
Sepertinya memang benar jika yang tadi itu adalah mimpi. Setelah
sekian lama tidak pernah mengalaminya lagi, Nhea kembali bermimpi buruk. Tidak ada
seorang pun yang ingin mengalaminya. Padahal, mimpi tidak selamanya benar. Meski
manusia masih kerap kali menghubung-hubungkan hal tersebut dengan kejadian di
dunia nyata.
Sungguh pola pikir yang tidak masuk akal sama sekali. Nhea
sendiri tidak habis pikir. Bagaimana bisa manusia masih percaya dengan mimpi
mereka sendiri. Padahal, itu bukanlah sesuatu yang pasti. Apalah arti
bunga-bunga tidur. Mereka bisa muncul kapan saja tanpa makna yang jelas. Terkadang
malah kejadiannya tersusun secara acak. Sehingga tidak jarang membuat kita
merasa kebingungan.
“Apa yang tadi itu sungguh hanya sebuah mimpi?” gumam Nhea.
Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, Nhea merasa
pusing. Kepalanya akan pecah jika memikirkan hal tersebut. Tak ingin ambil
pusing, ia segera keluar dari kamar mandi.
“Kau sudah selesai?” interupsi Oliver begitu gadis itu
keluar dari kamar mandi.
Meski kelas mereka baru dimulai nanti malam, tapi tetap saja
semua orang harus bersiap. Hari ini mereka akan kembali ke arena pertandingan
untuk menunggu pengumuman final. Kemungkinan besar jika akademi sihir Mooneta
akan masuk ke babak final. Pasalnya, sejauh ini skor mereka masih memimpin.
Ternyata orang-orang sudah ramai di sini. Bisa jadi seluruh
asrama putri telah berada di dalam kamar mandi untuk mengantri masuk ke bilik. Mereka
terbiasa menggunakan fasilitas yang satu itu secara bergantian jika situasiya
padat seperti ini. Kamar mandi bisa menjadi sangat ramai di saat-saat tertentu.
Seperti pagi hari sebelum sarapan, atau bahkan saat akan masuk kelas. Namun, di
sisi lain ia juga bisa menjadi sangat sepi. Tidak ada siapa pun di sana. Sampai
kau bisa mendengar deruan napasmu sendiri terkadang.
Saat ini Nhea dan Oliver tengah bersiap di kamar mandi
bersama dengan penghuni asrama lainnya. Mereka jauh lebih memilih untuk
melakukan segalanya dengan santai. Tidak perlu terburu-buru. Sebab, keduanya
datang paling awal tadi. Sehingga mereka bisa menghemat jauh lebih banyak
waktu.
Kali ini Nhea membiarkan rambutnya terurai begitu saja. Ia
sama sekali tidak berniat untuk mengikatnya sama sekali. Jika dibilang
berantakan, tidak juga. Rambut gadis ini tidak terlalu panjang. Cukup untuk
ukuran medium. Hanya sebatas bahu. Lagipula Nhea tidak akan pernah
__ADS_1
membiarkannya tumbuh lebih panjang lagi. Sudah tentu ia akan langsung
memotongnya begitu panjangnya sudah melewati batas yang sudah ditentukan.
Ia akan tampil berbeda dalam babak final kali ini. Itupun jika
tim mereka beruntung dan masuk ke babak final untuk melanjutkan
pertandingannya. Semakin ke sini, lawannya semakin berat. Tidak bisa
dipungkiri. Biasanya, kandidat yang masuk ke babak final bukan sembarang orang.
Mereka umumnya berasal dari tiga akademi besar. Mereka selalu bersaing dalam
hal apa pun. Termasuk festival kali ini.
“Apa kau akan tetap seperti itu?” tanya Oiver secara
tiba-tiba.
Yang ia maksud adalah tatanan rambut temannya yang satu itu.
Pasalnya, sungguh tidak biasa untuk melihat Nhea mengurai rambutnya. Namun, di
sisi lain juga tidak bisa dipungkiri jika ia terlihat jauh lebih cantik. Rasanya
gaya tersebut cocok untuknya.
“Ya, kupikir begitu,” jawab Nhea secara gamblang.
“Memangnya kenapa?” tanya gadis itu balik.
“Ah, tidak apa-apa!” dalih Oliver.
