Mooneta High School

Mooneta High School
Store


__ADS_3

Nhea yakin jika biasa pasar tidak pernah seramai ini. Pasti


jumlah orang yang ada selalu lebih sedikit dari apa yang dilihatnya sekarang. Mereka


berdua teruss berjalan menyurusi setiap gang. Menemukan hal baru yang selama


ini belum pernah terkspos.


“Ku dengar ada beberapa toko alas kaki yang cukup terkenal


di pasar ini,” ujar Oliver dengan antusias.


“Sungguh?!” balas Nhea yang tak kalah antusias.


Mungkin mereka akan menghabiskan waktu seharian penuh di


pasar ini jika bisa. Tapi, sayangnya kedua gadis ini tidak dapat melakukannya


mski mereka mau. Bibi Ga Eun memintanya untuk kembali sebelum jam makan siang.


Tidak ada satu pun orang yang boleh melewatkan acara penting tersebut. Selama


ini anak-anak Mooneta terkenal disiplin. Jadi, Bibi Ga Eun tahu jika mereka


pasti tidak akan melakukannya.


“Paman Johnson membuka sebuah toko sepatu di pasar ini,”


ucap Oliver tanpa memalingkan pandangannya.


“Siapa itu Paman Jonhson?” tanya gadis itu.


“Dia merupakan salah satu lulusan terbaik akademi sihir


Mooneta pada masanya,” beber Oliver secara terang-terangan.


“Tidak seperti kebanyakan temannya pada umumnya, dia lebih


memilih untuk keluar dari akademi setelah lulus. Paman Johnson sama sekali


tidak tertarik untuk melakukan pengabdian,” jelasnya dengan panjang lebar yang


kemudian mendapatkan anggukan kecil dari Nhea untuk yang kesekian kalinya.


“Dia pasti memiliki lasan tersendiri untuk tidak melakukan


pengabdian,” ujar Nhea. Yang  satu itu


adalah asumsinya sendiri.


“Aku setuju denganmu!” balas Oliver dengan cepat.


Lagipula, mereka tidak akan dipaksakan untuk tetap tinggal


di dalam akademi sihir dan melakukan pengabdian terhadap akademi tersebut.


Setelah dinyatakan lulus, mereka berhak memilih. Itu adalah hari kebebasan


nomer dua setelah hari ini bagi seluruh siswa Mooneta.


Mereka bisa kembali ke rumahnya masing-masing, atau bahkan


tetap berada di sini. Tidak ada tuntutan sama sekali. Mereka semua bisa memilih


salah satu opsi dari kedua pilihan yang telah disediakan. Pasti anak-anak itu


telah mempertimbangkannya dari jauh-jauh hari. Sebab, itu bukan keputusan yang


mudah.


“Lantas, apa kau tahu kenapa Paman Johnson memilih untuk


membuka toko sepatu?” tanya Nhea secara acak.


Oliver tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Melainkan, ia tampak berpikir lebih dulu. Mencari jawaban yang paling tepat.


“Tidak ada yang benar-benar tahu apa alasannya,” jawab


Oliver.


“Kau tidak harus menjadi seorang penyihir setelah lulus


nanti. Lakukan saja apa pun yang kau mau,” jelasnya kemudian.


Kali ini Nhea kembali merasa sependapat dengan gadis itu.


Terutama pada kalimat terakhir yang sempat terlontar keluar dari mulutnya.


Pasti Paman Johnson memiliki beberapa alasan yang cukup


kuat. Tentang kenapa ia lebih memutuskan untuk membuka toko sepatu daripada


mengabdi untuk akademi sihir Mooneta.


Singkat cerita, mereka tiba di salah satu gang yang mengarah


langsung ke toko sepatu miliki Paman Johnson. Nhea bahkan bisa melihatnya dari


kejauhan karena plakat nama yang tergantung cukup besar. Ia yakin siapa pun


yang melewati jalanan ini secara sengaja atau tidak, pasti akan melihat ke arah


tokonya.


“Apakah itu tokonya?” tanya Nhea untuk memastikan.


“Kau benar!” jawab Oliver.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera bergegas menuju


tempat tersebut. Kebetulan tokonya tampak sedang sepi. Tidak ada pengunjung.


Entah memang sepi, atau bagaimana. Tapi, ini adalah sebuah kesempatan bagus


bagi mereka. Dengan begitu, Nhea dan Oliver bisa berkeliling toko dengan bebas.


