
Pada akhirnya, Chanwo memutuskan untuk mengikuti kemana
gadis itu pergi. Ia tidak mungkin pulang sendirian tanpa membawa Hwang Ji Na
bersamanya. Seisi istana pasti akan bertanya-tanya soal keberadaan gadis itu. Jika
ia hanya mementingkan rasa egoisnya sendiri, akan timbul masalah baru nantinya.
Chanwo tidak ingin mempersulit keadaan yang sudah rumit sejak awal.
Hwang Ji Na dan Chanwo suudah kembali ke dalam rombongan
saat ini. Mereka menempati posisi paling belakang. Selalu seperti itu agar
tidak ketahuan. Ini adalah salah satu cara paling aman untuk mengawasi mereka.
Sejauh ini tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaan
mereka berdua. Bahkan termasuk para siswa yang berada di barisan paling belakang
bersama mereka saat ini. Eun Ji Hae tidak tahu sama sekali jika Hwang Ji Na dan
Chanwo selalu bersama mereka sejak awal perjalanan. Mulai dari mereka melangkah
keluar dari dalam gedung sekolah untuk pertama kalinya.
Mereka telah
mendapatkan perlindungan khusus dari klan vampir dan juga klan alpha. Tidak akan
ada yang berani untuk mengganggu mereka selama Hwang Ji Na dan Chanwo masih
berada di sini. Terlebih, keduanya adalah seorang pemimpin. Tamatlah riwayat
mereka jika berani bermain-main dengan keduanya.
“Kenapa kau bersikeras untuk menyusul mereka?” tanya Chanwo
penasaran.
Gadis itu sama sekali belum menjawab pertanyaan tersebut. Sejak
tadi ia terus berusaha untuk mengelak. Sampai pada akhirnya Hwang Ji Na
memutuskan untuk menyerah. Tembok pertahanannya runtuh karena Chanwo terus
mendesaknya. Telinganya mulai terasa panas karena harus mendengarkan celotehan
pria itu dari tadi. Entah sejak kapan ia menjadi banyak omong seperti ini. Hwang
Ji Na tidak akan tahan jika harus dihadapkan pada situasi seperti ini lebih
lama lagi. Ia sudah muak.
Hwang Ji Na menarik napasnya dalam-dalam sebelum mulai
menjelaskan. Padahal hal yang akan ia katakan tidak terlalu banyak. Bahkan
jumlah katanya masih bisa dihitung. Tapi, sepertinya ia memang sengaja ingin
memenuhi rongga paru-parunya dengan udara.
“Aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan lagi sebelum
kembali ke istana,” ungkap Hwang Ji Na.
Mendengar jawaban tersebut membuat Chanwo kembali
mengerutkan dahinya. Untuk yang kesekian kalinya ia kembali dibuat kebingungan
oleh Hwang Ji Na. Tidak bisakan gadis itu merangkai kalimat dengan kata-kata
yang jauh lebih mudah untuk dipahami olehnya. Tanpa harus membuat Chanwo
__ADS_1
berpikir keras untuk mencerna semuanya. Jika sudah begini, mau tak mau pria itu
harus memutar otak atau bertanya balik.
“Urusan apa lagi memangnya?” tanya Chanwo.
“Sejak akpan kau berurusan dengan mereka?” lanjutnya.
“Kau bahkan belum mengenal orang-orang itu sama sekali!”
tukasnya.
Pria it uterus mengoceh tanpa henti. Ia bahkan tak
memberikan kesempatan bagi Hwang Ji Na untuk menjawab pertanyaannya.
“Siapa bilang aku berurusan dengan mereka?!” seru Hwang Ji
Na dengan geram.
Sontak mulut Chanwo langsung bungkam. Ia tak berani berkutik
sama sekali. Pria itu mematng di tempat. Sesekali mengerjap. Ternyata Hwang Ji
Na bisa jauh lebih menyeramkan dari apa yang pernah ia duga sebelumnya jika
dalam kondisi yang penuh amarah.
Menyadari ada jarak yang tercipta di antara mereka berdua,
Hwang Ji Na berdeham pelan. Ia mencoba untuk mencairkan suasana yang mulai
menegang. Lagi pula, siapa suruh cari masalah dengan dirinya. Pria itu terlalu
banyak tanya, sehingga membuatnya sebal.
