
Pria itu masih tetap setia untuk
menunggu jawaban dari Nhea. Apa pun yang dikatakan oleh gadis itu, pasti akan
langsung ia lakukan tanpa pikir panjang.
“Sebenarnya, aku sma sekali tidak
tahu harus bagaimana,” ungkap Nhea dengan pasrah.
Di dalam dirinya ada dua sisi
yang sedang saling beradu. Sebenarnya ia sangat ingin merebut kembali haknya.
Eun Ji Hae sama sekali tidak berhak atas mahkota tersebut. Namun, di sisi lain
ia juga tidak tahu harus memulainya dari mana dan kapan.
“Kalau begitu, biar aku yang
membuat rencananya!” usul pria itu dengan antusias.
Meskipun begitu, ia tetap menjaga
volume suaranya sendiri agar tidak terdengar oleh yang lainnya. Suara kecil
sekali pun bisa terdengar cukup jelas dalam ruangan yang senyap seperti ini.
Entah kenapa bisa tidak ada satu pun yang bersuara padahal ada begitu banyak
orang di dalam ruangan ini.
Taat peraturan memang penting. Tapi,
sesekali kau perlu memberontak. Orang bilang, kau tidak akan menemukan sesuatu
yang berkesan jika hanya berada di jalan yang benar. Sesekali kau perlu lari
dari jalur agar merasakan sisi buruk dari kehidupan. Dunia terlalu keras untuk
orang baik. Sesekali kau juga perlu bersikap jahat.
Pada dasarnya Nhea dan Chanwo
bukan orang jahat. Tapi, terkhusus untuk hari ini mereka perlu berbuat
demikian. Dengan begitu semua orang tidak bisa pandang remeh kepada mereka.
“Memangnya apa rencanamu?” tanya
Nhea penasaran.
Sejauh ini otaknya masih terasa
buntu. Ia tidak bisa menemukan ide apa pun. Padahal biasanya otak akan bekerja
jauh lebih cepat jika kau dalam kondisi terdesak. Tapi pada kenyataannya hal
tersebut sama sekali tidak berlaku bagi gadis yang satu ini. Tidak peduli
seberapa keras ia memutar otak untuk mencari jalan keluarnya, tapi hasilnya
tetap sama saja seperti yang sebelumnya. Nihil.
“Tungguh sebentar,” ucap pria itu
kemudian mengalihkan pandangannya.
Ia menatap lurus sebuah objek
yang berada jauh di depan sana. Memangnya apa lagi jika bukan mahkota. Hanya itu
tujuan mereka satu-satunya. Tidak ada yang lain untuk saat ini. Raut wajahnya
tampak begitu serius. Fokusnya bahkan tidak teralihkan sama sekali. Tampaknya benda
tersebut berhasil mencuri seluruh perhatiannya.
Tidak perlu waktu lama bag Chanwo
uuntuk berpikir. Sepertinya ia sudah cukup terbiasa untuk memecahkan masalah. Sehingga
hal seperti ini sama sekali tidak terasa sulit baginya. Berbanding terbalik
__ADS_1
dengan Nhea. Jangankan membantu orang lain untuk memecahkan masalahnya. Masalah
pribadinya saja tidak pernah ia tuntaskan sendirian.
Meski belum bisa menjadi pemimpin
yang baik seperti Chanwo, setidaknya ia bisa jauh lebih baik dari pada Eun Ji
Hae. Gadis itu sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menjadi
seperti mereka. Keluarganya telah memasang terlalu banyak topeng di hadapan
orang lain, dan Nhea tahu itu.
‘KLIK!’
Pandangan gadis itu teralihkan ke
arah sumber suara. Indera pendengarannya baru saja menangkap sebuah suara yang
sepertinya berada dalam radius satu meter. Ternyata benar. Chanwwo baru saja
menjentikkan jarinya.
“Apa kau sudah menemukan
rencananya?” tanya Nhea.
Gadis itu memutuskan untuk
bertanya lebih dulu. Ia perlu memastikan sesuatu sebelum bertanya lebih lanjut
lagi.
“Apa kau masih meragukanku?”
tanya pria itu balik.
“Kau bisa mengandalkanku kapan
saja!” sombongnya.