Setelah menyelesaikan berbagai urusannya di dalam sana,
mereka segera kembali naik ke lantai tiga untuk menuju kamar. Hanya tinggal
beberapa tahap lagi sampai mereka bisa dikatakan benar-benar siap untuk
“Kau adalah pemimpin
yang sesungguhnya.”
Entah kenapa kalimat tersebut kembali terlintas di dalam
kepalanya. Nhea memandangi pantulan dirinya melalui cermin. Kemudian secara
mengejutkan ia kembali teringat akan satu hal. Mahkota. Benar, kalau ia tidak
salah wanita tersebut sempat bercerita tentang mahkota di ruang penyimpanan.
Sejauh ini ia tidak pernah benar-benar yakin dengan hal
tersebut. Nhea meragukan ingatannya sendiri. Meski sudah beberapa kali
berkunjung ke ruang penyimpanan di gedung utama, tetap saja itu tidak menjamin
segalanya. Nhea tidak yakin apakah mahkota tersebut benar ada di sana atau
tidak.
Untuk memastikan hal tersebut, maka ia perlu berkunjung ke
sana sekali lagi. Setidaknya ia harus mengetahui apakah perkataan wanita
tersebut benar atau malah sebaliknya.
***
Sepanjang perjalanan menuju ruang jamuan makan, seluruh mata
tertuju kepada Nhea. Seolah gadis itu berhasil menarik perhatian siapa saja
__ADS_1
yang lewat di depan matanya. Mendadak ia menjadi pusat perhatian, tanpa ada
yang tahu jelas apa penyebabnya. Gadis itu juga dibuat kebingungan dengan
kejadian tersebut. Ia belum pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya.
“Ada apa dengan mereka?” batin Nhea sambil membawa makannya.
Nhea dan Oliver berniat untuk mencari tempat duduk. Tapi, pandangan semua
orang berhasil mengusik mereka. Membuat Nhea ingin meninggalkan tempat ini
sesegera mungkin rasanya. Ia mulai merasa tidak nyaman berada di sini.
“Apa ada sesuatu yang salah denganku?” batinnya sekali lagi.
Nhea merasa jika tidak ada yang salah dengan dirinya. Semuanya
tampak baik-baik saja saat ia sedang bercermin di kamar tadi. Nhea yakin betul
soal itu. Lantas, kenapa mata mereka masih menyorti Nhea di sepanjang
perjalanan.
Bahkan atmosfir sekitar tidak lagi terasa menyenangkan
baginya. Terlalu banyak tekanan yang membuatnya merasa ketakutan. Terancam.
Entah perasaan aneh macam apa ini. Nhea sama sekali belum pernah merasakannya
sebelumnya.
“Mereka sengaja mendesakku secara tidak langsung,” gumamnya
sembari meletakkan piring di atas meja makan.
Ia mengambil tempat duduk tepat di samping Oliver. Untuk sementara
waktu, Nhea tidak akan berada jauh-jauh dari gadis itu. Terutama pada saat
seperti ini. Nhea tidak tahu harus kemana lagi ia berlindung pada saat
terancam. Sejauh ini hanya Oliver satu-satunya orang yang ia percaya. Meski pada
dasarnya, ia tidak bisa mempercayai orang lain secara berlebihan. Saat ini Nhea
persis seperti seekor anak serigala yang sedang berlindung di balik tubuh
induknya.
“Ada apa dengan mereka?” cicit Oliver sambil berdecak sebal.
“Entahlah, aku sendiri jug tidak tahu,” jawab Nhea dengan
apa adanya.
Meski sebenarnya ia sedang merasa tidak baik-baik saja,
gadis it uterus berusaha untuk menutupinya. Ia bersikap baik-baik saja. Seolah
tidak ada apa-apa. Mengacuhkan pandangan mereka adalah cara terbaiknya untuk
saat ini.
Jangan sampai musuhmu tahu jika kau sedang merasa terancam. Atau
kau akan menjadi sasaran empuknya. Mereka bisa melihat celah untuk kesempatan
tersebut dengan mudah. Bukan sesuatu yang sulit untuk menaklukkan lawan setelah
mereka merasa terintimidasi. Pihak yang jauh lebih kuat akan semakin menindas
mereka yang lemah dan berada di bawah. Dengan begitu, mereka akan memenangkan
__ADS_1
permainan dengan mudah. Tidak ada yang perlu kau takutkan sedikit pun.