
Sama sekali tidak ada yang buka suara selama kelas
berlangsung. Hanya pengajar yang berhak melakukan hal tersebut, karena ia
sedang memimpin kelas saat ini. Nhea tetap duduk di bangku paling belakang.
Sama seperti sebelumnya. Sebenarnya hal ini tidak akan memberikan terlalu
banyak pengaruh terhadap proses menyerap pelajaran.
Gadis itu mengizinkan Chanwo untuk duduk bersamanya lagi.
Kali ini tidak ada pilihan lain. Dia tidak bisa menolak meski sebenarnya Nhea
sangat ingin melakukan hal tersebut. Namun, setelah dipikir-pikir sepertinya
tidak ada gunanya juga. Pria itu terlalu keras kepala. Larangan sekeras apa pun
tidak akan ia pedulikan. Bahkan Chanwi sendiri berani melanggar aturan yang
sudah jelas-jelas dilarang untuk dilakukan oleh kaumnya sendiri. Chanwo
berhasil merusak kepercayaan turun-temurun akan hal itu.
Harus diakui jika ia adalah orang yang cukup berani dalam
mengambil keputusan. Padahal resikonya tidak main-main. Ada satu hal yang
menarik di sini. Chanwo sama sekali tidak terlihat panik atau semacamnya saat
menghadapi situasi yang terbilang tidak mudah. Tapi, malah sebaliknya. Ia
bersikap sangat tenang. Seperti tidak ada apa pun yang terjadi.
“Jadi, aku ingin agar kalian membuat kelompok yang terdiri
dari empat orang. Besok, kita akan pergi ke ruangan uji coba untuk memulai
praktik. Jangan lupa persiapkan diri kalian,” jelas wanita itu dengan pajang
lebar sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan ruangan.
“Baik bu!” balas seluruh siswa secara serentak. Membuat
ruang kelas dipenuhi oleh suara mereka yang menggema dimana-mana.
Yang tadi itu adalah mata pelajaran terakhir yang akan
mereka pelajari untuk hari ini. Aturan dasar dalam mencampur ramuan akan
menjadi sesuatu yang cukup penting dalam dunia sihir. Mereka akan dituntut
untuk mengkombinasikan antara satu bahan dengan bahan lainnya. Sehingga
terciptalah ramuan baru.
Bicara soal ramuan, itu bukan perkara mudah sebenarnya.
Namun, juga tidak bisa dibilang sulit. Karena tingkat kesukarannya beragam.
Tergantung kepada jenis ramuan apa yang akan mereka ciptakan. Ada banyak hal
yang perlu dipelajari serta dipertimbangkan dalam membuat ramuan. Bukan asal
campur tanpa berdasarkan takaran tertentu. Semua ada aturannya.
Bukan hanya ramuan saja sebenarnya. Pada dasarnya, setiap
hal di dunia ini memiliki aturan serta prinsipnya masing-masing. Bahkan semesta
memiliki caranya tersendiri unrk bekerja.
__ADS_1
“Apa kau sudah memiliki kelompok untuk besok?” tanya Chanwo.
“Seperti yang kau lihat,” jawab Nhea acuh tak acuh sambil
membereskan barang-barangnya. Ia perlu memastikan jika tidak ada yang
tertinggal di sini sebelum ia kembali ke kamar.
“Bagaimana kalau kita bekerja di dalam kelompok yang sama?”
tawar pria itu.
Nhea tak langsung menjawab pertanyaan dari pria itu. Dia
menghentikan kegiatannya seketika. Memberi jeda kepada dirinya sendiri untuk
memutar otak. Dia harus menemukan keputusan yang tepat dengan cepat.
“Baiklah!” ucap gadis itu secara gamblang.
“Senang bisa bekerja sama denganmu. Sampai bertemu besok,” balas
Chanwo. Ternyata kalimatnya barusan merangkap sebagai salam perpisahan. Dia
akan pergi lebih dulu dari ruangan ini.
Nhea memperhatikan punggung pria itu secara lamat-lamat,
hingga ia sampai di ambang pintu kemudian menghilang begitu saja di balik
gulita. Kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi.
