
Nhea memluk bibinya yang barusaja sampai itu dengan sangat erat. Sudah lama mereka tak bertatap wajah secara langsung seperti ini. Jarak dan waktu adalah satu-satunya alasan terkuat untuk semua ini. Menurut berita yang ia dengar, Ga Eun tinggal di Kota Busan dekat pantai dan sedang sibuk mengurus bisnis propertinya di sana.
“Maaf telah membangunkanmu sayang,” ujar Ga Eun sambil mengusap wajah gadis itu.
Wanita paruh baya itu menekukkan lututnya hanya agar tinggi merek terlihat sama. Meskipun jarang mengobrol atau bahkan untuk sekedar bertemu saja sulit, namun keduanya memiliki hubungan yang sangat baik antara satu sama lain.
Terakhir kali mereka bertemu, kurang lebih sekitar satu tahun yang lalu saat liburan musim panas tiba. Nhea sekeluarga pergi ke Busan untuk berlibur, sekaligus mengunjungi bibinya yang satu ini. Banyak hal menyenangkan yang membekas di memorinya kala itu jika ia ditanya tentang Busan.
“Kemana ayah dan ibu?” tanya Nhea dengan polosnya.
Ga Eun langsung terdiam sesaat setelah pertanyaan itu terlontar tanpa ragu dari mulut anak kecil tersebut. Ia berusaha untuk memutar otak dan mencari alasan yang logis, tapi tak terlihat seperti terlalu mengada-ada. Anak sekecil ini tak mungkin bisa mencerna semua kejadian di sekitarnya dengan tepat. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti soal semua ini.
__ADS_1
“Mungkin sedang ke pasar, untuk membeli bahan makanan. Kau tahu kan jika ini awal bulan? Ayahmu barusaja menerima gajinya, jadi pasti sekarang mereka tengah berbelanja,” jelas Ga Eun dengan panjang lebar.
“Oh….” balas gadis itu dengan bibir yang membulat sempurna.
“Apa bibi akan tinggal di sini?” lanjutnya.
Ga Eun menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan dari keponakannya itu.
“Berapa lama bibi akan tinggal bersama kami di sini?” tanya Nhea lagi.
“Entah lah, aku tak merencanakannya. Kita lihat saja seberapa lama aku akan di sini,” jawab Ga Eun apa adanya.
Hari itu bertepatan dengan awal bulan September. Dimana biasanya keluarga ini akan menuliskan semua harapannya di atas kertas kecil yang kemudian disimpan di dalam toples kaca berpenutup. Menurut perkataan ayahnya, beginilah cara yang diajarkan neneknya untuk melihat apakah harapan kita menjadi kenyataan atau tidak.
Tapi, dihari itu juga menjadi masa paling kelam dalam hidupnya. Hari dimana sebuah kisah baru yang tak pernah ia inginkan ada, memaksa untuk tetap hadir dalam dunianya. Hari itu tepat dimana bab pertama dari kisah terkelam itu mulai ditulis.
__ADS_1
Nhea mulai merasa cemas saat kedua orang tuanya tak kunjung kembali sejak pergi dari tadi pagi. Sekarang hari pertama di bulan September ini nyaris telah usai. Sejak hari itu, mereka berdua tak pernah kembali lagi. Toples penuh harapan yang selama ini selalu mereka isi bersama, sekarang hanya berisi harapan gadis itu saja. Dan kenyataan menyakitkan yang harus ia terima adalah, jika semua harapan tak akan pernah terwujud tanpa ayah dan ibunya.
Hari demi hari terus berlalu meninggalkan kisah lama yang tak pernah bisa ia relakan begitu saja. Setiap kali ada harapan baru, disitu pula selalu terselip sebuah rasa kecewa yang terlihat seperti kutukan abadi bagi tiap harapnya. Nyaris putus asa dan tak memiliki motivasi hidup sama sekali. Dunianya menjadi sangat datar dan tak berarti sedikitpun bagi pemiliknya.
“Kesalahan apa yang telah aku lakukan, sampai membuat mereka pergi.”
“Apa aku sudah keterlaluan? Apa aku telah menjadi anak nakal?”
__ADS_1