
“Sebenarnya aku telah mendengar semua obrolan kalian saat di kelas waktu itu,” jelas Chanwo.
“Tentang batu rubi ini,” lanjutnya.
Sementara itu Nhea sendiri masih belum memberikan tanggapan tentang hal itu sedikitpun. Matanya membulat dengan sempurna saat ia tahu jika benda yang berada di tangan pria itu adalah batu rubi yang mereka maksud selama ini. Menurut kabar, pecahan batu rubi itu telah terpental ke segala arah.
“Pakai ini untuk membunuh mereka,” ujar Chanwo
“Aku tidak mungkin membunuhnya, mereka masih merupakan kerabatku juga. Bibi Ga Eun pasti akan sangat sedih jika sampai hal itu terjadi pada mereka,” balas gadis itu dengan ragu.
Sedetik kemudian, Chanwo segera merebut paksa salah satu anak panah dari tempatnya. Lalu ia mengikatkan batu rubi tersebut pada ujung mata panah dengan batang tumbuhan yang merambat tepat di tembok menara ini. Setelah ia selesai melakukan pekerjaannya, pria itu kemudian mengembalikan anak panah tersebut kepada Nhea.
“Nasib seluruh sekolah ini berada di tanganmu. Jadi lakukanlah, tunggu apa lagi,” jelas Chanwo sambil menyodorkan anak panah tersebut.
Nhea mengambil anak panah tersebut dengan perasaan ragu dan tanpa membuka suara sedikitpun. Keputusannya sama sekali belum final, ia masih tak tahu harus mengikuti yang mana. Antara membunuh Ify, atau malah membiarkannya begitu saja. Ini adalah keputusan yang sangat sulit baginya. Kedua hal itu seperti sedang berusaha untuk menjebaknya di dalam situasi yang sama.
“Apa tidak ada cara lain untuk melawan mereka, selain yang satu ini?” tanya Nhea.
“Jika ada cara lain yang jauh lebih menguntungkan semuanya, maka aku pasti akan melakukannya untukmu,” jawab Chanwo.
__ADS_1
“Hanya kau harapan mereka semua saat ini, hanya kau yang bisa melepaskan anak panah itu dengan tepat sasaran,” lanjutnya.
Nhea menelan salivanya dengan susah payah sambil berusaha untuk membulatkan tekadnya. Jika ini memang yang terbaik, mungkin memang harus merelakan satu atau dua hal. Sebenarnya sangat sulit, tapi harus tetap dilakukan.
“Jika waktu itu ada cara lain untuk membuatmu kembali hidup seperti ini, aku pasti akan melakukannya juga. Tanpa harus mengorbankan masa depanmu yang akan menjadi abadi,” batin pria itu dalam hati.
Gadis ini mulai memasang posisi bersiap, sambil membidik musuh dari kejauhan. Batu rubi ini akan menciptakan sensasi seperti terbakar dan tercabik di saat yang bersamaan. Jadi pasti wanita jahat itu akan langsung mati di tempat jika sampai benda ini tetap memaksa untuk masuk ke dalam tubuhnya. Setelah benar-benar yakin jika targetnya itu sudah terkunci, Nhea mulai melepaskan anak panahnya dan membiarkan benda itu meluncur dengan kecepatan tinggi di udara.
Tak perlu waktu lama, karena anak anah tersebut langsung mengenai tepat di dada sebelah kiri wanita itu. Ify yang tadinya begitu menggebu-gebu dan bersemangat untuk terus menerobos portal ini meski telah mendapatkan banyak perlawanan dari pasukan misterius itu, kini harus terbaring lemas di bawah sana. Ia terjatuh secara tiba-tiba dari atas punggung naga yang ia tunggangi saat itu. Tubuhnya menghantam tanah dengan sangat keras. Entah berapa tulang yang sudah patah di sana, ia terjatuh dari ketinggian kurang lebih lima belas meter di atas permukaan tanah.
