
Nhea berusaha bangkit dari posisinya saat itu untuk mencoba melarikan diri. Gadis itu berhasil melihat satu kesempatan yang terpampang dengan jelas di sana. Pintu besi yang menjadi salah satu akses untuk menuju tempat ini masih terbuka lebar. Setelah ia berhasil kabur dari pria vampir ini, ia akan segera mengunci orang itu di sini. Kemudian berlari menuruni tangga dan segera melapor kepada Bibi Ga Eun jika di sekolah ini terdapat penyusup.
Semua srategi itu tergambar dengan jelas dan begitu terstuktur di dalam kepalanya. Nhea sendiri bahkan tak bisa menduga bagaimana bisa dirinya berhasil membuat satu taktik sederhana secepat ini. Sebuah hal kecil yang patut diapresiasi dan dibanggakan atas dirinya sendiri. Kini adalah waktunya untuk melakukan semua rencananya itu. Karena semua orang juga tahu jika sebuah rencana tak akan berarti apa-apa tanpa aksi.
Dengan mengerahkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki, gadis ini berusaha untuk melangkahkan kakinya dengan kecepatan penuh untuk mencapai pintu itu. Tapi sayangnya, lagi-lagi ia harus bisa menerima kenyataan jika kali ini dirinya kembali kalah. Pergerakan Chanwo jauh sepuluh kali lebih cepat dari dirinya dan hal itu sama sekali tak bisa diprediksi sedikitpun oleh Nhea.
Chanwo berhasil mencegah Nhea untuk melarikan diri, sekaligus menggagalkan rencana matang gadis ini. Entah bagaimana caranya sehingga pria itu dapat melakukan itu semua dengan begitu mudahnya. Sangat mustahil dan tak masuk akal jika orang yang non- familiar dengannya memikirkan hal yang satu ini. Pria itu mencengkram pergelangan tangan gadis ini dengan sekuat tenaga. Ia sama sekali tak akan pernah memberi Nhea kesempatan untuk melakukan percobaan yang kedua kalinya.
Pangeran vampir ini maju beberapa langkah menuju Nhea, sebaliknya gadis itu malah berusaha untuk semakin menjauhi pria ini. Langkahnya terpaksa harus berhenti ketika ia sudah sampai di ujung ruangan. Ia tak bisa kemana-mana lagi karena tembok sialan ini menghalanginya. Chanwo semakin mendekatkan dirinya kepada seorang gadis yang tengah berdiri di hadapannya ini. Nhea semakin merasa terpojok disituasi seperti ini.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Jadi jangan pernah coba melakukan sesuatu yang berada di luar kendaliku.” bisiknya di telinga gadis itu.
Nhea menelan salivanya dengan susah payah. Ia beruasah untuk tetap memberanikan diri, meskipun harus ia akui jika kini rasa takutnya sudah tak terkendali. Hanya tinggal beberapa saat lagi, mungkin ia akan segera pingsan. Tubuhnya bergetar hebat saat ia menyadari jika antara dirinya dan pria ini sudah tak memiliki jarak sama sekali.
Chanwo menepikan rambut gadis ini yang menutupi daun telinganya. Kemudian mencium aroma rambut Nhea yang telah menjelma seperti sebuah kokain baginya. Hingga kedua pasang matanya tertuju pada satu titik. Ada satu hal yang begitu menarik perhatiannya saat itu.
Bekas gigitan beberapa hari yang lalu itu masih membekas dengan jelas di sana. Ia bisa mengingat jika saat itu kedua taring panjangnya pernah menancap di sana. Luka yang ditimbulkan tak terlalu serius memang, hanya saja ia takut jika sampai Nhea menyadari akan hal ini. Ia pasti curiga besar jika sampai melihatnya.
Chanwo mundur beberapa langkah dari sana, sambil mecoba untuk bersikap biasa saja. Seolah tak ada sesuatu yang terjadi barusan. Pria ini terlihat mulai gugup dengan situasi yang semakin hari semakin membuatnya kebingungan ini.
__ADS_1
“Kau tak perlu takut denganku. Lihat sendiri bagaimana aku memperlakukanmu selama ini,” ujar Chanwo yang berusaha untuk meyankinkan gadis ini.
“Apa aku pernah menyakitimu atau semacamnya?” tanya pria itu.
“Jawab aku!” teriaknya.
Gadis ini semakin ketakutan tak menentu di buat Chanwo. Sejak pertama kali bertemu dengannya secara tak sengaja, ia belum pernah melihat Chanwo semarah ini padanya. Selama ini pria itu selalu berperilaku lemah lembut dan sangat manusiawi kepada Nhea, meskipun sebenarnya ia bukan manusia. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar Chanwo berani melantangkan suaranya di depan gadis ini.
“Aku meninggalkan kerajaanku dan semuanya hanya demi dirimu,” lanjutnya.
“Dengar, ada satu hal lagi yang harus kau ketahui soal bangsa kami,” ujar Chanwo yang berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih penting.
“Aku mohon… hentikan semuanya. Apa kau belum cukup puas untuk membuatku mati ketakutn seperti ini?” lirih gadis itu sambil memohon.
Rasanya hanya itu yang bisa dilakukannya untuk saat ini. Tak ada lagi sedikitpun tenaga yang tersisa di tubuhnya ini. Tak ada sesuatu yang bisa ia harapkan lagi untuk menjadi perisainya atau bahkan senjata untuk melawan pria ini. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah penyerahan diri yang tak berarti sama sekali.
“Tapi ini tentang ayahmu,” tegas Chanwo.
“Haha… aku bahkan tak peduli tentang dia. Lalu bagaimana bisa kau akan bercerita tentang dia,” balas Nhea.
__ADS_1
“Dasar gila!” lanjutnya.
Chanwo sama sekali tak menanggapi omongan gadis itu. Meskipun bisa dibilang jika itu adalah sebuah sindiran dengan pemilihan kata-kata yang tak sesuai. Sungguh komentar kasar yang tak berperikemanusiaan sama sekali. Itu lah Nhea disaat dirinya lepas kendali. Ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan, tanpa perlu khawatir jika ada seseorang yang akan menghalanginya.
Chanwo tahuu persis jika gadis ini sedang berusaha untuk menutupi sisi lain dari dirinya sendiri. Ia tak ingin terlihat lemah di mata orang lain. Karena memang selama ini Nhea selalu dipandang sebelah mata. Tapi sayangnya, cukup mudah bagi Chanwo untuk mengetahui topeng itu. Meski Nhea telah menyembunyikannya dengan sangat apik.
“Aku tahu kau tak akan suka jika mendengar yang satu ini. Tapi aku harus memberitahumu sebelum orang lain yang akan memberitahumu soal ini,” jelasnya.
Kini nada bicaranya mulai terdengar serius. Hal itu membuat Nhea secara tak langsung ikut terbawa suasana.
“Ayahmu adalah bagian dari bangsa kami,” ungkap Chanwo dengan ragu.
“Ia berasal dari klan bayangan,” lanjutnya.
Nhea lantas mendongakkan kepalanya sesaat setelah Chanwo menyelesaikan kalimatnya barusan. Ia menatap seorang pria yang tengah berdiri di hadapannya ini dengan lekat. Entah apa maksud dari tatapannya itu. Yang jelas kilau matanya saat itu sungguh berbeda dengan yang biasanya.
“Lalu apa itu ada hubungannya denganku?” tanya Nhea.
Chanwo menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan gadis itu.
__ADS_1
“Tentu saja, kau adalah anak kandung yang memiliki garis keturunan langsung dengannya,” balas Chanwo.