Mooneta High School

Mooneta High School
Explainer


__ADS_3

Sesuai dengan dugaannya. Pagi ini Nhea berujung dibangunkan


lebih dulu oleh Oliver. Gadis itu sama sekali tidak percaya jika Nhea


benar-benar kembali, tanpa ada kabar selama tiga hari. Rasanya terlalu


mustahil. Ia berharap agar dirinya tidak mengalami halusinasi atau semacamnya.


Melihat Nhea terbaring di ranjang sebelah setelah sekian


lama, rasanya sedikit tidak masuk akal. Sulit untuk dicerna. Oliver mendapatkan


kesulitan untuk membedakan mana yang benar ada dan mana yang tidak ada. Terlebih


ia mendapati hal tersebut, tepat ketika bangun tidur. Nyawanya belum sempat


terkumpul semua waktu itu.


“Ada apa?” tanya Nhea dengan suara serak khas bangun


tidurnya.


Ia bahkan sama sekali belum sempat untuk membuka kedua


kelopak matanya. Rasanya seperti tidak mau terbuka. Dalam hati Nhea


bertanya-tanya apakah sekarang sungguh sudah pagi? Padahal rasanya ia baru saja


merebahkan dirinya di atas kasur. Paling tidak ia perlu waktu sekitar dua jam


lagi sampai benar-benar merasa puas.


Namun, karena Oliver terus menggusik gadis ini, sepertinya


Nhea tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Mau tak mau ia harus segera


bangun. Atau jika tidak, Oliver pasti akan melakukan sesuatu yang jauh lebih


buruk daripada sekedar mengguncang-guncang tubuhnya.


Dengan segenap tenaga serta semangat yang tersisa, Nhea


berusah untuk membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar. Pandangannya bahkan


masih terasa begitu kabur. Wajar saja, ia baru bangun. Sekarang semua hal yang


berada di depannya terlihat seperti membayang dan tidak jelas sama sekali.


Kemudian, ia bangkit dari posisinya pada saat itu. Duduk


termenung sesaat untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa nyawanya. Nhea sedang


melakukan hal wajar yang kerap dilakukan oleh kebanyakan orang pada umumnya.


Anehnya, Oliver mendadak berubah menjadi tenang. Tepat ketika


gadis itu membenarkan posisi duduknya. Oliver tidak lagi mengomel atau bahkan


mengusik Nhea. Semuanya berubah seketika, hanya dalam hitungan detik. Butuh


waktu beberapa menit bagi Nhea untuk menyadari hal tersebut. Mengingat jika ia


baru saja bangun tidur, kinerja otak Nhea memang belum bisa optimal.


Untuk beberapa menit pertama, tidak ada satu pun dari mereka


yang bergeming. Hanya ada kesunyiam suasana yang terasa semakin mencekik. Baik Nhea


mau pun Oliver, sama-sama tidak ada yang berani buka suara. Sebenarnya bukan


tidak berani. Hanya saja mereka berdua sedang tidak terlalu berminat dengan


yang satu itu. Berujung dengan keduanya saling membisu satu sama lain.

__ADS_1


“Apa ini sungguhan kau?” tanya Oliver dengan ragu. Ia hanya


ingin memastikan satu kali lagi.


Di saat yang bersamaan pula, pada akhirnya Oliver berhasil


memecah keheningan suasana.


“Menurutmu?”


Bukannya memberikan sebuah jawaban, gadis itu malah bertanya


balik kepada Oliver. Tanpa diduga-duga, Oliver justru merasa lega. Pada saat


yang bersamaan, ia segera memeluk gadis itu. Bahkan Oliver melakukannya tanpa


ada peringatan sebelumnya. Ungtung saja Nhea tidak terlalu merasa kaget pada


saat itu.


“Apa-apaan kau ini!” protes Nhea.


“Dasar bodoh!” balas Oliver dengan sarkas, sembari melepas


pelukannya.


“Bagaimana bisa kau menghilang selama tiga hari, lalu


kembali secara tiba-tiba. Bukan hanya itu! Kau juga bersikap normal dan biasa


saja, seolah tidak terjadi apa-apa!” celotehnya dengan panjang lebar.


Nhea memutar bola matanya malas saat mendengar kalimat


tersebut keluar dari mulut gadis itu.


