
Sebenarnya dari awal Oliver sudah tahu jika Nhea
menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan pria itu. Pasalnya, ia tak
sengaja bertemu dengan keduanya saat bersiap untuk menuju ruangan pertandingan.
Bahkan, sampai ia selesai bertanding mereka juga belum pergi dari sana.
Kelihatannya, pasti ada banyak hal yang mereka bicarakan pada saat itu.
Sehingga Oliver jauh lebih memilih untuk tidak ikut campur saja. Lebih baik
menunggu sampai mereka benar-benar selesai dengan urusannya masing-masing. Dan
rasanya, ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan gadis itu. Karena urusannya
dengan Chanwo pasti sudah selesai.
“Sudah berapa lama kau duduk sendirian di sini?” tanya Nhea
untuk memecah keheningan suasana.
“Mungkin sekitar lima belas menit yang lalu,” jawabnya
dengan apa adanya.
“Kenapa harus sendirian? Kenapa tidak bergabung bersama yang
lainnya?” tanya Nhea lagi.
Gadis itu hanya menggidikkan bahunya sambil berkata, “Aku
lebih nyaman jika seperti ini.”
Sudah sekitar lima belas menit yang lalu atau bahkan lebih. Itu
artinya Nhea telah melewatkan petandingan Oliver. Mereka tidak bertanding di
arena. Beberapa perlombaan memang digelar secara khusus dalam ruangan tertutup.
Gunanya untuk menjaga konsentrasi peserta dan agar suasana tetap kondusif.
Oliver tampaknya tidak mempermasalahkan hal tersebut sama
sekali. Ini baru pertama kali Nhea tidak datang untuk menonton dirinya
bertanding. Biasanya selalu. Tapi, Nhea yakin jika ia pasti memaklumi yang satu
itu. Nhea tidak bisa menyisihkan waktu selamanya. Lagipula, tadi tidak
sembarang orang bisa masuk ke ruangan perlombaan. Hanya mereka yang sudah
diutus saja yang bisa masuk ke dalam sana.
“Sepertinya kau memang suka sendirian,” cicit Nhea sambil
membenarkan posisi duduknya.
“Mereka bilang begitu. Tapi, aku juga tidak selamanya
sendirian,” balas Oliver. Dia akan memberikan pembelaan dalam bentuk apa pun
kepada dirinya sendiri.
Dulu sebelum Nhea datang ke akademi mereka dan resmi menjadi
salah satu bagian dari akademi sihir Mooneta, ia selalu menghabiskan waktunya
bersama dengan Jongdae. Tidak ada orang lain yang bisa ia percaya melebihi
kakaknya sendiri. Tapi, untuk saat ini semua itu berubah. Tidak lagi sama
__ADS_1
seperti dulu.
“Bukankah seetiap hal yang ada di dunia pasti akan berubah
pada akhirnya?” tanya Nhea.
“Kau harus mempersiapkan diri untuk yang namanya perubahan,”
timpalnya kemudian.
Oliver tidak langsung menanggapi perkataan Nhea barusan. Ia
hanya mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Mereka saling beradu pandang
selama beberapa detik, sebelum akhirnya Oliver kembali menarik pandangannya. Tidak
bisa diketahui dengan benar, apa maksud dari pandangannya tadi. Ringkasnya,
Nhea tak mampu menangkap pesan tersirat yang mungkin saja sengaja ia selipkan
di sana tadi.
“Sepertinya saat ini aku tengah mengalami fase-fase seperti
itu,” ungkap Oliver dengan berat hati.
“Fase perubahan atau fase peralihan dari satu hal ke hal
lain membuatku sering merasa lelah akhir-akhir ini,” paparnya secara singkat.
Nhea tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Diam-diam ia
setuju dengan pendapat gadis itu. tidak bisa dipungkiri jika masa peralihan
memang salah satu masa paling sulit dalam hidup. Bukan pekara yang mudah untuk
melewatinya. Tidak semua orang bisa lolos dari fase tersebut dengan cepat. Padahal,
***
Saat ini mereka tengah dikumpulkan di dalam kamp. Seluruh tim
menjadi satu kesatuan lagi di ini. Tidak ada yang namanya Tim A mau pun Tim B.
