Mooneta High School

Mooneta High School
Last Trip


__ADS_3

Pada akhirnya, Chanwo memutuskan untuk mengikuti kemana


gadis itu pergi. Ia tidak mungkin pulang sendirian tanpa membawa Hwang Ji Na


bersamanya. Seisi istana pasti akan bertanya-tanya soal keberadaan gadis itu. Jika


ia hanya mementingkan rasa egoisnya sendiri, akan timbul masalah baru nantinya.


Chanwo tidak ingin mempersulit keadaan yang sudah rumit sejak awal.


Hwang Ji Na dan Chanwo suudah kembali ke dalam rombongan


saat ini. Mereka menempati posisi paling belakang. Selalu seperti itu agar


tidak ketahuan. Ini adalah salah satu cara paling aman untuk mengawasi mereka.


Sejauh ini tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaan


mereka berdua. Bahkan termasuk para siswa yang berada di barisan paling belakang


bersama mereka saat ini. Eun Ji Hae tidak tahu sama sekali jika Hwang Ji Na dan


Chanwo selalu bersama mereka sejak awal perjalanan. Mulai dari mereka melangkah


keluar dari dalam gedung sekolah untuk pertama kalinya.


 Mereka telah


mendapatkan perlindungan khusus dari klan vampir dan juga klan alpha. Tidak akan


ada yang berani untuk mengganggu mereka selama Hwang Ji Na dan Chanwo masih


berada di sini. Terlebih, keduanya adalah seorang pemimpin. Tamatlah riwayat


mereka jika berani bermain-main dengan keduanya.


“Kenapa kau bersikeras untuk menyusul mereka?” tanya Chanwo


penasaran.


Gadis itu sama sekali belum menjawab pertanyaan tersebut. Sejak


tadi ia terus berusaha untuk mengelak. Sampai pada akhirnya Hwang Ji Na


memutuskan untuk menyerah. Tembok pertahanannya runtuh karena Chanwo terus


mendesaknya. Telinganya mulai terasa panas karena harus mendengarkan celotehan


pria itu dari tadi. Entah sejak kapan ia menjadi banyak omong seperti ini. Hwang


Ji Na tidak akan tahan jika harus dihadapkan pada situasi seperti ini lebih


lama lagi. Ia sudah muak.


Hwang Ji Na menarik napasnya dalam-dalam sebelum mulai


menjelaskan. Padahal hal yang akan ia katakan tidak terlalu banyak. Bahkan


jumlah katanya masih bisa dihitung. Tapi, sepertinya ia memang sengaja ingin


memenuhi rongga paru-parunya dengan udara.


“Aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan lagi sebelum


kembali ke istana,” ungkap Hwang Ji Na.


Mendengar jawaban tersebut membuat Chanwo kembali


mengerutkan dahinya. Untuk yang kesekian kalinya ia kembali dibuat kebingungan


oleh Hwang Ji Na. Tidak bisakan gadis itu merangkai kalimat dengan kata-kata


yang jauh lebih mudah untuk dipahami olehnya. Tanpa harus membuat Chanwo

__ADS_1


berpikir keras untuk mencerna semuanya. Jika sudah begini, mau tak mau pria itu


harus memutar otak atau bertanya balik.


“Urusan apa lagi memangnya?” tanya Chanwo.


“Sejak akpan kau berurusan dengan mereka?” lanjutnya.


“Kau bahkan belum mengenal orang-orang itu sama sekali!”


tukasnya.


Pria it uterus mengoceh tanpa henti. Ia bahkan tak


memberikan kesempatan bagi Hwang Ji Na untuk menjawab pertanyaannya.


“Siapa bilang aku berurusan dengan mereka?!” seru Hwang Ji


Na dengan geram.


Sontak mulut Chanwo langsung bungkam. Ia tak berani berkutik


sama sekali. Pria itu mematng di tempat. Sesekali mengerjap. Ternyata Hwang Ji


Na bisa jauh lebih menyeramkan dari apa yang pernah ia duga sebelumnya jika


dalam kondisi yang penuh amarah.


Menyadari ada jarak yang tercipta di antara mereka berdua,


Hwang Ji Na berdeham pelan. Ia mencoba untuk mencairkan suasana yang mulai


menegang. Lagi pula, siapa suruh cari masalah dengan dirinya. Pria itu terlalu


banyak tanya, sehingga membuatnya sebal.


