
Tidak terasa. Sekarang telah memasuki hari kedua festival.
Yang dimana aka nada banyak lomba yang dipertandingkan. Arena pertandingan
tidak akan pernah sepi mulai dari hari ini hingga lima hari ke depan. Kabarnya
festival sihir akan berlangsung selama satu pekan penuh.
Kali ini Nhea tidak bersama dengan Oliver lagi. Alih-alih
menghabiskan waktu bersama dengan gadis itu, dia jauh lebih memilih untuk
menyibukkan dirinya berlatih. Sepertinya hari ini Nhea akan lebih banyak
menghabiskan waktu bersama dengan timnya. Itu berari jika ia akan berhadapan
dengan Jang Eunbi dalam frekuensi waktu yang lebih sering pula.
Tidak masalah sama sekali jika Nhea memang harus bertemu
dengannya. Kejadian yang kemarin sudah ia lupakan. Semuanya akan kembali
normal. Namun, tidak dengan gadis itu. Jang Eunbi jauh lebih memilih untuk
menjaga jarak dengannya dan juga Oliver. Dengan dalih rasa bersalah dan mereka
belum bisa berdamai dirinya sendiri.
“Aku akan langsung pergi ke ruangan latihan setelah selesai
sarapan nanti,” ujar Oliver sembari membenarkan dasinya.
“Baiklah, aku juga memiliki rencana yang sama sepertimu pada
awalnya. Namun, aku harus pergi menemui Ibu terlebih dahulu untuk mengembalikan
botok minum miliknya,” jelas Nhea dengan panjang lebar.
Bekal air putih yang sempat ia berikan kepada Nhea kemarin
memang sempat diminum. Namun, hanya sedikit. Mungkin sekitar satu atau dua
teguk saja. Nhea tidak benar-benar menghabiskannya. Padahal tidak bisa
dipungkiri jika kemarin cukup panas. Bagaimana bisa tenggorokannya tetap terasa
baik-baik saja setelah melalui hari yang panjang seperti itu.
Kali ini ia berencana untuk mengembalikan benda tersebut
kepada pemiliknya. Dia tak mau menyimpannya sendiri. Kamar ini sudah terlalu
sempit. Tidak bisa ditambah dengan barang-barang lain di dalamnya. Nhea dan
Oliver bahkan sempat berencana untuk membuang beberapa barang setelah melakukan
acara kebersihan kemarin. Ternyata dari sana mereka berhasil menemukan beberapa
benda tak terpakai yang selama ni hanya memakan tempat saja.
Hari ini mau tak mau Nhea harus kembali berhadapan dengan
Vallery. Jika yang kemarin tidak disengaja dan tidak pernah ia duga, maka
sekarang adalah kebalikannya. Nhea sudah tahu jika bertemu dengaN Vallery bukan
lagi sesuatu yang menjadi kebiasaannya. Entah sejak kapan ia mulai tidak
menyukai hal tersebut. Mungkin sejak kepergian wanita itu dari hidupnya.
__ADS_1
Jika bukan karena harus mengembalikan benda itu kepada
pemiliknya, Nhea mungkin tidak akan mau bertemu dengan wanita itu. Selama ini
Nhea terkenal cukup menjaga jarak dengan anggota keluarga yang lainnya. Mereka
tidak banyak menjalin komunikasi selama berada di akademi. Tidak jauh berbeda
dengan yang sebelumnya.
Padahal ia bisa saja tetap menyimpan botol ini. Tidak perlu
dikembalikan lagi. Sepertinya Vallery tidak akan keberatan dengan itu semua.
Selama botolnya tidak hilang saja. Sebab botol itu adalah pemberian dari kakek
dan neneknya Nhea kepada Vallery. Mereka memberikannya tanpa alasan yang
jelass. Tidak ada perayaan apa pun pada waktu itu. Semuanya terjadi begitu
saja. Lagipula apa salahnya jika Nhea juga memiliki benda miliknya.
“Itu Ibu,” batinnya dalam hati saat melihat Vallery yang
baru akan masuk ke dalam gedung utama dari awrah berlawanan.
Alih-alih menyusul langkah wanita itu, Nhea malah sibuk bergelut
dengan pikirannya sendiri.
