Mooneta High School

Mooneta High School
Interogasi


__ADS_3

Eun Ji Hae akan memimpin interogasi kali ini. Gadis itu


menyoroti mereka secara satu-persatu dengan lekat. Ia hanya ingin memastikan


jika mereka tidak akan berbohong sedikit pun pada saat diinterogasi nanti.


Pasalnya, kejujuran mereka akan sangat dibutuhkan di sini. Setiap kata yang


meluncur keluar dari mulut mereka harus dapat dipertanggung jawabkan.


“Mari kita mulai!” celetuknya, sembari menyudahi kegiatannya


barusan.


Kini situasi menjadi lebih serius. Bersamaan dengan


pandangan Eun Ji Hae yang semakin menajam. Ia terlihat menelisik wajah mereka


satu-persatu. Membaca maksud dari setiap inchi ekspresi yang mereka keluarkan.


“Kita akan mulai dari orang yang pertama kali datang ke


tempat kejadian dan menemukan jasad Shin Nara tergeletak begitu saja di


koridor,” papar Eun Ji Hae.


“Yaitu kalian berdua!” tegasnya sekali lagi.


Eun Ji Hae mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh


penenkanan. Sehingga mereka yang berada di sekitarnya bisa merasakan akibat


dari penekanan kalimat tersebut.


“Kapan kalian sampai ke sana dan kenapa kalian harus


melewati koridor yang satu itu?” tanya Eun Ji Hae.


Gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah mereke berdua. Entah


apa alasannya. Mungkin hanya agar bisa mendengar penjelasan keduanya dengan


lebih jelas lagi. Tapi pada kenyataannya, hal tersebut justru malah membuat


kedua gadis itu menjadid semakin gugup.


“Oh, tunggu!” cegahnya.


Eun Ji Hae baru mengingat sesuatu di sini dan itu baru saja


terlintas di otaknya. Padahal ia telah menunggu begitu lama untuk hal ini.


“Pertama-tama, aku mau kalian menyebutkan nama terlebih


dahulu,” ujarnya.


“Aku Lee Hyun Min,”  ujar seorang gadis yang duduk pada posisi paling kanan.


“Dan kau?” tanya Eun Ji Hae kepada yang satunya lagi.


“Bae Seul Jung,” jawabnya secara singkat, padat dan jelas.


Eun Ji Hae mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham


dengan apa yang sedang mereka bahas saat ini.


“Sekarang, mari kembali ke pembahasan awal,” ucapnya.


“Silahkan!” tukasnya.


Eun Ji Hae mempersiahkan keduanya untuk mengutarakan isi


pikiran mereka dengan jawaban yang sebenar-benarnya di sini. Tidak ada yang


ditambah-tambahi, mau pun dikurang-kurangi. Semuanya harus sama persis seperti


apa yang terjadi di lapangan. Mereka tidak akan diperkenanku untuk merubah


fakta sedikit saja. Hal itu dilarang keras dalam diskusi kali ini. Semuanya


harus bersikap adil dan transparan.


“Kami mendapatkan tugas untuk membersihkan ruangan kelas.


Jadi tadi begitu selesai, kami berencana untuk langsung kembali ke asrama. Tapi


kami malah menemukan seorang mayat yang tengah tergeletak berlumuran darah di


koridor menuju asrama,” jelas Bae Seul Jung dengan panjang lebar.


Menurut pemaparan dari gadis itu, semuanya terasa masuk


akal. Penjelasan yang ia berikan tadi sudah berhasil mencakup kedua poin yang


diinginkan oleh Eun Ji Hae. Yaitu bagaimana pertama kali mereka menemukan


jasadnya dan juga kenapa mereka harus melewati koridor yang satu itu.


Sejauh ini belum ada yang mencurigakan sama sekali.


Sepertinya Bae Seul Jung mengatakan semuanya dengan jujur tidak ada yang sedang


ia tutup-tutupi. Tapi, hal tersebut tidak menutup kemungkinan baginya untuk berbohong


atau mengubah fakta.


