
Nhea yakin jika biasa pasar tidak pernah seramai ini. Pasti
jumlah orang yang ada selalu lebih sedikit dari apa yang dilihatnya sekarang. Mereka
berdua teruss berjalan menyurusi setiap gang. Menemukan hal baru yang selama
ini belum pernah terkspos.
“Ku dengar ada beberapa toko alas kaki yang cukup terkenal
di pasar ini,” ujar Oliver dengan antusias.
“Sungguh?!” balas Nhea yang tak kalah antusias.
Mungkin mereka akan menghabiskan waktu seharian penuh di
pasar ini jika bisa. Tapi, sayangnya kedua gadis ini tidak dapat melakukannya
mski mereka mau. Bibi Ga Eun memintanya untuk kembali sebelum jam makan siang.
Tidak ada satu pun orang yang boleh melewatkan acara penting tersebut. Selama
ini anak-anak Mooneta terkenal disiplin. Jadi, Bibi Ga Eun tahu jika mereka
pasti tidak akan melakukannya.
“Paman Johnson membuka sebuah toko sepatu di pasar ini,”
ucap Oliver tanpa memalingkan pandangannya.
“Siapa itu Paman Jonhson?” tanya gadis itu.
“Dia merupakan salah satu lulusan terbaik akademi sihir
Mooneta pada masanya,” beber Oliver secara terang-terangan.
“Tidak seperti kebanyakan temannya pada umumnya, dia lebih
memilih untuk keluar dari akademi setelah lulus. Paman Johnson sama sekali
tidak tertarik untuk melakukan pengabdian,” jelasnya dengan panjang lebar yang
kemudian mendapatkan anggukan kecil dari Nhea untuk yang kesekian kalinya.
“Dia pasti memiliki lasan tersendiri untuk tidak melakukan
pengabdian,” ujar Nhea. Yang satu itu
adalah asumsinya sendiri.
“Aku setuju denganmu!” balas Oliver dengan cepat.
Lagipula, mereka tidak akan dipaksakan untuk tetap tinggal
di dalam akademi sihir dan melakukan pengabdian terhadap akademi tersebut.
Setelah dinyatakan lulus, mereka berhak memilih. Itu adalah hari kebebasan
nomer dua setelah hari ini bagi seluruh siswa Mooneta.
Mereka bisa kembali ke rumahnya masing-masing, atau bahkan
tetap berada di sini. Tidak ada tuntutan sama sekali. Mereka semua bisa memilih
salah satu opsi dari kedua pilihan yang telah disediakan. Pasti anak-anak itu
telah mempertimbangkannya dari jauh-jauh hari. Sebab, itu bukan keputusan yang
mudah.
“Lantas, apa kau tahu kenapa Paman Johnson memilih untuk
membuka toko sepatu?” tanya Nhea secara acak.
Oliver tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut.
__ADS_1
Melainkan, ia tampak berpikir lebih dulu. Mencari jawaban yang paling tepat.
“Tidak ada yang benar-benar tahu apa alasannya,” jawab
Oliver.
“Kau tidak harus menjadi seorang penyihir setelah lulus
nanti. Lakukan saja apa pun yang kau mau,” jelasnya kemudian.
Kali ini Nhea kembali merasa sependapat dengan gadis itu.
Terutama pada kalimat terakhir yang sempat terlontar keluar dari mulutnya.
Pasti Paman Johnson memiliki beberapa alasan yang cukup
kuat. Tentang kenapa ia lebih memutuskan untuk membuka toko sepatu daripada
mengabdi untuk akademi sihir Mooneta.
Singkat cerita, mereka tiba di salah satu gang yang mengarah
langsung ke toko sepatu miliki Paman Johnson. Nhea bahkan bisa melihatnya dari
kejauhan karena plakat nama yang tergantung cukup besar. Ia yakin siapa pun
yang melewati jalanan ini secara sengaja atau tidak, pasti akan melihat ke arah
tokonya.
“Apakah itu tokonya?” tanya Nhea untuk memastikan.
“Kau benar!” jawab Oliver.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera bergegas menuju
tempat tersebut. Kebetulan tokonya tampak sedang sepi. Tidak ada pengunjung.
