Mooneta High School

Mooneta High School
Class


__ADS_3

Kelas hampir terisi penuh. Sebagian besar siswa sudah berada di dalamnya. Termasuk ketiga teman dekat Nhea itu. Mereka tidak pantas lagi untuk disebut sebagai teman. Jang Eunbi, Oliver dan Jongdae menghentikan langkah mereka secara bersamaan tepat di depan pintu masuk. Melemparkan pandangannya ke arah Nhea. Mereka menyoroti gadis itu dengan lekat. Sulit untuk dijelaskan apa maksudnya. Tapi, yang jelas mereka cukup merasa bersalah.


Bahkan sosok yang diawasi sejak tadi sama sekali tidak menoleh ke arah mereka. Nhea benar-benar sedang menghindar. Dia menolak untuk beradu pandangan dengan orang-orang itu. Untuk sementara waktu, dia memang harus menjaga jarak terlebih dahulu. Situasinya sedang tidak memungkinkan.


Belakangan ini, Nhea memang sering mendengar jika anak-anak di kelasnya membicarakan soal hal yang sama. Eun Ji Hae tengah menjadi topik hangat di kalangan para siswa. Sebenarnya, ia sendiri juga tidak betah. Nhea merasa risih mendengar semuanya. Kabar yang beredar belum tentu benar. Entah siapa yang pertama kali berani menyebarkan omong kosong seperti itu. Yang pasti bukan anggota keluarga. Mereka tidak seburuk itu.


“Sebenarnya siapa biang keroknya? Dari mana dia mendapatkan informasi tersebut?” batin Nhea dalam hati.


Eun Ji Hae dan anggota keluarga yang lainnya mungkin belum tahu tentang apa yang terjadi belakangan ini. Mereka terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang jauh lebih penting di gedung utama. Sulit baginya untuk menjangkau informasi tersebut. Gosip itu hanya menyebar di gedung sekolah dan juga asrama. Di luar dari itu, tidak ada yang berani buka suara.


Tapi, cepat atau lambat Eun Ji Hae pasti akan mendengarnya juga. Entah itu mendengar sendiri, atau malah ada orang lain yang memberitahunya. Yang jelas, kebenaran pasti akan terungkap. Siapa pun yang pertama kali menyebarkan informasi rahasia keluarga besar pendiri akademi sihir Mooneta, itu artinya sama saja dengan ia telah berani mencari masalah dengan Eun Ji Hae. Mereka tentu tidak akan diam saja.


“Selamat malam!” sapa seseorang yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Hal tersebut berhasil membuyarkan isi pikiran gadis ini. Hampir melamun lebih tepatnya. Ia tidak bisa menyingkirkan perkataan mereka tadi dari dalam kepalanya. Padahal, bukan hal yang penting. Bahkan, tidak penting sama sekali. Itu urusan Eun Ji Hae. Untuk apa mengurusi kehidupan orang lain.


“Apa aku boleh duduk di sini?” tanya Chanwo.


“Kenapa tidak di tempat lain saja?” tanya Nhea balik.


Nada bicaranya terdengar sedikit ketus. Mungkin ini merupakan efek samping dari kejadian tadi. Kata-kata yang terlontar keluar dari dalam mulut mereka sungguh membawa efek negatif baginya.


“Tapi, semua tempat duduk sudah terisi,” ungkap Chanwo.


Nhea tak langsung merespon. Ia perlu memastikan terlebih dahulu. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ternyata benar. Tidak ada lagi tempat duduk yang kosong. Hanya tersisa satu di samping Nhea. Setiap meja hanya bisa diisi oleh dua orang saja. Padahal ia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan sendirian saja malam ini. Tapi, mendadak situasi berubah. Mau tak mau ia harus berbagi tempat duduk dengan pria itu.

__ADS_1


Chanwo kembali menatap Nhea sekilas. Untuk memastikan jika ia telah mendapatkan izin dari sang empunya. Tampaknya Nhea sedikit keberatan dengan kehadiran Chanwo di sini. Tapi, dia bukan tipikal orang yang ingin mempermasalahkan sesuatu. Kecuali itu memang benar-benar serius.


“Sebentar lagi guru akan masuk. Sebaiknya kau berhenti melamun, tidak baik,” ujar Chanwo sambil mengeluarkan buku catatannya.


