Mooneta High School

Mooneta High School
Fakta Kedua


__ADS_3

Hwang Ji Na kehabisan kata-kata. Padahal Chanwo sama sekali belum


menjawab pertanyaan yang barusan ia berikan. Tapi entah kenapa ia begitu yakin jika asumsinya


benar. Gadis itu telah membuat kesimpulan lebih dulu, padahal ia sama sekali


tidak bisa memastikan kebenarannya.


“Aku juga tidak yakin apakah itu benar atau tidak,” ungkap Chanwo.


Pria itu menghela napas panjang. Ia menyelipkan tangannya di


dalam saku celana. Pandangannya lurus ke depan menghadap kedua gadis itu.


“Maksudmu?” tanya Hwang Ji Na lagi. Sesungguhnya ia tidak


pernah memahami satupun perkataan pria itu tadi.


“Aku tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaanmu yang


barusan,” jawab pria itu secara gamblang.


“Mereka sama seperti kita,” ungkap Chanwo.


“Jadi intinya mereka bukan manusia kan?” tanya Hwang Ji Na


untuk memastikan kembali.


Pria itu tampak menganggukkan kepalanya dengan ragu. Dia


tidak sepenuhnya yakin dengan jawabannya sendiri.


“Dari klan mana mereka?” tanya gadis itu lagi untuk yang


kesekian kalinya.


“Bukankah kau sudah tahu banyak soal Eun Ji Hae? Kenapa aku


harus menjelaskannya lagi kepadamu?!” celetuk pria bertubuh jenjang itu.


Hwang Ji Na berdecak sebal sambil memutar bola matanya


dengan malas. Bibirnya maju beberapa centi, sehingga ia terlihat begitu


menggemaskan. Gadis ini telah mematahkan asumsi jika klan alpha menyeramkan. Sikap


mereka dingin dan kepribadiannya yang tidak bersahabat. Tapi, semua itu sama


sekali tidak berlaku bagi Hwang Ji Na. Dari awal dia memang sudah berbeda dari


klan alpha lainnya.


“Kau benar,” ujar Hwang Ji Na.


“Tapi bukan dia yang ku maksud! Kau harus memberitahuku soal


gadis yang satu lagi itu! Aku yakin jika kau tahu banyak soalnya. Bukannya kau


sudah cukup lama tinggal di sini?” celotehnya dengan panjang lebar.


“Baik-baik!” tegas Chanwo.


Pria itu memilih untuk menuruti semua permintaan Hwang Ji


Na. Lebih tepatnya, ia tidak mau membuat masalah dengan gadis itu. Dengan


begitu, urusannya akan lebih cepat selesai. Chanwo sedang malas untuk berdebat


dengan gadis itu. Dia terlalu rumit untuk dimengerti.


“Namanya Nhea. Ayahnya adalah anggota klan bayangan,” beber


Chanwo.


Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna. Ia sama

__ADS_1


sekali tidak bisa mempercayai hal tersebut. Ternyata kau kegelapan tidak hanya


ada di dalam hutan saja. Buktinya mereka sudah berkeliaran dimana-mana. Mungkin


mereka telah menjelajahi hampir separuh dari bagian dunia ini.


“Itu artinya dia sama sepertimu bukan?” tanya Hwang Ji Na.


“Kami berbeda,” jawab


Chanwo.


Hwang Ji Na kini mengarahkan seluruh perhatiannya kepada


gadis itu.


“Kenapa? Bukankah kalian berasal dari klan yang sama?”


bingung Hwang Ji Na.


“Hanya ayahnya saja yang berasal dari klan bayangan. Dia


menikah dengan manusia biasa,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Nhea masih memiliki darah manusia,” finalnya.


Sekarang Hwang Ji Na paham betul dengan situasinya. Ternyata


gadis itu merupakan keturunan klan bayangan secara tidak langsung. Dia tidak


benar-benar memiliki darah murni. Meski pernikahan dengan manusia dilarang


keras dalam sejarah kaum kegelapan, tapi mereka masih tetap melakukannya.