Mendengar perkataan seperti itu,
matanya dengan malas, sebagai bentuk reaksi atas ucapan Chanwo tadi.
“Tidak usah banyak bicara!” cecar
Nhea.
“Katakan saja apa rencananya!”
titah gadis itu.
Nhea sudah tidak sabar untuk
mendengar rencana bagus seperti apa yang dimiliki oleh pria itu. Apakah memang
benar-benar bisa melumpuhkan Eun Ji Hae dan yang lainnya untuk kali ini. Atau paling
tidak untuk merebuk mahkota itu kembali lagi saja.
Menyadari hal tersebut, Chanwo
lantas buru-buru berniat menyampaikan isi pikirannya. Untuk menghindari
bocornya informasi yang bersifat rahasia tersebut, Chanwo lantas mendekatkan
wajahnya ke arah gadis itu. Ia membisikkan segalanya tepat di telinga Nhea.
Entah apa tanggapan gadis itu
tentang rencana tersebut. Dia tidak pernah tahu. Tapi, itu adalah persoalan
nomer dua. Yang pertama, Chanwo perlu menyampaikan hal tersebut.
Chanwo memang terbilang cukup
jarang dalam membuat rencana-rencana untuk melawan orang lain seperti itu.
Pasalnya, selama berada di dalam hutan kegelapan, itu berarti jika mereka akan
tetap aman. Tidak ada seorang pun yang berani menginjakkan kakinya di sana.
__ADS_1
Kecuali mereka yang memiliki nyali lebih.
“Jadi bagaimana menurutmu?” tanya Chanwo beberapa detik setelahnya.
Nhea tidak langsung menjawab. Ia tampak
berpikir terlebuh dahulu. Mempertimbangkan segala hal yang perlu
dipertimbangkan.
“Rencanamu bagus juga,” puji
gadis itu dengan apa adanya.
Sepertinya kali ini mereka akan
kembali bekerja sama lagi. Lupakan saja soal niatnya yang tadi untuk tidak
melibatkan siapa pun. Kali ini Nhea tidak akan bisa menaklukkan Eun Ji Hae
dengan mudah. Ia menyadari hal tersebut.
“Hari ini, kami mengundang kalian
semua untuk datang kemari dalam acara penobatan Eun Ji Hae sebagai pimpinan
akademi sihir Mooneta yang baru,” ungkap Vallery secara gamblang.
“Terima kasih telah hadir,”
sambung Eun Ji Hae yang sudah berada di podium.
Sontak penjelasan dari Vallery
barusan berhasil memicu keributan yang tak terkira. Semua orang merasa
terkejut. Bagaimana bisa mereka tidak bisa mengetahui informasi penting seperti
ini. Mereka masih tidak mengira jika Nhea akan digantikan dengan Eun Ji Hae
pada akhirnya.
Sementara itu, Eun Ji Hae tampak
tersenyum miring di depan sana. Sepertinya ia begitu menikmati suasana kali
ini. Eun Ji Hae sama sekali tidak mempermasalahkan keributan yang sedang
terjadi. Gadis itu sudah menduga jika hal seperti ini akan terjadi sebelumnya.
Bukan soal keributan ini saja.
Mereka bahkan tampaknya sudah memprediksi setiap hal yang akan terjadi di dalam
ruangan ini. Jadi, bukan sesuatu yang mengejutkan lagi nantinya.
Namun, ekspresinya menddak
berubah begitu melihat Nhea. Sepertinya tidak semua hal berjalan sesuai dengan
kehendaknya. Bagaimana bisa Nhea tetap tampak begitu tenang. Sementara ia tahu
jika saat ini sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk maju sebagai pimpinan
akademi. Sebab, Eun Ji Hae telah mengambil posisi itu lebih dulu.
“Jika Eun Ji Hae berharap agar
kau merasa terintimidasi, maka sepertinya ia gagal untuk yang satu itu,” gumam
Chanwo sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Nhea mengangguk, meniyakan
perkataan pria itu. Kali ini mereka sependapat.
“Mustahil jika gadis itu sudah
mengetahui semuanya. Tap, dari siapa? Dan bagaimana bisa ia tahu?” batin Eun Ji
Hae di dalam hati.
“Ah. tidak
__ADS_1
mungkin! Pasti hanya perasaanku saja,” lanjutnya.