Mooneta High School

Mooneta High School
Question


__ADS_3

Gadis itu sudah tidak bisa merasakan tangannya lagi saat ini. Ternyata keadaannya akan semakin memburuk jika dibiarkan. Harus cepat mendapatkan penanganan. Jika tidak bisa langsung disembuhkan, maka paling tidak bisa meredakan gejalanya sekaligus memperlambat proses penyebaran racun tersebut. Sebenarnya tidak bisa disebut sebagai racun juga. Karena, salju abadi sama sekali tidak memiliki senyawa seperti itu jika ditelusuri lebih jauh. Hanya saja, tingkat infeksi yang ditimbulkan olehnya setara dengan racun.


“Hey!” sahut Jang Eunbi karena tidak mendapatkan balasan sama sekali dari gadis itu.


Nhea lantas langsung tersadar dari lamunannya seketika. Isi kepalanya mendadak buyar. Padahal, ia juga tidak tahu sedang memikirkan apa.


“Ada apa?” tanya Nhea sekali lagi untuk memastikan.


“Kebiasaan,” cicit Jang Eunbi.


“Aku merasa sakit hati saat mengetahui jika kau tidak mendengarkan perkataanku sama sekali,” ungkap gadis itu pada Nhea.


“Ayolah! Apa kau tidak mau memaafkan temanmu yang satu ini?” bujuk Nhea.


Gadis itu akan melakukan apa saja untuk meluluhkan hati Jang Eunbi. Dia bukan tipikal orang yang suka mencari masalah dengan orang lain. Lagi pula, Nhea tidak ingin jika hubungan pertemanannya dengan gadis itu sampai merengang hanya karena masalah sepele seperti itu. Tentu saja tidak akan pernah membiarkan hal konyol seperti itu terjadi.


“Karena ini adalah kesalahan pertamamu selama kita berteman, maka untuk kali ini aku akan memaafkannya. Entah dengan kemudian hari,” jelasnya dengan panjang lebar. Tapi, tetap saja pada intinya Jang Eunbi sudah memaafkan gadis itu.


Setidaknya perasaan Nhea sudah terasa jauh lebih tenang setelah mendengar perkataan dari gadis itu barusan. Tidak ada jarak lagi di antara mereka. Sehingga tidak ada rasa saling canggung pula. Kebetulan memang hanya ada mereka berdua di sini. Oliver dan Jongdae tengah pergi ke sumber mata air yang terletak tak jauh dari sana. Ada sebuh sungai yang bisa dimanfaatkan airnya untuk minum. Mungkin hanya tempat itu satu-satunya perairan yang tidak membeku sekaligus masih terawat kebersihannya di antara banyaknya perairan yang mereka temui.


Sangat disayangkan jika mereka sampai meleewatkan kesempatan bagus seperti ini. Lagi pula mereka tidak akan beristirahat terlalu lama di tempat ini. Hanya beberapa saat saja, sebelum pada akhirnya pergi untuk melanjutkan perjalanan kembali.

__ADS_1


“Sekarang beritahu aku alasannya!” tegas Jang Eunbi sekali lagi.


Ia sudah tak sabaran. Pasalnya, ini bukan pertama kalinya gadis itu menanyakan hal serupa. Namun telah yang kesekian kalinya. Dan hasilnya tetap saja nihil. Nhea masih enggan untuk menjawab. Dia terus berusaha untuk menghindari pertanyaan tersebut, sampai mendapatkan jawaban yang tepat. Tapi, kini sudah tidak ada kesempatan untuk melakukan hal serupa lagi. Ia tidak bisa menghindar. Mau tidak mau, Nhea harus segera menjawabnya. Sebuah permasalahan ada bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.


“Alasan apa maksudmu?” tanya Nhea sekali lagi untuk memastikan.


Sementara itu, sosok yang ditanya tidak menjawab dengan kata-kata sama sekali. Ia hanya memainkan matanya saja. Namun, meski begitu Nhea tentu telah mendapatkan maksud dari pesan tersiratnya.