Jika sampai Eun Ji Hae mendapati ada salah satu dari mereka


yang berani berbuat semacam itu, maka ia tidak akan tinggal diam saja. Mereka


tidak bisa melarikan diri, apa lagi selamat dari tangan Eun Ji Hae. Dia adalah


gadis yang paling tidak kenal belas kasihan jika sudah bertindak. Mungkin Eun


Ji Hae termasuk kepada salah satu gadis yang sama sekali tidak menggunakan


perasaannya. Ia berbeda dengan gadis-gadis yang lainnya.


Setelah mendengarkan penjelasan dari gadis itu tadi, Eun Ji


Hae mengangguk-anggukkan kepalanya. Bukan karena ia setuju. Melainkan karena


Eun Ji Hae tengah berusaha untuk memahami setiap perkataan Bae Seul Jung tadi. Ia


masih perlu memproses semuanya di dalam kepalanya, sebelum memutuskan apakah


hal itu masuk akal atau tidak. Dia tidak bisa menentukan benar atau salahnya


sama sekali.


Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk saat ini adalah


dengan mempertimbangkan segala hal yang terjadi. Kemudian membuat kesimpulan


akhirnya.


“Apakah hal itu benar?” tanya Eun Ji Hae kepada rekannya


yang satu lagi.


“Benar!” jawab Lee Hyun Min dengan yakin. Tak lupa ia juga


mengangguk-anggukkan kepalanya agar terlihat semakin meyakinkan di mata Eun Ji


Hae. Ia telah mengakui jika apa yang diucapkan oleh Bae Seul Jung tadi itu benar


dan sama sekali tidak ada rekayasa.


“Lalu, apa yang kalian berdua lakukan begitu mendapati jika


ada mayat seorang wanita di dalam koridor sekolah?” tanya Eun Ji Hae lagi.


Kali ini pertanyaannya jauh lebih kompleks. Bukan lagi


tentang pengakuan Bae Seul Jung atau pun Lee Hyun Min. Melainkan tentang setiap


detail kejadian dan aksi yang terjadi di sana pada saat itu. Mereka berdua akan


mulai menjelaskan bagian-bagian tersebut secara lebih terperinci dalam sesi


kali ini. Eun Ji Hae akan menuntung keduanya untuk menyampaikan kebenaran. Hal


ini dilakukan demi tercapainya sebuah jalan keluar.


Setidaknya mereka harus membreskan satu masalah terlebih


dahulu sebelum menyelesaikan masalah yang lainnya.


Kali ini giliran Lee Hyun Min yang menjelaskan. Tenang saja,


tidak perlu khawatir. Mereka semua akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk


berbicara dan menyampaikan kebenarannya. Eun Ji Hae telah mengatur semuanya


dengan sedemikian rupa di dalam kepalanya sendiri. Bahkan sebelum mereka sempat


menginjakkan kaki di ruangan ini tadi. Ia telah memiliki pemikiran yang jelas


dan terstruktur.


“Kami sempat berteriak. Namun tidak ada seorang pun yang

__ADS_1


bisa mendengarkan kami, karena memang posisinya yang jauh dari mana-mana. Kami


berada di pertengahan koridor waktu itu. Sampai pada akhirnya ada seorang siswa


yang datang. Kemudian ia memanggil para siswa lainnya untuk bergabung,” papar


Lee Hyun Min dengan panjang lebar.


Pengakuannya kali ini kembali diterima oleh Eun Ji Hae.


Gadis itu sama sekali tidak mencurigai apa pun di sini.


“Jadi, itu sebabnya kenapa kalian berkerumun di tempat itu


tadi?” tanya Eun Ji Hae sekali lagi untuk memastikan.


Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat untuk


mengiyakan perkataaan Eun Ji Hae barusan.


“Lalu, apakah kau juga datang ke sana karena mendengar


keributan?” tanya Eun Ji Hae kepada teman dekat korban.


Respon yang ia berikan pun tidak jauh berbeda dengan kedua


gadis lainnya. Ia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Siapa namamu?” tanya Eun Ji Hae lagi.


Ia hampir lupa untuk menanyakan soa hal tersebut tadi. Padahal


itu adalah hal yang peling penting di sini.


“Viera,” katanya.


“Baiklah,” balas Eun Ji Hae.


