
Setelah mendengar penjelasan dari wanita itu barusan, rasa
penasarannya kian memuncak. Ada satu pertanyaan besar yang muncul di dalam
kepalanya saat ini. Masih perihal yang sama dengan pertanyaan pertamanya tadi.
Sudah jelas jika ia pasti memiliki kaitan dengan akademi
sihir Mooneta. Bahkan gadis itu mengakui secara langsung.
“Apa kau dulunya siswa di sini?” tanya Nhea dengan ragu.
Untuk mendapatkan jawaban dari sesuatu yang ia maksud di
awal tadi, maka Nhea harus mengubah taktiknya. Mungkin wanita itu tidak akan
mau menjawab jika Nhea kembali bertanya siapa dirinya. Namun jika ia sedikit
bermain di taktik, maka tidak menutup kemungkinan jika dirinya bisa memperoleh
informasi jauh lebih banyak dari apa yang ia kira.
“Sebenarnya tidak bisa dikatakan seperti itu juga,” tepisnya
secara halus.
“Tapi yang jelas aku masih salah satu bagian dari akademi
sihir Mooneta,” jelasnya kemudian.
Bukannya mengerti, gadis itu malah dibuat semakin
kebingungan. Entah memang karena penjelasan dari wanita itu yang terlalu
bertele-tele dan sulit untuk dipahami, atau daya serap otaknya yang lambat.
“Jika ia bukan siswa, maka pasti wanita ini adalah salah
satu staff yang sempat bekerja di sini,” batin Nhea dalam hati.
Kedua bola matanya masih terus mengamati lawan bicara yang
berdiri di depannya sekarang. Menyorotinya dengan lekat dari ujung kepala
sampai ke ujung kaki. Barang kali ada sesuatu yang bisa ia jadikan sebagai
petunjuk. Nhea tidak boleh sampai melewatkan satu hal pun.
Sejak tadi ada begitu banyak asumsi yang muncul di dalam
kepalanya. Namun, tidak ada satu pun yang terbukti benar. Bukan karena Nhea
tidak ingin mencari tahu lebih lanjut soal kebenarannya. Namun, sebab lawan
bicaranya sekarang tidak dapat diajak bekerja sama. Itu adalah satu-satunya kendala
yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Padahal menghadapi orang lain tidak
pernah sesulit ini.
“Omong-omong, soal masalahmu tadi siang, sebaiknya kau
menjaga jarak terlebih dahulu dengan mereka,” ujar wanita tersebut secara
tiba-tiba.
“Kau bisa kembali lagi jika sudah merasa jauh lebih baik,”
tukasnya.
Ternyata benar apa kata orang lain selama ini. Mereka selalu
memberikan nasehat dan pesan kepada orang lain, seolah mereka yang terbaik.
Padahal sebelumnya ia juga gagal dalam hal yang sama.
“Lantas, kenapa kau masih belum kembali hingga saat ini?”
__ADS_1
tanya Nhea secara gamblang.
Lupakan soal bagaimana perasaan wanita itu. Mungkin kalimat
tersebut berpotensi menyinggung perasaannya. Namun, di sisi lain wanita itu
juga harus memikirkan perasaan Nhea juga. Kau pasti akan merasa kesal ketika
orang lain terus berusaha menghindar darimu. Apakah begitu cara yang tepat
untuk menghargai? Ia rasa tidak sama sekali.
“Memangnya sebesar apa masalah yang pernah menimpamu?
Sampai-sampai kau belum merasa jauh lebih baik juga sampai hari ini,” celetuk
Nhea dengan panjang lebar.
“Biar ku tebak! Kau pasti kemari bukan untuk kembali lagi,”
tebak gadis itu.
Selama tebakan itu melibatkan sebagian besar dari intuisi
gadis itu, maka kemungkinan untuk benarnya akan semakin besar pula. Nhea memang
selalu mengandalkan intuisinya. Walau pada kenyataannya ia tidak pernah
benar-benar percaya dengan dirinya sendiri.
Mendengar pernyataan tersebut, lantas membuat gadis itu tercengang.
Ia mematung di tempat. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Bahkan beberapa
saat kemudian ia masih tetap bergeming.
