Mooneta High School

Mooneta High School
Konferensi


__ADS_3

Apa yang dikatakan oleh pria itu ada benarnya juga. Dia hampir


melupakan soal yang satu itu. Hwang Ji Na harus menjelaskan semuanya kepada Eun


Ji Hae. Dia berhutang penjelasan kepada gadis itu. Lagi pula, Hwang Ji Na sudah


berjanji tadi. Ia tidak mungkin mengingkarinya begitu saja.


Sepertinya gadis itu terlalu menikmati suasana di sekitar,


sampai ia lupa jika tujuan utamanya bukan untuk menjadi bagian dari akademi


sihir ini. Tidak ada gunanya bergabung bersama mereka. Hwang Ji Na sama sekali


tidak memiliki potensi di bidang tersebut. Lagi pula ia tidak tertarik dengan


dunia spriritual. Kemampuannya dalam bidang bela diri jauh lebih berguna untuk


kehidupan sehari-harinya dari pada ilmu sihir.


Hwang Ji Na mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru


ruangan untuk mencari keberadaan gadis itu. Siapa lagi jika bukan Eun Ji Hae.


Dia tidak memiliki urusan dengan siapa pun terkecuali dengannya. Ada terlalu


banyak orang yang berkumpul dan berdesakan di dalam tempat yang sama. Hal tersebut


membuat Hwang Ji Na menjadi sedikit kesulitan untuk menemukan gadis itu. Btang


hidungnya saja bahkan tak terlihat oleh Hwang Ji Na.


“Apakah semua orang telah masuk ke dalam ruangan ini?”


batinnya di dalam hati.


Ia tak berhenti sampai di sana. Hwang Ji Na kembali


melanjutkan kegiatannya. Dengan pandangan yang cukup tajam dan akurat, ia


menyisir setiap barisan orang yang telah duduk pada kursi mereka masing-masing.


Namun, hasilnya tetap saja nihil. Bukan sekali atau dua kali ia melakukan hal


tersebut. Hwang Ji Na terus mencoba tanpa henti, sampai ia memilih untuk


menyerah karena tak kunjung menemukan gadis itu.


“Bantu aku untuk menemukan Eun Ji Hae!” titah Hwang Ji Na


kepada pria yang duduk di sampingnya.


Chanwo terlihat tidak ingin menggubris perkataan gadis itu


sama sekali. Ia hanya berpaling sebentar untuk melihat wajah Hwang Ji Na


sekilas. Kemudian ia melemparkan pandangannya kembali lurus ke depan.


Menyadari jika pria itu telah mengacuhkannya begitu


saja,  membuat Hwang Ji Na berdecak

__ADS_1


sebal. Ia kemudian memukul kepala pria itu dengan sekali pukulan, namun


terbilang cepat. Sehingga Chanwo bereaksi secara spontan. Ia memekik pelan


sembari mengusap-usap kepalanya.


Tidak ada yang berani berlaku tidak sopan seperti ini kepada


seorang raja selain Hwang Ji Na. Ia memang gadis yang pemberani. Nekat lebih


tepatnya. Gadis itu sering kali melakukan hal-hal berbahaya yang sulit untuk


dipercaya. Eksperimen katanya. Sungguh tidak masuk akal. Tak jarang Chanwo


dibuat geleng-geleng kepala sendiri dibuatnya.


Mungkin karena ia terlahir dari klan alpha yang memiliki


jiwa kepemimpinan. Bukankah seorang pemimpin harus berani mengambil resiko? Mungkin


itu pula penyebabnya kenapa Hwang Ji Na bisa bersikap seperti ini.


“Apa kau ingin mencari masalah denganku?!” sarkas Chanwo.


Sudah jelas-jelas jika ia sedang marah saat ini. Alasannya


tentu saja karena Hwang Ji Na. Gadis itu tidak pernah bisa diajak bekerja sama


pada saat-saat tertentu. Ia bisa berubah menjadi seseorang yang menyebalkan


hanya dalam hitungan detik.


