Mooneta High School

Mooneta High School
Flashback


__ADS_3

Terlepas dari semua ketentuan itu tadi, semua orang tahu


jika Nhea adalah orang yang memiliki posisi paling penting di dalam keluarga


ini. Dia adalah satu-satunya orang yang memenuhi kriteris untuk disebut sebagai


generasi pertama. Ia jauh lebih penting dan berarti dari apa pun. Tidak ada


yang bisa mengimbangi atau bahkan menggeser posisinya saat ini.


Perlu diketahu jika Nhea selalu mendapatkan perlindungan


dari keluarga besarnya. Baik secara langsung maupun tidak. Namun, gadis itu


kerap kali tidak sadar. Sebenarnya hal itu wajar saja. Mereka akan melakukan


segala hal untuk melindungi satu-satunya permata berharga di keluarga mereka.


Vallery dan Wilson akan memastikan jika tidak ada seorang pun yang bisa


menyentuh. Apalagi sampai menyakiti gadis ini.


Nasib akademi sihir Mooneta berikutnya berada di tangannya.


Ia yang akan menentukan bagaimana nasib akademi ini kedepannya. Banyak orang


yang menaruh harapan besar kepada gadis ini. Mungkin ia tidak sebaik Bibi Ga


Eun atau Eun Ji Hae jika soal kepemimpinan. Tetapi, dia bisa melakuka apa saja.


Nhea termasuk kepada orang yang multitalenta. Tidak seperti kebanyakan orang


pada umumnya. Gadis ini memang sedikit berbeda.


“Kita harus pergi meninggalkan Nhea saat ini juga dan kembali


ke Mooneta,” ujar Wilson pada malam itu.


“Tapi, bagaimana bisa kau berpikir untuk meninggalkan anakmu


sendirian di sini?!” protes Vallery tak terima.


Jelas ia tidak sudi jika harus berpisah dengan anak semata


wayangnya kala itu. Ibu mana yang mau mengalami nasib demikian. Kalau bisa,


mereka akan terus berada bersama buah hatinya sampai maut datang menjemput.


“Kau terlalu egois Vallery!” sarkas pria itu.


“Kau yang egois!” balas Vallery yang tak mau kalah.


“Jika kita tetap berada di sini, maka kau tidak akan pernah


bertemu dengan anak kita lagi. Mungkin kita semua akan mati hari ini juga,”


jelas Wilson dengan panjang lebar.


Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi situasi seperti ini.


Apalagi berhadapan dengan seorang wanita.


“Pikirkan itu baik-baik!” ucapnya dengan puh penekanan.


Vallery mulai tampak jauh lebih tenang dari pada sebelumnya.


Meski tak bisa dipungkiri kalau napasnya masih memburu. Dalam keadaan sepelik


ini, dia dituntut untuk berpikir cepat. Membuat keputusan yang paling tepat


agar tidak menyesal di kemudian hari. Selalu ada resiko untuk setiap keputusan

__ADS_1


yang diambil.


“Dengarkan aku,” ujar Wilson dengan lemah lembut.


Pria itu meraih kedua pundak istrinya. Membuat Vallery


menghadap ke arahnya. Tidak ada penolakan sama sekali.


Keduanya sudah mulai melunak sekarang. Mereka tak lagi


terbakar api emosi yang berkobar di dalam dirinya masing-masing. Baik Vallery


maupun Wilson sudah mampu untuk mengendalikan dirinya masing-masing.


“Eren tidak akan sendirian selama berada di sini. Kakakmu,


Ga Eun akan menjaganya selama kita berdua pergi bersembunyi. Selain itu, aku


yakin jika mereka tidak akan mengenali Eren kita. Aku telah menyiaplan sebuah


nama baru untuknya. Mulai saat ini, dia akan hidup dengan nama itu demi


kelangsungan hidupnya,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


“Kau yakin dengan rencanamu yang satu itu?” tanya Vallery


sekali lagi. Tampaknya ia masih enggan untuk melepaskan putrinya dengan percaya


terhadap rencana gila ini.


“Eren akan baik-baik saja. Percayalah denganku,” ucapnya


dengan penuh penekanan pada setiap katanya.


