
Eun Ji Hae akan memimpin interogasi kali ini. Gadis itu
menyoroti mereka secara satu-persatu dengan lekat. Ia hanya ingin memastikan
jika mereka tidak akan berbohong sedikit pun pada saat diinterogasi nanti.
Pasalnya, kejujuran mereka akan sangat dibutuhkan di sini. Setiap kata yang
meluncur keluar dari mulut mereka harus dapat dipertanggung jawabkan.
“Mari kita mulai!” celetuknya, sembari menyudahi kegiatannya
barusan.
Kini situasi menjadi lebih serius. Bersamaan dengan
pandangan Eun Ji Hae yang semakin menajam. Ia terlihat menelisik wajah mereka
satu-persatu. Membaca maksud dari setiap inchi ekspresi yang mereka keluarkan.
“Kita akan mulai dari orang yang pertama kali datang ke
tempat kejadian dan menemukan jasad Shin Nara tergeletak begitu saja di
koridor,” papar Eun Ji Hae.
“Yaitu kalian berdua!” tegasnya sekali lagi.
Eun Ji Hae mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh
penenkanan. Sehingga mereka yang berada di sekitarnya bisa merasakan akibat
dari penekanan kalimat tersebut.
“Kapan kalian sampai ke sana dan kenapa kalian harus
melewati koridor yang satu itu?” tanya Eun Ji Hae.
Gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah mereke berdua. Entah
apa alasannya. Mungkin hanya agar bisa mendengar penjelasan keduanya dengan
lebih jelas lagi. Tapi pada kenyataannya, hal tersebut justru malah membuat
kedua gadis itu menjadid semakin gugup.
“Oh, tunggu!” cegahnya.
Eun Ji Hae baru mengingat sesuatu di sini dan itu baru saja
terlintas di otaknya. Padahal ia telah menunggu begitu lama untuk hal ini.
“Pertama-tama, aku mau kalian menyebutkan nama terlebih
dahulu,” ujarnya.
“Aku Lee Hyun Min,” ujar seorang gadis yang duduk pada posisi paling kanan.
“Dan kau?” tanya Eun Ji Hae kepada yang satunya lagi.
“Bae Seul Jung,” jawabnya secara singkat, padat dan jelas.
Eun Ji Hae mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham
dengan apa yang sedang mereka bahas saat ini.
“Sekarang, mari kembali ke pembahasan awal,” ucapnya.
“Silahkan!” tukasnya.
Eun Ji Hae mempersiahkan keduanya untuk mengutarakan isi
pikiran mereka dengan jawaban yang sebenar-benarnya di sini. Tidak ada yang
ditambah-tambahi, mau pun dikurang-kurangi. Semuanya harus sama persis seperti
apa yang terjadi di lapangan. Mereka tidak akan diperkenanku untuk merubah
fakta sedikit saja. Hal itu dilarang keras dalam diskusi kali ini. Semuanya
harus bersikap adil dan transparan.
“Kami mendapatkan tugas untuk membersihkan ruangan kelas.
Jadi tadi begitu selesai, kami berencana untuk langsung kembali ke asrama. Tapi
kami malah menemukan seorang mayat yang tengah tergeletak berlumuran darah di
koridor menuju asrama,” jelas Bae Seul Jung dengan panjang lebar.
Menurut pemaparan dari gadis itu, semuanya terasa masuk
akal. Penjelasan yang ia berikan tadi sudah berhasil mencakup kedua poin yang
diinginkan oleh Eun Ji Hae. Yaitu bagaimana pertama kali mereka menemukan
jasadnya dan juga kenapa mereka harus melewati koridor yang satu itu.
Sejauh ini belum ada yang mencurigakan sama sekali.
Sepertinya Bae Seul Jung mengatakan semuanya dengan jujur tidak ada yang sedang
ia tutup-tutupi. Tapi, hal tersebut tidak menutup kemungkinan baginya untuk berbohong
atau mengubah fakta.
