Mooneta High School

Mooneta High School
Interface


__ADS_3

Sama sekali tidak ada yang buka suara selama kelas


berlangsung. Hanya pengajar yang berhak melakukan hal tersebut, karena ia


sedang memimpin kelas saat ini. Nhea tetap duduk di bangku paling belakang.


Sama seperti sebelumnya. Sebenarnya hal ini tidak akan memberikan terlalu


banyak pengaruh terhadap proses menyerap pelajaran.


Gadis itu mengizinkan Chanwo untuk duduk bersamanya lagi.


Kali ini tidak ada pilihan lain. Dia tidak bisa menolak meski sebenarnya Nhea


sangat ingin melakukan hal tersebut. Namun, setelah dipikir-pikir sepertinya


tidak ada gunanya juga. Pria itu terlalu keras kepala. Larangan sekeras apa pun


tidak akan ia pedulikan. Bahkan Chanwi sendiri berani melanggar aturan yang


sudah jelas-jelas dilarang untuk dilakukan oleh kaumnya sendiri. Chanwo


berhasil merusak kepercayaan turun-temurun akan hal itu.


Harus diakui jika ia adalah orang yang cukup berani dalam


mengambil keputusan. Padahal resikonya tidak main-main. Ada satu hal yang


menarik di sini. Chanwo sama sekali tidak terlihat panik atau semacamnya saat


menghadapi situasi yang terbilang tidak mudah. Tapi, malah sebaliknya. Ia


bersikap sangat tenang. Seperti tidak ada apa pun yang terjadi.


“Jadi, aku ingin agar kalian membuat kelompok yang terdiri


dari empat orang. Besok, kita akan pergi ke ruangan uji coba untuk memulai


praktik. Jangan lupa persiapkan diri kalian,” jelas wanita itu dengan pajang


lebar sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan ruangan.


“Baik bu!” balas seluruh siswa secara serentak. Membuat


ruang kelas dipenuhi oleh suara mereka yang menggema dimana-mana.


Yang tadi itu adalah mata pelajaran terakhir yang akan


mereka pelajari untuk hari ini. Aturan dasar dalam mencampur ramuan akan


menjadi sesuatu yang cukup penting dalam dunia sihir. Mereka akan dituntut


untuk mengkombinasikan antara satu bahan dengan bahan lainnya. Sehingga


terciptalah ramuan baru.


Bicara soal ramuan, itu bukan perkara mudah sebenarnya.


Namun, juga tidak bisa dibilang sulit. Karena tingkat kesukarannya beragam.


Tergantung kepada jenis ramuan apa yang akan mereka ciptakan. Ada banyak hal


yang perlu dipelajari serta dipertimbangkan dalam membuat ramuan. Bukan asal


campur tanpa berdasarkan takaran tertentu. Semua ada aturannya.


Bukan hanya ramuan saja sebenarnya. Pada dasarnya, setiap


hal di dunia ini memiliki aturan serta prinsipnya masing-masing. Bahkan semesta


memiliki caranya tersendiri unrk bekerja.

__ADS_1


“Apa kau sudah memiliki kelompok untuk besok?” tanya Chanwo.


“Seperti yang kau lihat,” jawab Nhea acuh tak acuh sambil


membereskan barang-barangnya. Ia perlu memastikan jika tidak ada yang


tertinggal di sini sebelum ia kembali ke kamar.


“Bagaimana kalau kita bekerja di dalam kelompok yang sama?”


tawar pria itu.


Nhea tak langsung menjawab pertanyaan dari pria itu. Dia


menghentikan kegiatannya seketika. Memberi jeda kepada dirinya sendiri untuk


memutar otak. Dia harus menemukan keputusan yang tepat dengan cepat.


“Baiklah!” ucap gadis itu secara gamblang.


“Senang bisa bekerja sama denganmu. Sampai bertemu besok,” balas


Chanwo. Ternyata kalimatnya barusan merangkap sebagai salam perpisahan. Dia


akan pergi lebih dulu dari ruangan ini.


Nhea memperhatikan punggung pria itu secara lamat-lamat,


hingga ia sampai di ambang pintu kemudian menghilang begitu saja di balik


gulita. Kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi.


