Mooneta High School

Mooneta High School
Impossible


__ADS_3

Dari segala macam kemungkinan yang disebutkan tadi, tidak


semudah itu bagi Oliver untuk sampai ke gedung utama. Terlebih lagi, tempat itu


hanya memiliki satu pintu masuk. Tidak ada pintu belakang dan lain-lain. Itu


artinya, mau tidak mau ia harus melewati pintu utama untuk bisa sampai ke


dalam. Jendela sudah dikunci semua pada jam segini. Terutama balkon utama yang


terletak di lantai tiga.


Gedung utama adalah satunya tempat yang memiliki penjagaan


khusus. Mengingat jika itu bukan tempat biasa. Ada banyak orang penting yang


berlindung di baliknya.


Nhea menyerah untuk menerka-nerka. Lagipula sekeras apa pun


ia berpikir, belum tentu tebakannya akan benar. Semua yang ada di dalam


kepalanya hanya asumsi belaka yang bahkan belum terbukti kebenarannya.


Daripada memusingkan hal itu sendiri, kenapa dia tidak


bertanya langsung kepada gadis itu. Sebenarnya dari mana Oliver mengetahui


semua informasi tersebut. Selain menguntit tentunya. Tidak bisa dipungkiri jika


rasa penasaran gadis itu jauh lebih besar dari apa pun. Sampai tidak bisa


terbendung lagi.


Lagipula Oliver pasti tidak akan keberatan jika Nhea


melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya. Ia tidak akan bisa mengelak dari


semua itu.


“Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku yang


sebelumnya,” ujar Nhea. Suaranya berhasil memecah keheningan suasana di antara


kedua insan ini.


“Ah, maafkan aku. Aku sedang tidak fokus tadi,” ungkapnya


secara gamblang.


“Bisa kau ulangi pertanyaannya?” lanjut Oliver.


Dia sungguh tidak bermaksud untuk membuat gadis itu menunggu


tadinya. Lagipula, sepertinya tadi Nhea juga sedang sibuk dengan pikirannya


sendiri. Jadi, pada intinya mereka sedang sama-sama sibuk dengan isi kepalanya


masing-masing. Padahal, tidak ada hal yang yang cukup penting untuk dipikirkan


di sini.


Karena jika dipikir-pikir tadi mereka sama-sama bersalah,


maka Nhea sama sekali tidak merasa keberatan untuk mengulangi perkataannya


tadi.


“Jadi, darimana kau bisa tahu jika aku pergi bersama Kakak


Ji kemarin malam?” tanya Nhea untuk yang kesekian kalinya.


“Oh, soal itu,” ucapnya singkat.


Oliver terlihat sengaja memotong kalimatnya. Kemudian segera


menyambungnya dengan kalimat baru yang jauh lebih kompleks.

__ADS_1


“Kemarin, aku memutuskan untuk menunggumu agar sama-sama


kembali ke kamar. Aku juga kepikiran untuk meminta maaf kemarin malam,”


paparnya di awal.


“Tapi, aku malah tidak sengaja bertemu dengan Kakak Ji.


Tidak biasanya dia datang ke gedung sekolah malam-malam begitu. Pasti ada


sesuatu yang penting,” jelasnya dengan panjang lebar.


Pasti ada sesuatu yang penting. Sampai membuat Eun Ji Hae


harus rela datang kemari. Jika tidak, tentu ia tidak akan melakukannya. Eun Ji


Hae bukan tipikal orang yang suka membuang-buang waktu seerti itu demi hal yang


tidak penting sama sekali.


“Kemudian, tak lama kemudian aku melihat kau meninggalkan


koridor bersama Kakak Ji,” finalnya.


Oliver tidak benar-benar yakin kemana Eun Ji Hae membawa


gadis itu kemarin. Yang jelas, ia hanya tahu jika mereka meninggalkan tempat


itu bersama-sama. Setelahnya sungguh bukan urusannya sama sekali. Oliver tidak


ingin mencari tahu lebih lanjut. Dia tidak ingin dicap sebagai siswa yang suka


ikut campur dengan urusan orang lain.


“Apa kau mengikuti kami?” tanya Nhea dengan hati-hati.


Dia sama sekali tidak bermaksud untuk menuduh gadis itu


dengan sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi, Nhea hanya ingin memastikan sesuatu


di sini sebelum ia berbicara lebih lanjut.