Jika sampai Eun Ji Hae mendapati ada salah satu dari mereka
yang berani berbuat semacam itu, maka ia tidak akan tinggal diam saja. Mereka
tidak bisa melarikan diri, apa lagi selamat dari tangan Eun Ji Hae. Dia adalah
gadis yang paling tidak kenal belas kasihan jika sudah bertindak. Mungkin Eun
Ji Hae termasuk kepada salah satu gadis yang sama sekali tidak menggunakan
perasaannya. Ia berbeda dengan gadis-gadis yang lainnya.
Setelah mendengarkan penjelasan dari gadis itu tadi, Eun Ji
Hae mengangguk-anggukkan kepalanya. Bukan karena ia setuju. Melainkan karena
Eun Ji Hae tengah berusaha untuk memahami setiap perkataan Bae Seul Jung tadi. Ia
masih perlu memproses semuanya di dalam kepalanya, sebelum memutuskan apakah
hal itu masuk akal atau tidak. Dia tidak bisa menentukan benar atau salahnya
sama sekali.
Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk saat ini adalah
dengan mempertimbangkan segala hal yang terjadi. Kemudian membuat kesimpulan
akhirnya.
“Apakah hal itu benar?” tanya Eun Ji Hae kepada rekannya
yang satu lagi.
“Benar!” jawab Lee Hyun Min dengan yakin. Tak lupa ia juga
mengangguk-anggukkan kepalanya agar terlihat semakin meyakinkan di mata Eun Ji
Hae. Ia telah mengakui jika apa yang diucapkan oleh Bae Seul Jung tadi itu benar
dan sama sekali tidak ada rekayasa.
“Lalu, apa yang kalian berdua lakukan begitu mendapati jika
ada mayat seorang wanita di dalam koridor sekolah?” tanya Eun Ji Hae lagi.
Kali ini pertanyaannya jauh lebih kompleks. Bukan lagi
tentang pengakuan Bae Seul Jung atau pun Lee Hyun Min. Melainkan tentang setiap
detail kejadian dan aksi yang terjadi di sana pada saat itu. Mereka berdua akan
mulai menjelaskan bagian-bagian tersebut secara lebih terperinci dalam sesi
kali ini. Eun Ji Hae akan menuntung keduanya untuk menyampaikan kebenaran. Hal
ini dilakukan demi tercapainya sebuah jalan keluar.
Setidaknya mereka harus membreskan satu masalah terlebih
dahulu sebelum menyelesaikan masalah yang lainnya.
Kali ini giliran Lee Hyun Min yang menjelaskan. Tenang saja,
tidak perlu khawatir. Mereka semua akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk
berbicara dan menyampaikan kebenarannya. Eun Ji Hae telah mengatur semuanya
dengan sedemikian rupa di dalam kepalanya sendiri. Bahkan sebelum mereka sempat
menginjakkan kaki di ruangan ini tadi. Ia telah memiliki pemikiran yang jelas
dan terstruktur.
“Kami sempat berteriak. Namun tidak ada seorang pun yang
__ADS_1
bisa mendengarkan kami, karena memang posisinya yang jauh dari mana-mana. Kami
berada di pertengahan koridor waktu itu. Sampai pada akhirnya ada seorang siswa
yang datang. Kemudian ia memanggil para siswa lainnya untuk bergabung,” papar
Lee Hyun Min dengan panjang lebar.
Pengakuannya kali ini kembali diterima oleh Eun Ji Hae.
Gadis itu sama sekali tidak mencurigai apa pun di sini.
“Jadi, itu sebabnya kenapa kalian berkerumun di tempat itu
tadi?” tanya Eun Ji Hae sekali lagi untuk memastikan.
Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat untuk
mengiyakan perkataaan Eun Ji Hae barusan.
“Lalu, apakah kau juga datang ke sana karena mendengar
keributan?” tanya Eun Ji Hae kepada teman dekat korban.
Respon yang ia berikan pun tidak jauh berbeda dengan kedua
gadis lainnya. Ia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Siapa namamu?” tanya Eun Ji Hae lagi.
Ia hampir lupa untuk menanyakan soa hal tersebut tadi. Padahal
itu adalah hal yang peling penting di sini.
“Viera,” katanya.
“Baiklah,” balas Eun Ji Hae.
Gadis itu kemudian segera menuliskan nama mereka semua di
atas kertas yang dibawa bersamanya tadi. Tentu saja agar Eun Ji Hae tidak mudah
melupakan nama ketiganya dengan begitu saja.
