
Apa yang dikatakan oleh pria itu ada benarnya juga. Dia hampir
melupakan soal yang satu itu. Hwang Ji Na harus menjelaskan semuanya kepada Eun
Ji Hae. Dia berhutang penjelasan kepada gadis itu. Lagi pula, Hwang Ji Na sudah
berjanji tadi. Ia tidak mungkin mengingkarinya begitu saja.
Sepertinya gadis itu terlalu menikmati suasana di sekitar,
sampai ia lupa jika tujuan utamanya bukan untuk menjadi bagian dari akademi
sihir ini. Tidak ada gunanya bergabung bersama mereka. Hwang Ji Na sama sekali
tidak memiliki potensi di bidang tersebut. Lagi pula ia tidak tertarik dengan
dunia spriritual. Kemampuannya dalam bidang bela diri jauh lebih berguna untuk
kehidupan sehari-harinya dari pada ilmu sihir.
Hwang Ji Na mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru
ruangan untuk mencari keberadaan gadis itu. Siapa lagi jika bukan Eun Ji Hae.
Dia tidak memiliki urusan dengan siapa pun terkecuali dengannya. Ada terlalu
banyak orang yang berkumpul dan berdesakan di dalam tempat yang sama. Hal tersebut
membuat Hwang Ji Na menjadi sedikit kesulitan untuk menemukan gadis itu. Btang
hidungnya saja bahkan tak terlihat oleh Hwang Ji Na.
“Apakah semua orang telah masuk ke dalam ruangan ini?”
batinnya di dalam hati.
Ia tak berhenti sampai di sana. Hwang Ji Na kembali
melanjutkan kegiatannya. Dengan pandangan yang cukup tajam dan akurat, ia
menyisir setiap barisan orang yang telah duduk pada kursi mereka masing-masing.
Namun, hasilnya tetap saja nihil. Bukan sekali atau dua kali ia melakukan hal
tersebut. Hwang Ji Na terus mencoba tanpa henti, sampai ia memilih untuk
menyerah karena tak kunjung menemukan gadis itu.
“Bantu aku untuk menemukan Eun Ji Hae!” titah Hwang Ji Na
kepada pria yang duduk di sampingnya.
Chanwo terlihat tidak ingin menggubris perkataan gadis itu
sama sekali. Ia hanya berpaling sebentar untuk melihat wajah Hwang Ji Na
sekilas. Kemudian ia melemparkan pandangannya kembali lurus ke depan.
Menyadari jika pria itu telah mengacuhkannya begitu
saja, membuat Hwang Ji Na berdecak
__ADS_1
sebal. Ia kemudian memukul kepala pria itu dengan sekali pukulan, namun
terbilang cepat. Sehingga Chanwo bereaksi secara spontan. Ia memekik pelan
sembari mengusap-usap kepalanya.
Tidak ada yang berani berlaku tidak sopan seperti ini kepada
seorang raja selain Hwang Ji Na. Ia memang gadis yang pemberani. Nekat lebih
tepatnya. Gadis itu sering kali melakukan hal-hal berbahaya yang sulit untuk
dipercaya. Eksperimen katanya. Sungguh tidak masuk akal. Tak jarang Chanwo
dibuat geleng-geleng kepala sendiri dibuatnya.
Mungkin karena ia terlahir dari klan alpha yang memiliki
jiwa kepemimpinan. Bukankah seorang pemimpin harus berani mengambil resiko? Mungkin
itu pula penyebabnya kenapa Hwang Ji Na bisa bersikap seperti ini.
“Apa kau ingin mencari masalah denganku?!” sarkas Chanwo.
Sudah jelas-jelas jika ia sedang marah saat ini. Alasannya
tentu saja karena Hwang Ji Na. Gadis itu tidak pernah bisa diajak bekerja sama
pada saat-saat tertentu. Ia bisa berubah menjadi seseorang yang menyebalkan
hanya dalam hitungan detik.
