bagi Nhea, pria itu adalah orang yang tepat. Dia


tidak akan bertindak ceroboh seperti Oliver dan yang lainnya. Dalam situasi


seperti ini, ada banyak orang yang tidak ia percayai. Bahkan kedua orang tuanya


sendiri. Sebuah pengecualian berlaku bagi Chanwo.


‘TAP! TAP! TAP!’


Berbeda dengan sebelumnya, kali ini suara langkah kaki Nhea


menggema di seluruh penjuru ruangan. Seperti biasanya, koridor memang sepi pada


jam segini. Baru akan ramai ketika matahari mulai tenggelam. Sejak saat itu,


mulai banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sini. Untuk sekarang memang


benar-benar sepi. Hanya ada Nhea seorang diri. Namun, suasananya tidak terlalu


mencekam. Ada banyak pasokan cahaya matahari yang menerobos masuk dari balik


jendela kaca. Sehingga, tidak jadi masalah jika ia harus berjalan sendirian


lagi.


“Apa Oliver sudah kembali?” gumamnya sambil tetap


melanjutkan perjalanan.


Benar juga. Ia belum melihat batang hidung gadis itu sejak


terakhir kali mereka bertemu tadi. Kelihatannya urusan yang harus


diselesaikannya kali ini terbilang cukup penting. Sehingga ia tidak bisa


menolak untuk menyelesaikannya dengan segera.


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Nhea segera


melanjutkan perjalananya kembali. Entah apa yang akan ia lakukan begitu sampai


di dalam kamar asrama nanti. Mungkin melamun lagi. Hanya itu satu-satunya hal

__ADS_1


yang bisa ia lakukan pada saat seperti ini. Ketika tidak ada siapa-siapa yang


mau bersamanya. Jika mereka terlalu sibuk, maka tidak bisa dipungkiri jika Nhea


juga akan menyibukkan dirinya sendiri.


“Tempat ini benar-benar sepi. Seperti tidak ada kehidupan


sama sekali,” ujarnya sambil menghela napas pelan.


Ia baru saja selesai meniti anak tangga terakhir yang


menghubungkan lantai pertama dengan lantai kedua.


Sama sekali tidak ada seorang pun yang ia jumpai sejak awal


perjalanannya. Terkhusus pada saat ia masuk ke dalam bangunan asrama.


Atmosfirnya mendadak berubah dratis. Suasananya memang tidak seramai di luar. Nyaris


kelihatan seperti bangunan takberpenghuni. Situasinya masih tetap sama sampai


ia tiba di dalam kamar. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Padahal, ia hanya


tinggal berdua dengan Oliver di kamar. Itu artinya, Oliver memang belum


kembali.


Nhea menjatuhkan bokongnya pada ujung tempat tidur. Tidak.


Dia tidak berencana untuk pergi tidur sama sekali. Masih terlalu pagi. Bukan


saat yang tepat untuk pergi tidur.


Gadis itu memperhatikan ujung-ujung jarinya dengan sisa luka


yang masih membekas di sana. Entah bisa hilang atau tidak. Tapi, sepertinya


lengan bajunga hingga sebatas siku. Memperhatikan sebuah tanda berupa bintik


kecoklatan yang timbul di pergelangan tangannya. Ia menyadarinya akhir-akhir


ini. Tanpa tahu benda apa itu dan apa penyebabnya. Letaknya persisi berada di


sekitar pembuluh darah vena yang terdapat di pergelangan tangannya.


Nhea terus mengamati bintik kecoklatan yang baru muncul itu.


Sambil bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Ada banyak pertanyaan yang muncul


seketika. Bersamaan dengan munculnyaberbagai asumsi yang tak berdasar.


Dengan perasaan was-was sekaligus ragu, ia mengulurkan


tangannya sendiri. Bintik coklat tersebut terdapat di pergelangan tangan


kirinya. Bisa dipastikan jika itu bukan bercak kecoklatan yang umumnya ada di


kulit manusia. Bintiknya terdapat di bagian dalam tubuh. Tepat di bawah


jaringan kulit yang menerawang hingga ke luar.


Nhea berinisiatif untuk meraba pembuluh darah vena miliknya.


Merasakan denyut jantung yang umumnya bisa dirasakan dari beberapa titik


lainnya. Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna, saat sesuatu yang


berada di luar akal sehat terjadi. Tidak ada yang menduga hal tersebut sama

__ADS_1


sekali. Termasuk dirinya sendiri. Ia terperanjat kaget untuk beberap saat.


Kepalanya mendadak berhenti bekerja. Ia tidak bisa mencerna


setiap informasi yang diterimanya. Membuat gadis ini kebingungan setengah mati.


“Tidak mungkin,” ucapnya dengan penuh penekanan.


Nhea mengerjap beberapa kali untuk menetralisir suasana


hatinya. Tidak bisa dipungkiri, jika ie memang benar-benar terkejut. Ini


bukanlah fakta yang ingin diketahuinya.


“Bagaimana bisa hal ini terjadi?” gumamnya.


Detak jantungnya melemah. Nyaris tak terdeteksi lagi.


Samar-samar ia merasakan denyut jantungnya. Kali ini tidak seperti dulu lagi. Jangan


bilang jika jantungnya mulai tidaak bekerja dengan baik lagi seperti


sebelumnya. Kemungkinan terbesarnya bisa jadi karena darah para anggota klan


jauh lebih mendominasi saat ini. Tubuhnya pasti telah mendeteksi secara tidak


langsung, jika ia bukan lagi manusia seutuhnya. Sehingga kinerja organ-organ


vitalnya mulai berkurang.


Jika ia berada di dunia modern, mungkin kondisinya saat ini


sudah benar-benar parah. Ia bahkan harus masuk ke dalam rumah sakit dan


mendapatkan perawatan intesif. Bagaimana bisa ia tetap bersikap tenang saat


mengetahui hal tersebut terjadi. Sungguh tidak masuk akal.


Tapi, karena saat ini Nhea berada di dimensi lain, maka


tidak ada yang peru dicemaskan. Semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak perlu


hidup sebagai layaknya kaum kegelapan. Terbelenggu dengan segala aturan yang mengikat


dan terkenal tidak bisa dilanggar sama sekali. Meski sejauh ini ada beberapa


orang yang nekat untuk melanggarnya dan mereka masih tetap baik-baik saja. Hal


tersebut sempat membuat Nhea berpikir jika kutukan kaum mereka tidak


benar-benar nyata. Semua itu hanya bualan semata.


Di sisi lain, tidak~~~~ bisa dipungkiri jika ia mulai cemas.


Bagaimana jika kutukan kaum kegelapan juga berlaku bagi dirinya. Terutama ketika


ia sudah menjadi bagian dari kaum kegelapan sepenuhnya. Tidak. Hal itu tidak


akan pernah terjadi selama ia masih memiliki darah manusia. Setidaknya satu


tetes saja. Hal itu akan sangat membantu untuk membuatnya tetap menjadi manusia


setengah klan.


Mengingat, di dalam dirinya saat


ini telah mengalir darah dari masing-masing klan kaum kegelapan. Ia memiliki


darah dari klan vampir dan juga klan bayangan. Tidak lupa sedikit darah

__ADS_1


manusia. Jika ingin tetap hidup sebagai seorang manusia, maka ia tidak boleh


sampai kehilangan darah itu.


__ADS_2