Mooneta High School

Mooneta High School
Gaze


__ADS_3

Sepertinya memang benar jika yang tadi itu adalah mimpi. Setelah


sekian lama tidak pernah mengalaminya lagi, Nhea kembali bermimpi buruk. Tidak ada


seorang pun yang ingin mengalaminya. Padahal, mimpi tidak selamanya benar. Meski


manusia masih kerap kali menghubung-hubungkan hal tersebut dengan kejadian di


dunia nyata.


Sungguh pola pikir yang tidak masuk akal sama sekali. Nhea


sendiri tidak habis pikir. Bagaimana bisa manusia masih percaya dengan mimpi


mereka sendiri. Padahal, itu bukanlah sesuatu yang pasti. Apalah arti


bunga-bunga tidur. Mereka bisa muncul kapan saja tanpa makna yang jelas. Terkadang


malah kejadiannya tersusun secara acak. Sehingga tidak jarang membuat kita


merasa kebingungan.


“Apa yang tadi itu sungguh hanya sebuah mimpi?” gumam Nhea.


Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, Nhea merasa


pusing. Kepalanya akan pecah jika memikirkan hal tersebut. Tak ingin ambil


pusing, ia segera keluar dari kamar mandi.


“Kau sudah selesai?” interupsi Oliver begitu gadis itu


keluar dari kamar mandi.


Meski kelas mereka baru dimulai nanti malam, tapi tetap saja


semua orang harus bersiap. Hari ini mereka akan kembali ke arena pertandingan


untuk menunggu pengumuman final. Kemungkinan besar jika akademi sihir Mooneta


akan masuk ke babak final. Pasalnya, sejauh ini skor mereka masih memimpin.


Ternyata orang-orang sudah ramai di sini. Bisa jadi seluruh


asrama putri telah berada di dalam kamar mandi untuk mengantri masuk ke bilik. Mereka


terbiasa menggunakan fasilitas yang satu itu secara bergantian jika situasiya


padat seperti ini. Kamar mandi bisa menjadi sangat ramai di saat-saat tertentu.


Seperti pagi hari sebelum sarapan, atau bahkan saat akan masuk kelas. Namun, di


sisi lain ia juga bisa menjadi sangat sepi. Tidak ada siapa pun di sana. Sampai


kau bisa mendengar deruan napasmu sendiri terkadang.


Saat ini Nhea dan Oliver tengah bersiap di kamar mandi


bersama dengan penghuni asrama lainnya. Mereka jauh lebih memilih untuk


melakukan segalanya dengan santai. Tidak perlu terburu-buru. Sebab, keduanya


datang paling awal tadi. Sehingga mereka bisa menghemat jauh lebih banyak


waktu.


Kali ini Nhea membiarkan rambutnya terurai begitu saja. Ia


sama sekali tidak berniat untuk mengikatnya sama sekali. Jika dibilang


berantakan, tidak juga. Rambut gadis ini tidak terlalu panjang. Cukup untuk


ukuran medium. Hanya sebatas bahu. Lagipula Nhea tidak akan pernah

__ADS_1


membiarkannya tumbuh lebih panjang lagi. Sudah tentu ia akan langsung


memotongnya begitu panjangnya sudah melewati batas yang sudah ditentukan.


Ia akan tampil berbeda dalam babak final kali ini. Itupun jika


tim mereka beruntung dan masuk ke babak final untuk melanjutkan


pertandingannya. Semakin ke sini, lawannya semakin berat. Tidak bisa


dipungkiri. Biasanya, kandidat yang masuk ke babak final bukan sembarang orang.


Mereka umumnya berasal dari tiga akademi besar. Mereka selalu bersaing dalam


hal apa pun. Termasuk festival kali ini.


“Apa kau akan tetap seperti itu?” tanya Oiver secara


tiba-tiba.


Yang ia maksud adalah tatanan rambut temannya yang satu itu.


Pasalnya, sungguh tidak biasa untuk melihat Nhea mengurai rambutnya. Namun, di


sisi lain juga tidak bisa dipungkiri jika ia terlihat jauh lebih cantik. Rasanya


gaya tersebut cocok untuknya.


“Ya, kupikir begitu,” jawab Nhea secara gamblang.


“Memangnya kenapa?” tanya gadis itu balik.


“Ah, tidak apa-apa!” dalih Oliver.


