Mooneta High School

Mooneta High School
Vallery & Tumbler


__ADS_3

Tidak terasa. Sekarang telah memasuki hari kedua festival.


Yang dimana aka nada banyak lomba yang dipertandingkan. Arena pertandingan


tidak akan pernah sepi mulai dari hari ini hingga lima hari ke depan. Kabarnya


festival sihir akan berlangsung selama satu pekan penuh.


Kali ini Nhea tidak bersama dengan Oliver lagi. Alih-alih


menghabiskan waktu bersama dengan gadis itu, dia jauh lebih memilih untuk


menyibukkan dirinya berlatih. Sepertinya hari ini Nhea akan lebih banyak


menghabiskan waktu bersama dengan timnya. Itu berari jika ia akan berhadapan


dengan Jang Eunbi dalam frekuensi waktu yang lebih sering pula.


Tidak masalah sama sekali jika Nhea memang harus bertemu


dengannya. Kejadian yang kemarin sudah ia lupakan. Semuanya akan kembali


normal. Namun, tidak dengan gadis itu. Jang Eunbi jauh lebih memilih untuk


menjaga jarak dengannya dan juga Oliver. Dengan dalih rasa bersalah dan mereka


belum bisa berdamai dirinya sendiri.


“Aku akan langsung pergi ke ruangan latihan setelah selesai


sarapan nanti,” ujar Oliver sembari membenarkan dasinya.


“Baiklah, aku juga memiliki rencana yang sama sepertimu pada


awalnya. Namun, aku harus pergi menemui Ibu terlebih dahulu untuk mengembalikan


botok minum miliknya,” jelas Nhea dengan panjang lebar.


Bekal air putih yang sempat ia berikan kepada Nhea kemarin


memang sempat diminum. Namun, hanya sedikit. Mungkin sekitar satu atau dua


teguk saja. Nhea tidak benar-benar menghabiskannya. Padahal tidak bisa


dipungkiri jika kemarin cukup panas. Bagaimana bisa tenggorokannya tetap terasa


baik-baik saja setelah melalui hari yang panjang seperti itu.


Kali ini ia berencana untuk mengembalikan benda tersebut


kepada pemiliknya. Dia tak mau menyimpannya sendiri. Kamar ini sudah terlalu


sempit. Tidak bisa ditambah dengan barang-barang lain di dalamnya. Nhea dan


Oliver bahkan sempat berencana untuk membuang beberapa barang setelah melakukan


acara kebersihan kemarin. Ternyata dari sana mereka berhasil menemukan beberapa


benda tak terpakai yang selama ni hanya memakan tempat saja.


Hari ini mau tak mau Nhea harus kembali berhadapan dengan


Vallery. Jika yang kemarin tidak disengaja dan tidak pernah ia duga, maka


sekarang adalah kebalikannya. Nhea sudah tahu jika bertemu dengaN Vallery bukan


lagi sesuatu yang menjadi kebiasaannya. Entah sejak kapan ia mulai tidak


menyukai hal tersebut. Mungkin sejak kepergian wanita itu dari hidupnya.

__ADS_1


Jika bukan karena harus mengembalikan benda itu kepada


pemiliknya, Nhea mungkin tidak akan mau bertemu dengan wanita itu. Selama ini


Nhea terkenal cukup menjaga jarak dengan anggota keluarga yang lainnya. Mereka


tidak banyak menjalin komunikasi selama berada di akademi. Tidak jauh berbeda


dengan yang sebelumnya.


Padahal ia bisa saja tetap menyimpan botol ini. Tidak perlu


dikembalikan lagi. Sepertinya Vallery tidak akan keberatan dengan itu semua.


Selama botolnya tidak hilang saja. Sebab botol itu adalah pemberian dari kakek


dan neneknya Nhea kepada Vallery. Mereka memberikannya tanpa alasan yang


jelass. Tidak ada perayaan apa pun pada waktu itu. Semuanya terjadi begitu


saja. Lagipula apa salahnya jika Nhea juga memiliki benda miliknya.


“Itu Ibu,” batinnya dalam hati saat melihat Vallery yang


baru akan masuk ke dalam gedung utama dari awrah berlawanan.


Alih-alih menyusul langkah wanita itu, Nhea malah sibuk bergelut


dengan pikirannya sendiri.