Nhea yang menyaksikan kejadian itu langsung terkejut bukan main. Ternyata satu serangan dari rubi itu mampu membuat seseorang seperti Ify langsung tak berdaya sama sekali. Tangan gadis ini bergetar begitu hebat saat melihat pemandangan mengerikan yang terlihat jelas di hadapannya saat itu. Seseorang harus sekarat karena dirinya, karena perbuatannya. Tapi di sisi lain seluruh warga Sekolah Mooneta juga telah terbebas dari serangan musiman.
Chanwo membungkukkan sedikit tubuhnya hanya agar bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Nhea terlihat duduk meringkkuk sambil memeluk erat kakinya. Gadis itu terlihat begitu shock atas kejadian itu. Di sisi lain, matanya terlihat mencoba mengintip apa yang terjadi di luar sana dari celah kecil yang berada tepat di sampingnya. Semuanya sangat sesuai dengan apa yang ia sempat ia pikirkan tadi. Semua hal yang terjadi ini seperti sesuatu semu yang berubah menjadi kenyataan.
Bibi Ga Eun yang melihat kejadian itu langsung berlari menghampiri Ify yang sudah terkapar lemas di jalanan menuju gerbang utama. Namun, wanita itu tak bisa berbuat banyak untuk puterinya itu. Bahkan hanya sekedar untuk menemani Ify di saat-saat terakhirnya. Itu semua karena mereka masih dibatasi jarak oleh portal yang dibuat seisi sekolah secara bersama-sama ini. Bibi Ga Eun menagis terisak, tak terima dengan kenyataan pahit yang harus ia telan sendiri itu.
“Dengar, kau sudah melakukan hal yang benar,” ujar Chanwo yang berusaha menenangkan gadis itu.
“Tapi ini akan menjadi kedua kalinya aku di tuduh sebagai pembunuh dan kali ini aku benar-benar pelakunya,” jelas Nhea dengan suara terisak, juga diselingi oleh suara tangisan beberapa kali.
__ADS_1
“Kali ini pasti seluruh sekolah pasti akan menyudutkanku sama seperti dulu. Tanpa peduli siapa aku dan bagaimana peranku bagi mereka. Sekolah sihir dan sekolah biasa sama sekali tak ada bedanya, mereka sama-sama mebuatku merasa tertekan,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
Ternyata keputusan yang dibuat bibinya untuk pindah dari sekolah formal ke skolah sihir bukanlah pilihan yang tepat. Hal ini malah menciptakan masalah baru baginya dan semua orang.
“Manusia memang selalu lebih mudah untuk menyalahkan orang lain, daripada mengakui kekurangannya sendiri,” ujar Chanwo yang ikut terbawa suasana.
“Aku ingin mengakhiri semuanya saja sekarang ini,” ungkap Nhea.
“M..mak..maksudmu apa?” tanya Chanwo dengan hati-hati..
“Apa itu terdengar kurang jelas bagimu?” tanya Nhea.
“Aku ingin mati saja! Aku ingin pergi ke alam lain yang jauh lebih menenangkan bagiku,” lanjutnya.
“Kau tak bisa melakukan itu,” balas pria ini secara gamblang.
“Kenapa aku tak bisa? Tak ada seseorang yang bisa mencegahku,” ujarnya.
“Karena kau adalah seorang vampir yang tak akan pernah mati, kecuali akan satu hal,” batinnya dalam hati.
__ADS_1
Setelah pria ini memilih untuk bungkam dan tak melanjutkan perdebatannya dengan Nhea, gadis itu hanya memilih untuk tetap melanjutkan tangisannya saja. Lagipula tak ada gunanya untuk tetap bertengkar dengan orang yang emosinya sedang tak stabil seperti ini. Itu hanya akan membuat Nhea semakin tak bisa untuk mengendalikan dirinya sendiri saja.