Setelah menyelesaikan berbagai urusannya di dalam sana,


mereka segera kembali naik ke lantai tiga untuk menuju kamar. Hanya tinggal


beberapa tahap lagi sampai mereka bisa dikatakan benar-benar siap untuk


“Kau adalah pemimpin


yang sesungguhnya.”


Entah kenapa kalimat tersebut kembali terlintas di dalam


kepalanya. Nhea memandangi pantulan dirinya melalui cermin. Kemudian secara


mengejutkan ia kembali teringat akan satu hal. Mahkota. Benar, kalau ia tidak


salah wanita tersebut sempat bercerita tentang mahkota di ruang penyimpanan.


Sejauh ini ia tidak pernah benar-benar yakin dengan hal


tersebut. Nhea meragukan ingatannya sendiri. Meski sudah beberapa kali


berkunjung ke ruang penyimpanan di gedung utama, tetap saja itu tidak menjamin


segalanya. Nhea tidak yakin apakah mahkota tersebut benar ada di sana atau


tidak.


Untuk memastikan hal tersebut, maka ia perlu berkunjung ke


sana sekali lagi. Setidaknya ia harus mengetahui apakah perkataan wanita


tersebut benar atau malah sebaliknya.


***


Sepanjang perjalanan menuju ruang jamuan makan, seluruh mata


tertuju kepada Nhea. Seolah gadis itu berhasil menarik perhatian siapa saja

__ADS_1


yang lewat di depan matanya. Mendadak ia menjadi pusat perhatian, tanpa ada


yang tahu jelas apa penyebabnya. Gadis itu juga dibuat kebingungan dengan


kejadian tersebut. Ia belum pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya.


“Ada apa dengan mereka?” batin Nhea sambil membawa makannya.


Nhea dan Oliver berniat untuk  mencari tempat duduk. Tapi, pandangan semua


orang berhasil mengusik mereka. Membuat Nhea ingin meninggalkan tempat ini


sesegera mungkin rasanya. Ia mulai merasa tidak nyaman berada di sini.


“Apa ada sesuatu yang salah denganku?” batinnya sekali lagi.


Nhea merasa jika tidak ada yang salah dengan dirinya. Semuanya


tampak baik-baik saja saat ia sedang bercermin di kamar tadi. Nhea yakin betul


soal itu. Lantas, kenapa mata mereka masih menyorti Nhea di sepanjang


perjalanan.


Bahkan atmosfir sekitar tidak lagi terasa menyenangkan


baginya. Terlalu banyak tekanan yang membuatnya merasa ketakutan. Terancam.


Entah perasaan aneh macam apa ini. Nhea sama sekali belum pernah merasakannya


sebelumnya.


“Mereka sengaja mendesakku secara tidak langsung,” gumamnya


sembari meletakkan piring di atas meja makan.


Ia mengambil tempat duduk tepat di samping Oliver. Untuk sementara


waktu, Nhea tidak akan berada jauh-jauh dari gadis itu. Terutama pada saat


seperti ini. Nhea tidak tahu harus kemana lagi ia berlindung pada saat


terancam. Sejauh ini hanya Oliver satu-satunya orang yang ia percaya. Meski pada


dasarnya, ia tidak bisa mempercayai orang lain secara berlebihan. Saat ini Nhea


persis seperti seekor anak serigala yang sedang berlindung di balik tubuh


induknya.


“Ada apa dengan mereka?” cicit Oliver sambil berdecak sebal.


“Entahlah, aku sendiri jug tidak tahu,” jawab Nhea dengan


apa adanya.


Meski sebenarnya ia sedang merasa tidak baik-baik saja,


gadis it uterus berusaha untuk menutupinya. Ia bersikap baik-baik saja. Seolah


tidak ada apa-apa. Mengacuhkan pandangan mereka adalah cara terbaiknya untuk


saat ini.


Jangan sampai musuhmu tahu jika kau sedang merasa terancam. Atau


kau akan menjadi sasaran empuknya. Mereka bisa melihat celah untuk kesempatan


tersebut dengan mudah. Bukan sesuatu yang sulit untuk menaklukkan lawan setelah


mereka merasa terintimidasi. Pihak yang jauh lebih kuat akan semakin menindas


mereka yang lemah dan berada di bawah. Dengan begitu, mereka akan memenangkan

__ADS_1


permainan dengan mudah. Tidak ada yang perlu kau takutkan sedikit pun.


__ADS_2