“Darimana dia?” gumamnya.
Tidak seharusnya Vallery memasuki ruangan ini dari pintu
luar. Kecuali jika ia memang sedang berada di luar gedung utama sebelumnya.
Selama ini semua orang tahu jika tempat tinggal para anggota keluarga serta
bekerja mereka bahkan berada di lantai dua. Akan jauh lebih masuk akal jika
Vallery langsung sampai di ruang makan tanpa perlu keluar terlebih dahulu. Ia
akan langsung menemukan tempat ini begitu menuruni tangga dari lantai atas ke
bawah.
“Mungkin dia sedang ada urusan sebentar tadi,” batinnya
sekali lagi.
Ia masih berusaha untuk terus berprasangka baik. Nhea tidak
pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di luar sana sebelum ia sampai ke
sini. Jangan asal menyimpulkan sesuatu tanpa mengetahui kebenarannya terlebih
dahulu.
Tapi, tidak biasanya Vallery ada urusan sepagi ini. Seperti yang
semua orang tahu jika pagi sampai sore adlaah waktu terbaik untuk bersantai bagi
seluruh warga sekolah. Terkecuali beberapa staff penting memang. Tapi, tidak
ada yang tahu sepenting apa urusan wanita itu tadi. Sampai-sampai ia harus
keluar dari gedung utama dan meninggalkan meja makan untuk sesaat. Biasanya Vallery
tidak pernah seperti ini.
__ADS_1
Nhea memang tidak tinggal di gedung utama. Gadis itu juga
tidak terlalu dekat dengan orang tuanya. Keluarga mereka tidak memiliki
hubungan yang terlalu baik antara satu sama lain. Tapi, tetap saja Nhea tahu
persis apa yang terjadi di tempat ini. Termasuk rutinitas para penghuninya.
“Aku benci jika harus makan sayuran seperti ini,” gerutu
Oliver yang tengah berdiri di belakangnya saat ini.
Mereka tengah mengantri untuk mendapatkan giliran mengambik
jatah sarapan.
“Kau tidak boleh berkata seperti itu. Hati mereka pasti akan
merasa sakit jika mendengarnya,” gumam Nhea sembari menyenggol lengan gadis itu
pelan.
Bagaimanapun juga, mereka harus tetap menghargai perasaan
juru masak yang bekerja di akadem ini. Setiap hari mereka telah bersusah payah
untuk memikirkan menu. Tidak mudah memasak dalam jumlah besar. Dan hal tersebut
selalu mereka lakukan setiap hari tanpa pernah mengeluh sama sekali.
Kata-kata sepele seperti apa yang telah dikatakan oleh gadis
itu tadi berpotensi untuk menyinggung perasaan mereka. Setidaknya jika ia
memang tidak terlalu suka mengonsumsi sayur, Oliver tidak harus mengucapkannya
secara gamblang di depan mereka semua.
“Selamat pagi untuk kalian berdua!” sapa salah satu juru
masak.
“Pagi juga untukmu! Balas keduanya secara bersamaan.
Oliver dan Nhea sudah mengenal wanita ini. Hampir setiap
hari mereka selalu bertemu. Ralat. Lebih tepatnya sehari mereka bisa berjumpa
sebanyak tiga kali di tempat yang sama. Namanya Bibi Lee Seun. Kabarnya, dia
sudah lumayan lama bekerja di sini. Mungkin lebih dari separuh hidupnya ia
habiskan di dapur besar akademi sihir Mooneta. Memasak adalah sebuah kebanggaan
serta kebahagiaan tersendiri baginya. Itu pula sebabnya kenapa Bibi Lee Seun
masih bertahan hingga detik ini. Padahal teman-teman seangkatannya banyak yang
telah memutuskan untuk keluar.
Mungkin bisa dikatakan jika ia termasuk kepada salah satu
orang yang dituakan di dalam dapur akademi ini. Bibi Lee Eun adalah staff
senior. Bahkan ia sudah berada di tempat ini ketika Paman Johnson masih menjadi
murid di sini. Tidak ada yang pernah menyangka jika ia akan bertahan
selama itu. Sepertinya ia sudah
__ADS_1
benar-benar merasa nyaman dengan pekerjaannya.