Mooneta High School

Mooneta High School
Top


__ADS_3

Tanpa peringatan terlebih dahulu, Chanwo mendaratkan mulutnya tepat di atas luka gadis itu. Ia terlihat begitu menikmati sensasi luar biasa yang ditimbulkan cairan merah segar itu. Sudah lama sekali ia tak merasakan segarnya darah manusia, karena selama ini ia terjebak di dalam hutan itu. Yang artinya Chanwo tak akan bisa meminum darah manusia, kecuali ada keajaiban yang membuat mahluk yang satu itu tersesat hingga ke sini.


“Tenang saja, kau akan baik-baik saja. Luka ini akan segera sembuh,” ujar Chanwo setelah selesai melakukan kegiatannya barusan.


“Apakah masih terasa sakit? Apa yang tadi itu terasa menyakitkan?” lanjutnya sambil menjilati daerah sekitar mulutnya.


Sementara seseorang yang diajak bicara hanya menggeleng-geleng lemas. Sepertinya ia masih shock dengan apa yang barusaja terjadi padanya. Dan yang lebih parahnya lagi, ia menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya sendiri. Nhea sama sekali tak pernah menebak jika kejadian gila itu harus terjadi padanya.


“Tenang saja, aku tak meminum darahmu. Hanya menjilatinya sedikit saja. Itu cukup untukk membersihkan lukamu, lagipula salivaku akan membantu untuk mempercepat reaksinya,” jelas Chanwo dengan tenang.


“J… ja… di, sebenarnya siapa kau ini? Kenapa terus-terusan membuntutiku?” tanya Nhea dengan hati-hati.


“Hahaha….” balas pria itu.

__ADS_1


“Kan aku sudah memperkenalkan diriku saat pertama kali kita bertemu. Aku adalah orang yang telah menyelamatkanmu dari maut yang tinggal sedikit lagi. Dan aku akan tetap berada di sini sampai kau mengatakan terimakasih kepadaku,” jelas Chanwo secara gamblang.


Nhea hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Mimpi apa dia kemarin, hingga bisa bertemu dengan orang aneh seperti ini.


“Haha… apa kau setakut itu?” ujar Chanwo sambil tertawa geli melihat kepolosan gadis ini.


“Sebenarnya aku ingin pulang, tapi aku khawatir dengan kondisimu,” lanjutnya.


Kini pria itu mulai terlihat serius, sehingga membuat Nhea yang mendengarkannya juga ikut terbawa suasana.


Chanwo menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kembali ke udara. Ia membaringkan tubuhnya di atas genteng sambil melemparkan pandangannya ke angkasa raya.


“Dulu aku pernah bertemu seorang gadis dari keturunan klan bayangan, dan ia sangat mirip denganmu. Kami nyaris menika, namun kaum kami menentang. Cinta bukan menjadi salah satu kenikmatan dunia yang bisa kami rasakan. Kaum kami hidup tanpa cinta, jauh di dalam kegelapan,” jelasnya dengan panjang lebar.

__ADS_1


“Kaki ku membawa diriku untuk keluar dari zona nyamanku dan menuntunku kepadamu. Meski aku tahu jika di luar ini akan terlalu berbahaya, tapi aku tetap melangkah,” lanjutnya.


“Apakah kau adalah jiwa yang bereingkarnasi dari masa lalu? Kenapa bisa begitu kebetulan? Wajah kalian sama persis dan yang lebih ajaibnya lagi, kalian berasal dari klan yang sama,” batinnya dalam hati.


“Memangnya kau tinggal dimana dan berasal dari kaum apa?” tanya Nhea secara gamblang.


“Nanti kau juga akan tahu,” jawab Chanwo dengan santai.


“Sampai kapan kau akan berada di sini?” tanya gadis itu lagi.


“Entahlah, aku tak tahu kapan pastinya,” balas Chanwo.


“Apa kau akan menyakitiku, atau malah melindungiku?” tanya nya lagi.

__ADS_1


“Coba tebak saja sendiri, aku tahu jika intusimu selalu tepat,” jelas pria itu lagi.


“Sudah, sebaiknya kau kembali ke dalam. Semua orang pasti telah mencemaskanmu. Luka in besok akan sembuh, tak perlu khawatir,” lanjutnya.


__ADS_2