
Nhea tengah berdiri tepat di depan cermin. Ia perlu
memastikan kembali penampilannya seperti apa sebelum keluar dari kamar. Setidaknya
ia harus tampak begitu baik ketika berhadapan dengan semua orang nantinya. Tidak
boleh ada yang terlihat janggal di sini.
Nhea telah merencanakan semuanya dengan sedemikian rupa. Bukan
sembarang rencana. Namun, lebih tepatnya rencana balas dendam kepada
keluarganya sendiri. Melihat setelah apa yang terjadi sejauh ini, rasanya Nhea
tidak perlu berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut. Meski baru tinggal
di akademi ini selama beberapa bulan, Nhea sudah paham betul dengan setip sisi
gelap dari keluarga mereka. Termasuk masa lalu keluarga mereka.
Sekarang sudah bukan waktunya lagi untuk berdiam diri. Melainkan
harus melakukan aksi paling nyata untuk menyelamatkan dirinya sendiri.Nhea
tidak akan pernah terlepas dari belenggu penjara ini. Ia akan terus menjadi
tawanan jika tidak pernah mencoba untuk memberontak.
Baginya tidak apa jika sesekali ia bertindak sesuka hati. Selama
tidak merugikan siapa pun. Terlebih lagi hal yang ia lakukan ini adalah
tindakan yang benar. Tidak ada salahnya sama sekali. Jika bukan Nhea yang
memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri, memangnya siapa lagi. Dunia ini
terlalu kejam untuk ditinggali bagi orang sepertinya. Mereka semua terlalu
jahat. Sehingga membuat Nhea mau tak mau harus berubah menjadi jahat juga. Tidak
ada pilihan lain. Hanya itu satu-satunya jalan yang bisa dipilih oleh orang
seperti Nhea.
Jangan bersikap terlalu baik kepada siapa pun. Termasuk
keluargamu sendiri. Karena pada dasarnya tidak ada satu pun dari mereka yang
bisa dipercaya. Semua orang sama saja. Merek hanya saling memanfaatkan untuk
mencapai tujuannya masing-masing. Entah kita menyadari hal itu atau tidak sama
sekali.
“Apa kau yakin ingin langsung bertemu dengan mereka?” tanya
Oliver untuk memastikan.
“Kenapa tidak?” tanya gadis itu balik.
Sepertinya sudah tidak ada keraguan sama sekali di dalam
dirinya. Gadis itu siap untuk menghadapi situasi macam apa pun yang sedang
menghadangnya. Karena kini ia sadar jika maslaah ada bukan untuk dihindari.
Nhea banyak belajar hal baru sejak beberapa hari yang lalu. Termasuk ketika
masa pengasingannya di ruang penyimpanan.
__ADS_1
Mendadak ia menjadi orang yang paling berani di akademi ini
setelah keluar dari sana. Berbekalkan semua bukti yang sudah ia miliki sejauh
ini, Nhea yakin betul jika kali ini ia akan menang. Paling tidak posisinya jauh
lebih unggul dari pada Eun Ji Hae. Tidak akan mudah bagi gadis itu untuk
mengalahkan Nhea kali ini. Pasalnya, Nhea sudah memiliki persiapan yang
terbilang cukup matang sebelum menyerang.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara langkah kaki gadis itu menggema di seluruh penjuru
ruangan. Ia dan Oliver adalah orang terakhir yang berhasil sampai di ruang
perjamuan makan. Ketika semua orang sudah menempati tempat duduknya
masing-masing, mereka bahkan baru datang dan belum sempat mengambil jatah makan paginya.
Sontak semua mata tertuju ke arah mereka berdua. Terutama Nhea.
Saat ini gadis itu tengah menjadi pusat perhatian oleh semua orang. Ratusan pasang
mata tertuju ke arahnya. Menatap gadis itu dengan lamat-lamat. Seolah tidak
percaya jika Nhea benar-benar kembali.
Mereka semua tampak tercengang begitu mendapati kehadiran
gadis itu di sini. Tepat di tengah-tengah mereka, setelah selama tiga hari
berturut-turut semua orang melakukan segalanya tanpa Nhea.
