Mooneta High School

Mooneta High School
Left The Camp


__ADS_3

Sebenarnya dari awal Oliver sudah tahu jika Nhea


menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan pria itu. Pasalnya, ia tak


sengaja bertemu dengan keduanya saat bersiap untuk menuju ruangan pertandingan.


Bahkan, sampai ia selesai bertanding mereka juga belum pergi dari sana.


Kelihatannya, pasti ada banyak hal yang mereka bicarakan pada saat itu.


Sehingga Oliver jauh lebih memilih untuk tidak ikut campur saja. Lebih baik


menunggu sampai mereka benar-benar selesai dengan urusannya masing-masing. Dan


rasanya, ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan gadis itu. Karena urusannya


dengan Chanwo pasti sudah selesai.


“Sudah berapa lama kau duduk sendirian di sini?” tanya Nhea


untuk memecah keheningan suasana.


“Mungkin sekitar lima belas menit yang lalu,” jawabnya


dengan apa adanya.


“Kenapa harus sendirian? Kenapa tidak bergabung bersama yang


lainnya?” tanya Nhea lagi.


Gadis itu hanya menggidikkan bahunya sambil berkata, “Aku


lebih nyaman jika seperti ini.”


Sudah sekitar lima belas menit yang lalu atau bahkan lebih. Itu


artinya Nhea telah melewatkan petandingan Oliver. Mereka tidak bertanding di


arena. Beberapa perlombaan memang digelar secara khusus dalam ruangan tertutup.


Gunanya untuk menjaga konsentrasi peserta dan agar suasana tetap kondusif.


Oliver tampaknya tidak mempermasalahkan hal tersebut sama


sekali. Ini baru pertama kali Nhea tidak datang untuk menonton dirinya


bertanding. Biasanya selalu. Tapi, Nhea yakin jika ia pasti memaklumi yang satu


itu. Nhea tidak bisa menyisihkan waktu selamanya. Lagipula, tadi tidak


sembarang orang bisa masuk ke ruangan perlombaan. Hanya mereka yang sudah


diutus saja yang bisa masuk ke dalam sana.


“Sepertinya kau memang suka sendirian,” cicit Nhea sambil


membenarkan posisi duduknya.


“Mereka bilang begitu. Tapi, aku juga tidak selamanya


sendirian,” balas Oliver. Dia akan memberikan pembelaan dalam bentuk apa pun


kepada dirinya sendiri.


Dulu sebelum Nhea datang ke akademi mereka dan resmi menjadi


salah satu bagian dari akademi sihir Mooneta, ia selalu menghabiskan waktunya


bersama dengan Jongdae. Tidak ada orang lain yang bisa ia percaya melebihi


kakaknya sendiri. Tapi, untuk saat ini semua itu berubah. Tidak lagi sama

__ADS_1


seperti dulu.


“Bukankah seetiap hal yang ada di dunia pasti akan berubah


pada akhirnya?” tanya Nhea.


“Kau harus mempersiapkan diri untuk yang namanya perubahan,”


timpalnya kemudian.


Oliver tidak langsung menanggapi perkataan Nhea barusan. Ia


hanya mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Mereka saling beradu pandang


selama beberapa detik, sebelum akhirnya Oliver kembali menarik pandangannya. Tidak


bisa diketahui dengan benar, apa maksud dari pandangannya tadi. Ringkasnya,


Nhea tak mampu menangkap pesan tersirat yang mungkin saja sengaja ia selipkan


di sana tadi.


“Sepertinya saat ini aku tengah mengalami fase-fase seperti


itu,” ungkap Oliver dengan berat hati.


“Fase perubahan atau fase peralihan dari satu hal ke hal


lain membuatku sering merasa lelah akhir-akhir ini,” paparnya secara singkat.


Nhea tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Diam-diam ia


setuju dengan pendapat gadis itu. tidak bisa dipungkiri jika masa peralihan


memang salah satu masa paling sulit dalam hidup. Bukan pekara yang mudah untuk


melewatinya. Tidak semua orang bisa lolos dari fase tersebut dengan cepat. Padahal,


***


Saat ini mereka tengah dikumpulkan di dalam kamp. Seluruh tim


menjadi satu kesatuan lagi di ini. Tidak ada yang namanya Tim A mau pun Tim B.


