Mooneta High School

Mooneta High School
Curiga


__ADS_3

 


 


Kelas akan dimulai sedikit lebih terlambat hari ini. Lebih


tepatnya empat jam lebih lama dari yang biasanya. Mereka harus beristirahat


sebentar sebelum kembali masuk ke kelas. Kemarin dan tadi pagi benar-benar


melelahkan bagi seluruhnya.


Eun Ji Hae langsung kembali ke kamarnya untuk berisiap. Ia


tidak akan masuk kelas hari ini. Gadis itu sudah lulsus sejak bertahun-tahun


yang lalu. Tepat sebelum ia mendapatkan hukuman dari Bibi Ga Eun. Kali ini Eun


Ji Hae akan ikut membantu wanita itu untuk bertugas. Hal itu akan menjadi


pekerjaan tetapnya mulai sekarang. Ia tidak bisa pergi kemana-mana tanpa seizin


Bibi Ga Eun. Setelah ini Eun Ji Hae akan langsung bergegas pergi ke ruangan


wanita itu. Dia tidak boleh sampai terlambat, atau Bibi Ga Eun akan memarahinya


lagi. Yang artinya, masalah baru akan datang.


Sementara yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing,


Neha dan teman-temannya juga berbuat demikian. Mereka duduk bersama di kuris


yang telah disediakan. Nhea, Oliver, Jongdae dan juga Jang Eunbi masuk ke kelas


lebih dulu. Bukan karena mereka terlalu bersemangat untuk memulai kelas. Tapi


hanya ada satu alasan yang membuat keempatnya bisa sampai ke sini.


Mengingat sekarang sedang musin dingin, mereka tidak mungkin


pergi ke taman. Meski biasanya anak-anak itu selalu menghabisakan waktu


luangnya di tempat itu. Tapia da sebuah pengecualian untuk hari ini dan


beberapa hari ke depan. Aturan tersebut akan tetap berlaku sampai akhir musim


dingin.


“Jangan lupakan kalau hari ini kita ada praktik dasar-dasar


keterampilan sihir,” ujar Oliver yang membuka suara lebih dulu.


“Tenang saja, itu hal mudah!” balas Jang Eunbi.


“Kita lihat saja nanti,” timpalnya.


Hal tersebut memangcing gelak tawa keduanya, yaitu Nhea dan


juga Jongdae. Kelakuan mereka berdua benar-benar seperti anak kecil yang sedang


saling bertaruh.


Mungkin ujian kali ini akan terasa mudah bagi sebagian besar


orang. Namun tidak dengan Nhea. Ia baru beberapa hari saja di sini. Bahkan


sihir yang ia pelajari sejauh ini saja belum terlalu banyak. Lantas, bagaiamana


ia bisa melewati ujian kali ini dengan selamat. Tidak akan ada yang bisa


membantunya. Bahkan Nhea sudah pasrah jika ia harus mendapatkan nilai rendah pada


ujian kali ini.


“Aku yakin kalian semua pasti akan berhasil pada ujian kali

__ADS_1


ini!” celetuk Nhea secara tiba-tiba.


“Kalian semua adalah orang yang hebat,” lanjutnya.


Kalimat yang tadi lebih terdengar seperti sebuah pengakuan


bagi Nhea. Namun mungkin akan terdengar jauh berbeda di telinga ketiganya. Bisa


jadi mereka malah menganggap perkataan gadis ini tadi sebagai sebuah pujian.


Agaknya kalimat itu memang memiliki arti ganda. Tapi tidak masalah selama


maknanya masih dalah ranah yang benar. Tidak lari dari konsep.


“Lo juga orang hebat kok,” ujar Jongdae sambil menepuk pelan


pundak gadis itu.


Mendapatkan perlakuan yang begitu bersahabat dari


orang-orang di sekitarnya, membuat Nhea merasa jauh lebih percaya diri. Tapi


bukan berarti ia berpikir jika dirinya akan mampu untuk melewati ujian kali


ini. Kedua sudut bibir gadis itu terangkat ke atas, membuat sebuah senyuman


tipis mengembang di wajahnya.


“Eh, kalian tau nggak?” celetuk Oliver secara tiba-tiba.


Kini semua mata tertuju ke arahnya. Gadis itu berhasil


mengalihkan perhatian mereka dengan cepat. Oliver telah mencuri atensi


orang-orang di sekitarnya.