Pasalnya, mereka bertga kini termasuk kepad asalah satu
orang penting dalam kasus ini. Hanya dengan bantuan dan kerja sama mereka,
kasus ini bisa selesai dengan segera. Selama mereka masih bersikap kooperatif,
maka seharusnya tidak aka nada masalah yang ada.
“Kapan kalian sampai ke sana?” tanya Eun Ji Hae untuk yang kesekian
kalinya.
Kali ini tugas gadis itu hanya akan bertanya dan bertanya. Hanya
itu. Dia tidak berhak untuk melakukan yang lainnya.
“Kami tidak tahu pasti waktunya kapan. Yang jelas, tidak
lama kemudian para peserta rapat ikut berdatangan,” ungkapnya.
Dari sana Eun Ji Hae dapat menyimpulkan jika mereka berdua
datang tidak lama sebelum rapat selesai dan dibubarkan. Tapi yang menjadi
masalahnya adalah, mereka sama sekali tidak tahu kapan kejadiannya. Meski pun
Bae Seul Jung dan Lee Hun Min adalah orang pertama yang sampai ke tempat
kejadian. Tapi mereka tidak tahu apa-apa. Begitu datang sudah disuguhkan dengan
pemandangan yang memancing rasa mual.
“Baiklah,” ucap Eun Ji Hae dengan nada yang terdengar
sedikit menggantung.
Gadis itu memijit pelipisnya dengan lembut. Berusaha untuk
menenangkan sarafnya yang mulai menegang. Kepalanya rasanya akan pecah saat ini
juga. Masalah terus datang tanpa henti. Hampir tidak ada jeda antara yang ssatu
dengan yang lainnya. Hal tersebut sukses membuat mereka semua menjadi kewalahan.
Termasuk Eun Ji Hae. Gadis itu yang paling merasakan akibat dari semua
permasalahan itu untuk saat ini.
“Apakah kalian menemukan orang lain saat sampai di sana?
Eun Ji Hae.
“Hanya kami berdua yang ada di sana,” jawab Bae Seul Jung.
“Seperti biasanya, lorong itu selalu dalam keadaan sepi
setiap kali ada yang melintas,” timpal Lee Hyun Min.
Ini sudah pertanyaan yang ke sekian dari Eun Ji Hae. Tujuannya
masih tetap sama. Yaitu untuk mengungkap siapa pelaku yang sebenarnya. Dan apa
motif yang ia miliki untuk melakukan penyerangan secar mendadak ini.
Tidak bisa dipungkiri jika kejadian pagi ini telah menjadi
sebuah berita yang cukup hangat di seluruh sekolah. Semua orang terus
membahasnya. Bertanya-tanya siapa pelakunya. Apakah ada pembunuh yang diam-diam
menyelinap masuk ke dalam sekolah yang akan mereka tinggalkan sebentar lagi.
“Viera!” sahut Eun Ji Hae.
Nada bicaranya mulai lebih tenang sekarang. Lebih tepatnya
Eun Ji Hae mulai kehilangan tenaga. Dia sudah tidak bersemangat lagi untuk
melakukan semua ini. Tapi tetap saja ia harus melakukannya. Karena bagaimana
pun juga, tanggung jawab besar ini telah
dipercayakan kepada gadis itu. Jadi, mau tak mau, siap tidak siap, Eun Ji Hae
tetap harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Aku akan menanyaimu sekarang,” ujarnya dengan datar.
Gadis yang dimaksud hanya bisa mengangguk-anggukkan
kepalanya saat ini.
Sejauh ini, menurutnya penjelasan dari Bae Seul Jung dan juga
Lee Hyun Min sudah cukup. Setidaknya ia sudah bisa menarik satu kesimpulan dari
sana. Mungkin jika perlu, Eun Ji Hae akan menanyai mereka lagi. Tapi, untuk
saat ini cukup sampai di sini dulu. Sekarang sudah waktunya bagi Viera untuk
memberikan keterangan dan membantu proses penyelidikan yang akan dilaksanakan
oleh Eun Ji Hae sendiri.
