Mooneta High School

Mooneta High School
Fixed Plan


__ADS_3

Pria itu masih tetap setia untuk


menunggu jawaban dari Nhea. Apa pun yang dikatakan oleh gadis itu, pasti akan


langsung ia lakukan tanpa pikir panjang.


“Sebenarnya, aku sma sekali tidak


tahu harus bagaimana,” ungkap Nhea dengan pasrah.


Di dalam dirinya ada dua sisi


yang sedang saling beradu. Sebenarnya ia sangat ingin merebut kembali haknya.


Eun Ji Hae sama sekali tidak berhak atas mahkota tersebut. Namun, di sisi lain


ia juga tidak tahu harus memulainya dari mana dan kapan.


“Kalau begitu, biar aku yang


membuat rencananya!” usul pria itu dengan antusias.


Meskipun begitu, ia tetap menjaga


volume suaranya sendiri agar tidak terdengar oleh yang lainnya. Suara kecil


sekali pun bisa terdengar cukup jelas dalam ruangan yang senyap seperti ini.


Entah kenapa bisa tidak ada satu pun yang bersuara padahal ada begitu banyak


orang di dalam ruangan ini.


Taat peraturan memang penting. Tapi,


sesekali kau perlu memberontak. Orang bilang, kau tidak akan menemukan sesuatu


yang berkesan jika hanya berada di jalan yang benar. Sesekali kau perlu lari


dari jalur agar merasakan sisi buruk dari kehidupan. Dunia terlalu keras untuk


orang baik. Sesekali kau juga perlu bersikap jahat.


Pada dasarnya Nhea dan Chanwo


bukan orang jahat. Tapi, terkhusus untuk hari ini mereka perlu berbuat


demikian. Dengan begitu semua orang tidak bisa pandang remeh kepada mereka.


“Memangnya apa rencanamu?” tanya


Nhea penasaran.


Sejauh ini otaknya masih terasa


buntu. Ia tidak bisa menemukan ide apa pun. Padahal biasanya otak akan bekerja


jauh lebih cepat jika kau dalam kondisi terdesak. Tapi pada kenyataannya hal


tersebut sama sekali tidak berlaku bagi gadis yang satu ini. Tidak peduli


seberapa keras ia memutar otak untuk mencari jalan keluarnya, tapi hasilnya


tetap sama saja seperti yang sebelumnya. Nihil.


“Tungguh sebentar,” ucap pria itu


kemudian mengalihkan pandangannya.


Ia menatap lurus sebuah objek


yang berada jauh di depan sana. Memangnya apa lagi jika bukan mahkota. Hanya itu


tujuan mereka satu-satunya. Tidak ada yang lain untuk saat ini. Raut wajahnya


tampak begitu serius. Fokusnya bahkan tidak teralihkan sama sekali. Tampaknya benda


tersebut berhasil mencuri seluruh perhatiannya.


Tidak perlu waktu lama bag Chanwo


uuntuk berpikir. Sepertinya ia sudah cukup terbiasa untuk memecahkan masalah. Sehingga


hal seperti ini sama sekali tidak terasa sulit baginya. Berbanding terbalik

__ADS_1


dengan Nhea. Jangankan membantu orang lain untuk memecahkan masalahnya. Masalah


pribadinya saja tidak pernah ia tuntaskan sendirian.


Meski belum bisa menjadi pemimpin


yang baik seperti Chanwo, setidaknya ia bisa jauh lebih baik dari pada Eun Ji


Hae. Gadis itu sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menjadi


seperti mereka. Keluarganya telah memasang terlalu banyak topeng di hadapan


orang lain, dan Nhea tahu itu.


‘KLIK!’


Pandangan gadis itu teralihkan ke


arah sumber suara. Indera pendengarannya baru saja menangkap sebuah suara yang


sepertinya berada dalam radius satu meter. Ternyata benar. Chanwwo baru saja


menjentikkan jarinya.


“Apa kau sudah menemukan


rencananya?” tanya Nhea.


Gadis itu memutuskan untuk


bertanya lebih dulu. Ia perlu memastikan sesuatu sebelum bertanya lebih lanjut


lagi.


“Apa kau masih meragukanku?”


tanya pria itu balik.


“Kau bisa mengandalkanku kapan


saja!” sombongnya.


