
Dari segala macam kemungkinan yang disebutkan tadi, tidak
semudah itu bagi Oliver untuk sampai ke gedung utama. Terlebih lagi, tempat itu
hanya memiliki satu pintu masuk. Tidak ada pintu belakang dan lain-lain. Itu
artinya, mau tidak mau ia harus melewati pintu utama untuk bisa sampai ke
dalam. Jendela sudah dikunci semua pada jam segini. Terutama balkon utama yang
terletak di lantai tiga.
Gedung utama adalah satunya tempat yang memiliki penjagaan
khusus. Mengingat jika itu bukan tempat biasa. Ada banyak orang penting yang
berlindung di baliknya.
Nhea menyerah untuk menerka-nerka. Lagipula sekeras apa pun
ia berpikir, belum tentu tebakannya akan benar. Semua yang ada di dalam
kepalanya hanya asumsi belaka yang bahkan belum terbukti kebenarannya.
Daripada memusingkan hal itu sendiri, kenapa dia tidak
bertanya langsung kepada gadis itu. Sebenarnya dari mana Oliver mengetahui
semua informasi tersebut. Selain menguntit tentunya. Tidak bisa dipungkiri jika
rasa penasaran gadis itu jauh lebih besar dari apa pun. Sampai tidak bisa
terbendung lagi.
Lagipula Oliver pasti tidak akan keberatan jika Nhea
melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya. Ia tidak akan bisa mengelak dari
semua itu.
“Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku yang
sebelumnya,” ujar Nhea. Suaranya berhasil memecah keheningan suasana di antara
kedua insan ini.
“Ah, maafkan aku. Aku sedang tidak fokus tadi,” ungkapnya
secara gamblang.
“Bisa kau ulangi pertanyaannya?” lanjut Oliver.
Dia sungguh tidak bermaksud untuk membuat gadis itu menunggu
tadinya. Lagipula, sepertinya tadi Nhea juga sedang sibuk dengan pikirannya
sendiri. Jadi, pada intinya mereka sedang sama-sama sibuk dengan isi kepalanya
masing-masing. Padahal, tidak ada hal yang yang cukup penting untuk dipikirkan
di sini.
Karena jika dipikir-pikir tadi mereka sama-sama bersalah,
maka Nhea sama sekali tidak merasa keberatan untuk mengulangi perkataannya
tadi.
“Jadi, darimana kau bisa tahu jika aku pergi bersama Kakak
Ji kemarin malam?” tanya Nhea untuk yang kesekian kalinya.
“Oh, soal itu,” ucapnya singkat.
Oliver terlihat sengaja memotong kalimatnya. Kemudian segera
menyambungnya dengan kalimat baru yang jauh lebih kompleks.
__ADS_1
“Kemarin, aku memutuskan untuk menunggumu agar sama-sama
kembali ke kamar. Aku juga kepikiran untuk meminta maaf kemarin malam,”
paparnya di awal.
“Tapi, aku malah tidak sengaja bertemu dengan Kakak Ji.
Tidak biasanya dia datang ke gedung sekolah malam-malam begitu. Pasti ada
sesuatu yang penting,” jelasnya dengan panjang lebar.
Pasti ada sesuatu yang penting. Sampai membuat Eun Ji Hae
harus rela datang kemari. Jika tidak, tentu ia tidak akan melakukannya. Eun Ji
Hae bukan tipikal orang yang suka membuang-buang waktu seerti itu demi hal yang
tidak penting sama sekali.
“Kemudian, tak lama kemudian aku melihat kau meninggalkan
koridor bersama Kakak Ji,” finalnya.
Oliver tidak benar-benar yakin kemana Eun Ji Hae membawa
gadis itu kemarin. Yang jelas, ia hanya tahu jika mereka meninggalkan tempat
itu bersama-sama. Setelahnya sungguh bukan urusannya sama sekali. Oliver tidak
ingin mencari tahu lebih lanjut. Dia tidak ingin dicap sebagai siswa yang suka
ikut campur dengan urusan orang lain.
“Apa kau mengikuti kami?” tanya Nhea dengan hati-hati.
Dia sama sekali tidak bermaksud untuk menuduh gadis itu
dengan sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi, Nhea hanya ingin memastikan sesuatu
di sini sebelum ia berbicara lebih lanjut.