Mereka harus mengusut kasusnya sampai tuntas. Tidak boleh
terbengkalai dan malah menjadi sebuah misteri baru. Sudah cukup semua omong
kosong itu menghantui para penghuni sekolah. Sekarang mereka harus mulai
melakukan pembuktian satu-persatu.
Sebenarnya ada satu hal yang membuat Eun Ji Hae begitu
terobsesi untuk memecahkan kasus ini. Sebab, selama ini sekolah mereka selalu
aman dan damai. Tidak pernah ada terjadi kasus serupa sebelumnya. Ini adalah
pertama kalinya bagi sejarah Sekolah Mooneta. Pembunuhan misterius yang baru
saja terjadi akan cukup mengancam jika pelakunya masih berkeliaran di sekitar
sini. Tidak menutup kemungkinan bgi korban-korban baru untuk terus berjatuhan. Selama
pelakunya masih belum ditemukan, maka selama itu pula ancamannya akan terus
terasa nyata.
Mereka harus bergerak cepat dan tepat jika ingin selamat. Hanya
itu kuncinya untuk tetap bertahan hidup. Tidak ada pilihan atau cara lain yang
tersedia. Mau tidak mau, mereka harus tetap melakukannya.
Eun Ji Hae menghela napasnya dengan kasar. Sebagai car alain
untuk melampiaskan kekesalannya tanpa harus melibatkan orang lain di dalamnya. Akan
__ADS_1
jauh lebih baik jika begini. Tidak ada yang akan merasa terdiskriminasi.
“Viera, sejak kapan kalian saling berteman dekat?” tanya Eun
Ji Hae tanpa basa-basi sama sekali.
“Kami sudah berteman sejak pertama kali masuk ke sekolah
ini,” ungkapnya.
Dia sudah tidak ingin bertahan lebih lama lagi di ruangan
ini. Eun Ji Hae hampir kehabisan napas rasanya. Ia mulai muak. Jika bisa, ia
akan mempercepat proses interogasi kali ini tanpa harus menghilangkan poin-poin
pentingnya.
“Apakah kalian pernah memiliki masalah pribadi antara satu
dengan yang lainnya sebelumnya?” tanya gadis itu.
“Tidak perlu mengatakan apa masalahnya. Cukup jawab sesuai
dengan arahanku saja!” lanjutnya.
“Kami pernah berselisih paham. Tapi itu sudah lama sekali,”
jawab Viera dengan santai. Ia terlihat mengatakan semua itu dengan apa adanya. Tidak
ada paksaan sama sekali.
“Kapan terakhir kali kalian berbicara?”
“Pada waktu acara jamuan pagi tadi.”
“Sebagai teman dekatnya, tentunya kau pasti tahu sedikit
lebih banyak soal Shin Nara dari pada orang lain. Aku yakin jika dia pasti
pernah menceritakan hal penting yang sifatnya rahasia kepadamu. Benar bukan?”
“Iya, benar!”
“Semua sahabat pasti pernah melakukan hal tersebut. Setidaknya
sekali dalam seumur hidupnya, jika mereka telah mencapai fase paling percaya.”
“Kakak Ji benar.”
“Tapi bukan itu pertanyaan yang akan ku ajukan kepadamu kali
ini.”
“Lalu apa?”
Eun Ji Hae kembali menghela napasnya dengan kasar untuk yang
kesekian kalinya. Sepertinya energi yang berada di ruangan ini sudah tidak baik
lagi baginya. Keberadaannya sudah mulai tersudutkan di tempat ini. Atmosfirnya
mendadak menjadi berubah tidak baik.
Mungkinkah ada roh jahat yang sedang ikut menguping
pembicaraan mereka saat ini. Tapi siapa. Bisa jadi jika ini adalah jiwa dari
Shin Nara yang masih bergentayangan di tempat ini usai kejadian barusan. Sedikit
banyaknya, ia pasti masih merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi
dan menimpa dirinya. Gadis itu pasti masih tidak percaya jika saat ini dirinya
telah tiada. Mungkin jiwanya tidak akan pernah tenang sampai menemukan jawaban.