“Lagipula tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik


saja,” ujar Nhea secra gamblang.


secara tiba-tiba setelah kejadian itu?!” seru Oliver sebagai pembelaan yang


secara tidak langsung telah menyatakan jika dirinya benar.


Nhea tetap bergeming untuk beberapa saat setelah kalimat


tersebut terlontar. Awalnya ia sempat merasa tidak terlalu yakin. Rasanya yang


satu ini tidak perlu ia katakan, karena pada dasarnya semua orang yang berada


di akademi in isudah mengetahui hal tersebut. Faktanya memang begitu. Tapi,


sepertinya Nhea perlu mempertegas hal ini sekali lagi agar mereka tidak mudah


lupa.


“Kurasa tidak ada yang terlalu memperhatikan hal tersebut,”


ungkap Nhea di awal.


“Kabar buruk soal menghilangnya diriku sama sekali tidak


berpengaruh apa pun terhadap akademi ini. Lagipula aku bukan orang penting. Jadi,


kenapa mereka harus mencemaskanku?” jelas Nhea dengan panjang lebar, kemudian


berakhir dengan sebuah pertanyaan menjebak.


“Apa maksudmu?” balas Oliver sambil mengerutkan dahinya,


pertanda kebingungan.


“Apa kau tidak tahu jika keluargaku bahkan sama sekali tidak

__ADS_1


peduli soal hal itu,” jawab Nhea dengan apa adanya.


Kalimat tersebut berhasil membungkam mulut Oliver. Ia tidak


tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Mendadak, gadis itu kehabisan stok


kata-kata. Semua kalimat yang sebelumnya sudah sempat ia susun di dalam


kepalanya, mendadak enyah begitu saja. Tidak hanya sampai di situ saja.


Lidahnya bahkan turut serta terasa kelu.


Oliver sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Untuk


kalimat yang satu itu, Oliver tidak bisa membantahnya lagi. Apa yang dikatakan


oleh Nhea barusan memang benar. Oliver sendiri bahkan sampai tidak habis pikir.


Bagaimana bisa mereka melakukan hal tersebut terhadap anggota keluarganya


sendiri.


Ia bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada di


posisi Nhea pada saat itu. Mungkin ia enggan untuk kembali. Lebih baik menghilang


selamanya saja jika begini. Tidak mudah untuk menjadi Nhea.


Orang-orang selalu berkata jika kau ingin melihat sahabat


mana yang paling baik, maka lihat saja saat kau sedang terjebak dalam


kesulitan. Apa yang pertama kali mereka lakukan. Tapi, ternyata hal tersebut


tidak hanya berlaku bagi sahabat saja. Bahkan keluarga juga ada yang palsu. Tidak


semua dari mereka baik dan dapat dipercaya. Sebagian malah berlaku sebaliknya. Atau


jangan-jangan hampir semua anggota keluarga tidak bisa dipercaya.


“Jangan  pikirkan soal


itu!” larang Oliver.


“Jika mereka sja tidak ingin memikirkan soal kondisimu,


lantas kenapa kau harus memusingkan mereka?” tanya gadis itu kemudian.


Nhea sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan


Oliver barusan. Tapi, dari apa yang dikatakannya barusan ada benarnya juga. Posisi


tersebut akan sangat merugikan Nhea nantinya, jika ia terus-terusan ambil


pusing perihal tersebut.


Intinya sekarang ia sudah paham betul, jika tidak ada satu


pun dari anggota keluarganya yang bisa dipercaya. Mereka bahkan tidak


memberikan secuil informasi terkait akademi sihir Mooneta. Padahal, katanya


setiap anggota keluarga berhak tahu. Namun, pada faktanya malah gadis itu


sendiri yang mencari tahu semuanya.


Keluarga mereka bukan keluarga


yang baik-baik saja seperti kelihatan pada umumnya. Semua itu hanya topeng


belaka. Perlahan namun pasti, sikap asli setiap orang mulai terungkap. Tidak ada


kasih sayang di sini. Yang ada hanya persaingan. Tujuan mereka hanya satu,

__ADS_1


yaitu merebut tahta. Semua orang yang ada di sini ingin menjadi seorang penguasa.


__ADS_2