
Tak lama setelahnya, yang benar
saja. Ternyata pimpinan kota sungguh datang kemari untuk menghadiri acara
tersebut. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka sama sekali jika
pimpinan kota akan datang juga. Mereka kira hanya ada para penghuni akademi
sihir Mooneta saja. Tidak ada orang lain di sini. Tapi, ternyata dugaan mereka
salah besar.
Oliver sendiri juga tidak tahu
kenapa pimpinan kota bisa sampai datang kemari. Padahal sebelumnya ia sama
sekali tidak ada mendengarkan perihal tersebut. Seingatnya, kemarin mereka
tidak ada membahas soal pimpinan kota sama sekali. Gadis itu cukup yakin dengan
intuisinya sendiri. Ingatan Oliver masih cukup segar. Kejadiannya bahkan baru
beberapa jam yang lalu. Belum ada dua puluh empat jam.
Bukan hanya Oliver saja yang
merasa terkejut dengan kehadiran pimpinan kota di sini. Bahkan Oliver juga
merasakan hal yang sama. Lebih tepatnya bukan hanya mereka berdua saja yang
merasa terkejut bukan main. Nyaris seisi ruangan ikut tercengang. Mereka semua
masih tidak habis pikit.
“Apakah kita akan mengubah
rencana kita yang sebelumnya?” tanya Nhea untuk memastikan.
“Tunggu dulu!” balas Chanwo tanpa
mengalihkan pandangannya sama sekali.
Pria itu tampak mengamati
kejadian di depan saja dengan begitu seksama. Entah apa yang berada di dalam
pikirannya saat itu. Yang jelas, bukan hal baik. Entah kenapa intuisi Nhea
mengatakan hal seperti itu.
“Sepertinya kita tidak perlu
mengubah apa pun dari rencana kita yang satu itu,” ungkap pria itu dengan apa
adanya.
“Apa kau yakin?” tanya Nhea
sekali lagi.
“Tentu saja! Kenapa tidak?” jawab
Chanwo dengan nada bicara yang terkesan cukup meyakinkan.
Namun, entah kenapa di sisi lain
gadis itu masih tidak bisa mempercayai perkataan Chanwo sepenuhnya. Bukannya ia
tidak percaya jika Chanwo akan menepati semua itu. Hanya saja, Nhea tidak
benar-benar yakin jika mereka akan berhasil dalam rencana kali ini. Bagaimana jika
ternyata gagal? Nhea sama sekali belum siap untuk menghadapi hal tersebut. Tidak
siap sama sekali.
“Tapi, kedatangan pimpinan kota
__ADS_1
sama sekali tidak berada di dalam rencana kita tadi,” ujar Nhea dengan panik.
Ia sama sekali tidak bisa
menyembunyikan hal tersebut. Saat ini Nhea sudah memikirkan begitu banyak hal
buruk di dalam kepalanya. Ada begitu banyak asumsi yang muncul di dalam
kepalanya. Tidak ada satu pun hal baik yang bisa membuatnya tenang.
Gadis itu bukan tipikal orang
yang mudah menutupi ekspresinya. Bukan sesuatu yang mengherankan sebenarnya. Nhea
masih tidak habis pikir. Dia berbeda jauh dengan Eun Ji Hae. Nhea bukan lah Eun
Ji Hae yang bisa mengontrol ekspresinya sendiri. Ia tidak bisa melakukan hal
tersebut sama sekali.
“Kita akan tetap pada rencana
kita yang sebelumnya,” ungkap pria itu.
“Tidak ada yang perlu dirubah
sedikit pun!” tegasnya sekali lagi.
Chanwo mengucapkans etiap
kalimatnya dengan penuh penekanan. Bisa dipastikan jika saat ini ia tidak
sedang bermain-main dengan ucapannya sendiri. Ada satu hal yang membuatnya
begitu yakin. Sehingga Chanwo berani mengatakan hal tersebut secara
terang-terangan di depan gadis itu.
Chanwo akan menjamin segalanya
dan lain hal, maka Chanwo akan langsung turun tangan. Pria itu bersedia untuk
bertanggung jawab. Meski pun sebenarnya memang tidak ada yang bisa ia lakukan
lagi. Ketika semua sudah gagal, maka itu sama saja dengan harapan mereka yang
perlahan mulai putus.