Ia sama sekali tidak menyesal telah mengambil keputusan
tersebut. Menurutnya tidak ada salahnya sama sekali untuk menerima tawaran
kerja sama Chanwo. Lagipula, Oliver dan teman-temannya yang lain belum tentu
akan menerimanya di dalam kelompok mereka. Sejauh ini hanya ada dua orang di
lengkap. Mengingat Chanwo memang melakukan segala hal dengan cepat. Dia cukup
tepat waktu.
Setelah menerima tawaran dari pria itu, Nhea menyerahkan
segala urusannya kepada Chanwo. Sekarang Nhea tahu jika pria itu selalu bisa
diandalkan. Tidak perlu merasa ragu lagi. ia yakin jika Chanwo bisa mengurus
sisanya. Besok semuanya akan baik-baik saja. Semua terjadi sesuai dengan apa
yang telah mereka rencanakan. Setidaknya, tidak ada melesat terlalu jauh dari
rencana awal.
***
Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Nhea beringsut pergi
dari tempat itu. Namun, dengan cepat Oliver segera menghentikannya.
“Nhea!” sahut gadis itu dari dalam ruangan. Ternyata Oliver
sama sekali belum beranjak dari tempat duduknya.
Orang yang dimaksud hanya bisa menghela napas kasar,
kemudian berbalik ke arah sumber suara. Dia tahu jelas jika yang tadi itu
adalah Oliver. Bahkan tidak perlu berbalik untuk memastikannya. Mereka selalu
__ADS_1
bersama sejak awal kedatangan gadis itu kemari. Jadi, menebak suara Oliver
bukan sesuatu yang sulit sama sekali. Ia bisa melakukannya dalam waktu kurang
dari lima detik. Nhea tahu betul bagaimana warna suara gadis itu. Hampir dua
puluh empat jam mereka selalu bersama.
Tepat setelah Nhea melemparkan pandangannya ke arah Oliver,
gadis itu langsung berlari-lari kecil untuk menghampiri Nhea. Ia menggenggam
tangan gadis itu sambil melontarkan beberapa kalimat persuasif.
“Bagaimana kalau kita bicara sebentar?” tawar Oliver.
“Aku yakin jika kau belum terlalu mengantuk. Kau tidak akan
tidur pada jam segini biasanya bukan?” lanjutnya.
Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas pasrah. Sebenarnya ia
ngin menghindar. Tapi, apa yang dikatakan oleh Oliver ada benarnya juga. Gadis
itu sudah menyerangnya deggan berbagai pernyataan yang tidak dapat ia bantah.
Andai saja Nhea sudah memprediksi hal seperti ini akan
terjadi sebelumnya. Maka, gadis itu pasti sudah menyiapkan beberapa solusi. Ia
akan memutar otak cepat-cepat sebelum hal yang paling tidak ia inginkan
terjadi.
“Jadi, bagaimana?” tanya Oliver sekali lagi. Ia perlu
memastikan satu hal lagi. Meskipun kemungkinan besar jika Nhea tidak akan
menolak ajakannya yang satu ini.
Orang yang dimaksud hanya bisa menghela napas dengan pasrah
sembari berkata, “Baiklah.”
“Tapi, aku tidak ingin berlama-lama di sini,” tegas gadis
itu sekali lagi kemudian mendapatkan anggukan dari Oliver.
Ia membawa Nhea bersamanya. Menuntun langkah gadis itu untuk
menuju ke salah satu meja yang berada di sudut ruangan. Semua orang sudah
beranjak pergi dari sini. Menyisakan keempat insan yang saling diliputi rasa
canggung. Atmosfirnya berbeda. Tak seperti biasanya.
Udara dingin menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Cahaya
jingga dari pelita menyapu halus punggung gadis ini. Suasananya mendadak hening
seketika setelah dialog terakhir di antara Nhea dengan Oliver. Ketukan sol
sepatu pantofel kedua insan yang sedang berjalan itu berhasil memecah
keheningan suasana. Meski tampaknya tidak terlalu sukses. Karena situasinya
masih sama saja.
Nhea tidak tahu apa alasan
mereka ingin bertemu dengannya sejak awal. Jika itu hal baik, maka Nhea akan
__ADS_1
menyambutnya dengan baik pula. Namun, jangan pernah berharap kalau mereka akan
mendapatkan perlakuan yang sama jika melakukan sebaliknya.