Entah memang sepi, atau bagaimana. Tapi, ini adalah sebuah kesempatan bagus
bagi mereka. Dengan begitu, Nhea dan Oliver bisa berkeliling toko dengan bebas.
Yang benar saja. Sungguh tidak ada orang sama sekali di
dalamnya. Itu adalah pemandangan yang pertama kali mereka dapatkan begitu
sampai di depan pintu toko. Kebetulan pintu serta dinding bagian depannya
terbuat dari kaca transparan. Sehingga memudahkan orang-orang untuk mmengamati
apa saja yang terjadi di dalam sana.
Keduanya saling melempar pandangan antara satu sama lain
untuk beberapa saat. Sepertinya mereka ingin menyampaikan sesuatu tanpa harus
bersuara. Atmosfirnya sungguh berbeda jauh saat mereka sampai di sini. Padahal
ia terletak di sekitar keramaian.
Tanpa pikir panjng lagi, Oliver memutuskan untuk masuk ke
dalam lebih dulu. Dia adalah orang pertama yang melangkahkan kakinya di sini. Kemudian
disusul oleh Nhea yang melangkah tepat di belakangnya. Sangking sepinya, bahkan
suara derap langkah kaki mereka sampai menggema di dalam ruangan ini. Bukan hanya
itu saja. Suara deru napas mereka saja bisa terdengar dengan jelas.
“Apakah tidak ada orang di sini?” batin Nhea dalam hati.
“Apakah tokonya sedang tutup?” lanjutnya.
Gadis itu berasumsi jika sedang tidak ada siapa pun di
__ADS_1
tempat ini. Pasalnya, dari tadi Nhea sama sekali tidak bisa menemukan seorang
pun di dalamnya. Tidak ada orang lain selain mereka berdua. Sebenarnya kemana
semua orang. Anggap saja jika toko ini memang tidak memiliki pegawai dan sedang
sepi pengunjung. Tapi, kemana Paman Johnson? Bukannya seharusnya ia tetap
berada di sekitar sini untuk menjaga toko miliknya? Kenapa ia membiarkan tempat
ini begitu saja? Tidakkah ia merasa khawatir jika sampai ada barangnya yang
hilang karena dicuri?
‘TAP! TAP! TAP!’
Mereka terus berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di
ruangan tersebut. Tidak peduli dengan kesunyian yang perlahan mencekik.
“Ada yang bisa kubantu?”
Secara tiba-tiba suara seseorang muncul dari balik pintu
masuk. Sontak keduanya langsung berbalik ke arah sumber suara. Jantung Nhea
akan copot rasanya pada saat itu. Tapi, kenyataannya bukan hanya Nhea saja.
Bahkan Oliver juga merasakan hal yang sama persis.
Salah satu tangannya meraih ujung rak sepatu untuk menahan
berat tubuhnya. Lututnya mendadak terasa lemas. Kakinya bergetar hebat. Beruntung
Nhea cukup sigap untuk menahan tubuh gadis ini agar dia tidak terjatuh. Jadi,
tubuhnya belum sempat menyentuh lantai.
Oliver mendadak kehilangan seluruh kekuatannya karena
terkejut. Ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin sudah yang kesekian. Nyaris setiap
kali merasa terkejut, dia selalu seperti ini.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya seorang pria. Masih dengan
orang yang sama.
Dari raut wajahnya, bisa disimpulkan jika ia tengah merasa
khawatir. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera beranjak dari posisinya yang
semula berada di ambang pintu untuk menghampiri Oliver yang tampaknya tidak
baik-baik saja.
Mungkin ada rasa bersalah yang terselip di dalam relung
hatinya saat ini. Orang yang diyakini sebagai Paman Johnson itu membantu Oliver
untuk kembali bangkit. Sebenarnya kondisinya tidak terlalu serius. Tubuhnya hanya
memberikan reaksi yang terlalu berlebihan saat sedang terkejut.
“Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu sekali lagi.
“Ini sudah biasa terjadi padaku,” jawab Oliver secara gamblang.
“Maafkan aku karena telah merepotkanmu,” lanjutnya sembari
merapihkan tatanan rambutnya yang berantakan.
“Ah, tidak! Seharusnya aku yang meminta maaf,” tepis pria
tersebut.
__ADS_1
“Aku sudah keterlaluan sampai
membuatmu menjadi seperti ini,” jelasnya secara singkat.