Ia sama sekali tidak menyesal telah mengambil keputusan


tersebut. Menurutnya tidak ada salahnya sama sekali untuk menerima tawaran


kerja sama Chanwo. Lagipula, Oliver dan teman-temannya yang lain belum tentu


akan menerimanya di dalam kelompok mereka. Sejauh ini hanya ada dua orang di


lengkap. Mengingat Chanwo memang melakukan segala hal dengan cepat. Dia cukup


tepat waktu.


Setelah menerima tawaran dari pria itu, Nhea menyerahkan


segala urusannya kepada Chanwo. Sekarang Nhea tahu jika pria itu selalu bisa


diandalkan. Tidak perlu merasa ragu lagi. ia yakin jika Chanwo bisa mengurus


sisanya. Besok semuanya akan baik-baik saja. Semua terjadi sesuai dengan apa


yang telah mereka rencanakan. Setidaknya, tidak ada melesat terlalu jauh dari


rencana awal.


***


Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Nhea beringsut pergi


dari tempat itu. Namun, dengan cepat Oliver segera menghentikannya.


“Nhea!” sahut gadis itu dari dalam ruangan. Ternyata Oliver


sama sekali belum beranjak dari tempat duduknya.


Orang yang dimaksud hanya bisa menghela napas kasar,


kemudian berbalik ke arah sumber suara. Dia tahu jelas jika yang tadi itu


adalah Oliver. Bahkan tidak perlu berbalik untuk memastikannya. Mereka selalu

__ADS_1


bersama sejak awal kedatangan gadis itu kemari. Jadi, menebak suara Oliver


bukan sesuatu yang sulit sama sekali. Ia bisa melakukannya dalam waktu kurang


dari lima detik. Nhea tahu betul bagaimana warna suara gadis itu. Hampir dua


puluh empat jam mereka selalu bersama.


Tepat setelah Nhea melemparkan pandangannya ke arah Oliver,


gadis itu langsung berlari-lari kecil untuk menghampiri Nhea. Ia menggenggam


tangan gadis itu sambil melontarkan beberapa kalimat persuasif.


“Bagaimana kalau kita bicara sebentar?” tawar Oliver.


“Aku yakin jika kau belum terlalu mengantuk. Kau tidak akan


tidur pada jam segini biasanya bukan?” lanjutnya.


Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas pasrah. Sebenarnya ia


ngin menghindar. Tapi, apa yang dikatakan oleh Oliver ada benarnya juga. Gadis


itu sudah menyerangnya deggan berbagai pernyataan yang tidak dapat ia bantah.


Andai saja Nhea sudah memprediksi hal seperti ini akan


terjadi sebelumnya. Maka, gadis itu pasti sudah menyiapkan beberapa solusi. Ia


akan memutar otak cepat-cepat sebelum hal yang paling tidak ia inginkan


terjadi.


“Jadi, bagaimana?” tanya Oliver sekali lagi. Ia perlu


memastikan satu hal lagi. Meskipun kemungkinan besar jika Nhea tidak akan


menolak ajakannya yang satu ini.


Orang yang dimaksud hanya bisa menghela napas dengan pasrah


sembari berkata, “Baiklah.”


“Tapi, aku tidak ingin berlama-lama di sini,” tegas gadis


itu sekali lagi kemudian mendapatkan anggukan dari Oliver.


Ia membawa Nhea bersamanya. Menuntun langkah gadis itu untuk


menuju ke salah satu meja yang berada di sudut ruangan. Semua orang sudah


beranjak pergi dari sini. Menyisakan keempat insan yang saling diliputi rasa


canggung. Atmosfirnya berbeda. Tak seperti biasanya.


Udara dingin menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Cahaya


jingga dari pelita menyapu halus punggung gadis ini. Suasananya mendadak hening


seketika setelah dialog terakhir di antara Nhea dengan Oliver. Ketukan sol


sepatu pantofel kedua insan yang sedang berjalan itu berhasil memecah


keheningan suasana. Meski tampaknya tidak terlalu sukses. Karena situasinya


masih sama saja.


Nhea tidak tahu apa alasan


mereka ingin bertemu dengannya sejak awal. Jika itu hal baik, maka Nhea akan

__ADS_1


menyambutnya dengan baik pula. Namun, jangan pernah berharap kalau mereka akan


mendapatkan perlakuan yang sama jika melakukan sebaliknya.


__ADS_2