Mendengar perkataan seperti itu,


matanya dengan malas, sebagai bentuk reaksi atas ucapan Chanwo tadi.


“Tidak usah banyak bicara!” cecar


Nhea.


“Katakan saja apa rencananya!”


titah gadis itu.


Nhea sudah tidak sabar untuk


mendengar rencana bagus seperti apa yang dimiliki oleh pria itu. Apakah memang


benar-benar bisa melumpuhkan Eun Ji Hae dan yang lainnya untuk kali ini. Atau paling


tidak untuk merebuk mahkota itu kembali lagi saja.


Menyadari hal tersebut, Chanwo


lantas buru-buru berniat menyampaikan isi pikirannya. Untuk menghindari


bocornya informasi yang bersifat rahasia tersebut, Chanwo lantas mendekatkan


wajahnya ke arah gadis itu. Ia membisikkan segalanya tepat di telinga Nhea.


Entah apa tanggapan gadis itu


tentang rencana tersebut. Dia tidak pernah tahu. Tapi, itu adalah persoalan


nomer dua. Yang pertama, Chanwo perlu menyampaikan hal tersebut.


Chanwo memang terbilang cukup


jarang dalam membuat rencana-rencana untuk melawan orang lain seperti itu.


Pasalnya, selama berada di dalam hutan kegelapan, itu berarti jika mereka akan


tetap aman. Tidak ada seorang pun yang berani menginjakkan kakinya di sana.

__ADS_1


Kecuali mereka yang memiliki nyali lebih.


“Jadi bagaimana menurutmu?”  tanya Chanwo beberapa detik setelahnya.


Nhea tidak langsung menjawab. Ia tampak


berpikir terlebuh dahulu. Mempertimbangkan segala hal yang perlu


dipertimbangkan.


“Rencanamu bagus juga,” puji


gadis itu dengan apa adanya.


Sepertinya kali ini mereka akan


kembali bekerja sama lagi. Lupakan saja soal niatnya yang tadi untuk tidak


melibatkan siapa pun. Kali ini Nhea tidak akan bisa menaklukkan Eun Ji Hae


dengan mudah. Ia menyadari hal tersebut.


“Hari ini, kami mengundang kalian


semua untuk datang kemari dalam acara penobatan Eun Ji Hae sebagai pimpinan


akademi sihir Mooneta yang baru,” ungkap Vallery secara gamblang.


“Terima kasih telah hadir,”


sambung Eun Ji Hae yang sudah berada di podium.


Sontak penjelasan dari Vallery


barusan berhasil memicu keributan yang tak terkira. Semua orang merasa


terkejut. Bagaimana bisa mereka tidak bisa mengetahui informasi penting seperti


ini. Mereka masih tidak mengira jika Nhea akan digantikan dengan Eun Ji Hae


pada akhirnya.


Sementara itu, Eun Ji Hae tampak


tersenyum miring di depan sana. Sepertinya ia begitu menikmati suasana kali


ini. Eun Ji Hae sama sekali tidak mempermasalahkan keributan yang sedang


terjadi. Gadis itu sudah menduga jika hal seperti ini akan terjadi sebelumnya.


Bukan soal keributan ini saja.


Mereka bahkan tampaknya sudah memprediksi setiap hal yang akan terjadi di dalam


ruangan ini. Jadi, bukan sesuatu yang mengejutkan lagi nantinya.


Namun, ekspresinya menddak


berubah begitu melihat Nhea. Sepertinya tidak semua hal berjalan sesuai dengan


kehendaknya. Bagaimana bisa Nhea tetap tampak begitu tenang. Sementara ia tahu


jika saat ini sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk maju sebagai pimpinan


akademi. Sebab, Eun Ji Hae telah mengambil posisi itu lebih dulu.


“Jika Eun Ji Hae berharap agar


kau merasa terintimidasi, maka sepertinya ia gagal untuk yang satu itu,” gumam


Chanwo sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Nhea mengangguk, meniyakan


perkataan pria itu. Kali ini mereka sependapat.


“Mustahil jika gadis itu sudah


mengetahui semuanya. Tap, dari siapa? Dan bagaimana bisa ia tahu?” batin Eun Ji


Hae di dalam hati.


“Ah. tidak

__ADS_1


mungkin! Pasti hanya perasaanku saja,” lanjutnya.


__ADS_2