Mooneta High School

Mooneta High School
Almost Give Up


__ADS_3

Waktu yang tersisa sudah semakin sedikit. Sejak tadi sama sekali tidak ada perkembangan sedikit pun. Tak peduli seberapa keras ia mencoba untuk meminta bantuan dari orang lain. Kali ini Nhea benar-benar terperangkap. Tidak ada yang bisa mendengarnya sama sekali. Tahu begitu, Nhea memilih bilik yang paling dekat dengan pintu utama saja. Maka dengan begitu paling tidak suaranya akan sampai ke luar. Tapi, siapa yang mengira jika ia akan terjebak di sini sekarang. Gadis itu bahkan sepertinya sama sekali tidak mengharapkan hal buruk seperti ini untuk terjadi.


"Memangnya kesalahan macam apa lagi yang kulakukan kemarin? Sampai-sampai semesta mengutukku dengan cara seperti ini," gerutu Nhea dengan sebal di dalam kamar mandi.


Tidak bisa dipungkiri jika ia mulai merasa frustrasi. Entah sudah berapa kali ia mengumpat. Bahkan bukan hanya itu saja. Nhea sampai merutuki dirinya sendiri. Padahal, dia bukan menjadi satu-satunya oknum yang bersalah di sini. Bisa dibilang jika Nhea termasuk korban.


Namun, entah kenapa yang terjadi malah sebaliknya. Gadis itu malah menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu ceroboh. Ia bahkan tidak bisa memprediksi hal kecil seperti ini.


Nhea nyaris putus asa. Sepertinya memang sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk bisa keluar dari sini dalam waktu dekat. Sekarang ia sudah mulai mencapai tahap pasrah. Tidak ada gunanya mengeluh. Apalagi berteriak-teriak tidak jelas. Toh, tidak ada seorang pun yang bisa mendengarkannya. Ia hanya buang-buang tenaga saja kalau begitu caranya.


"Huft!"


Gadis itu duduk terkulai di lantai kamar mandi. Perlahan tangannya meraih kedua kaki jenjangnya. Nhea memeluk kakinya sendiri dengan erat. Kemudian, kepalanya ia tenggelamkan di antara lipatan kakinya.


Nhea menempatkan dirinya di sudut ruangan. Masih dengan posisi yang sama. Sepertinya ia akan tetap begini hingga beberapa menit ke depan. Sekarang Nhea benar-benar berharap agar bantuan segera datang. Dalam bentuk apa pun itu.

__ADS_1


Untuk saat ini, ia hanya ingin berdamai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Nhea tidak bisa menyangkal jika akhir-akhir ini ia selalu merasa kegaduhan. Masalahnya bukan ada pada orang lain. Melainkan dirinya sendiri.


Isi kepalanya sungguh berisik saat ini. Belum lagi ditambah dengan sekian banyak masalah yang hadir dan masih terus menghantuinya hingga sekarang. Tapi, bukan hanya sampai di situ saja. Jangan lupakan jika tuntutan tim berada padanya. Nhea juga memikul tanggung jawab yang cukup besar di sini.


Ia tidak bisa bermain-main barang satu detik saja. Semua orang menaruh harapan pada tim mereka. Secara tidak langsung, Nhea mulai mendapatkan tekanan yang sifatnya tidak biasa untuk pertama kalinya. Bisakah mereka tidak berekspektasi terlalu tinggi? Nhea hanya takut jika ia dan timnya tidak mampu memenuhi ekspektasi setiap orang. Seperti yang kita semua tahu, jika setiap hak yang ada di semesta ini tak melulu harus terjadi sesuai dengan rencana kita.


Semesta tak pernah bisa membiarkannya untuk tetap tenang. Padahal ia juga perlu ruang untuk sendiri. Sejak awal, Nhea tidak pernah benar-benar bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Entah apa yang salah dengannya. Ia sendiri juga bahkan tidak tahu.


"Arghh!" teriak gadis itu sebal.


