
Sudah hampir empat jam sejak kejadian tadi mereka berjalan tanpa henti. Tidak ada waktu untuk beristirahat. Namun, pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil jeda sejenak. Sejauh ini mereka telah sampai di dalam hutan. Tidak terlalu jauh ke tengah, karena ini masih permulaan. Hutan tersebut terlalu luas untuk diselesaikan dalam waktu satu hari.
Semua orang sudah tampak kelelahan. Itu sebabnya mereka tak melanjutkan perjalanan untuk sementara waktu dan menundanya sampai waktu yang tidak ditentukan.
Nhea tampak menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon kayu raksasa yang masih berdiri tegak. Tidak hanya Nhea saja, bahkan ada bebera orang juga yang menyandarkan tubuhnya di sana dan membentuk formasi untuk mengelilinginya. Pohon tersebut cukup untuk menampung lebih dari sepuluh orang yang berteduh di bawahnya. Bahkan diameter batangnya saja tidak kurang dari dua meter. Tidak akan cukup jika hanya satu orang yang berusaha untuk memeluknya. Mungkin yang mereka temui sekarang adalah salah satu pohon yang paling besar di hutan ini. Pasalnya tidak ada pohon lain yang jauh lebih besar selain yang satu ini. Mereka semua tampak memiliki ukuran yang serupa, kecuali satu.
Nhea tampak mengatur napasnya yang mulai terasa memburu. Meski mereka berjalan dengan tenang, tapi tetap saja pola irama detak jantungnya tidak bisa berjalan dengan tenang. Hal tersebut sejalan dengan pola napasnya yang menjadi ikut seirama.
Ini adalah pengalaman yang pertama kalinya bagi gadis itu untuk melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Selama ini ia selalu pergi dengan kendaraan umum, atau paling tidak dengan mobil miliki Bibi Ga Eun. Tapi, semua hal itu sudah tidak berguna lagi kini. Bibi Ga Eun membawanya ke dalam sebuah dimensi yang jelas jauh berbeda dengan kehidupan manusia pada umumnya. Ada banyak hal mengejutkan yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia di sini. Bukan hal yang aneh lagi jika semuanya masih begitu kuno. Tapi tidak dengan cara mereka untuk menyelesaikan masalah. Dengan sihir, semuanya terasa jauh lebih singkat dan praktis. Ini adlaah kehidupan modern yang sesungguhnya bagi mereka.
“Aku sudah nyaris akan kehilangan kesadaran tadi,” ungkap Jang Eunbi.
__ADS_1
Memang tampak dari raut wajah gadis itu jika ia sedang kelelahan. Tubuhnya terlalu lemah. Ia tak bisa dipaksa untuk bekerja keras seperti ini secara terus-menerus. Bibir Jang Eunbi tampak pucat. Entah karena kedinginan atau kelelahan. Tapi, yang jelas ia sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja saat ini. Menyadari hal tersebut, Nhea lantas membuka mantel musim dingin miliknya, kemudia memberikannya kepada Jang Eunbi.
“Pakai ini!” ujar Nhea.
Gadis itu tidak berkata-kata sama sekali. Ia hanya mengerutkan dahinya sambil menatap Nhea dengan sorot mata yang aneh.
“Ada apa?” tanya Nhea.
“Ambil kembali! Kau juga membutuhkannya,” tukas gadis itu.
Dengan cepat Nhea menepis tangan Jang Eunbi beserta dengan mantel miliknya yang ia berikan tadi.
__ADS_1
“Pakailah!” perintah Nhea.
“Wajahmu tampak pucat. Kau pasti merasa kedinginan,” cicitnya.
“Lagi pula sekarang udaranya sudah terasa jauh lebih hangat. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku tidak akan mati hanya karena suhu yang tak terlalu dingin seperti ini,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
Kalimat tersebut berhasil membungkam mulut Jang Eunbi. Ia tetap bergeming, tidak mampu berkutik sama sekali. Kali ini Nhea berhasil membuatnya kalah telak dengan mati kutu. Ia bahkan tidak diberikan kesempatan sama sekali oleh gadis itu untuk membela dirinya sendiri. Sungguh serangan mematikan yang telah tersusun secara teratur.
Tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran dari Nhea. Lagi pula memang tidak bisa dipungkiri jika saat ini ia benar-benar membutuhkan benda itu untuk tetap menjaga suhu tubuhnya. Bisa bahaya jika sampai kondisinya dibiarkan dengan begitu saja. Kemungkinan terburuknya, Jang Eunbi bisa terkena hipotermia. Yaitu, sebuah kondisi saat suhu tubuh kita berada di bawah rata-rata.
“Omong-omong, kenapa kau masih memakai sarung tangan itu sejak kemarin?” tanya Jang Eunbi secara tiba-tiba. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
__ADS_1
Kedua bola mata Nhea langsung membulat dengan sempurna begitu mendengar kalimat tersebut. Ia tidak langsung menjawabnya. Melainkan berpikir sejenak untuk mencari jawaban yang paling tepat. Pasalnya, pertanyaan ini cukup menjebak. Jadi ia harus berhati-hati jika ingin selamat. Sejauh ini, belum ada seorangpun yang mengetahui soal kondisi terbaru Nhea pasca terkena hujan salju abadi secara tidak langsung. Ia memang ingin merahasiakannya terhadap semua orang. Termasuk keluarga serta teman-teman baiknya. Ia merasa bisa mengatasi masalah ini sendirian tanpa perlu campur tangan orang lain.