Gadis itu kemudian segera menuliskan nama mereka semua di


atas kertas yang dibawa bersamanya tadi. Tentu saja agar Eun Ji Hae tidak mudah


melupakan nama ketiganya dengan begitu saja.


Pasalnya, mereka bertga kini termasuk kepad asalah satu


orang penting dalam kasus ini. Hanya dengan bantuan dan kerja sama mereka,


kasus ini bisa selesai dengan segera. Selama mereka masih bersikap kooperatif,


maka seharusnya tidak aka nada masalah yang ada.


“Kapan kalian sampai ke sana?” tanya Eun Ji Hae untuk yang kesekian


kalinya.


Kali ini tugas gadis itu hanya akan bertanya dan bertanya. Hanya


itu. Dia tidak berhak untuk melakukan yang lainnya.


“Kami tidak tahu pasti waktunya kapan. Yang jelas, tidak


lama kemudian para peserta rapat ikut berdatangan,” ungkapnya.


Dari sana Eun Ji Hae dapat menyimpulkan jika mereka berdua


datang tidak lama sebelum rapat selesai dan dibubarkan. Tapi yang menjadi


masalahnya adalah, mereka sama sekali tidak tahu kapan kejadiannya. Meski pun


Bae Seul Jung dan Lee Hun Min adalah orang pertama yang sampai ke tempat


kejadian. Tapi mereka tidak tahu apa-apa. Begitu datang sudah disuguhkan dengan


pemandangan yang memancing rasa mual.


“Baiklah,” ucap Eun Ji Hae dengan nada yang terdengar


sedikit menggantung.


Gadis itu memijit pelipisnya dengan lembut. Berusaha untuk


menenangkan sarafnya yang mulai menegang. Kepalanya rasanya akan pecah saat ini


juga. Masalah terus datang tanpa henti. Hampir tidak ada jeda antara yang ssatu


dengan yang lainnya. Hal tersebut sukses membuat mereka semua menjadi kewalahan.


Termasuk Eun Ji Hae. Gadis itu yang paling merasakan akibat dari semua


permasalahan itu untuk saat ini.


“Apakah kalian menemukan orang lain saat sampai di sana?


Eun Ji Hae.


“Hanya kami berdua yang ada di sana,” jawab Bae Seul Jung.


“Seperti biasanya, lorong itu selalu dalam keadaan sepi


setiap kali ada yang melintas,” timpal Lee Hyun Min.


Ini sudah pertanyaan yang ke sekian dari Eun Ji Hae. Tujuannya


masih tetap sama. Yaitu untuk mengungkap siapa pelaku yang sebenarnya. Dan apa


motif yang ia miliki untuk melakukan penyerangan secar mendadak ini.


Tidak bisa dipungkiri jika kejadian pagi ini telah menjadi


sebuah berita yang cukup hangat di seluruh sekolah. Semua orang terus


membahasnya. Bertanya-tanya siapa pelakunya. Apakah ada pembunuh yang diam-diam


menyelinap masuk ke dalam sekolah yang akan mereka tinggalkan sebentar lagi.


“Viera!” sahut Eun Ji Hae.


Nada bicaranya mulai lebih tenang sekarang. Lebih tepatnya


Eun Ji Hae mulai kehilangan tenaga. Dia sudah tidak bersemangat lagi untuk


melakukan semua ini. Tapi tetap saja ia harus melakukannya. Karena bagaimana


pun juga, tanggung jawab  besar ini telah


dipercayakan kepada gadis itu. Jadi, mau tak mau, siap tidak siap, Eun Ji Hae


tetap harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


“Aku akan menanyaimu sekarang,” ujarnya dengan datar.


Gadis yang dimaksud hanya bisa mengangguk-anggukkan


kepalanya saat ini.


Sejauh ini, menurutnya penjelasan dari Bae Seul Jung dan juga


Lee Hyun Min sudah cukup. Setidaknya ia sudah bisa menarik satu kesimpulan dari


sana. Mungkin jika perlu, Eun Ji Hae akan menanyai mereka lagi. Tapi, untuk


saat ini cukup sampai di sini dulu. Sekarang sudah waktunya bagi Viera untuk


memberikan keterangan dan membantu proses penyelidikan yang akan dilaksanakan


oleh Eun Ji Hae sendiri.