Setelah kejadian kemarin, Nhea masih belum bisa mempercayai
orang lain sepenuhnya. Terutama jika orang itu adalah Oliver, Jongdae dan Jang
Eunbi. Masih perlu waktu untuk mengembalikan rasa kepercayaan itu seperti
semula. Namun, setidaknya untuk hari ini Nhea akan mendengarkan penjelasan dari
sudut pandang gadis ini terlebih dahulu. Lagipula tidak ada salahnya.
Kedua alis gadis ini saling tertaut satu sama lain. Menunggu
penjelasan lebih lanjut dari Oliver. Ia tidak akan bisa mengambil kesimpulan
dalam situasi yang serba tidak jelas seperti ini.
“Jadi?” tanya Nhea. Gadis itu sengaja memancing Oliver agar
mau buka suara.
“Kemarin aku hanya melihat kalian pergi meninggalkan koridor
bersama-sama. Kemudian, aku mengikuti kalian sampai keluar pintu dan ternyata
Kakak Ji malah membawamu ke gedung utama. Jadi, aku memutuskan untuk tidak ikut
campur,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Kau tahu persis jika hanya orang-orang tertentu yang bisa
melangkah dengan bebas di tempat itu kapan saja. Dan sayangnya, aku tidak masuk
ke dalam salah satunya,” tukas Oliver.
Nhea mengangguk paham. Dia tidak tahu harus bereaksi
__ADS_1
bagaimana. Yang jelas ia merasa jauh lebih lega. Karena Oliver sama sekali
tidak mendengarkan secuil pun informasi dari perbincangan mereka kemarin malam.
Sebenarnya, topik yang ia bahas dengan Eun Ji Hae kemarin akan terdengar sangat sensitif bagi beberapa
orang.
“Jadi, kau langsung kembali ke kamar setelahnya?” tanya Nhea
sekali lagi untuk memastikan.
Oliver mengangguk dengan antusias untuk mengiyakan perkataan
gadis itu. Kemudian ia berkata, “Aku menunggumu semalaman.”
“Tapi, ternyata mataku tidak bisa bertahan lebih lama lagi
sampai kau datang,” tukasnya kemudian menghela napas pelan.
“Kau tidak perlu menungguku kemarin malam.”
Gadis itu berterus terang. Jika, Oliver masih tetap terjaga
sampai kemarin ia pulang, pasti Nhea akan sangat merasa bersalah kepadanya. Gadis
itu tidak suka jika harus membuat orang lain menunggu. Dia juga tidak suka dibuat
menunggu seperti itu. Jadi, untuk tidak mendapatkan masalah serupa, maka ia
harus menghindarinya.
“Kapan kau sampai di kamar kemarin malam?” tanya Oliver
tanpa basa-basi lagi.
“Mungkin sekitar jam satu malam,” jawab gadis itu dengan apa
adanya.
Jujur, dia sendiri tidak tahu apakah jawabannya itu benar
atau tidak. Nhea tidak bisa memastikan apa pun di sini. Termasuk jawabannya
sendiri. Oleh sebab itu, Nhea tidak merasa yakin dengan kata-katanya barusan.
Hanya ada satu jam raksasa yang ditempatkan di lantai dasar
gedung utama. Tepat sebelum memasuki ruang jamuan makan. Dan benda itu
sekaligus satu-satunya jam yang ada di akademi sihir Mooneta. Mereka
benar-benar membatasi penggunaan barang-barang modern di tempat ini dan tetap
mempertahankan gaya hidup lamanya.
Kemarin malam, ia lupa untuk melihat benda penunjuk waktu
yang tersedia di sana saat kembali dari gedung utama. Sama sekali tidak
terbesit di dalam pikiran gadis itu untuk memastikan waktu. Baginya tidak
terlalu penting. Tapi, entah kenapa ia
merasa sangat yakin jika kemarin dirinya kembali sekitar pukul satu.
“Aku pasti sudah terlelap pada jam segitu,” ujar Oliver
secara terang-terangan.
“Kemarin aku melihat jika kau tertidur dengan cukup pulas,”
beber Nhea sembari mengulum senyum.
Gadis yang duduk tepat di sebelahnya hanya bisa terkekeh
mendengar ucapan Nhea. Tidak bisa dipungkiri jika gadis itu memang benar-benar kelelahan
__ADS_1
kemarin. Jadi, ia memutuskan untuk tidur lebih cepat daripada biasanya.
Padahal, sebenarnya semalam Oliver bisa saja terjaga sampai subuh jika ia mau.