“Tau apa?” tanya Nhea.


“Kemarin malam pas aku mau balik ke kamar asrama, enggak


“Malam-malam ke menara pengawas ngapain? Emangnya ada


sesuatu yang terjadi? Ada hal buruk?” tanya Jang Eunbi.


“Mana ku tau!” tukas seorang gadis yang memulai topik


pembicaraan ini terlebih dahulu.


Mendapatkan respon demikian, membuat Jang Eunbi menjadi


kesal. Ia memutar bola matanya malas.


“Aku liat dia jalan ngendap-ngendap gitu,” ungkap Oliver.


Kalimat yang baru saja ia ucapkan itu, berhasil mengundang


rasa curiga orang-orang. Pasalnya, untuk apa ia berjalan dengan mengendap-endap


seperti itu. Dia adalah bagian dari sekolah ini. Bahkan Eun Ji Hae adalah salah


satu orang yang cukuo dihormati keberadaannya. Lantas, kenapa ia malah bertidak


seperti seorang pencuri saja.


Mereka sangat yakin jika ada sesuatu yang sedang berusaha


disembunyikan dari banyak orang. Itu sebabnya Eun Ji Hae keluar malam-malam.


Pada saat tempat ini sepi dan semua orang sedang terlelap. Ia memanfaatkan


kesempatan tersebut untuk menjalankan aksinya.


“Hayo, kalian pada mikir apa?!” goda Jongdae.


“Udah lah! Enggak mungkin Kakak Ji punya niat jahat sama

__ADS_1


kita kan? Apalagi dia udah tinggal di sini selama bertahun-tahun. Bahkan jauh


lebih lama dari kita,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


“Semua itu mungkin aja,” sanngah Nhea yang kelihatannya tidak


terlalu setuju dengan pendapat pria itu.


Kini semua fokus teralihkan kepadanya. Mereka semua menatap


gadis ini dengan tatapan aneh yang sulit untuk dijelaskan apa maksudnya.


Mungkin orang lain tidak akan berani untuk menyalahkah Eun Ji Hae sekalipun ia


bersalah. Posisinya di sekolah ini jauh lebih berpengaruh dari pada apapun. Ia


bisa mendapatkan segalanya dengan hak istimewa yang ia miliki. Pasalnya, tidak


semua orang bisa mendapatkan hal yang serupa.


Posisi Eun Ji Hae saat ini membuat gadis itu aman. Tidak akan


ada orang yang berani membuat berita buruk tentangnya. Apalagi sampai merusak


reputasi gadis itu. Tentu Eun Ji Hae tidka akan diam saja jika diperlakukan


seperti itu. Ini adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan kekuatannya


tersebut.


“Shtt!!! Jangan bicara yang aneh-aneh soal Kakak Ji!”


peringati Jang Eunbi.


“Kenapa? Aku enggak ada bicara yang aneh soal dia,” tepis


Nhea dengan cepat.


“Semua orang memiliki potensi yang sama untuk salah. Enggak


ada perlakuan khusus,” jelas gadis itu.


“Tapi tetap aja, semua itu akan menjadi sebuah pengecualian


bagi Kakak Ji,” cicit Oliver.


“Seluruh anggota keluarga kebal hukum di tempat ini. Mereka


memiliki hak khusus. Semua orang memperlakukan mereka secara khusus,” jelas


gadis itu.


“Kalian enggak akan dianggap salah di sekolah ini, meskipun


pernah berbuat salah sebelumnya,” lanjutnya.


Perkataan Oliver berhasil membuat gadis yang juga berasal dari


keluarga itu membungkam mulutnya. Apa yang dikatakan oleh gadis itu tadi memang


benar. Selama ini selalu seperti itu fakta yang terjadi di lapangan. Tidak ada


yang bisa menyangkalnya. Bahkan Nhea bisa langsung memahami hal tersebut begitu


ia sampai di sini. Nhea telah mengamati semuanya.


Tapi mendadak, sebuah peristiwa berhasil mematahkan asumsi


Oliver. Siapa lagi jika bukan Nhea yang menemukannya.


“Lalu, apakah yang terjadi kepada Ify dan juga Eun Ji Hae


belum cukup untuk membuktikan jika anggota keluarga tidak selamanya kebal


hukum?” terang Nhea.

__ADS_1


__ADS_2