Yang benar saja. Sungguh tidak ada orang sama sekali di


dalamnya. Itu adalah pemandangan yang pertama kali mereka dapatkan begitu


sampai di depan pintu toko. Kebetulan pintu serta dinding bagian depannya


terbuat dari kaca transparan. Sehingga memudahkan orang-orang untuk mmengamati


apa saja yang terjadi di dalam sana.


Keduanya saling melempar pandangan antara satu sama lain


untuk beberapa saat. Sepertinya mereka ingin menyampaikan sesuatu tanpa harus


bersuara. Atmosfirnya sungguh berbeda jauh saat mereka sampai di sini. Padahal


ia terletak di sekitar keramaian.


Tanpa pikir panjng lagi, Oliver memutuskan untuk masuk ke


dalam lebih dulu. Dia adalah orang pertama yang melangkahkan kakinya di sini. Kemudian


disusul oleh Nhea yang melangkah tepat di belakangnya. Sangking sepinya, bahkan


suara derap langkah kaki mereka sampai menggema di dalam ruangan ini. Bukan hanya


itu saja. Suara deru napas mereka saja bisa terdengar dengan jelas.


“Apakah tidak ada orang di sini?” batin Nhea dalam hati.


“Apakah tokonya sedang tutup?” lanjutnya.


Gadis itu berasumsi jika sedang tidak ada siapa pun di

__ADS_1


tempat ini. Pasalnya, dari tadi Nhea sama sekali tidak bisa menemukan seorang


pun di dalamnya. Tidak ada orang lain selain mereka berdua. Sebenarnya kemana


semua orang. Anggap saja jika toko ini memang tidak memiliki pegawai dan sedang


sepi pengunjung. Tapi, kemana Paman Johnson? Bukannya seharusnya ia tetap


berada di sekitar sini untuk menjaga toko miliknya? Kenapa ia membiarkan tempat


ini begitu saja? Tidakkah ia merasa khawatir jika sampai ada barangnya yang


hilang karena dicuri?


‘TAP! TAP! TAP!’


Mereka terus berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di


ruangan tersebut. Tidak peduli dengan kesunyian yang perlahan mencekik.


“Ada yang bisa kubantu?”


Secara tiba-tiba suara seseorang muncul dari balik pintu


masuk. Sontak keduanya langsung berbalik ke arah sumber suara. Jantung Nhea


akan copot rasanya pada saat itu. Tapi, kenyataannya bukan hanya Nhea saja.


Bahkan Oliver juga merasakan hal yang sama persis.


Salah satu tangannya meraih ujung rak sepatu untuk menahan


berat tubuhnya. Lututnya mendadak terasa lemas. Kakinya bergetar hebat. Beruntung


Nhea cukup sigap untuk menahan tubuh gadis ini agar dia tidak terjatuh. Jadi,


tubuhnya belum sempat menyentuh lantai.


Oliver mendadak kehilangan seluruh kekuatannya karena


terkejut. Ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin sudah yang kesekian. Nyaris setiap


kali merasa terkejut, dia selalu seperti ini.


“Apa kau tidak apa-apa?” tanya seorang pria. Masih dengan


orang yang sama.


Dari raut wajahnya, bisa disimpulkan jika ia tengah merasa


khawatir. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera beranjak dari posisinya yang


semula berada di ambang pintu untuk menghampiri Oliver yang tampaknya tidak


baik-baik saja.


Mungkin ada rasa bersalah yang terselip di dalam relung


hatinya saat ini. Orang yang diyakini sebagai Paman Johnson itu membantu Oliver


untuk kembali bangkit. Sebenarnya kondisinya tidak terlalu serius. Tubuhnya hanya


memberikan reaksi yang terlalu berlebihan saat sedang terkejut.


“Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu sekali lagi.


“Ini sudah biasa terjadi padaku,” jawab Oliver secara gamblang.


“Maafkan aku karena telah merepotkanmu,” lanjutnya sembari


merapihkan tatanan rambutnya yang berantakan.


“Ah, tidak! Seharusnya aku yang meminta maaf,” tepis pria


tersebut.

__ADS_1


“Aku sudah keterlaluan sampai


membuatmu menjadi seperti ini,” jelasnya secara singkat.


__ADS_2