Mooneta High School

Mooneta High School
Talking


__ADS_3

Nhea masih tetap duduk di taman sendirian. Bahkan gadis itu


masih tetap berada di tempat yang sama. Dia sama sekali tidak beranjak dari


tempat duduknya sejak tadi. Sementara itu, berbeda ceritanya dengan Oliver. Gadis


itu sudah meninggalkan tempat tersebut sejak beberapa saat yang lalu. Mengingat


ada beberapa urusan penting yang harus ia kerjakan. Oliver menjadi lumayan


sibuk belakangan ini. Mungkin dia ingin menikmati saat-saat terakhirnya sebagai


ketua asrama. Hanya tersisa beberapa bulan lagi sebelum jabatan mereka dicabut.


Kemudian, setelahnya Nhea akan naik posisi dan menggantikan Oliver serta


Jongdae secara bersamaan.


Berbeda dengan teman-temannya yang lain, Nhea sama sekali


tidak disibukkan oleh apa pun hari ini. Bahkan hati-hari sebelumnya tidak ada


bedanya dengan yang sekarang. Mungkin di masa depan akan berbeda drastis. Tidak


ada yang bisa memastikan soal apa yang akan terjadi di masa depan. Terkadang


memang lebih baik tidak tahu apa pun soal masa depan. Karena, semesta pasti


memiliki beberapa rahasia yang tidak perlu diungkap.


“Hai!” sapa seseorang yang tiba-tiba muncul.


Nhea tidak langsung membalasnya dengan sapaan serupa.


Kedua netranya menangkap sepasang kaki yang terbungkus rapih


dalam sepatu pantofel mengkilat. Jika dilihat dari model sepatunya, bisa


dipastikan jika ia adalah seorang pria. Dengan perasaan ragu yang bercampur


dengan rasa penasaran, Nhea perlahan mulai menegakkan kepalanya. Beberapa detik


setelahnya, ia malah mendapati sesosok pria berpostur tegap yang tengah berdiri


di hadapannya saat ini. Orang itu diyakini sebagai Chanwo.


“Hai!” balas Nhea dengan nada datar.


Kedua sudut bibir pria itu terangkat, sehingga membentuk


sebuah senyuman yang terpatri di wajahnya. Chanwo biasanya tidak pernah seperti


ini. Tersenyum saja nyaris tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Sepertinya


Chanwo benar-benar sudah siap untuk hidup selayaknya manusia pada umumnya. Selama


ini dia telah hidup di tengah-tengah mahluk bernama manusia. Sudah jelas jika


mereka bukan salah satu bagian dari kaumnya. Tapi, sejauh ini Chanwo bisa


menyesuaikan diri dengan segala macam perbedaan itu. Dia mulai terbiasa. Tidak


ada masalah serius, kecuali Wilson.


“Boleh aku duduk di sini bersamamu?” tanya Chanwo. Dia perlu

__ADS_1


memastikan sesuatu terlebih dahulu.


Nhea yang mendengar pertanyaan tersebut langsung mengangguk


cepat, kemudian berkata, “Tentu saja!”


Tanpa pikir panjang lagi, ia segera mengambil posisi tepat


di sebelah gadis itu. Nhea sudah duduk termangu sendirian sejak tadi. Ia pikir


tidak ada salahnya menemani gadis ini sebentar. Dia pasti akan merasa sangat


bosan jika menghabiskan waktu tanpa lawan bicara. Kecuali jika Nhea memang


sudah cukup terbiasa untuk menghadapi situasi seperti itu. Setidaknya, Wilson


tidak akan langsung menyerangnya sekarang juga. Chanwo tahu persis jika dia


bukan seseorang yang bertindak gegabah. Dia juga tidak ingin menjadi pusat


perhatian. Berbeda dengan Eun Ji Hae yang sudah cukup terbiasa menjadi pusat


perhatian selama ini.


“Omong-omong, apa kau masih belum berbaikan dengan


teman-temanmu?” tanya Chanwo.


Pria itu memutuskan untuk buka suara lebih dulu. Dengan


begitu, sebuah dialog akan tercipta nantinya.


“Belum semuanya,” ujar Nhea secara gamblang.


“Apa maksudmu?” balas pria itu sembari mengerutkan dahinya.


Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan Chanwo tadi. Ia


menarik napasnya dalam-dalam. Mengisi seluruh rongga di dalam paru-parunya


dengan pasokan oksigen yang baru saja ia dapat. Entah seberapa banyak hal yang


akan ia katakan. Sampai-sampai membutuhkan pnapas sebanyak itu.


“Apa kau sungguh tidak mengerti dengan maksudku barusan?”


tanya Nhea.


Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Chanwo.


Tatapannya tidak terlalu tajam, namum cukup kuat untuk mengintimidari lawan


bicaranya kali ini. Tak ingin membuang waktu terlalu lama, Chanwo segera


mengangguk untuk mengiyakan perkataan gadis itu tadi. Dia tahu jelas jika Nhea


tidak suka menunggu dan ditunggu.


Untuk yang kesekian kalinya Nhea kembali menghela napasnya


dengan kasar. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sedang


mereka tempati saat ini. Dari raut wajahnya terlihat jelas jika ia tidak suka


jika harus mengulangi kalimat yang sama untuk kedua kalinya. Namun, mau tidak

__ADS_1


mau Nhea tetap harus melakukannya kali ini.


“Sebenarnya aku sudah memaafkan mereka semua. Tapi, hanya


satu dari mereka bertiga yang meminta maaf kepadaku sampai saat ini,” jelas


Nhea sebagai pembuka.


“Siapa orang yang sudah meminta maaf itu?” tanya Chanwo.


“Oliver,” jawab gadis itu dengan singkat.


“Hanya Oliver saja sejauh ini? Kemana yang lainnya?” tanya


Chanwo lagi.


“Ya, baru dia saja,” balas Nhea acuh tak acuh.


Dia sedang tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut. Jika


dipikir-pikir, tidak terlalu penting sebenarnya. Berbeda dengan Chanwo yang


sama sekali tidak habis pikir dengan keduanya. Bagaimana bisa mereka tidak bisa


menyempatkan diri untuk meminta maaf sama sekali. Bahkan hal itu hanya memakan


waktu beberapa menit saja. Tidak sampai harus menunda kegiatan penting mereka.


“Sepertinya mereka memang benar-benar tidak merasa


bersalah,” cicit pria itu pelan.


Tapi, ternyata volume suaranya belum cukup pelan. Kalimat


tersebut masih terdengar dengan jelas di telinga Nhea. Membuat gadis itu


langsung menoleh ke arah Chanwo dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.


“Ada apa?” tanya Chanwo yang tampaknya langsung menyadari


situasi tersebut.


“Ah, tidak! Bukan apa-apa,” tepis Nhea dengan segera.


Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya ke seberang.


Memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk berlalu lalang. Keramaian yang


terjadi di sini dengan di pusat kota sungguh berbeda jauh. Diam-diam ia


merindukan kehidupannya yang dulu. Tapi, entah bagaimana caranya untuk


melarikan diri dari dimensi ini. Untuk sementara memang tidak ada yang bisa ia


lakukan.


“Omong-omong, kenapa kau tidak kembali ke tempat asalmu?”


tanya Nhea penasaran.


“Kudengar jika kalian tidak bisa terpapar sinar matahari


barang sedikit saja,” lanjutnya.


“Jadi, berarti aku akan begitu

__ADS_1


juga nanti,” simpul gadis itu pada akhirnya.


__ADS_2