Mooneta High School

Mooneta High School
The Nightmare


__ADS_3

Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


Semuanya sudah terasa cukup jelas di mata Nhea. Padahal, wanita itu belum


banyak bicara. Memangnya apalagi yang ia lakukan selain mengambil keputusan


sendiri. Nhea terbiasa untuk menyimpulkan semuanya sendiri.


Lagi dan lagi. Untuk yang kesekian kalinya ia menghela napas


dengan kasar. Tampaknya sekarang Nhea mulai merasa jengah sekaligus muak.


“Sampai bertemu lagi!” pamit Nhea tanpa berbasa-basi.


 Ia berpamitan seolah


ingin pergi, tapi sebenarnya Nhea juga tidak tahu harus pergi kemana. Semua arah


tampak sama di matanya. Tidak ada arah yang benar-benar jelas. Mungkin ia


memang tidak akan pernah bisa kembali. Nhea merutuki dirinya sendiri pada


akhirnya. Seharusnya ia membuat permohonan di saat yang tepat.


“Tunggu!” cegah wanita tersebut tepat ketika Nhea


membalikkan badannya.


Kali ini ia berhasil menghentikan Nhea. Gadis itu mematung


di tempat. Masih tetap bergeming. Ia bahkan tidak ingin berbalik sama sekali. Menurutnya,


urusannya dengan wanita itu sudah selesai. Tidak ada lagi hal penting yang


perlu mereka bicarakan di sini.


Tapi, siapa yang mengira. Ternyata urusan di antara mereka

__ADS_1


berdua belum benar-benar selesai begitu saja. Tidak sesederhana itu untuk


mengakhiri semuanya. Mau tak mau Nhea harus kembali ke dalam belenggu tersebut


sampai permainannya selesai. Bagaimanapun juga, ia adalah orang pertama yang


memulai semua ini.


Secara mengejutkan, wanita tersebut menarik tangan Nhea


hingga gadis itu terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Bukan hanya


sampai di situ saja. Mereka bahkan sampai terjatuh karena kehilangan


keseimbangan secara mendadak. Lalu kedua orang itu terguling di lereng bukit.


Sepanjang perjalanan menuju dataran paling rendah, Nhea


terus memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak tahu  harus bereaksi bagaimana. Yang jelas, Nhea


‘BUGH!!!’


Sekali lagi Nhea perlu mengakui jika ia sama sekali tidak


tahu apa yang sedang terjadi di sini. Satu-satunya hal yang ia tahu adalah jika


mereka berhenti karena menghantam sesuatu. Kemungkinan besar jika itu adalah


batu.


“Nhea!” sahut seseorang.


Jika diperhatikan secara baik-baik dari suaranya, sepertinya


ia merasa tidak asing dengan suara tersebut. Nhea membuka kedua kelopak matanya


secara mendadak. Tidak seperti biasanya.

__ADS_1


“Apa kau bermimpi buruk?” tanya Oliver.


Ia hanya ingin memastikan jika keadaan temannya yang satu


ini baik-baik saja. Pasalnya, Nhea tampak tidak baik-bak saja pagi ini. Pasti ada


sesuatu yang salah dengannya. Oliver bisa mengetahuinya dengan mudah.


Sekujur tubuh gadis itu basah karena keringat. Napasnya tampak


memburu. Sudah jelas jika ia baru saja mengalami kejadian yang buruk di dalam


alam bawah sadarnya.


“Apa aku berada di asrama?” gumam Nhea.


“Tentu saja!” balas Oliver sambil mengangguk-anggukkan


kepalanya.


Otaknya masih berusaha untuk mencerna segala informasi yang


telah ia terima sejauh ini. Nhea menolak untuk percaya jika sekarang ia sudah


berada di kamar. Padahal, ia maih mengingat semuanya dengan jelas. Terakhir


kali Nhea berada di bukit. Tapi, bagaimana bisa sekarang ia sudah kembali ke


tempat ini?


Sungguh tidak masuk akal. Terlalu realistis untuk dikatakan


sebagai sebuah mimpi. Sangking rumitnya, Nhea sampai tidak bisa lagi membedakan


mana yang benar ada dan mana yang tidak ada. Kepalanya sungguh berisik. Sekarang


dua tim di dalam dirinya saling bertentangan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2