
Nhea masih tetap duduk di taman sendirian. Bahkan gadis itu
masih tetap berada di tempat yang sama. Dia sama sekali tidak beranjak dari
tempat duduknya sejak tadi. Sementara itu, berbeda ceritanya dengan Oliver. Gadis
itu sudah meninggalkan tempat tersebut sejak beberapa saat yang lalu. Mengingat
ada beberapa urusan penting yang harus ia kerjakan. Oliver menjadi lumayan
sibuk belakangan ini. Mungkin dia ingin menikmati saat-saat terakhirnya sebagai
ketua asrama. Hanya tersisa beberapa bulan lagi sebelum jabatan mereka dicabut.
Kemudian, setelahnya Nhea akan naik posisi dan menggantikan Oliver serta
Jongdae secara bersamaan.
Berbeda dengan teman-temannya yang lain, Nhea sama sekali
tidak disibukkan oleh apa pun hari ini. Bahkan hati-hari sebelumnya tidak ada
bedanya dengan yang sekarang. Mungkin di masa depan akan berbeda drastis. Tidak
ada yang bisa memastikan soal apa yang akan terjadi di masa depan. Terkadang
memang lebih baik tidak tahu apa pun soal masa depan. Karena, semesta pasti
memiliki beberapa rahasia yang tidak perlu diungkap.
“Hai!” sapa seseorang yang tiba-tiba muncul.
Nhea tidak langsung membalasnya dengan sapaan serupa.
Kedua netranya menangkap sepasang kaki yang terbungkus rapih
dalam sepatu pantofel mengkilat. Jika dilihat dari model sepatunya, bisa
dipastikan jika ia adalah seorang pria. Dengan perasaan ragu yang bercampur
dengan rasa penasaran, Nhea perlahan mulai menegakkan kepalanya. Beberapa detik
setelahnya, ia malah mendapati sesosok pria berpostur tegap yang tengah berdiri
di hadapannya saat ini. Orang itu diyakini sebagai Chanwo.
“Hai!” balas Nhea dengan nada datar.
Kedua sudut bibir pria itu terangkat, sehingga membentuk
sebuah senyuman yang terpatri di wajahnya. Chanwo biasanya tidak pernah seperti
ini. Tersenyum saja nyaris tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Sepertinya
Chanwo benar-benar sudah siap untuk hidup selayaknya manusia pada umumnya. Selama
ini dia telah hidup di tengah-tengah mahluk bernama manusia. Sudah jelas jika
mereka bukan salah satu bagian dari kaumnya. Tapi, sejauh ini Chanwo bisa
menyesuaikan diri dengan segala macam perbedaan itu. Dia mulai terbiasa. Tidak
ada masalah serius, kecuali Wilson.
“Boleh aku duduk di sini bersamamu?” tanya Chanwo. Dia perlu
__ADS_1
memastikan sesuatu terlebih dahulu.
Nhea yang mendengar pertanyaan tersebut langsung mengangguk
cepat, kemudian berkata, “Tentu saja!”
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera mengambil posisi tepat
di sebelah gadis itu. Nhea sudah duduk termangu sendirian sejak tadi. Ia pikir
tidak ada salahnya menemani gadis ini sebentar. Dia pasti akan merasa sangat
bosan jika menghabiskan waktu tanpa lawan bicara. Kecuali jika Nhea memang
sudah cukup terbiasa untuk menghadapi situasi seperti itu. Setidaknya, Wilson
tidak akan langsung menyerangnya sekarang juga. Chanwo tahu persis jika dia
bukan seseorang yang bertindak gegabah. Dia juga tidak ingin menjadi pusat
perhatian. Berbeda dengan Eun Ji Hae yang sudah cukup terbiasa menjadi pusat
perhatian selama ini.
“Omong-omong, apa kau masih belum berbaikan dengan
teman-temanmu?” tanya Chanwo.
Pria itu memutuskan untuk buka suara lebih dulu. Dengan
begitu, sebuah dialog akan tercipta nantinya.
“Belum semuanya,” ujar Nhea secara gamblang.
“Apa maksudmu?” balas pria itu sembari mengerutkan dahinya.
Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan Chanwo tadi. Ia
menarik napasnya dalam-dalam. Mengisi seluruh rongga di dalam paru-parunya
dengan pasokan oksigen yang baru saja ia dapat. Entah seberapa banyak hal yang
akan ia katakan. Sampai-sampai membutuhkan pnapas sebanyak itu.
“Apa kau sungguh tidak mengerti dengan maksudku barusan?”
tanya Nhea.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Chanwo.
Tatapannya tidak terlalu tajam, namum cukup kuat untuk mengintimidari lawan
bicaranya kali ini. Tak ingin membuang waktu terlalu lama, Chanwo segera
mengangguk untuk mengiyakan perkataan gadis itu tadi. Dia tahu jelas jika Nhea
tidak suka menunggu dan ditunggu.
Untuk yang kesekian kalinya Nhea kembali menghela napasnya
dengan kasar. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sedang
mereka tempati saat ini. Dari raut wajahnya terlihat jelas jika ia tidak suka
jika harus mengulangi kalimat yang sama untuk kedua kalinya. Namun, mau tidak
__ADS_1
mau Nhea tetap harus melakukannya kali ini.
“Sebenarnya aku sudah memaafkan mereka semua. Tapi, hanya
satu dari mereka bertiga yang meminta maaf kepadaku sampai saat ini,” jelas
Nhea sebagai pembuka.
“Siapa orang yang sudah meminta maaf itu?” tanya Chanwo.
“Oliver,” jawab gadis itu dengan singkat.
“Hanya Oliver saja sejauh ini? Kemana yang lainnya?” tanya
Chanwo lagi.
“Ya, baru dia saja,” balas Nhea acuh tak acuh.
Dia sedang tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut. Jika
dipikir-pikir, tidak terlalu penting sebenarnya. Berbeda dengan Chanwo yang
sama sekali tidak habis pikir dengan keduanya. Bagaimana bisa mereka tidak bisa
menyempatkan diri untuk meminta maaf sama sekali. Bahkan hal itu hanya memakan
waktu beberapa menit saja. Tidak sampai harus menunda kegiatan penting mereka.
“Sepertinya mereka memang benar-benar tidak merasa
bersalah,” cicit pria itu pelan.
Tapi, ternyata volume suaranya belum cukup pelan. Kalimat
tersebut masih terdengar dengan jelas di telinga Nhea. Membuat gadis itu
langsung menoleh ke arah Chanwo dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.
“Ada apa?” tanya Chanwo yang tampaknya langsung menyadari
situasi tersebut.
“Ah, tidak! Bukan apa-apa,” tepis Nhea dengan segera.
Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya ke seberang.
Memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk berlalu lalang. Keramaian yang
terjadi di sini dengan di pusat kota sungguh berbeda jauh. Diam-diam ia
merindukan kehidupannya yang dulu. Tapi, entah bagaimana caranya untuk
melarikan diri dari dimensi ini. Untuk sementara memang tidak ada yang bisa ia
lakukan.
“Omong-omong, kenapa kau tidak kembali ke tempat asalmu?”
tanya Nhea penasaran.
“Kudengar jika kalian tidak bisa terpapar sinar matahari
barang sedikit saja,” lanjutnya.
“Jadi, berarti aku akan begitu
__ADS_1
juga nanti,” simpul gadis itu pada akhirnya.