“Aku ada urusan dengan Eun Ji Hae yang perlu kami selesaikan


begitu sampai di Reodal,” beber gadis itu.


sebagai bentuk respon atas penjelasan Hwang Ji Na barusan. Ia tak mampu


berkata-kata lagi. Isi kepalanya mendadak buyar ketika gadis itu meninggikan


suaranya tepat di hadapannya. Suasana menjadi canggung setelahnya. Tidak ada


yang ingin buka suara sama sekali. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini.


***


Mereka telah menempuh kurang lebih sembilan puluh persen


dari total jarak keseluruhan. Sebentar lagi mereka akan sampai di Reodal. Mereka


berharap jika orang-orang yang berada di sana berkenan untuk menyambut mereka


semua.


“Apa tujuan kita sudah dekat?” tanya Nhea kepada Oliver.


Seorang gadis yang ia ajak bicara mengangguk dengan antusias


sebelum menjawab pertanyaan dari Nhea. Kurang dari lima belas menit lagi,


mereka akan sampai pada gerbang kota menuju sekolah. Mungkin mereka akan


menjadi pusat perhatian penduduk sekitar karena datang dalam jumlah yang


banyak. Tapi, hal tersebut sama sekali tidak penting. Sekarang seluruh siswa


Mooneta telah menemukan rumah keduanya.


Nhea yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengedarkan

__ADS_1


pandangannya ke segala arah. Ia mengamati setiap hal yang berhasil ditangkap


oleh kedua netranya. Gadis itu benar-benar baru pertama kali bepergian sejauh


ini. Tapi, bukan itu bagian menariknya di sini. Berkenala di dimensi lain yang


dominannya dihuni oleh mahluk dari berbagai macam klan dan kaum dalah sebuah


pengalaman baru bagi gadis itu. Sungguh luar biasa. Ia merasa takjub sekaligus


takut serta penasaran. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu di dalam


hatinya sehingga sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata.


Mereka akhirnya sampai di gerbang kota. Dugaan Oliver dan


teman-temannya benar. Merka menjadi pusat perhatian. Banyak orang yang berburuk


sangka jika rombongan ini akan mengacau. Hal tersebut membuat mereka tak bisa


langsung masuk begitu saja. Semua orang ditahan di depan gerbang dan tak


diizinkan masuk oleh para warga.


Suasana berubah menjadi riuh pada saat itu. Tidak sampai


para pejabat kota datang menghampiri mereka untuk menanyakan maksud serta


tujuan kedatangannya ke kota. Pasalnya, sebelum ini tidak pernah terjadi hal


serupa.


“Ada ribut-ribut apa ini?!” seru pejabat kota.


Ia tampak meninggikan suaranya dengan sengaja, agar semua


orang bisa mendengarnya. Kini seluruh mata  hanya tertuju kepada pria itu yang konon katanya adalah pejabat kota. Pria


itu berhasil memecah keriuhan suasana hanya dalam waktu beberapa detik.


“Ada apa ini?” tanya pria tersebut.


“Pak, mereka tiba-tiba datang tanpa alasan yang jelas,” ujar


salah satu penduduk.


“Sepertinya mereka akan mengacau. Mereka memiliki niat buruk


pak!” sahut yang lainnya.


Pejabat kota tersebut melayangkan pandangannya kepada Eun Ji


Hae sekilas untuk memastikan hal tersebut. Sebab, gadis itu berada di barusan


paling depan pada saat itu. Jadi, hanya Eun Ji Hae yang paling memungkinkan


untuk diinterogasi. Kelihatannya, ia juga memegang peran sebagai pemimpin


rombongan ini.


“Siapa kalian?” tanya pejabat kota.


“Kami siswa dari Sekolah Mooneta yang terletak di sebelah


selatan pulau,” ujar Eun Ji Hae secara gamblang.


“Aku seperti pernah mendengarnya,” gumam pria itu.


“Akademi sihir Mooneta,” ucap Eun Ji Hae untuk memperjelas kalimat


yang sebelumnya.


Pria itu langsung menegakkan kepalanya begitu mendengar nama

__ADS_1


tersebut. Ia melongo tak percaya. Bisa dilihat dengan jelas jika pria itu


sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


__ADS_2