“Aku ada urusan dengan Eun Ji Hae yang perlu kami selesaikan
begitu sampai di Reodal,” beber gadis itu.
sebagai bentuk respon atas penjelasan Hwang Ji Na barusan. Ia tak mampu
berkata-kata lagi. Isi kepalanya mendadak buyar ketika gadis itu meninggikan
suaranya tepat di hadapannya. Suasana menjadi canggung setelahnya. Tidak ada
yang ingin buka suara sama sekali. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini.
***
Mereka telah menempuh kurang lebih sembilan puluh persen
dari total jarak keseluruhan. Sebentar lagi mereka akan sampai di Reodal. Mereka
berharap jika orang-orang yang berada di sana berkenan untuk menyambut mereka
semua.
“Apa tujuan kita sudah dekat?” tanya Nhea kepada Oliver.
Seorang gadis yang ia ajak bicara mengangguk dengan antusias
sebelum menjawab pertanyaan dari Nhea. Kurang dari lima belas menit lagi,
mereka akan sampai pada gerbang kota menuju sekolah. Mungkin mereka akan
menjadi pusat perhatian penduduk sekitar karena datang dalam jumlah yang
banyak. Tapi, hal tersebut sama sekali tidak penting. Sekarang seluruh siswa
Mooneta telah menemukan rumah keduanya.
Nhea yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengedarkan
__ADS_1
pandangannya ke segala arah. Ia mengamati setiap hal yang berhasil ditangkap
oleh kedua netranya. Gadis itu benar-benar baru pertama kali bepergian sejauh
ini. Tapi, bukan itu bagian menariknya di sini. Berkenala di dimensi lain yang
dominannya dihuni oleh mahluk dari berbagai macam klan dan kaum dalah sebuah
pengalaman baru bagi gadis itu. Sungguh luar biasa. Ia merasa takjub sekaligus
takut serta penasaran. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu di dalam
hatinya sehingga sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata.
Mereka akhirnya sampai di gerbang kota. Dugaan Oliver dan
teman-temannya benar. Merka menjadi pusat perhatian. Banyak orang yang berburuk
sangka jika rombongan ini akan mengacau. Hal tersebut membuat mereka tak bisa
langsung masuk begitu saja. Semua orang ditahan di depan gerbang dan tak
diizinkan masuk oleh para warga.
Suasana berubah menjadi riuh pada saat itu. Tidak sampai
para pejabat kota datang menghampiri mereka untuk menanyakan maksud serta
tujuan kedatangannya ke kota. Pasalnya, sebelum ini tidak pernah terjadi hal
serupa.
“Ada ribut-ribut apa ini?!” seru pejabat kota.
Ia tampak meninggikan suaranya dengan sengaja, agar semua
orang bisa mendengarnya. Kini seluruh mata hanya tertuju kepada pria itu yang konon katanya adalah pejabat kota. Pria
itu berhasil memecah keriuhan suasana hanya dalam waktu beberapa detik.
“Ada apa ini?” tanya pria tersebut.
“Pak, mereka tiba-tiba datang tanpa alasan yang jelas,” ujar
salah satu penduduk.
“Sepertinya mereka akan mengacau. Mereka memiliki niat buruk
pak!” sahut yang lainnya.
Pejabat kota tersebut melayangkan pandangannya kepada Eun Ji
Hae sekilas untuk memastikan hal tersebut. Sebab, gadis itu berada di barusan
paling depan pada saat itu. Jadi, hanya Eun Ji Hae yang paling memungkinkan
untuk diinterogasi. Kelihatannya, ia juga memegang peran sebagai pemimpin
rombongan ini.
“Siapa kalian?” tanya pejabat kota.
“Kami siswa dari Sekolah Mooneta yang terletak di sebelah
selatan pulau,” ujar Eun Ji Hae secara gamblang.
“Aku seperti pernah mendengarnya,” gumam pria itu.
“Akademi sihir Mooneta,” ucap Eun Ji Hae untuk memperjelas kalimat
yang sebelumnya.
Pria itu langsung menegakkan kepalanya begitu mendengar nama
__ADS_1
tersebut. Ia melongo tak percaya. Bisa dilihat dengan jelas jika pria itu
sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.