
Chanwo menghela panjang, sebelum akhirnya ia memutar balik tubuhnya untuk meninggalkan Nhea sendirian. Sepertinya pria itu tak bisa terlalu memaksa soal hal yang tak ingin diingat sama sekali oleh Nhea. Gadis itu baru saja tersadar dari tidur panjangnya dan mungkin kini ia sedang ingin sendirian saja. Chanwo tak tahu harus bagaimana sekarang ini, sekeras apapun ia memberitahu gadis itu soal jati dirinya, tetap saja hasilnya nihil. Namun, ada satu hal lagi yang paling membuatnya khawatir.
Sementara itu, Nhea hanya menatap punggung pria itu yang perlahan menghilang dari hadapannya. Cahaya lilin lembut menyentuh pundaknya, kemeja berbahan sutera itu terlihat begitu mewah saat cahaya jingga lilin terpantul dari sana. Sampai saat ini Nhea masih tak tahu bagaimana semua hal itu bisa terjadi. Semua hal yang terjadi hari ini terasa begitu ganjil baginya. Tidur panjangnya itu seolah disengaja oleh semua orang, agar mereka bisa menyiapkan kejutan yang sama sekali tak menyenangkan ini. Nhea telah kelewatan banyak hal selama matanya terpejam. Dunia seolah sedang memainkan peran terbalik dengan sandiwara baru yang ia miliki. Meski semesta tak tahu siapa penulis naskahnya, ia tetap saja memainkannya.
Bayangkan saja, ketika semua kejutan itu berjejalan datang untuk memenuhi pandangannya. Mulai dari seorang gadis aneh yang tak ia kenal sama sekali dan mendadak menjadi sok akrab dengan dirinya. Hingga orang tuanya yang telah lama dikabarkan berpisah, namun kini secara tiba-tiba berada tepat di hadapannya. Waktu itu semua hal buruk yang terjadi di masa lalu, seolah tak pernah terjadi dan terlihat baik-baik saja di hari ini. Dan bagian yang paling ia benci adalah ketika seorang pria aneh yang tak pernah ia temui sebelumnya, memaksanya untuk memecahkan suatu teka-teki rumit yang bahkan tak ia beritahu petunjuknya satupun.
__ADS_1
“Ada apa dengan mereka hari ini?” gumam Nhea pelan.
Gadis itu perlahan mendudukkan tubuhnya ke atas ranjang, tempat yang sudah menjadi teman akrabnya selama beberapa hari belakangan ini. Tak peduli sudah seberapa besar rasa bosannya akan benda yang satu ini. Karena semua manusia pasti akan terus mencarinya ketika mereka butuh.
“Semuanya terasa sangat aneh, sangat tidak masuk akal,” ujarnya pada dirinya sendiri.
“Aku masih ingat dengan jelas apa yang terjadi sebelum aku menjadi seperti ini. Semua karena portal sialan itu, dan juga sekolah ini,” lanjutnya.
“Sandiwara macam apa lagi yang sekarang sedang mereka coba mainkan saat ini,” batinnya dalam hati.
__ADS_1
“Apa kalian semua ingin menguji kejelianku?” lanjutnya dengan satu alis terangkat.
Paras cantiknya berubah menjadi begitu meyakinkan sekarang ini. Seakan-akan ini bukanlah sosok Nhea yang orang-orang kenal selama ini. Ketika kedua sudut bibir itu terangkat, harusnya mereka sepakat akan tersenyum manis. Namun, kenyataannya hanyalah senyum licikd engan tatapan mengerikan yang terpancar. Hal itu sontak mengubah Nhea menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini.
Gadis itu memilih untuk kembali terlelap dalam mimpinya. Ia sedang tak ingin diganggu oleh siapapun saat ini, bahkan termasuk ayah dan ibunya sendiri. Nhea mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, berharap tak adda seorangpun yang bisa menembus benda keras itu. Mungkin kalau bisa, ia juga berharap agar sejenis mahluk halus juga tak bisa menembus setiap celah di ruangan ini.
__ADS_1