“Darimana dia?” gumamnya.


Tidak seharusnya Vallery memasuki ruangan ini dari pintu


luar. Kecuali jika ia memang sedang berada di luar gedung utama sebelumnya.


Selama ini semua orang tahu jika tempat tinggal para anggota keluarga serta


bekerja mereka bahkan berada di lantai dua. Akan jauh lebih masuk akal jika


Vallery langsung sampai di ruang makan tanpa perlu keluar terlebih dahulu. Ia


akan langsung menemukan tempat ini begitu menuruni tangga dari lantai atas ke


bawah.


“Mungkin dia sedang ada urusan sebentar tadi,” batinnya


sekali lagi.


Ia masih berusaha untuk terus berprasangka baik. Nhea tidak


pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di luar sana sebelum ia sampai ke


sini. Jangan asal menyimpulkan sesuatu tanpa mengetahui kebenarannya terlebih


dahulu.


Tapi, tidak biasanya Vallery ada urusan sepagi ini. Seperti yang


semua orang tahu jika pagi sampai sore adlaah waktu terbaik untuk bersantai bagi


seluruh warga sekolah. Terkecuali beberapa staff penting memang. Tapi, tidak


ada yang tahu sepenting apa urusan wanita itu tadi. Sampai-sampai ia harus


keluar dari gedung utama dan meninggalkan meja makan untuk sesaat. Biasanya Vallery


tidak pernah seperti ini.

__ADS_1


Nhea memang tidak tinggal di gedung utama. Gadis itu juga


tidak terlalu dekat dengan orang tuanya. Keluarga mereka tidak memiliki


hubungan yang terlalu baik antara satu sama lain. Tapi, tetap saja Nhea tahu


persis apa yang terjadi di tempat ini. Termasuk rutinitas para penghuninya.


“Aku benci jika harus makan sayuran seperti ini,” gerutu


Oliver yang tengah berdiri di belakangnya saat ini.


Mereka tengah mengantri untuk mendapatkan giliran mengambik


jatah sarapan.


“Kau tidak boleh berkata seperti itu. Hati mereka pasti akan


merasa sakit jika mendengarnya,” gumam Nhea sembari menyenggol lengan gadis itu


pelan.


Bagaimanapun juga, mereka harus tetap menghargai perasaan


juru masak yang bekerja di akadem ini. Setiap hari mereka telah bersusah payah


untuk memikirkan menu. Tidak mudah memasak dalam jumlah besar. Dan hal tersebut


selalu mereka lakukan setiap hari tanpa pernah mengeluh sama sekali.


Kata-kata sepele seperti apa yang telah dikatakan oleh gadis


itu tadi berpotensi untuk menyinggung perasaan mereka. Setidaknya jika ia


memang tidak terlalu suka mengonsumsi sayur, Oliver tidak harus mengucapkannya


secara gamblang di depan mereka semua.


“Selamat pagi untuk kalian berdua!” sapa salah satu juru


masak.


“Pagi juga untukmu! Balas keduanya secara bersamaan.


Oliver dan Nhea sudah mengenal wanita ini. Hampir setiap


hari mereka selalu bertemu. Ralat. Lebih tepatnya sehari mereka bisa berjumpa


sebanyak tiga kali di tempat yang sama. Namanya Bibi Lee Seun. Kabarnya, dia


sudah lumayan lama bekerja di sini. Mungkin lebih dari separuh hidupnya ia


habiskan di dapur besar akademi sihir Mooneta. Memasak adalah sebuah kebanggaan


serta kebahagiaan tersendiri baginya. Itu pula sebabnya kenapa Bibi Lee Seun


masih bertahan hingga detik ini. Padahal teman-teman seangkatannya banyak yang


telah memutuskan untuk keluar.


Mungkin bisa dikatakan jika ia termasuk kepada salah satu


orang yang dituakan di dalam dapur akademi ini. Bibi Lee Eun adalah staff


senior. Bahkan ia sudah berada di tempat ini ketika Paman Johnson masih menjadi


murid di sini. Tidak ada yang pernah menyangka jika ia akan bertahan


selama  itu. Sepertinya ia sudah

__ADS_1


benar-benar merasa nyaman dengan pekerjaannya.


__ADS_2