Sejauh ini Nhea mulai merasa
pasrah. Ia tidak ingin berharap lebih kepada siapa pun atau apa pun itu. Selama
ini ia selalu dipatahkan oleh semesta. Terkadang ekspektasinya kerap tidak
sesuai dengan kenyataan. Hati kita punya keinginan sendiri, namun semesta juga
punya rencananya masing-masing.
Kita tidak bisa menentang. Dan memang
tidak memiliki hak untuk melakukan pertentangan yang seperti itu. Memangnya
kita siapa? Hanya manusia biasa. Kita bahkan juga tidak berhak untuk menuntut
apa pun kepada semesta.
Nhea sudah cukup terbiasa dengan
yang namanya kegagalan. Kali ini ia tidak akan merasa kecewa lagi jika memang
harus gagal. Mengucapkannya memang mudah, tapi tidak dengan melakukannya.
Terkadang apa yang kita ucapkan sering tidak sesuai dengan apa yang berada di dalam
hati kita. Tidak jarang jika mereka saling berlawanan antara satu sama lain.
Itu sudah hal yang wajar sebenarnya.
__ADS_1
Sebenarnya rasa ragu sekaligus
takut masih meliputi hati gadis itu. Ia tidak bisa bersikap tenang. Padahal gadis
itu sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tetap saja tidak bisa dipungkiri jika
dirinya masih tetap merasa cemas.
Nhea *******-***** jari tangannya
dengan panik. Jika boleh jujur, sebenarnya bukan hanya itu saja yang sedang ia
rasakan saat ini di dalam hatinya. Tapi, ada begitu banyak rasa lain yang
terkesan asing di dalam sana dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Nhea tidak
tahu harus bagaimana dalam mengekspresikan perasaannya yang satu ini.
Satu-satunya emosi yang paling
dominan adalah perasaan panik. Sehingga respon tubuhnya pun begitu. Cukup
mewakilkan. Tanpa perlu berbicara, orang lain juga tahu kalau ia sedang dalam
kondisi panik. Chanwo yang berada di sebelahnya ternyata langsung menyadari hal
tersebut dengan cepat. Selain itu, yang membuat Chanwo tampak begitu yakin
adalah ekspresi Nhea yang tidak bisa menipu. Gadis itu tidak bisa membohongi
dirinya sendiri. Jangan kan orang lain.
“Apa kau merasa tidak nyaman?”
tanya Chanwo dengan penuh perhatian.
Jika dilihat dari sorot matanya,
kali ini pria itu terlihat benar-benar tulus. Tidak ada yang sedang ia
tutup-tutupi. Pria itu sungguh menunjukkan dirinya dengan apa adanya. Benar-benar
tulus. Nhea sendiri bahkan bisa merasakannya. Pasalnya, tidak biasanya pria itu
bersikap seperti ini. Sungguh tidak biasa. Kali ini Nhea akan mengakui yang
satu itu.
“Tidak, aku hanya sedang cemas,”
jawab gadis itu dengan apa adanya.
Tanpa banyak basa-basi lagi, pria
itu lantas langsung menarik tangan gadis itu. Menggenggamnya dengan erat-erat. Bahkan
tampaknya sekarang Chanwo tidak akan pernah melepaskan tautan tangannya dengan
gadis itu lagi. Entah sampa kapan mereka akan tetap seperti itu. Mungkin sampai
esok atau nanti. Jika diberikan dua pilihan, antara tetap menggenggam tangan
gadis itu atau malah melepaskannya, mungkin Chanwo akan memilih opsi pertama. Itu
sudah jelas.
Chanwo jelas-jelas tidak aka pernah melepaskan
tangan gadis itu. Kalau bisa untuk selamanya. Pada saat-saat seperti ini lah
Nhea membutuhkan bantuan dari orang lain. Tidak perlu bantuan dalam bentuk
fisik mau pun materil. Gadis itu hanya membutuhkan satu hal. Sederhana saja. Cukup
berikan gadis ini perhatian, maka bisa dipastikan jika ia akan merasa jauh
lebih aman.
__ADS_1