Mooneta High School

Mooneta High School
Pannic


__ADS_3

Tak lama setelahnya, yang benar


saja. Ternyata pimpinan kota sungguh datang kemari untuk menghadiri acara


tersebut. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka sama sekali jika


pimpinan kota akan datang juga. Mereka kira hanya ada para penghuni akademi


sihir Mooneta saja. Tidak ada orang lain di sini. Tapi, ternyata dugaan mereka


salah besar.


Oliver sendiri juga tidak tahu


kenapa pimpinan kota bisa sampai datang kemari. Padahal sebelumnya ia sama


sekali tidak ada mendengarkan perihal tersebut. Seingatnya, kemarin mereka


tidak ada membahas soal pimpinan kota sama sekali. Gadis itu cukup yakin dengan


intuisinya sendiri. Ingatan Oliver masih cukup segar. Kejadiannya bahkan baru


beberapa jam yang lalu. Belum ada dua puluh empat jam.


Bukan hanya Oliver saja yang


merasa terkejut dengan kehadiran pimpinan kota di sini. Bahkan Oliver juga


merasakan hal yang sama. Lebih tepatnya bukan hanya mereka berdua saja yang


merasa terkejut bukan main. Nyaris seisi ruangan ikut tercengang. Mereka semua


masih tidak habis pikit.


“Apakah kita akan mengubah


rencana kita yang sebelumnya?” tanya Nhea untuk memastikan.


“Tunggu dulu!” balas Chanwo tanpa


mengalihkan pandangannya sama sekali.


Pria itu tampak mengamati


kejadian di depan saja dengan begitu seksama. Entah apa yang berada di dalam


pikirannya saat itu. Yang jelas, bukan hal baik. Entah kenapa intuisi Nhea


mengatakan hal seperti itu.


“Sepertinya kita tidak perlu


mengubah apa pun dari rencana kita yang satu itu,” ungkap pria itu dengan apa


adanya.


“Apa kau yakin?” tanya Nhea


sekali lagi.


“Tentu saja! Kenapa tidak?” jawab


Chanwo dengan nada bicara yang terkesan cukup meyakinkan.


Namun, entah kenapa di sisi lain


gadis itu masih tidak bisa mempercayai perkataan Chanwo sepenuhnya. Bukannya ia


tidak percaya jika Chanwo akan menepati semua itu. Hanya saja, Nhea tidak


benar-benar yakin jika mereka akan berhasil dalam rencana kali ini. Bagaimana jika


ternyata gagal? Nhea sama sekali belum siap untuk menghadapi hal tersebut. Tidak


siap sama sekali.


“Tapi, kedatangan pimpinan kota

__ADS_1


sama sekali tidak berada di dalam rencana kita tadi,” ujar Nhea dengan panik.


Ia sama sekali tidak bisa


menyembunyikan hal tersebut. Saat ini Nhea sudah memikirkan begitu banyak hal


buruk di dalam kepalanya. Ada begitu banyak asumsi yang muncul di dalam


kepalanya. Tidak ada satu pun hal baik yang bisa membuatnya tenang.


Gadis itu bukan tipikal orang


yang mudah menutupi ekspresinya. Bukan sesuatu yang mengherankan sebenarnya. Nhea


masih tidak habis pikir. Dia berbeda jauh dengan Eun Ji Hae. Nhea bukan lah Eun


Ji Hae yang bisa mengontrol ekspresinya sendiri. Ia tidak bisa melakukan hal


tersebut sama sekali.


“Kita akan tetap pada rencana


kita yang sebelumnya,” ungkap pria itu.


“Tidak ada yang perlu dirubah


sedikit pun!” tegasnya sekali lagi.


Chanwo mengucapkans etiap


kalimatnya dengan penuh penekanan. Bisa dipastikan jika saat ini ia tidak


sedang bermain-main dengan ucapannya sendiri. Ada satu hal yang membuatnya


begitu yakin. Sehingga Chanwo berani mengatakan hal tersebut secara


terang-terangan di depan gadis itu.


Chanwo akan menjamin segalanya


dan lain hal, maka Chanwo akan langsung turun tangan. Pria itu bersedia untuk


bertanggung jawab. Meski pun sebenarnya memang tidak ada yang bisa ia lakukan


lagi. Ketika semua sudah gagal, maka itu sama saja dengan harapan mereka yang


perlahan mulai putus.


