Mooneta High School

Mooneta High School
Ladies on Top


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari wanita itu barusan, rasa


penasarannya kian memuncak. Ada satu pertanyaan besar yang muncul di dalam


kepalanya saat ini. Masih perihal yang sama dengan pertanyaan pertamanya tadi.


Sudah jelas jika ia pasti memiliki kaitan dengan akademi


sihir Mooneta. Bahkan gadis itu mengakui secara langsung.


“Apa kau dulunya siswa di sini?” tanya Nhea dengan ragu.


Untuk mendapatkan jawaban dari sesuatu yang ia maksud di


awal tadi, maka Nhea harus mengubah taktiknya. Mungkin wanita itu tidak akan


mau menjawab jika Nhea kembali bertanya siapa dirinya. Namun jika ia sedikit


bermain di taktik, maka tidak menutup kemungkinan jika dirinya bisa memperoleh


informasi jauh lebih banyak dari apa yang ia kira.


“Sebenarnya tidak bisa dikatakan seperti itu juga,” tepisnya


secara halus.


“Tapi yang jelas aku masih salah satu bagian dari akademi


sihir Mooneta,” jelasnya kemudian.


Bukannya mengerti, gadis itu malah dibuat semakin


kebingungan. Entah memang karena penjelasan dari wanita itu yang terlalu


bertele-tele dan sulit untuk dipahami, atau daya serap otaknya yang lambat.


“Jika ia bukan siswa, maka pasti wanita ini adalah salah


satu staff yang sempat bekerja di sini,” batin Nhea dalam hati.


Kedua bola matanya masih terus mengamati lawan bicara yang


berdiri di depannya sekarang. Menyorotinya dengan lekat dari ujung kepala


sampai ke ujung kaki. Barang kali ada sesuatu yang bisa ia jadikan sebagai


petunjuk. Nhea tidak boleh sampai melewatkan satu hal pun.


Sejak tadi ada begitu banyak asumsi yang muncul di dalam


kepalanya. Namun, tidak ada satu pun yang terbukti benar. Bukan karena Nhea


tidak ingin mencari tahu lebih lanjut soal kebenarannya. Namun, sebab lawan


bicaranya sekarang tidak dapat diajak bekerja sama. Itu adalah satu-satunya kendala


yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Padahal menghadapi orang lain tidak


pernah sesulit ini.


“Omong-omong, soal masalahmu tadi siang, sebaiknya kau


menjaga jarak terlebih dahulu dengan mereka,” ujar wanita tersebut secara


tiba-tiba.


“Kau bisa kembali lagi jika sudah merasa jauh lebih baik,”


tukasnya.


Ternyata benar apa kata orang lain selama ini. Mereka selalu


memberikan nasehat dan pesan kepada orang lain, seolah mereka yang terbaik.


Padahal sebelumnya ia juga gagal dalam hal yang sama.


“Lantas, kenapa kau masih belum kembali hingga saat ini?”

__ADS_1


tanya Nhea secara gamblang.


Lupakan soal bagaimana perasaan wanita itu. Mungkin kalimat


tersebut berpotensi menyinggung perasaannya. Namun, di sisi lain wanita itu


juga harus memikirkan perasaan Nhea juga. Kau pasti akan merasa kesal ketika


orang lain terus berusaha menghindar darimu. Apakah begitu cara yang tepat


untuk menghargai? Ia rasa tidak sama sekali.


“Memangnya sebesar apa masalah yang pernah menimpamu?


Sampai-sampai kau belum merasa jauh lebih baik juga sampai hari ini,” celetuk


Nhea dengan panjang lebar.


“Biar ku tebak! Kau pasti kemari bukan untuk kembali lagi,”


tebak gadis itu.


Selama tebakan itu melibatkan sebagian besar dari intuisi


gadis itu, maka kemungkinan untuk benarnya akan semakin besar pula. Nhea memang


selalu mengandalkan intuisinya. Walau pada kenyataannya ia tidak pernah


benar-benar percaya dengan dirinya sendiri.


Mendengar pernyataan tersebut, lantas membuat gadis itu tercengang.


Ia mematung di tempat. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Bahkan beberapa


saat kemudian ia masih tetap bergeming.