Mereka harus mengusut kasusnya sampai tuntas. Tidak boleh


terbengkalai dan malah menjadi sebuah misteri baru. Sudah cukup semua omong


kosong itu menghantui para penghuni sekolah. Sekarang mereka harus mulai


melakukan pembuktian satu-persatu.


Sebenarnya ada satu hal yang membuat Eun Ji Hae begitu


terobsesi untuk memecahkan kasus ini. Sebab, selama ini sekolah mereka selalu


aman dan damai. Tidak pernah ada terjadi kasus serupa sebelumnya. Ini adalah


pertama kalinya bagi sejarah Sekolah Mooneta. Pembunuhan misterius yang baru


saja terjadi akan cukup mengancam jika pelakunya masih berkeliaran di sekitar


sini. Tidak menutup kemungkinan bgi korban-korban baru untuk terus berjatuhan. Selama


pelakunya masih belum ditemukan, maka selama itu pula ancamannya akan terus


terasa nyata.


Mereka harus bergerak cepat dan tepat jika ingin selamat. Hanya


itu kuncinya untuk tetap bertahan hidup. Tidak ada pilihan atau cara lain yang


tersedia. Mau tidak mau, mereka harus tetap melakukannya.


Eun Ji Hae menghela napasnya dengan kasar. Sebagai car alain


untuk melampiaskan kekesalannya tanpa harus melibatkan orang lain di dalamnya. Akan

__ADS_1


jauh lebih baik jika begini. Tidak ada yang akan merasa terdiskriminasi.


“Viera, sejak kapan kalian saling berteman dekat?” tanya Eun


Ji Hae tanpa basa-basi sama sekali.


“Kami sudah berteman sejak pertama kali masuk ke sekolah


ini,” ungkapnya.


Dia sudah tidak ingin bertahan lebih lama lagi di ruangan


ini. Eun Ji Hae hampir kehabisan napas rasanya. Ia mulai muak. Jika bisa, ia


akan mempercepat proses interogasi kali ini tanpa harus menghilangkan poin-poin


pentingnya.


“Apakah kalian pernah memiliki masalah pribadi antara satu


dengan yang lainnya sebelumnya?” tanya gadis itu.


“Tidak perlu mengatakan apa masalahnya. Cukup jawab sesuai


dengan arahanku saja!” lanjutnya.


“Kami pernah berselisih paham. Tapi itu sudah lama sekali,”


jawab Viera dengan santai. Ia terlihat mengatakan semua itu dengan apa adanya. Tidak


ada paksaan sama sekali.


“Kapan terakhir kali kalian berbicara?”


“Pada waktu acara jamuan pagi tadi.”


“Sebagai teman dekatnya, tentunya kau pasti tahu sedikit


lebih banyak soal Shin Nara dari pada orang lain. Aku yakin jika dia pasti


pernah menceritakan hal penting yang sifatnya rahasia kepadamu. Benar bukan?”


“Iya, benar!”


“Semua sahabat pasti pernah melakukan hal tersebut. Setidaknya


sekali dalam seumur hidupnya, jika mereka telah mencapai fase paling percaya.”


“Kakak Ji benar.”


“Tapi bukan itu pertanyaan yang akan ku ajukan kepadamu kali


ini.”


“Lalu apa?”


Eun Ji Hae kembali menghela napasnya dengan kasar untuk yang


kesekian kalinya. Sepertinya energi yang berada di ruangan ini sudah tidak baik


lagi baginya. Keberadaannya sudah mulai tersudutkan di tempat ini. Atmosfirnya


mendadak menjadi berubah tidak baik.


Mungkinkah ada roh jahat yang sedang ikut menguping


pembicaraan mereka saat ini. Tapi siapa. Bisa jadi jika ini adalah jiwa dari


Shin Nara yang masih bergentayangan di tempat ini usai kejadian barusan. Sedikit


banyaknya, ia pasti masih merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi


dan menimpa dirinya. Gadis itu pasti masih tidak percaya jika saat ini dirinya


telah tiada. Mungkin jiwanya tidak akan pernah tenang sampai menemukan jawaban.