Eun Ji Hae menggenggam sebuah pena kuno yang berada di
tangan kanannya. Energi di tempat ini semakin berubah menjadi negatif. Sepertinya
bukan hanya gadis itu saja yang bisa merasakan hal tersebut. Tapi semua orang
yang berada di dalam ruangan ini juga akan merasakan efek atau reaksi yang
sama. Namun energinya tidak akan sebesar yang diterima oleh Eun Ji Hae saat
ini.
“Apakah kalian merasakan tekanan di sini?” tanya Eun Ji Hae
sambil terus berusaha untuk menguatkan dirinya.
Energi yang baru saja datang ini terlalu kuat. Bahkan sudah
nyaris mendominasi tempat ini sekarang.
“Iya Kakak Ji. Kami merasa pusing saat ini,” ungkap Bae Seul
Jung.
Berdasarkan pengakuan gadis itu barusan, sudah jelas jika
energi itu jauh lebih besar dari pada energi mereka berempat. Eun Ji Hae dengan
cepat merogoh laci meja kerja Bibi Ga Eun untuk mencari sesuatu. Ternyata ia
akan membakar dupa untuk membersihkan energi negative yang berada di tempat
ini. Mereka harus segera menyingkirkannya. Jika terlalu lama seperti ini, maka
akan berdampak pada kekuatan mental mereka sendiri.
Sangking kuat dan besarnya energi itu, mereka sampai tidak
bisa mengatasinya lagi. Bahkan emnergi empat orang yang menguasai sihir saja
bisa kalah. Mereka berempat tengah dalam posisi yang terdesak di dalam ruangan
ini sekarang. Pantas daja dari tadi Eun Ji Hae merasakan sesuatu yang tidak
beres di sini. ternyata ada energi negarif yang datang. Tidak ada yang tahu
dari mana asalnya dan energi apa ini. Semuanya masih terasa samar, tapi efeknya
tampak secara nyata. Begitulah cara kerja energi yang barusan.
Eun Ji Hae mengitari ruangan kecil tersebut dengan membawa
tiga batang dupa yang dibakar besamanya. Dia sedang melakukan pembersihan
ruangan dari hal-hal yang berbau negatif itu. Asap dari sisa pembakaran dupa
ini akan menguap ke seluruh ruangan dan menyerap setiap energi yang tidak baik.
Setelah itu, baru angin akan membawanya berhembus keluar. Kurang lebih
begitulah cara kerjanya.
Setelah melakukan hal tersebut selama kira-kira dua menit,
Eun Ji Hae menancapkan sisa dupa yang masih utuh pada salah satu tempat yang
sudah disediakan. Sehingga benda tersebut tetap bisa memproduksi asap. Eun Ji
Hae kembali ke tempat duduknya semula setelah mengitari tempat ini selama lebih
dari dua belas kali. Sekarang semuanya sudah jauh lebih baik. Mereka setidaknya
bisa bernapas dengan lega sekarang. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Semuanya
akan tetap baik-baik saja setelah ini.
“Dari mana asalnya energi itu?” tanya Eun Ji Hae.
Ketiga orang gadis yang duduk di depannya saat ini hanya
bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka sendiri juga tidak tahu dari mana
asalnya. Yang jelas, tiba-tiba saja energi sebesar itu datang ke ruangan ini
dan mengacaukan segalanya.
Hal tersebut juga bahkan ikut menguras energi yang mereka
miliki secara tidak langsung. Sekarang keempat orang tersebut tampak dalam kondisi
yang tidak baik-baik saja. Mereka menyadari betuk hal itu.
Selama dupanya masih menyala, seharusnya energi asing itu
tidak akan bisa menyerang mereka lagi. lagi pula, kurang dari dua puluh menit
lagi mereka akan segera meninggalkan tempat ini. Hawanya mulai terasa sangat
tidak bersahabat. Bahkan kondisinya sendiri sudah terlalu tidak kondusif. Jika tidak
bisa diselesaikan dalamhari yang sama, mungkin Eun Ji Hae akan kembali
melanjutkan hal tersebut esok hari. Setidaknya masih ada kesempatan, meski
tidak banyak. Tidak ada cara lain lagi pasalnya. Mereka tidak bisa mengambil
__ADS_1
resiko yang terlalu berbahaya.