Ia sudah pasrah. Tidak apa jika nasibnya akan jauh lebih buruk setelah ini. Sungguh. Nhea telah siap untuk menghadapi semua itu. Bibi Ga Eun mungkin akan marah besar begitu mengetahui Nhea menghilang secara mendadak dan tidak mengikuti pertandingan. Wanita itu pasti akan menganggap jika Nhea memang sengaja pergi meninggalkan arena pertandingan hanya karena tidak benar-benar siap untuk bertanding.


Memangnya siapa yang akan percaya jika Nhea baru saja dijebak oleh seseorang. Yang jelas ia tidak menyukai keberadaan Nhea di sini sampai rela berbuat nekat begitu. Risikonya cukup besar jika ia gagal atau bahkan tertangkap. Namun, ia telah siap untuk semua itu. Sehingga soal kalah atau gagal tidak lagi menjadi persoalan utama.


Bukan hanya Bibi Ga Eun saja yang akan merasa kecewa kepadanya nanti. Tapi, tim serta pelatihnya pasti juga merasakan hal yang sama. Lebih tepatnya, Nhea akan mengecewakan seisi Mooneta. Sebenarnya ia sendiri juga tidak ingin melakukan hal seperti itu. Memangnya siapa yang mau disalahkan. Ia juga ingin dibanggakan. Setidaknya biarkan Nhea merasakan hal tersebut untuk sekali saja.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya dibanggakan. Ringkasnya begini. Tidak ada seorang pun yang merasa bangga memiliki gadis itu. Dalam arti lain, Nhea tidak cukup berarti di mata mereka. Namun, di sisi lain mereka juga mengharapkan Nhea melakukan yang terbaik. Lantas, apakah perbuatan seperti demikian adil?


Menurutnya tidak sama sekali. Mereka hanya bisa menuntut tanpa tahu berjuang. Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing. Tidak bisa terlalu dipaksakan memang. Nhea juga manusia biasa. Meski sebenarnya darah klan vampir dan klan bayangan jauh lebih dominan saat ini. Tapi tetap saja. Bahkan kaum kegelapan saja belum tentu bisa melakukan sebuah hal.


Nhea sudah mempersiapkan dirinya dengan sedemikian rupa. Bukan hanya soal fisik saja. Tapi, mental juga. Mental adalah bagian terpentingnya di sini.


Ia sudah siap jika segala skenario terburuk yang ada di dalam kepalanya saat ini terjadi. Atau bahkan malah jauh lebih buruk dari itu. Belakangan ini hal baik memang jarang menghampirinya. Sepertinya Dewi Fortuna sudah berpaling dari gadis itu. Semesta diam-diam berbalik menyerangnya. Dunianya berubah cepat. Tapi, tak apa. Sungguh. Apa pun yang akan terjadi nanti, ia sudah siap.


Gadis itu mengangkat kepalanya. Ia menghela napas dengan kasar. Setelah melewati beberapa pertimbangan, gadis itu sudah merasa jauh lebih baik. Kepalanya sudah tidak seberisik itu lagi sekarang. Setidaknya sudah jauh lebih berkurang dari pada yang sebelumnya. Meski belum bisa benar-benar diam.


“Sekarang, bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini?” gumam Nhea.


Ia sudah tidak semangat seperti di awal tadi. Semua sisa semangatnya terbakar habis bersama emosi. Kemudian menguap ke udara, hingga tidak ada yang tersisa sama sekali.


Meski nyaris putus asa dan menyerah, tapi nyatanya ia tidak pernah benar-benar mengalah pada takdir. Nhea masih berusaha memutar otak untuk mencari jalan keluarnya. Rasanya tidak ada yang mustahil di dunia ini. Semua itu hanya omong kosong belaka. Tidak ada yang benar-benar menakutkan bagi gadis itu.

__ADS_1


Merasa belum mendapatkan ide sama sekali, Nhea buru-buru bangkit dari posisinya saat ini. Ia kembali berdiri setelah merasa cukup untuk duduk dan bermalas-malasan. Kali ini tidak ada waktu lagi untuk melakukan hal yang sama.


__ADS_2