Mereka semua sama saja sekarang. Siswa dan siswi akademi sihir Mooneta. Itu adalah


nama mereka sekarang.


“Kita akan kembali ke akademi sebentar lagi. Pastikan semua


barang-barang kalian tidak ada yang tertinggal,” jelas Eun Ji Hae dari depan


sana.


“Pastikan untuk tidak meninggalkan jejak apa pun di dalam


kamp ini!” timpal Bibi Ga Eun.


“Kalian bisa mulai bergerak sekarang jika merasa masih ada


yang perlu dibereskan. Sebaliknya, tetap tinggal di sini jika merasa semuanya


sudah beres,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.


Mereka terbiasa untuk meninggalkan kamp dengan keadaaan yang


bersih. Sebagai mana kondisi pertama kali mereka masuk ke dalam sana, begitu


pula mereka harus keluar dari sana. Sebab, anak-anak dari akademi sihir Mooneta


tidak akan tinggal di sini. Mereka selalu kembali ke akademi. Kamp hanya

__ADS_1


digunakan ketika mereka bertanding. Selebihnya tidak sama sekali.


Oleh sebab itu, mereka harus menjaga tempat ini agar tetap


bersih dan tidak meninggalkan jejak sama sekali. Meski kamp ini resmi telah


menjadi milik akademi sihir Mooneta sekarang, tapi tidak ada yang tahu


bagaimana cara lawan menjatuhkan mereka. Orang lain bisa saja masuk dan


menyelinap ke dalam tempat ini saat tengah malam tiba. Tepat ketika semua orang


dibuat tunduk oleh alam bawah sadarnya sendiri.


Untuk hari ini saja sudah ada lebih dari dua orang yang


mencari masalah dengan mereka. Gangguan-gangguan seperti itu kerap kali


ditujukan kepada anak-anak Mooneta. Mereka melakukannya dengan sengaja. Memangnya


untuk apalagi jika bukan untuk memecah konsentrasi mereka.


Sementara yang lain berkeliaran ke seluruh penjuru kamp


untuk membereskan barang-barang mereka, Nhea dan beberapa orang lainnya malah


sebaliknya. Mereka tetap duduk dengan rapih di tempatnya. Oliver juga termasuk


ke dalam salah satunya. Merasa tidak ada lagi yang perlu dilakukan, Nhea jauh


lebih memilih untuk tetap berada di sini bersama dengan yang lainnya.


Suasana berkerumun di dalam kamp berhasil menaikkan suhu


udara sekitar dengan cepat. Tidak bisa dipungkiri jika rasanya masih lebih


gerah daripada biasanya. Padahal sekarang sudah malam. Matahari barusaja  kembali ke sarangnya. Biasanya, suhu akan


langsung turun ketika malam tiba. Tapi, sepertinya hal tersebut sama sekali


tidak berlaku di tempat yang satu ini.


Nhea memutuskan untuk membenarkan ikatan rambutnya menjadi


lebih tinggi. Bukan tanpa alasan. Tentu saja agar udara bisa bebeas keluar dan


masuk melewati pori-pori kulitnya. Dengan begitu, Nhea tidak akan merasa


kegerahan lagi. Paling tidak pasti berkurang dari sebelumnya.


Satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa tidak nyaman ini


adalah dengan pergi keluar dari kamp. Tapi, Nhea sama sekali tidak bisa


melakukan pilihan yang satu itu untuk sekarang.


Mendadak gerakan tangannya berhenti saat sedang sibuk


merapihkan anak-anak rambutnya. Nhea kembali membiarkan rambutnya berserakan


tanpa diikat. Salah satu tangannya beranjak menyusuri leher jenjangnya. Ia merasa


seperti ada sesuatu yang aneh di sana. Dan yang benar saja, dugaannya benar.


“Apa ini?” gumam Nhea sambil tetap mengamati benda yang tengah


melingkar di lehernya.


Untuk saat ini, ia tidak bisa memastikan benda macam apa


itu. Nhea perlu melihat pantulan dirinya secara langsung di depan cermin. Dengan

__ADS_1


begitu, ia baru percaya dengan intuisinya sendiri.


__ADS_2