Setelah kejadian kemarin, Nhea masih belum bisa mempercayai


orang lain sepenuhnya. Terutama jika orang itu adalah Oliver, Jongdae dan Jang


Eunbi. Masih perlu waktu untuk mengembalikan rasa kepercayaan itu seperti


semula. Namun, setidaknya untuk hari ini Nhea akan mendengarkan penjelasan dari


sudut pandang gadis ini terlebih dahulu. Lagipula tidak ada salahnya.


Kedua alis gadis ini saling tertaut satu sama lain. Menunggu


penjelasan lebih lanjut dari Oliver. Ia tidak akan bisa mengambil kesimpulan


dalam situasi yang serba tidak jelas seperti ini.


“Jadi?” tanya Nhea. Gadis itu sengaja memancing Oliver agar


mau buka suara.


“Kemarin aku hanya melihat kalian pergi meninggalkan koridor


bersama-sama. Kemudian, aku mengikuti kalian sampai keluar pintu dan ternyata


Kakak Ji malah membawamu ke gedung utama. Jadi, aku memutuskan untuk tidak ikut


campur,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Kau tahu persis jika hanya orang-orang tertentu yang bisa


melangkah dengan bebas di tempat itu kapan saja. Dan sayangnya, aku tidak masuk


ke dalam salah satunya,” tukas Oliver.


Nhea mengangguk paham. Dia tidak tahu harus bereaksi

__ADS_1


bagaimana. Yang jelas ia merasa jauh lebih lega. Karena Oliver sama sekali


tidak mendengarkan secuil pun informasi dari perbincangan mereka kemarin malam.


Sebenarnya, topik yang ia bahas dengan Eun Ji Hae kemarin  akan terdengar sangat sensitif bagi beberapa


orang.


“Jadi, kau langsung kembali ke kamar setelahnya?” tanya Nhea


sekali lagi untuk memastikan.


Oliver mengangguk dengan antusias untuk mengiyakan perkataan


gadis itu. Kemudian ia berkata, “Aku menunggumu semalaman.”


“Tapi, ternyata mataku tidak bisa bertahan lebih lama lagi


sampai kau datang,” tukasnya kemudian menghela napas pelan.


“Kau tidak perlu menungguku kemarin malam.”


Gadis itu berterus terang. Jika, Oliver masih tetap terjaga


sampai kemarin ia pulang, pasti Nhea akan sangat merasa bersalah kepadanya. Gadis


itu tidak suka jika harus membuat orang lain menunggu. Dia juga tidak suka dibuat


menunggu seperti itu. Jadi, untuk tidak mendapatkan masalah serupa, maka ia


harus menghindarinya.


“Kapan kau sampai di kamar kemarin malam?” tanya Oliver


tanpa basa-basi lagi.


“Mungkin sekitar jam satu malam,” jawab gadis itu dengan apa


adanya.


Jujur, dia sendiri tidak tahu apakah jawabannya itu benar


atau tidak. Nhea tidak bisa memastikan apa pun di sini. Termasuk jawabannya


sendiri. Oleh sebab itu, Nhea tidak merasa yakin dengan kata-katanya barusan.


Hanya ada satu jam raksasa yang ditempatkan di lantai dasar


gedung utama. Tepat sebelum memasuki ruang jamuan makan. Dan benda itu


sekaligus satu-satunya jam yang ada di akademi sihir Mooneta. Mereka


benar-benar membatasi penggunaan barang-barang modern di tempat ini dan tetap


mempertahankan gaya hidup lamanya.


Kemarin malam, ia lupa untuk melihat benda penunjuk waktu


yang tersedia di sana saat kembali dari gedung utama. Sama sekali tidak


terbesit di dalam pikiran gadis itu untuk memastikan waktu. Baginya tidak


terlalu  penting. Tapi, entah kenapa ia


merasa sangat yakin jika kemarin dirinya kembali sekitar pukul satu.


“Aku pasti sudah terlelap pada jam segitu,” ujar Oliver


secara terang-terangan.


“Kemarin aku melihat jika kau tertidur dengan cukup pulas,”


beber Nhea sembari mengulum senyum.


Gadis yang duduk tepat di sebelahnya hanya bisa terkekeh


mendengar ucapan Nhea. Tidak bisa dipungkiri jika gadis itu memang benar-benar kelelahan

__ADS_1


kemarin. Jadi, ia memutuskan untuk tidur lebih cepat daripada biasanya.


Padahal, sebenarnya semalam Oliver bisa saja terjaga sampai subuh jika ia mau.


__ADS_2