Eun Ji Hae menggenggam sebuah pena kuno yang berada di


tangan kanannya. Energi di tempat ini semakin berubah menjadi negatif. Sepertinya


bukan hanya gadis itu saja yang bisa merasakan hal tersebut. Tapi semua orang


yang berada di dalam ruangan ini juga akan merasakan efek atau reaksi yang


sama. Namun energinya tidak akan sebesar yang diterima oleh Eun Ji Hae saat


ini.


“Apakah kalian merasakan tekanan di sini?” tanya Eun Ji Hae


sambil terus berusaha untuk menguatkan dirinya.


Energi yang baru saja datang ini terlalu kuat. Bahkan sudah


nyaris mendominasi tempat ini sekarang.


“Iya Kakak Ji. Kami merasa pusing saat ini,” ungkap Bae Seul


Jung.


Berdasarkan pengakuan gadis itu barusan, sudah jelas jika


energi itu jauh lebih besar dari pada energi mereka berempat. Eun Ji Hae dengan


cepat merogoh laci meja kerja Bibi Ga Eun untuk mencari sesuatu. Ternyata ia


akan membakar dupa untuk membersihkan energi negative yang berada di tempat


ini. Mereka harus segera menyingkirkannya. Jika terlalu lama seperti ini, maka


akan berdampak pada kekuatan mental mereka sendiri.


Sangking kuat dan besarnya energi itu, mereka sampai tidak


bisa mengatasinya lagi. Bahkan emnergi empat orang yang menguasai sihir saja


bisa kalah. Mereka berempat tengah dalam posisi yang terdesak di dalam ruangan


ini sekarang. Pantas daja dari tadi Eun Ji Hae merasakan sesuatu yang tidak


beres di sini. ternyata ada energi negarif yang datang. Tidak ada yang tahu


dari mana asalnya dan energi apa ini. Semuanya masih terasa samar, tapi efeknya


tampak secara nyata. Begitulah cara kerja energi yang barusan.


Eun Ji Hae mengitari ruangan kecil tersebut dengan membawa


tiga batang dupa yang dibakar besamanya. Dia sedang melakukan pembersihan


ruangan dari hal-hal yang berbau negatif itu. Asap dari sisa pembakaran dupa


ini akan menguap ke seluruh ruangan dan menyerap setiap energi yang tidak baik.


Setelah itu, baru angin akan membawanya berhembus keluar. Kurang lebih


begitulah cara kerjanya.


Setelah melakukan hal tersebut selama kira-kira dua menit,


Eun Ji Hae menancapkan sisa dupa yang masih utuh pada salah satu tempat yang


sudah disediakan. Sehingga benda tersebut tetap bisa memproduksi asap. Eun Ji


Hae kembali ke tempat duduknya semula setelah mengitari tempat ini selama lebih


dari dua belas kali. Sekarang semuanya sudah jauh lebih baik. Mereka setidaknya


bisa bernapas dengan lega sekarang. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Semuanya


akan tetap baik-baik saja setelah ini.


“Dari mana asalnya energi itu?” tanya Eun Ji Hae.


Ketiga orang gadis yang duduk di depannya saat ini hanya


bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka sendiri juga tidak tahu dari mana


asalnya. Yang jelas, tiba-tiba saja energi sebesar itu datang ke ruangan ini


dan mengacaukan segalanya.


Hal tersebut juga bahkan ikut menguras energi yang mereka


miliki secara tidak langsung. Sekarang keempat orang tersebut tampak dalam kondisi


yang tidak baik-baik saja. Mereka menyadari betuk hal itu.


Selama dupanya masih menyala, seharusnya energi asing itu


tidak akan bisa menyerang mereka lagi. lagi pula, kurang dari dua puluh menit


lagi mereka akan segera meninggalkan tempat ini. Hawanya mulai terasa sangat


tidak bersahabat. Bahkan kondisinya sendiri sudah terlalu tidak kondusif. Jika tidak


bisa diselesaikan dalamhari yang sama, mungkin Eun Ji Hae akan kembali


melanjutkan hal tersebut esok hari. Setidaknya masih ada kesempatan, meski


tidak banyak. Tidak ada cara lain lagi pasalnya. Mereka tidak bisa mengambil

__ADS_1


resiko yang terlalu berbahaya.


__ADS_2