
Ada banyak hal yang mereka bicarakan pada saat itu. Tidak
hanya sebatas soal kejadian kemarin saja. Hampir semua hal yang terlintas di
dalam pikiran mereka, akan segera disuarakan saat itu juga. Belakangan ini
hubungan Nhea dengan pria itu mulai membaik. Setidaknya, sekarang mereka telah
jauh lebih akrab daripada sebelumnya.
Nhea pada akhirnya bisa menemukan teman selain Oliver,
Jongdae dan juga Jang Eunbi. Dan yang terpenting, ia bisa mempercayainya
sekarang. Chanwo adalah satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh
kesahnya. Bahkan, Nhea bisa mendapatkan informasi soal anggota klan dari
dirinya secara cuma-cuma. Mungkin akan berbeda ceritanya jika dibandingkan
dengan Wilson. Pria itu tidak akan berlaku demikian.
Untuk sekarang, hanya Chanwo yang bisa ia percaya. Tidak
perlu alasan tersendiri untuk menentukan hal tersebut. Ia hanya sedang
mengikuti intuisinya saja. Dan bagi Nhea, pria itu adalah orang yang tepat. Dia
tidak akan bertindak ceroboh seperti Oliver dan yang lainnya. Dalam situasi
seperti ini, ada banyak orang yang tidak ia percayai. Bahkan kedua orang tuanya
sendiri. Sebuah pengecualian berlaku bagi Chanwo.
‘TAP! TAP! TAP!’
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini suara langkah kaki Nhea
menggema di seluruh penjuru ruangan. Seperti biasanya, koridor memang sepi pada
jam segini. Baru akan ramai ketika matahari mulai tenggelam. Sejak saat itu,
mulai banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sini. Untuk sekarang memang
benar-benar sepi. Hanya ada Nhea seorang diri. Namun, suasananya tidak terlalu
mencekam. Ada banyak pasokan cahaya matahari yang menerobos masuk dari balik
jendela kaca. Sehingga, tidak jadi masalah jika ia harus berjalan sendirian
lagi.
“Apa Oliver sudah kembali?” gumamnya sambil tetap
melanjutkan perjalanan.
Benar juga. Ia belum melihat batang hidung gadis itu sejak
terakhir kali mereka bertemu tadi. Kelihatannya urusan yang harus
diselesaikannya kali ini terbilang cukup penting. Sehingga ia tidak bisa
menolak untuk menyelesaikannya dengan segera.
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Nhea segera
melanjutkan perjalananya kembali. Entah apa yang akan ia lakukan begitu sampai
di dalam kamar asrama nanti. Mungkin melamun lagi. Hanya itu satu-satunya hal
__ADS_1
yang bisa ia lakukan pada saat seperti ini. Ketika tidak ada siapa-siapa yang
mau bersamanya. Jika mereka terlalu sibuk, maka tidak bisa dipungkiri jika Nhea
juga akan menyibukkan dirinya sendiri.
“Tempat ini benar-benar sepi. Seperti tidak ada kehidupan
sama sekali,” ujarnya sambil menghela napas pelan.
Ia baru saja selesai meniti anak tangga terakhir yang
menghubungkan lantai pertama dengan lantai kedua.
Sama sekali tidak ada seorang pun yang ia jumpai sejak awal
perjalanannya. Terkhusus pada saat ia masuk ke dalam bangunan asrama.
Atmosfirnya mendadak berubah dratis. Suasananya memang tidak seramai di luar. Nyaris
kelihatan seperti bangunan takberpenghuni. Situasinya masih tetap sama sampai
ia tiba di dalam kamar. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Padahal, ia hanya
tinggal berdua dengan Oliver di kamar. Itu artinya, Oliver memang belum
kembali.
Nhea menjatuhkan bokongnya pada ujung tempat tidur. Tidak.
Dia tidak berencana untuk pergi tidur sama sekali. Masih terlalu pagi. Bukan
saat yang tepat untuk pergi tidur.
Gadis itu memperhatikan ujung-ujung jarinya dengan sisa luka
yang masih membekas di sana. Entah bisa hilang atau tidak. Tapi, sepertinya
lengan bajunga hingga sebatas siku. Memperhatikan sebuah tanda berupa bintik
kecoklatan yang timbul di pergelangan tangannya. Ia menyadarinya akhir-akhir
ini. Tanpa tahu benda apa itu dan apa penyebabnya. Letaknya persisi berada di
sekitar pembuluh darah vena yang terdapat di pergelangan tangannya.
