
Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
Semuanya sudah terasa cukup jelas di mata Nhea. Padahal, wanita itu belum
banyak bicara. Memangnya apalagi yang ia lakukan selain mengambil keputusan
sendiri. Nhea terbiasa untuk menyimpulkan semuanya sendiri.
Lagi dan lagi. Untuk yang kesekian kalinya ia menghela napas
dengan kasar. Tampaknya sekarang Nhea mulai merasa jengah sekaligus muak.
“Sampai bertemu lagi!” pamit Nhea tanpa berbasa-basi.
Ia berpamitan seolah
ingin pergi, tapi sebenarnya Nhea juga tidak tahu harus pergi kemana. Semua arah
tampak sama di matanya. Tidak ada arah yang benar-benar jelas. Mungkin ia
memang tidak akan pernah bisa kembali. Nhea merutuki dirinya sendiri pada
akhirnya. Seharusnya ia membuat permohonan di saat yang tepat.
“Tunggu!” cegah wanita tersebut tepat ketika Nhea
membalikkan badannya.
Kali ini ia berhasil menghentikan Nhea. Gadis itu mematung
di tempat. Masih tetap bergeming. Ia bahkan tidak ingin berbalik sama sekali. Menurutnya,
urusannya dengan wanita itu sudah selesai. Tidak ada lagi hal penting yang
perlu mereka bicarakan di sini.
Tapi, siapa yang mengira. Ternyata urusan di antara mereka
__ADS_1
berdua belum benar-benar selesai begitu saja. Tidak sesederhana itu untuk
mengakhiri semuanya. Mau tak mau Nhea harus kembali ke dalam belenggu tersebut
sampai permainannya selesai. Bagaimanapun juga, ia adalah orang pertama yang
memulai semua ini.
Secara mengejutkan, wanita tersebut menarik tangan Nhea
hingga gadis itu terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Bukan hanya
sampai di situ saja. Mereka bahkan sampai terjatuh karena kehilangan
keseimbangan secara mendadak. Lalu kedua orang itu terguling di lereng bukit.
Sepanjang perjalanan menuju dataran paling rendah, Nhea
terus memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Yang jelas, Nhea
‘BUGH!!!’
Sekali lagi Nhea perlu mengakui jika ia sama sekali tidak
tahu apa yang sedang terjadi di sini. Satu-satunya hal yang ia tahu adalah jika
mereka berhenti karena menghantam sesuatu. Kemungkinan besar jika itu adalah
batu.
“Nhea!” sahut seseorang.
Jika diperhatikan secara baik-baik dari suaranya, sepertinya
ia merasa tidak asing dengan suara tersebut. Nhea membuka kedua kelopak matanya
secara mendadak. Tidak seperti biasanya.
__ADS_1
“Apa kau bermimpi buruk?” tanya Oliver.
Ia hanya ingin memastikan jika keadaan temannya yang satu
ini baik-baik saja. Pasalnya, Nhea tampak tidak baik-bak saja pagi ini. Pasti ada
sesuatu yang salah dengannya. Oliver bisa mengetahuinya dengan mudah.
Sekujur tubuh gadis itu basah karena keringat. Napasnya tampak
memburu. Sudah jelas jika ia baru saja mengalami kejadian yang buruk di dalam
alam bawah sadarnya.
“Apa aku berada di asrama?” gumam Nhea.
“Tentu saja!” balas Oliver sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Otaknya masih berusaha untuk mencerna segala informasi yang
telah ia terima sejauh ini. Nhea menolak untuk percaya jika sekarang ia sudah
berada di kamar. Padahal, ia maih mengingat semuanya dengan jelas. Terakhir
kali Nhea berada di bukit. Tapi, bagaimana bisa sekarang ia sudah kembali ke
tempat ini?
Sungguh tidak masuk akal. Terlalu realistis untuk dikatakan
sebagai sebuah mimpi. Sangking rumitnya, Nhea sampai tidak bisa lagi membedakan
mana yang benar ada dan mana yang tidak ada. Kepalanya sungguh berisik. Sekarang
dua tim di dalam dirinya saling bertentangan satu sama lain.
__ADS_1