Hwang Ji Na memilih untuk tidak berkomentar sama sekali. Seharusnya


bersikap kasar seperti ini jika tidak ada alasan yang jelas. Ia bukan tipikal


orang yang usil.


Gadis itu merajuk karena merasa diacuhkan oleh Chanwo. Padahal


ia tengah berusaha keras untuk menyita perhatian pria itu. Dia ingin agar


Chanwo membantunya untuk menemukan Eun Ji Hae. Tapi ternyata, semua itu sama


sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya selama ini.


Hwang Ji Na melipat kedua tangannya di depan dada sambil


memalingkan pandangan dari pria itu. Kemana saja asal bukan menghadap ke


Chanwo. Melihat wajahnya saja sudah membuat emosi gadis itu semakin berkobar. Bibirnya


maju beberapa centi. Hwang Ji Na sedang berusaha untuk menunjukkan kepada pria


itu betapa kesal dirinya. Tapi tetap saja, bukannya bertanya kenapa, Chanwo


malah kembali bersikap bodo amat kepada gadis ini. Tentu hal tersebut berhasil


membuat kesabaran Hwang Ji Na semakin menipis.


“Sudahlah lupakan saja! Aku tidak pernah bisa mengharapkan

__ADS_1


orang lain untuk menyelesaikan masalahku,” batin Hwang Ji Na di dalam hati.


Ia masih dengan emosinya dan kedua manik mata yang tampak berapi.Sesekali


ia mendengus kesal. Gadis itu berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia berencana


untuk tetap berada di dalam ruangan ini dan mencari Eun Ji Hae sekali lagi


dengan mata elang miliknya. Meski kemungkinan besar jika seseorang yang sedang


ia cari itu tidak berada di dalam ruangan. Mungkin Eun Ji Hae sedang berada di


ruangan lain. Atau bisa saja ia sedang berjalan-jalan untuk mencari udara segar


dan melewatkan konferensi yang sebenarnya tidak terlalu penting ini. Ia yakin


jika Reodal hanya membuang-buang waktu dengan setumpuk hal tidak penting yang


telah merekasiapkan sejak jauh-jauh hari.


Bingo!


Belum ada satu menit sejak ia kembali memfokuskan dirinya


untuk mencari keberadaan gadis itu, tiba-tiba saja sosok Eun Ji Hae telah


muncul tepat di hadapannya secara ajaib. Mereka duduk berseberangan. Membuat Hwang


Ji Na berhadapan langsung dengannya. Selama ini kemana saja dirinya. Kenapa ia baru


tahu jika Eun Ji Hae berada di sana. Apakah Hwang Ji Na yang sedang tidak fokus


atau memang gadis itu yang baru masuk ke dalam ruangan ini untuk mengikuti


konferensi bersama yang lainnya.


Hwang Ji Na merasa bersalah kepada dirinya karena telah


membuang-buang waktunya secara percuma sejak tadi. Ia tidak berhenti mengumpat


sejak tadi. Gadis itu benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Hwang Ji Na


sama sekali tidak habis pikir jika ia akan melewatkan hal penting semacam itu. Selama


ini ia percaya jika pandangannya cukup tajam. Bahkan untuk melihat jarum dari


jarak beberapa meter sekali pun. Tapi ternyata dugaannya salah. Pandangannya tidak


sebaik itu.


Tak ingin membuang-buang lebih banyak waktu lagi, Hwang Ji


Na segera melambai-lambaikan tangannya ke arah gadis itu. Ia tengah berusaha


untuk menarik perhatian Eun Ji Hae. Tapi ternyata tidak semudah itu. Pandangan


Eun Ji Hae terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sepertinya,


ia tengah mengamati seisi tempat ini. Atau jangan-jangan ia sedan menghitung


jumlah peserta konferensinya dan memastikan jika semua orang telah berada di

__ADS_1


dalam. Hanya orang yang sabar dan telaten yang akan melakukan hal seperti itu. Sayangnya


Hwang Ji Na tidak termasuk ke dalam golongan tersebut.


__ADS_2