Sejauh ini Nhea mulai merasa


pasrah. Ia tidak ingin berharap lebih kepada siapa pun atau apa pun itu. Selama


ini ia selalu dipatahkan oleh semesta. Terkadang ekspektasinya kerap tidak


sesuai dengan kenyataan. Hati kita punya keinginan sendiri, namun semesta juga


punya rencananya masing-masing.


Kita tidak bisa menentang. Dan memang


tidak memiliki hak untuk melakukan pertentangan yang seperti itu. Memangnya


kita siapa? Hanya manusia biasa. Kita bahkan juga tidak berhak untuk menuntut


apa pun kepada semesta.


Nhea sudah cukup terbiasa dengan


yang namanya kegagalan. Kali ini ia tidak akan merasa kecewa lagi jika memang


harus gagal. Mengucapkannya memang mudah, tapi tidak dengan melakukannya.


Terkadang apa yang kita ucapkan sering tidak sesuai dengan apa yang berada di dalam


hati kita. Tidak jarang jika mereka saling berlawanan antara satu sama lain.


Itu sudah hal yang wajar sebenarnya.

__ADS_1


Sebenarnya rasa ragu sekaligus


takut masih meliputi hati gadis itu. Ia tidak bisa bersikap tenang. Padahal gadis


itu sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tetap saja tidak bisa dipungkiri jika


dirinya masih tetap merasa cemas.


Nhea *******-***** jari tangannya


dengan panik. Jika boleh jujur, sebenarnya bukan hanya itu saja yang sedang ia


rasakan saat ini di dalam hatinya. Tapi, ada begitu banyak rasa lain yang


terkesan asing di dalam sana dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Nhea tidak


tahu harus bagaimana dalam mengekspresikan perasaannya yang satu ini.


Satu-satunya emosi yang paling


dominan adalah perasaan panik. Sehingga respon tubuhnya pun begitu. Cukup


mewakilkan. Tanpa perlu berbicara, orang lain juga tahu kalau ia sedang dalam


kondisi panik. Chanwo yang berada di sebelahnya ternyata langsung menyadari hal


tersebut dengan cepat. Selain itu, yang membuat Chanwo tampak begitu yakin


adalah ekspresi Nhea yang tidak bisa menipu. Gadis itu tidak bisa membohongi


dirinya sendiri. Jangan kan orang lain.


“Apa kau merasa tidak nyaman?”


tanya Chanwo dengan penuh perhatian.


Jika dilihat dari sorot matanya,


kali ini pria itu terlihat benar-benar tulus. Tidak ada yang sedang ia


tutup-tutupi. Pria itu sungguh menunjukkan dirinya dengan apa adanya. Benar-benar


tulus. Nhea sendiri bahkan bisa merasakannya. Pasalnya, tidak biasanya pria itu


bersikap seperti ini. Sungguh tidak biasa. Kali ini Nhea akan mengakui yang


satu itu.


“Tidak, aku hanya sedang cemas,”


jawab gadis itu dengan apa adanya.


Tanpa banyak basa-basi lagi, pria


itu lantas langsung menarik tangan gadis itu. Menggenggamnya dengan erat-erat. Bahkan


tampaknya sekarang Chanwo tidak akan pernah melepaskan tautan tangannya dengan


gadis itu lagi. Entah sampa kapan mereka akan tetap seperti itu. Mungkin sampai


esok atau nanti. Jika diberikan dua pilihan, antara tetap menggenggam tangan


gadis itu atau malah melepaskannya, mungkin Chanwo akan memilih opsi pertama. Itu


sudah jelas.


Chanwo  jelas-jelas tidak aka pernah melepaskan


tangan gadis itu. Kalau bisa untuk selamanya. Pada saat-saat seperti ini lah


Nhea membutuhkan bantuan dari orang lain. Tidak perlu bantuan dalam bentuk


fisik mau pun materil. Gadis itu hanya membutuhkan satu hal. Sederhana saja. Cukup


berikan gadis ini perhatian, maka bisa dipastikan jika ia akan merasa jauh


lebih aman.

__ADS_1


__ADS_2