Hwang Ji Na memilih untuk tidak berkomentar sama sekali. Seharusnya
bersikap kasar seperti ini jika tidak ada alasan yang jelas. Ia bukan tipikal
orang yang usil.
Gadis itu merajuk karena merasa diacuhkan oleh Chanwo. Padahal
ia tengah berusaha keras untuk menyita perhatian pria itu. Dia ingin agar
Chanwo membantunya untuk menemukan Eun Ji Hae. Tapi ternyata, semua itu sama
sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya selama ini.
Hwang Ji Na melipat kedua tangannya di depan dada sambil
memalingkan pandangan dari pria itu. Kemana saja asal bukan menghadap ke
Chanwo. Melihat wajahnya saja sudah membuat emosi gadis itu semakin berkobar. Bibirnya
maju beberapa centi. Hwang Ji Na sedang berusaha untuk menunjukkan kepada pria
itu betapa kesal dirinya. Tapi tetap saja, bukannya bertanya kenapa, Chanwo
malah kembali bersikap bodo amat kepada gadis ini. Tentu hal tersebut berhasil
membuat kesabaran Hwang Ji Na semakin menipis.
“Sudahlah lupakan saja! Aku tidak pernah bisa mengharapkan
__ADS_1
orang lain untuk menyelesaikan masalahku,” batin Hwang Ji Na di dalam hati.
Ia masih dengan emosinya dan kedua manik mata yang tampak berapi.Sesekali
ia mendengus kesal. Gadis itu berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia berencana
untuk tetap berada di dalam ruangan ini dan mencari Eun Ji Hae sekali lagi
dengan mata elang miliknya. Meski kemungkinan besar jika seseorang yang sedang
ia cari itu tidak berada di dalam ruangan. Mungkin Eun Ji Hae sedang berada di
ruangan lain. Atau bisa saja ia sedang berjalan-jalan untuk mencari udara segar
dan melewatkan konferensi yang sebenarnya tidak terlalu penting ini. Ia yakin
jika Reodal hanya membuang-buang waktu dengan setumpuk hal tidak penting yang
telah merekasiapkan sejak jauh-jauh hari.
Bingo!
Belum ada satu menit sejak ia kembali memfokuskan dirinya
untuk mencari keberadaan gadis itu, tiba-tiba saja sosok Eun Ji Hae telah
muncul tepat di hadapannya secara ajaib. Mereka duduk berseberangan. Membuat Hwang
Ji Na berhadapan langsung dengannya. Selama ini kemana saja dirinya. Kenapa ia baru
tahu jika Eun Ji Hae berada di sana. Apakah Hwang Ji Na yang sedang tidak fokus
atau memang gadis itu yang baru masuk ke dalam ruangan ini untuk mengikuti
konferensi bersama yang lainnya.
Hwang Ji Na merasa bersalah kepada dirinya karena telah
membuang-buang waktunya secara percuma sejak tadi. Ia tidak berhenti mengumpat
sejak tadi. Gadis itu benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Hwang Ji Na
sama sekali tidak habis pikir jika ia akan melewatkan hal penting semacam itu. Selama
ini ia percaya jika pandangannya cukup tajam. Bahkan untuk melihat jarum dari
jarak beberapa meter sekali pun. Tapi ternyata dugaannya salah. Pandangannya tidak
sebaik itu.
Tak ingin membuang-buang lebih banyak waktu lagi, Hwang Ji
Na segera melambai-lambaikan tangannya ke arah gadis itu. Ia tengah berusaha
untuk menarik perhatian Eun Ji Hae. Tapi ternyata tidak semudah itu. Pandangan
Eun Ji Hae terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sepertinya,
ia tengah mengamati seisi tempat ini. Atau jangan-jangan ia sedan menghitung
jumlah peserta konferensinya dan memastikan jika semua orang telah berada di
__ADS_1
dalam. Hanya orang yang sabar dan telaten yang akan melakukan hal seperti itu. Sayangnya
Hwang Ji Na tidak termasuk ke dalam golongan tersebut.