Nhea terus mengamati bintik kecoklatan yang baru muncul itu.
Sambil bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Ada banyak pertanyaan yang muncul
seketika. Bersamaan dengan munculnyaberbagai asumsi yang tak berdasar.
Dengan perasaan was-was sekaligus ragu, ia mengulurkan
tangannya sendiri. Bintik coklat tersebut terdapat di pergelangan tangan
kirinya. Bisa dipastikan jika itu bukan bercak kecoklatan yang umumnya ada di
kulit manusia. Bintiknya terdapat di bagian dalam tubuh. Tepat di bawah
jaringan kulit yang menerawang hingga ke luar.
Nhea berinisiatif untuk meraba pembuluh darah vena miliknya.
Merasakan denyut jantung yang umumnya bisa dirasakan dari beberapa titik
lainnya. Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna, saat sesuatu yang
berada di luar akal sehat terjadi. Tidak ada yang menduga hal tersebut sama
__ADS_1
sekali. Termasuk dirinya sendiri. Ia terperanjat kaget untuk beberap saat.
Kepalanya mendadak berhenti bekerja. Ia tidak bisa mencerna
setiap informasi yang diterimanya. Membuat gadis ini kebingungan setengah mati.
“Tidak mungkin,” ucapnya dengan penuh penekanan.
Nhea mengerjap beberapa kali untuk menetralisir suasana
hatinya. Tidak bisa dipungkiri, jika ie memang benar-benar terkejut. Ini
bukanlah fakta yang ingin diketahuinya.
“Bagaimana bisa hal ini terjadi?” gumamnya.
Detak jantungnya melemah. Nyaris tak terdeteksi lagi.
Samar-samar ia merasakan denyut jantungnya. Kali ini tidak seperti dulu lagi. Jangan
bilang jika jantungnya mulai tidaak bekerja dengan baik lagi seperti
sebelumnya. Kemungkinan terbesarnya bisa jadi karena darah para anggota klan
jauh lebih mendominasi saat ini. Tubuhnya pasti telah mendeteksi secara tidak
langsung, jika ia bukan lagi manusia seutuhnya. Sehingga kinerja organ-organ
vitalnya mulai berkurang.
Jika ia berada di dunia modern, mungkin kondisinya saat ini
sudah benar-benar parah. Ia bahkan harus masuk ke dalam rumah sakit dan
mendapatkan perawatan intesif. Bagaimana bisa ia tetap bersikap tenang saat
mengetahui hal tersebut terjadi. Sungguh tidak masuk akal.
Tapi, karena saat ini Nhea berada di dimensi lain, maka
tidak ada yang peru dicemaskan. Semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak perlu
hidup sebagai layaknya kaum kegelapan. Terbelenggu dengan segala aturan yang mengikat
dan terkenal tidak bisa dilanggar sama sekali. Meski sejauh ini ada beberapa
orang yang nekat untuk melanggarnya dan mereka masih tetap baik-baik saja. Hal
tersebut sempat membuat Nhea berpikir jika kutukan kaum mereka tidak
benar-benar nyata. Semua itu hanya bualan semata.
Di sisi lain, tidak~~~~ bisa dipungkiri jika ia mulai cemas.
Bagaimana jika kutukan kaum kegelapan juga berlaku bagi dirinya. Terutama ketika
ia sudah menjadi bagian dari kaum kegelapan sepenuhnya. Tidak. Hal itu tidak
akan pernah terjadi selama ia masih memiliki darah manusia. Setidaknya satu
tetes saja. Hal itu akan sangat membantu untuk membuatnya tetap menjadi manusia
setengah klan.
Mengingat, di dalam dirinya saat
ini telah mengalir darah dari masing-masing klan kaum kegelapan. Ia memiliki
darah dari klan vampir dan juga klan bayangan. Tidak lupa sedikit darah
__ADS_1
manusia. Jika ingin tetap hidup sebagai seorang manusia, maka ia tidak boleh
sampai kehilangan darah itu.