
Hwang Ji Na kehabisan kata-kata. Padahal Chanwo sama sekali belum
menjawab pertanyaan yang barusan ia berikan. Tapi entah kenapa ia begitu yakin jika asumsinya
benar. Gadis itu telah membuat kesimpulan lebih dulu, padahal ia sama sekali
tidak bisa memastikan kebenarannya.
“Aku juga tidak yakin apakah itu benar atau tidak,” ungkap Chanwo.
Pria itu menghela napas panjang. Ia menyelipkan tangannya di
dalam saku celana. Pandangannya lurus ke depan menghadap kedua gadis itu.
“Maksudmu?” tanya Hwang Ji Na lagi. Sesungguhnya ia tidak
pernah memahami satupun perkataan pria itu tadi.
“Aku tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaanmu yang
barusan,” jawab pria itu secara gamblang.
“Mereka sama seperti kita,” ungkap Chanwo.
“Jadi intinya mereka bukan manusia kan?” tanya Hwang Ji Na
untuk memastikan kembali.
Pria itu tampak menganggukkan kepalanya dengan ragu. Dia
tidak sepenuhnya yakin dengan jawabannya sendiri.
“Dari klan mana mereka?” tanya gadis itu lagi untuk yang
kesekian kalinya.
“Bukankah kau sudah tahu banyak soal Eun Ji Hae? Kenapa aku
harus menjelaskannya lagi kepadamu?!” celetuk pria bertubuh jenjang itu.
Hwang Ji Na berdecak sebal sambil memutar bola matanya
dengan malas. Bibirnya maju beberapa centi, sehingga ia terlihat begitu
menggemaskan. Gadis ini telah mematahkan asumsi jika klan alpha menyeramkan. Sikap
mereka dingin dan kepribadiannya yang tidak bersahabat. Tapi, semua itu sama
sekali tidak berlaku bagi Hwang Ji Na. Dari awal dia memang sudah berbeda dari
klan alpha lainnya.
“Kau benar,” ujar Hwang Ji Na.
“Tapi bukan dia yang ku maksud! Kau harus memberitahuku soal
gadis yang satu lagi itu! Aku yakin jika kau tahu banyak soalnya. Bukannya kau
sudah cukup lama tinggal di sini?” celotehnya dengan panjang lebar.
“Baik-baik!” tegas Chanwo.
Pria itu memilih untuk menuruti semua permintaan Hwang Ji
Na. Lebih tepatnya, ia tidak mau membuat masalah dengan gadis itu. Dengan
begitu, urusannya akan lebih cepat selesai. Chanwo sedang malas untuk berdebat
dengan gadis itu. Dia terlalu rumit untuk dimengerti.
“Namanya Nhea. Ayahnya adalah anggota klan bayangan,” beber
Chanwo.
Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna. Ia sama
__ADS_1
sekali tidak bisa mempercayai hal tersebut. Ternyata kau kegelapan tidak hanya
ada di dalam hutan saja. Buktinya mereka sudah berkeliaran dimana-mana. Mungkin
mereka telah menjelajahi hampir separuh dari bagian dunia ini.
“Itu artinya dia sama sepertimu bukan?” tanya Hwang Ji Na.
“Kami berbeda,” jawab
Chanwo.
Hwang Ji Na kini mengarahkan seluruh perhatiannya kepada
gadis itu.
“Kenapa? Bukankah kalian berasal dari klan yang sama?”
bingung Hwang Ji Na.
“Hanya ayahnya saja yang berasal dari klan bayangan. Dia
menikah dengan manusia biasa,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Nhea masih memiliki darah manusia,” finalnya.
Sekarang Hwang Ji Na paham betul dengan situasinya. Ternyata
gadis itu merupakan keturunan klan bayangan secara tidak langsung. Dia tidak
benar-benar memiliki darah murni. Meski pernikahan dengan manusia dilarang
keras dalam sejarah kaum kegelapan, tapi mereka masih tetap melakukannya.