Semua orang tidak percaya jika Nhea sungguh berada di sini.
sama sekali tidak berlaku bagi mereka. Karena pada dasarnya mereka berdua sudah
tahu jauh lebih dulu dari pada yang lainnya.
Namun, di sisi lain Nhea malah bersikap dengan begitu
santainya. Mulai dari mengambil jatah sarapannya pagi ini, hingga mencari
tempat duduk yang masih tersisa
untuknya. Sepertinya para siswa dan staff pengajar lainnya bukan satu-satunya
orang yang merasa tekejut di sini. Bahkan staff dapur sendiri sama sekali tidak
habis pikir. Sebabnya, berita soal menghilangnya Nhea sudah langsung tersebar
ke seluruh akademi. Semuanya terjadi dengan cepat. Sangat sulit untuk
menghentikan arus informasi di akademi ini. Bahkan jika kau sudah membunuh
pusatnya sekali pun, hal itu akan sama nihilnya.
“Sepertinya kursi yang berada di ruangan ini berkurang satu,”
ujar Nhea secara gamblang.
Ia menggidikkan kedua bahunya. Kemudian berjalan ke arah jendela.
Entah apa yang sedang ia pikirkan pada saat itu. Mungkin Nhea telah memutuskan
untuk duduk dan menghabiskan makanannya di sana saja. Bukankah hal tersebut
__ADS_1
jauh lebih baik dari pada mengusik ketenangan orang lain? Mereka pasti akan
menganggap gadis itu sebagai seseorang yang egois karena merebut tempat orang
lain.
Sekarang masih terlalu pagi. Ia tidak ingin membuat
keributan dalam bentuk apa pun. Nhea masih terlalu malas untuk hal itu. Paling
tidak berikan ia jeda sebentar untuk mengisi ulang tenaganya. Karena pada
dasarnya, tidur saja tidak cukup utuk memulihkan segalanya.
Tanpa menghiraukan perkataan orang lain, Nhea segera
berjalan menuju jendela besar tersebut. Dan yang benar saja, Nhea sungguh
menhampiri jendela tersebut.
“Ternyata sarapan sambil melihat pemandangan dari sini jauh
lebih baik,” gumamnya.
Seluruh anggota keluarga masih tidak habis pikir dengan kelakuan
gadis itu. Mereka bahkan tidak tahu harus berkata apa. Nhea sungguh berhasil
membuat mereka kehabisan kata-kata.
Eun Ji Hae sendiri sudah sampai menghela napasnya selama
beberapa kali. Gadis itu tidak tahu harus memberikan reaksi yang bagaimana. Jika
dipikirkan secara lebih baik-baik lagi, maka Nhea sama sekali tidak bersalah.
Apa yang dilakukannya barusan tidak salah, namun di sisi lain juga tidak bisa
dibenarkan begitu saja.
Di meja makan, seluruh anggota keluarga saling melemparkan
pandangan satu sama lain. Mereka masih tidak tahu harus melakukan tindakan
seperti apa. Pada akhirnya, Vallery memutuskan untuk mengambil alih gadis itu. Untuk
bicara dengan Nhea, sepertinya akan jauh lebih baik jika Vallery yang berbicara
dengannya. Sesama wanita pasti akan lebih mudah mengerti. Berbeda halnya dengan
pria. Mungkin tidak akan sekondusif itu jika Wilson yang berbicara dengannya.
‘KRIETT!!!’
Suara gesekan kaki kursi dengan permukaan lantai berhasil
menciptakan suara derit yang cukup mengilukan. Bahkan suaranya terdengar jelas
hingga ke sudut ruangan sekali pun. Sebab, suasana di sana kala itu memang
cukup sepi.
Nhea lantas menoleh ke arah
sumber suara dan malah mendapati Vallery yang berjalan mendekat ke arahnya. Bukannya
merasa bahagia, Nhea justru merasakan hal yang sebaliknya. Gadis itu memutar
bola matanya balas. Tidak ada minat sama sekali untuk menjalin komunikasi
__ADS_1
secara intim dengan wanita itu. Vallery bukan lagi sosok ibu yang pernah ia
rindukan sejak dulu.