Gadis itu memegangi sarung tangannya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. Dia terlihat ragu. Pasalnya, masalah ini cukup serius. Dia tidak bisa tetap diam begini saja hingga akhir. Tapi, ia juga tidak tahu harus bagaimana memulainya. Nhea belum menemukan seseorang yang tepat untuk dijadikan sebagai tempatnya bercerita. Meski telah memiliki beberapa orang teman dekat, ia masih belum bisa mempercayai mereka sepenuhnya.


Manusia bisa berubah kapan saja. Tidak ada yang bisa menduga, kapan mereka akan berubah. Mungkin saja hari ini ia tidak ingin melakukannya. Tapi, siapa yang menyangka jika ia akan melakukan hal tersebut di masa depan. Tidak ada seorang pun yang bisa membuat prediksi soal hal itu dengan tepat.


Pada akhirnya, Nhea memutuskan untuk tetap memberitahu Jang Eunbi soal alasannya. Tapi, ia tidak memberitahu yang sebenarnya. Iya, benar. Nhea berbohong soal sesuatu yang ada di balik sarung tangan itu. Ia belum bisa mempercayai gadis itu sepenuhnya.


“Menurutku tidak terlalu dingin,” ungkap gadis itu.


“Udara dingin yang berhembus kerap kali membuat tanganku terasa kaku dan mati rasa. Aku tidak suka hal itu,” bohong Nhea.


Pada akhirnya, ia berhasil mendapatkan rasa percaya dari Jang Eunbi juga. Gadis itu merasa setuju dengan perkataan Nhea yang kali ini. Untuk pertama kalinya mereka berdua sependapat. Setidaknya, itu merupakan pertanda yang bagus. Karena, itu artinya Nhea telah berhasil mempengaruhi pikiran gadis ini.


“Aku juga tidak suka dengan sensasi yang diciptakan itu,”akunya.

__ADS_1


“Kau setuju denganku bukan?” tanya Nhea.


Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan perkataan Nhea barusan. Jika dipikir-pikir, apa yang ia katakan tadi ada benarnya juga. Akan terasa sangat tidak nyaman jika tangan kita hampir membeku akibat terpapar udara dingin dalam waktu yang cukup lama.


Kali ini gadis itu berhasil memanipulasi pikiran Jang Eunbi dengan begitu mulus. Tidak ada yang merasa curiga sejauh ini.


Tak lama kemudian, Oliver dan Jongdae datang dengan membawa tempat air minum mereka yang telah diisi ulang. Keduanya telah selesai dengan urusan mereka masing-masing. Nhea sendiri memang sengaja tidak ikut bersama Oliver, karena persediaan air minumnya masih cukup banyak. Musim dingin membuat gadis ini menjadi lebih jarang minum dari pada biasanya. Ia jarang merasa haus pada saat seperti ini.


"Kalian sudah selesai?" tanya Jang Eunbi.


Mereka mangangguk di saat yang bersamaan. Tentu saja sebagai respon atas pertanyaan gadis itu barusan.


Oliver dan Jongdae segera mengambil tempat duduk, tepat di samping mereka berdua. Keempatnya adalah teman dekat. Jadi, wajar saja jika mereka sering bersama seperti ini dan jarang berpisah.


"Apa yang sedang kalian bahas tadi?" tanya Oliver yang memutuskan untuk membuka suara lebih dulu.


"Benar! Ku juga penasaran. Kelihatannya seru!" timpal Jongdae yang ikut menambahi perkataan adiknya tadi.


"Bukan apa-apa," tepis Nhea dengan cepat.


Ia sedang tidak ingin membahas permasalahan yang sama lagi. Pertanyan yang dilontarkan oleh Jang Eunbi saja sudah hampir menjebaknya. Ia tidak bisa menghindari hal tak terduga semacam itu.

__ADS_1


Akan semakin panjang ceritanya nanti jika sampai Oliver dan Jongdae juga mananyakan' hal yang sama. Situasinya pasti akan semakin rumit. Ia tak bisa menyelesaikannya sendiri. Gadis itu perlu menghindari hal ini lagi, tapi dengan cara yang jauh lebih elegan. Permainannya tak boleh terlalu mudah untuk ditebak. Kalau ia tak pandai dalam mengatur segala hal, pasti mereka akan merasa curiga nantinya.


__ADS_2