Sepertinya aturan tersebut tidak hanya berlaku bagi kaum kegelapan. Tapi bagi
klan lainnya juga. Mereka tidak boleh menikah dengan yang bukan berasal dari klannya. Apa lagi
dengan manusia. Tentu saja tidak boleh. Tapi pada kenyataannya selalu ada saja
Pantas saja Nhea tidak memiliki reaksi yang aneh sama
sekali. Ternyata ia tidak sepenuhnya manusia. Mungkin gadis itu hanya akan
mengalami gejala ringan saja. Tidak seburuk yang lainnya. Mengingat gen manusia
yang ia miliki hanya tinggal tersisa sedikit lagi. Kurang dari setengah. Chanwo
pernah menghisp darah gadis itu demi menyelamatkannya dari kondisi kritis kala
itu.
Sepertinya Hwang Ji Na cukup tahu sampai di situ saja. Dia
tidak perlu tahu lebih banyak. Lagi pula hal tersebut sama sekali tidak penting
baginya. Bukan urusan gadis itu sama sekali.
“Baiklah semuanya, mari kita mulai perjalanan kita!” seru Wilson
dari barisan paling depan.
Beberapa orang yang telah dipercaya akan memimpin jalan
menuju Reodal malam ini. Kemungkinan mereka akan sampai di tempat itu tepat
pada tengah malam keesokan harinya. Atau bahkan bisa jadi lebih. Mereka tidak
akan pernah berjalan tanpa henti. Setidaknya pasti perlu isitrahat.
“Ayo!” ajak Chanwo.
Hwang Ji Na mengiyakan perkataannya. Keduanya berjalan
beriringan di barisan paling belakang. Ia sengaja mencari posisi yang paling
__ADS_1
jauh dengan Wilson. Dia tidak ingin cari masalah dengan pria itu lagi.
kehadirannya sudah cukup menjadi ancaman bagi Chanwo. Masih bisa bertahan hidup
hingga hari ini saja adalah sebuah keberuntungan bagi pria itu. Mungkin saat
ini ia masih aman. Tapi, tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi
beberapa menit ke depan. Chanwo harus tetap berhati-hati jika ingin selamat.
Setelah memastikan jika semua orang sudah berkumpul di sini,
mereka segera memulai perjalanannya untuk meninggalkan Mooneta. Semua orang
tidak benar-benar bisa pergi dengan tenang. Bahkan sebagian besar dari mereka
tidak bisa berhenti untuk menoleh ke belakang. Memangnya untuk apa lagi jika bukan
untuk melihat gedung sekolah itu untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini
mereka tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sini. dalam waktu sepekan ke
depan, pasti saljunya sudah menebal. Cukup tebal untuk menutupi hampir separuh
dari tinggi bagunan ini secara keseluruhan.
Semua orang diminta untuk tetap berada di dalam barisan dan
tidak boleh menjauhkan diri dari teman-temannya. Mereka harus tetap berada di
dalam rombongan. Tidak ada yang boleh tertinggal. Akan semakin rumit masalahnya
jika sampai hal tersebut terjadi. Sekarang saja sudah cukup banyak masalah yang
terjadi. Mereka tidak ingin jika sampai hal-hal yang tidak diinginkan itu
terjadi.
“Aku akan mendaftar menjadi salah satu murid baru,” ungkap
Hwang Ji Na secara mendadak di tengah perjalanan.
“Sama sepertimu,” lanjutnya.
Sontak perkataan gadis itu berhasil membuat Chanwo
terpelongo tak percaya. Bagaimana bisa ia berubah pikirand alam waktu semalam
saja. Bukankah kemarin malam ia adalah orang yang paling mendesak Chanwo agar
kembali ke hutan bersamanya.
“Apa kau mengurungkan niatmu untuk kembali ke istana?” tanya
Chanwo untuk memastikan.
“Tentu saja tidak! Kenapa kau berpikiran seperti itu?!”
celetuk Hwang Ji Na.
“Kita harus tetap kembali. Bagaimana pun juga, kita berasal
dari sana. Dunia luar seperti ini tidak cocok untuk kita. Meskipun aku memiliki
jiwa petualang alami karena aku merupakan keturunan klan alpha, tapi pola hidup
kalian yang terkesan pemalas berhasil mempengaruhiku,” jelasnya dengan panajng
lebar.
Alih-alih sebuah penjelasan. Kalimat Hwang Ji Na barusan
malah lebih terdengar seperti sebuah celotehan. Gadis itu sepertinya tengah
mengungkapkan semua keluh kesahnya sekarang. Dia mulai bicara jujur secara
__ADS_1
tidak langsung.