“Singkatnya, aku hanya ingin memberi tahu sesuatu yang
teramat penting kepadamu,” ungkap wanita tersebut.
kata-kata unguk berbasa-basi. Ternyata Nhea cukup pandai dalam memainkan
rangkaian kata, hingga mulut wanita tersebut bungkam karenanya. Setidaknya
setelah kekalahan tim mereka siang tadi, kali ini ia kembali unggul. Meskipun
dalam hal yang konteksnya berbeda jauh.
“Jadi, apa itu?” tanya Nhea.
“Semakin cepat kau memberitahukannya, maka akan semakin jauh
lebih baik,” cicitnya kemudian.
Nhea kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Meski bersikap begitu, ia sama sekali
tidak mencerminkan sikap angkuh. Nhea tetaplah Nhea yang mereka kenal selama
ini.
Dengan sabar bercampur rasa penasaran yang kian memuncak,
gadis itu tetap menantinya. Sekarang sudah tidak perlu memaksa lagi. Karena
wania itu akan segera mengungkapkannya dengan segera. Dan yang terpenting
adalah secara sukarela.
“Pertama-tama, kau harus tahu jika dulu aku juga sering
berkunjung ke ruang penyimpanan. Bahkan jauh lebih sering darimu,” ungkap
wanita tersebut secra gamblang.
“Yang kedua, namaku Sofia,” lanjutnya.
__ADS_1
“Dan yang ketiga, sekaligus menjadi hal terakhir yang perlu
ku sampaikan kepadamu adalah…..”
Wanita itu tampak menggantung kalimatnya. Entah karena ia
memang sengaja ingin membuat Nhea merasa penasaran, atau malah bukan itu
alasannya sama sekali. Namun alih-alih begitu, ia jauh lebih terlihat seperti
orang yang enggan rahasianya diketahui oleh orang banyak. Jika diperhatikan
baik-baik dari raut wajahnya, ia masih tampak ragu. Tidak bisa memutuskan,
apakah sungguh harus menyampaikannya kepada Nhea atau tidak.
“Jadi, apa itu hal yang ketiga?” tanya Nhea.
meski terkesan sedikit mendesak, bagi Nhea hal tersebut sama
sekali bukan masalah. Karena sebelumnya mereka sudah membuat kesepakatan. Nhea
berhak mendengar semuanya hingga habis.
Bahkan setelah ia menanyakan hal tersebut, sama sekali tidak
ada jawaban dari Sofia. Jelas emosinya terpancing. Namun, Nhea tidak ingin
bertindak dengan gegabah. Ia masih memberikan kesempatan bagi wanita itu.
Mungkin dia memang harus memberikan sedikit waktu ekstra bagi Sofia untuk memutuskan.
Kali ini bukan lagi Nhea yang menghela napas. Melainkan Sofia.
Situasinya mendadak berbanding terbalik di sini. Tapi, itu sama sekali bukan
hal yang penting. Tidak perlu dicemaskan.
“Baiklah,” ujar Sofia.
Tampaknya ia sudah memutuskan. Meski keputusannya terlihat
berat untuk diterima bagi dirinya sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia yang
menawarkan persetujuan tersebut di awal.
“Ini cukup rahasia, tapi aku yakin jika kau adalah orang
yang tepat untuk menjaga rahasia ini,” ucapnya dengan penuh harap.
Nhea mengangguk, mengiyakan perkataan wanita tersebut
kepadanya.
“Kemarilah!” titah Sofia sambil melambai-lambaikan tangannya
ke arah gadis itu.
Tanpa pikir panjang, Nhea segera mendekat ke arah wanita
itu. Tampaknya ia akan membisikkan sesuatu yang cukup bersifat rahasia di
telinganya. Nhea tidak pernah sepenasaran ini sebelumnya. terlepas dari hal itu
menyangkut dirinya atau tidak. Rasa penasarannya tidak pernah lebih tinggi dari
yang ia alami sekarang.
“Pergi dan ambil mahkota yang berada di ruang penyimpanan. Lakukan
itu sebelum orang lain mengambilnya lebih dulu darimu. Semakin cepat akan
semakin baik pula,” beber Sofia dengan panjang lebar.
Tubuh gadis itu mematung di
tempat tepat setelah mendengar kalimat tersebut. Darahnya berdesir.
__ADS_1