“Singkatnya, aku hanya ingin memberi tahu sesuatu yang


teramat penting kepadamu,” ungkap wanita tersebut.


kata-kata unguk berbasa-basi. Ternyata Nhea cukup pandai dalam memainkan


rangkaian kata, hingga mulut wanita tersebut bungkam karenanya. Setidaknya


setelah kekalahan tim mereka siang tadi, kali ini ia kembali unggul. Meskipun


dalam hal yang konteksnya berbeda jauh.


“Jadi, apa itu?” tanya Nhea.


“Semakin cepat kau memberitahukannya, maka akan semakin jauh


lebih baik,” cicitnya kemudian.


Nhea kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya.


Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Meski bersikap begitu, ia sama sekali


tidak mencerminkan sikap angkuh. Nhea tetaplah Nhea yang mereka kenal selama


ini.


Dengan sabar bercampur rasa penasaran yang kian memuncak,


gadis itu tetap menantinya. Sekarang sudah tidak perlu memaksa lagi. Karena


wania itu akan segera mengungkapkannya dengan segera. Dan yang terpenting


adalah secara sukarela.


“Pertama-tama, kau harus tahu jika dulu aku juga sering


berkunjung ke ruang penyimpanan. Bahkan jauh lebih sering darimu,” ungkap


wanita tersebut secra gamblang.


“Yang kedua, namaku Sofia,” lanjutnya.

__ADS_1


“Dan yang ketiga, sekaligus menjadi hal terakhir yang perlu


ku sampaikan kepadamu adalah…..”


Wanita itu tampak menggantung kalimatnya. Entah karena ia


memang sengaja ingin membuat Nhea merasa penasaran, atau malah bukan itu


alasannya sama sekali. Namun alih-alih begitu, ia jauh lebih terlihat seperti


orang yang enggan rahasianya diketahui oleh orang banyak. Jika diperhatikan


baik-baik dari raut wajahnya, ia masih tampak ragu. Tidak bisa memutuskan,


apakah sungguh harus menyampaikannya kepada Nhea atau tidak.


“Jadi, apa itu hal yang ketiga?” tanya Nhea.


meski terkesan sedikit mendesak, bagi Nhea hal tersebut sama


sekali bukan masalah. Karena sebelumnya mereka sudah membuat kesepakatan. Nhea


berhak mendengar semuanya hingga habis.


Bahkan setelah ia menanyakan hal tersebut, sama sekali tidak


ada jawaban dari Sofia. Jelas emosinya terpancing. Namun, Nhea tidak ingin


bertindak dengan gegabah. Ia masih memberikan kesempatan bagi wanita itu.


Mungkin dia memang harus memberikan sedikit waktu ekstra bagi Sofia untuk memutuskan.


Kali ini bukan lagi Nhea yang menghela napas. Melainkan Sofia.


Situasinya mendadak berbanding terbalik di sini. Tapi, itu sama sekali bukan


hal yang penting. Tidak perlu dicemaskan.


“Baiklah,” ujar Sofia.


Tampaknya ia sudah memutuskan. Meski keputusannya terlihat


berat untuk diterima bagi dirinya sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia yang


menawarkan persetujuan tersebut di awal.


“Ini cukup rahasia, tapi aku yakin jika kau adalah orang


yang tepat untuk menjaga rahasia ini,” ucapnya dengan penuh harap.


Nhea mengangguk, mengiyakan perkataan wanita tersebut


kepadanya.


“Kemarilah!” titah Sofia sambil melambai-lambaikan tangannya


ke arah gadis itu.


Tanpa pikir panjang, Nhea segera mendekat ke arah wanita


itu. Tampaknya ia akan membisikkan sesuatu yang cukup bersifat rahasia di


telinganya. Nhea tidak pernah sepenasaran ini sebelumnya. terlepas dari hal itu


menyangkut dirinya atau tidak. Rasa penasarannya tidak pernah lebih tinggi dari


yang ia alami sekarang.


“Pergi dan ambil mahkota yang berada di ruang penyimpanan. Lakukan


itu sebelum orang lain mengambilnya lebih dulu darimu. Semakin cepat akan


semakin baik pula,” beber Sofia dengan panjang lebar.


Tubuh gadis itu mematung di


tempat tepat setelah mendengar kalimat tersebut. Darahnya berdesir.

__ADS_1


__ADS_2