Gadis itu hanya memutar bola matanya malas mendengar perkataan Chanwo.


“Omong-omong, kau sudah mendengar gosip mereka akhir-akhir ini?” tanya pria itu.


Sontak Nhea langsung membulatkan kedua bola matanya sambil berkata, “Apa kau mau mencari masalah denganku?!”


“Santai saja,” balas Chanwo.


“Jangan pernah membahas soal hal itu lagi di depanku!” ucap Nhea dengan penuh penekanan.


Kemudian ia mengalihkan pandangannya lurus ke depan menatap papan tulis. Jauh lebih baik dari pada harus berhadapan dengan pria ini. Ternyata Chanwo belum berubah. Ia masih saja menyebalkan. Dan tentunya misterius.


Kedua alis Nhea saling tertaut. Pertanda jika ia masih bingung.


“Manusia adalah mahluk yang paling tidak bisa dipercaya di muka bumi ini,” ucapnya dengan penuh penekanan.


“Jangan lakukan kesalahan yang sama lagi!” tegasnya.


“Kalau mau, kau bisa mempercayai anggota klan,” tawar pria itu.


“Memangnya mereka bisa dipercaya?” tanya Nhea.

__ADS_1


“Setidaknya tidak seburuk manusia,” jawab


Chanwo secara gamblang.


“Jangan lupa kalau kau juga bukan manusia seutuhnya. Tapi, kau juga bukan sepenuhnya anggota klan,” jelasnya kemudian.


Nhea nyaris lupa jika ia bukan manusia seratus persen. Wilson mewarisinya darah klan bayangan. Kemudian, Chanwo sempat menukar darahnya dengan milik gadis ini agar dia tetap hidup. Saat ini tubuhnya sudah didominasi oleh kaum kegelapan. Darah yang diturunkan Vallery kepadanya hanya tinggal tersisa sedikit lagi. Jika ia kehilangan yang satu itu juga, maka jati dirinya sebagai anak manusia sudah hilang. Dia tidak pantas untuk disebut seperti itu lagi. Karena berarti Nhea akan menjadi bagian dari kaum kegelapan sepenuhnya.


Mungkin keduanya akan bertukar posisi pada akhirnya. Nhea yang akan menjadi bagian dari kaum kegelapan karena jantungnya sudah tidak berfungi dengan sebagai mana mestinya lagi, dan Chanwo yang perlahan mulai mendapatkan semua hal itu kembali.


Tidak dapat dibayangkan bagaimana sulitnya untuk menjalanu kehidupan sebagai anggota klan. Ada banyak larangan yang mengekang dengan dalih keamanan. Nhea tidak akan pernah bisa bebas. Gadis itu tidak akan bisa merasakan nikmatnya menjad manusia normal.


“Ini apa?” interupsi pria itu.


Tanpa disadari, ternyata Chanwo sudah memperhatikan bekas luka di tangan Nhea sejak tadi. Ada yang jauh lebih menarik baginya daripada pecakapan mereka. Gadis itu lupa untuk menutupinya. Harusnya ia menggunakan lengan panjang tadi. Semenjak musim dingin usai, ia jadi tidak pernah memakai sarung tangan lagi untuk menutupi bekas lukanya yang satu itu. Orang-orang pasti akan mengiranya aneh.


“Jelaskan kepadaku!” titah Chanwo.


“Bukan urusanmu!” ketus gadis itu sembari menepis tangan Chanwo.


Nhea cukup konsisten dengan keputusannya di awal. Dia tidak akan memberi tahu siapa pun soal luka akibat salju abadi ini. Bukan. Bukan salju abadi. Melainkan salju langka yang masih misterius dan minim akan penjelasan.


Beberapa bulan yang lalu tangannya sempat membeku. Kemudian berubah membiru hingga hari ini. Tidak terasa sakit atau semacamnya.


“Apa itu bekas luka?” tanya Chanwo.

__ADS_1


“Iya,” balas Nhea acuh tak acuh.


Dia tidak mengerti kenapa temannya yang satu ini begitu terobsesi dengan bekas luka di tangannya. Padahal, jika dipikir-pikir tidak terlalu kelihatan.


__ADS_2