Mereka semua sama saja sekarang. Siswa dan siswi akademi sihir Mooneta. Itu adalah
nama mereka sekarang.
“Kita akan kembali ke akademi sebentar lagi. Pastikan semua
barang-barang kalian tidak ada yang tertinggal,” jelas Eun Ji Hae dari depan
sana.
“Pastikan untuk tidak meninggalkan jejak apa pun di dalam
kamp ini!” timpal Bibi Ga Eun.
“Kalian bisa mulai bergerak sekarang jika merasa masih ada
yang perlu dibereskan. Sebaliknya, tetap tinggal di sini jika merasa semuanya
sudah beres,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
Mereka terbiasa untuk meninggalkan kamp dengan keadaaan yang
bersih. Sebagai mana kondisi pertama kali mereka masuk ke dalam sana, begitu
pula mereka harus keluar dari sana. Sebab, anak-anak dari akademi sihir Mooneta
tidak akan tinggal di sini. Mereka selalu kembali ke akademi. Kamp hanya
__ADS_1
digunakan ketika mereka bertanding. Selebihnya tidak sama sekali.
Oleh sebab itu, mereka harus menjaga tempat ini agar tetap
bersih dan tidak meninggalkan jejak sama sekali. Meski kamp ini resmi telah
menjadi milik akademi sihir Mooneta sekarang, tapi tidak ada yang tahu
bagaimana cara lawan menjatuhkan mereka. Orang lain bisa saja masuk dan
menyelinap ke dalam tempat ini saat tengah malam tiba. Tepat ketika semua orang
dibuat tunduk oleh alam bawah sadarnya sendiri.
Untuk hari ini saja sudah ada lebih dari dua orang yang
mencari masalah dengan mereka. Gangguan-gangguan seperti itu kerap kali
ditujukan kepada anak-anak Mooneta. Mereka melakukannya dengan sengaja. Memangnya
untuk apalagi jika bukan untuk memecah konsentrasi mereka.
Sementara yang lain berkeliaran ke seluruh penjuru kamp
untuk membereskan barang-barang mereka, Nhea dan beberapa orang lainnya malah
sebaliknya. Mereka tetap duduk dengan rapih di tempatnya. Oliver juga termasuk
ke dalam salah satunya. Merasa tidak ada lagi yang perlu dilakukan, Nhea jauh
lebih memilih untuk tetap berada di sini bersama dengan yang lainnya.
Suasana berkerumun di dalam kamp berhasil menaikkan suhu
udara sekitar dengan cepat. Tidak bisa dipungkiri jika rasanya masih lebih
gerah daripada biasanya. Padahal sekarang sudah malam. Matahari barusaja kembali ke sarangnya. Biasanya, suhu akan
langsung turun ketika malam tiba. Tapi, sepertinya hal tersebut sama sekali
tidak berlaku di tempat yang satu ini.
Nhea memutuskan untuk membenarkan ikatan rambutnya menjadi
lebih tinggi. Bukan tanpa alasan. Tentu saja agar udara bisa bebeas keluar dan
masuk melewati pori-pori kulitnya. Dengan begitu, Nhea tidak akan merasa
kegerahan lagi. Paling tidak pasti berkurang dari sebelumnya.
Satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa tidak nyaman ini
adalah dengan pergi keluar dari kamp. Tapi, Nhea sama sekali tidak bisa
melakukan pilihan yang satu itu untuk sekarang.
Mendadak gerakan tangannya berhenti saat sedang sibuk
merapihkan anak-anak rambutnya. Nhea kembali membiarkan rambutnya berserakan
tanpa diikat. Salah satu tangannya beranjak menyusuri leher jenjangnya. Ia merasa
seperti ada sesuatu yang aneh di sana. Dan yang benar saja, dugaannya benar.
“Apa ini?” gumam Nhea sambil tetap mengamati benda yang tengah
melingkar di lehernya.
Untuk saat ini, ia tidak bisa memastikan benda macam apa
itu. Nhea perlu melihat pantulan dirinya secara langsung di depan cermin. Dengan
__ADS_1
begitu, ia baru percaya dengan intuisinya sendiri.