Sepertinya aturan tersebut tidak hanya berlaku bagi kaum kegelapan. Tapi bagi


klan lainnya juga. Mereka tidak boleh menikah dengan  yang bukan berasal dari klannya. Apa lagi


dengan manusia. Tentu saja tidak boleh. Tapi pada kenyataannya selalu ada saja


Pantas saja Nhea tidak memiliki reaksi yang aneh sama


sekali. Ternyata ia tidak sepenuhnya manusia. Mungkin gadis itu hanya akan


mengalami gejala ringan saja. Tidak seburuk yang lainnya. Mengingat gen manusia


yang ia miliki hanya tinggal tersisa sedikit lagi. Kurang dari setengah. Chanwo


pernah menghisp darah gadis itu demi menyelamatkannya dari kondisi kritis kala


itu.


Sepertinya Hwang Ji Na cukup tahu sampai di situ saja. Dia


tidak perlu tahu lebih banyak. Lagi pula hal tersebut sama sekali tidak penting


baginya. Bukan urusan gadis itu sama sekali.


“Baiklah semuanya, mari kita mulai perjalanan kita!” seru Wilson


dari barisan paling depan.


Beberapa orang yang telah dipercaya akan memimpin jalan


menuju Reodal malam ini. Kemungkinan mereka akan sampai di tempat itu tepat


pada tengah malam keesokan harinya. Atau bahkan bisa jadi lebih. Mereka tidak


akan pernah berjalan tanpa henti. Setidaknya pasti perlu isitrahat.


“Ayo!” ajak Chanwo.


Hwang Ji Na mengiyakan perkataannya. Keduanya berjalan


beriringan di barisan paling belakang. Ia sengaja mencari posisi yang paling

__ADS_1


jauh dengan Wilson. Dia tidak ingin cari masalah dengan pria itu lagi.


kehadirannya sudah cukup menjadi ancaman bagi Chanwo. Masih bisa bertahan hidup


hingga hari ini saja adalah sebuah keberuntungan bagi pria itu. Mungkin saat


ini ia masih aman. Tapi, tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi


beberapa menit ke depan. Chanwo harus tetap berhati-hati jika ingin selamat.


Setelah memastikan jika semua orang sudah berkumpul di sini,


mereka segera memulai perjalanannya untuk meninggalkan Mooneta. Semua orang


tidak benar-benar bisa pergi dengan tenang. Bahkan sebagian besar dari mereka


tidak bisa berhenti untuk menoleh ke belakang. Memangnya untuk apa lagi jika bukan


untuk melihat gedung sekolah itu untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini


mereka tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sini. dalam waktu sepekan ke


depan, pasti saljunya sudah menebal. Cukup tebal untuk menutupi hampir separuh


dari tinggi bagunan ini secara keseluruhan.


Semua orang diminta untuk tetap berada di dalam barisan dan


tidak boleh menjauhkan diri dari teman-temannya. Mereka harus tetap berada di


dalam rombongan. Tidak ada yang boleh tertinggal. Akan semakin rumit masalahnya


jika sampai hal tersebut terjadi. Sekarang saja sudah cukup banyak masalah yang


terjadi. Mereka tidak ingin jika sampai hal-hal yang tidak diinginkan itu


terjadi.


“Aku akan mendaftar menjadi salah satu murid baru,” ungkap


Hwang Ji Na secara mendadak di tengah perjalanan.


“Sama sepertimu,” lanjutnya.


Sontak perkataan gadis itu berhasil membuat Chanwo


terpelongo tak percaya. Bagaimana bisa ia berubah pikirand alam waktu semalam


saja. Bukankah kemarin malam ia adalah orang yang paling mendesak Chanwo agar


kembali ke hutan bersamanya.


“Apa kau mengurungkan niatmu untuk kembali ke istana?” tanya


Chanwo untuk memastikan.


“Tentu saja tidak! Kenapa kau berpikiran seperti itu?!”


celetuk Hwang Ji Na.


“Kita harus tetap kembali. Bagaimana pun juga, kita berasal


dari sana. Dunia luar seperti ini tidak cocok untuk kita. Meskipun aku memiliki


jiwa petualang alami karena aku merupakan keturunan klan alpha, tapi pola hidup


kalian yang terkesan pemalas berhasil mempengaruhiku,” jelasnya dengan panajng


lebar.


Alih-alih sebuah penjelasan. Kalimat Hwang Ji Na barusan


malah lebih terdengar seperti sebuah celotehan. Gadis itu sepertinya tengah


mengungkapkan semua keluh kesahnya sekarang. Dia mulai bicara jujur secara

__ADS_1


tidak langsung.


__ADS_2