Kedua saling membisu. Dian seribu bahasa. Namun, tidak


dengan kedua manik matanya yang seperti tengah berusaha untuk menyampaikan


mencekik. Semilir angin malam berhasil membuat surai hitan Vallery berantakan.


Sesekali wanita itu mengerjap. Berusaha untuk menetralisir


perasaannya sendiri. Udara dingin malam itu menyeruak dengan tajam. Menembus


pori-pori kulitnya. Membuat Vallery bergerak untuk membenarkan baju hangatnya.


“Tapi, bukankah kau pernah bilang kepadaku jika kalian bisa


saling menemukan antara satu sama lain hanya dengan mengendus aroma


masing-masing?”


Kali ini pertanyaan Vallery sedikit lebih panjang dari yang


sebelumnya.


“Bagaimana jika mereka berhasil menemukan Eren?”


“Bagaimana jika aromanya sampai ke indera penciuman mereka?”


Semua pertanyaan tersebut telah memenuhi kepalanya. Ada


kegundahan, keraguan, ketakutan, kecemasan. Semuanya bercampur menjadi satu.


Menghimpitnya dari segala arah. Sehingga Vallery merasakan sesak pada dadanya.


“Tenanglah!” teriak Wilson.


Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Vallery. Entah sejak


kapan wanita itu tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Padahal selama ini dia

__ADS_1


selalu menjadi orang yang paling tenang pada saat menghadapi suatu


permasalahan. Namun, sekarang kenapa berbeda. Apa yang berada di hadapan Wilson


saat ini seperti bukan dirinya lagi. Ketakutan berhasil menguasainya kali ini. Untuk


pertama kalinya ia tidak bisa melepaskan diri dari rasa yang membelenggu.


“Eren masih terlalu kecil. Sulit bagi mereka untuk


menemukannya jika hanya mengandalkan aroma. Terlebih, dia bukan keturunan kaum


kegelapan secara utuh. Pasti akan semakin sulit untuk terdeteksi. Aromanya akan


semakin samar,” jelas Wilson dengan panjang lebar.


“Bahkan, untuk seorang bayi dari kaum kegelapan murni saja


membutuhkan waktu selama lima tahun sampai tubuh mereka mengeluarkan aroma


khasnya,” timpalnya kemudian.


Wilson berharap agar penjelasannya yang kali ini cukup untuk


menenangkan perasaan wanitanya. Dia tidak ingin melihat Vallery terus-terusan


merasa bersalah karena harus meninggalkan anak mereka.


“Dia akan aman,” ucap Wilson dengan penuh keyakinan.


“Aku sudah tahu jika ini adalah konsekuensinya sejak awal


jika menikah denganmu. Namun, aku tetap berani memutuskan hal tersebut,” gumam


Vallery dengan suara yang mulai bergetar. Entah karena sedih atau ketakutan.


“Ini bukan salahmu,” balas Wilson sembari mengusap-usap


puncak kepala wanitanya.


“Aku tidak pernah menyalahkan siapa pun,” tukas Vallery.


Dari awal Vallery dan Wilson sudah tahu jika mereka tidak


bisa bersama. Tapi, keduanya tetap melawan takdir. Sehingga berada pada titik


ini. Dari awal mereka sudah menduga jika pasti ada hal buruk yang terjadi.


Karena, mau bagaimanapun juga perkawinan antar klan sangat dilarang keras. Namun,


mereka sama sekali tidak pernah mengira sebelumnya jika buah hatinya yang akan


menjadi target.


Setelah mengetahui jika saat ini mereka menjadi incaran


seluruh kaum kegelapan, mau tak mau mereka harus bersembunyi di suatu tempat.


Mooneta adalah tempat yang paling aman sejauh ini. Klan vampir dan klan


bayangan tidak akan pernah menemukan mereka jika bersembunyi di sana. Akan ada


banyak pihak yang turut serta dalam rencana melindungi keluarga kecil Wilson.


Dari awal, Wilson sudah menduga


jika akan seperti ini pada akhirnya. Keluar dari hutan kegelapan saja sudah


merupakan suatu kesalahan besar. Apalagi sampai ia memutuskan untuk menikah


dengan umat manusia. Mungkin dirinya sudah tidak akan bisa diselamatkan lagi.

__ADS_1


Nyawanya dan keluarga kecilnya menjadi taruhan atas kesalahan tak termaafkan.


__ADS_2