
Eun Ji Hae langsung membawa Nhea untuk sedikit menepi.
Mereka perlu menjauh dari keramaian untuk beberapa saat sementara membicarakan
hal ini. Tidak boleh ada orang yang tahu. Cukup mereka berdua saja. Tampaknya
topik kali ini tergolong kepada sesuatu yang cukup sensitive. Tapi, kita tidak
pernah bisa menyimpulkan hal seperti itu jka belum ada bukti yang mengarah ke
sana sama ekali.
Setelah sampai, Eun Ji Hae kembali mengedarkan pandangan ke
sekeliling. Memastikan jika tempat yang mereka pilih ini benar-benar aman.
Mencari tempat aman pada suasana ramai seperti ini cukup mustahil. Tapi,
setidaknya pasti ada satu ruang kosong yang jauh dari keramaian. Sehingga
mereka tidak akan menjadi pusat perhatian orang-orang.
Eun Ji Hae membawa adiknya untuk keluar dari kamp. Pasalnya,
di sana ada terlalu banyak orang yang berpotensi menguping pembicaraan mereka.
Setahu dia, ada satu tempat yang sedang tidak terlalu ramai. Tempatnya tidak
jauh dari sini. Untuk sementara waktu mereka bisa menggunakannya. Tidak aka
nada yang protes jika mereka meminjamnya untuk bicara sebentar. Lagipula tempat
tersebut tidak mempunyai pemilik.
Mereka memutuskan untuk pergi ke salah satu aliran anak
sungai yang berada tidak jauh dari kamp. Sebenarnya ada banyak anak sungai yang
mengalir di kota ini. Mereka tersebar di seluruh penjuru kota. Namun, sungai
yang mereka datangi kali ini bukanlah sungai yang sama dengan kemarin.
“Ada apa sampai membawaku kemari?” tanya Nhea secara
langsung.
Dia tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan celotehan
dari Eun Ji Hae. Gadis itu sudah menyita sebagian besar waktunya sekarang.
Padahal ia bisa membicarakannya nanti. Saat ini jauh lebih penting bagi Nhea
untuk mempersiapkan diri sebelum bertanding. Sebab, ia tidak pernah tahu ada di
urutan keberapa mereka.
“Jadi, kau tidak ingin bicara sama sekali?” tanya Nhea
sekali lagi.
Dia berusaha untuk memancing Eun Ji Hae agar berbicara lebih
banyak lagi. Setidaknya berikan penjelasan kenapa mereka harus ke sini. Tidak
bisakah gadis itu membaca sorot mata Nhea yang sedang menuntut penjelasan?
Kenapa Eun Ji Hae masih tetap bungkam. Ia tetap bergeming. Membisu seribu
bahasa saat ditanya.
__ADS_1
Eun Ji Hae menghela napasnya panjang. Kemudian kedua
tangannya ia lipat dengsan sengaja di depan dada. Pose tersebut berhasil
menambah kesan angkuh pada dirinya. Padahal, tidak perlu melakukan hal semacam
itu saja ia sudah terlihat begitu angkuh.
“Apa begini caramu berbicara kepada kakakmu sendiri?” tanya
Eun Ji Hae dengan nada datar, namun terkesan serius.
“Ayah dan Ibu saja bahkan tidak mempermasalahkan sikapku
yang seperti ini kepada mereka,” balas Nhea acuh tak acuh.
Mendengar jawaban seperti itu berhasil membuat Eun Ji Hae
tertawa jengah. Semakin hari mereka memang semakin dekat. Tapi, bukan dalam
artian dekat secara positif. Lihat saja apa yang terjadi sekarang. Nhea sudah
berubah. Ia bahkan sudah tidak menaruh rasa hormat lagi kepada Eun Ji Hae
seperti dulu. Sangat disayangkan jika ia harus kehilangan hal berarti semacam
itu dari dalam dirinya. Padahal dulu ia dikenal sebagai gadis yang paling sopan
di tempat ini. Namun, Nhea mendadak berubah begitu saja tanpa ada yang tahu
pasti apa penyebabnya.
“Sepertinya nilai tata krama dan sopan santunmu pada tahun
ajaran kali ini akan anjlok,” ucap Eun Ji Hae secara gamblang.
apa yang sebenarnya. Besar kemungkinan jika perkataan Eun Ji Hae barusan akan
menjadi kenyataan. Tidak sulit baginya untuk memanipulasi nilai para siswa.
Mengingat saat ini posisinya cukup memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.
Bibi Ga Eun perlahan mulai mundur secara tidak langsung dari pekerjaannya dan
digantikan oleh Eun Ji Hae. Gadis itu telah diberikan tanggung jawab untuk
menyelesaikan nyaris setiap hal yang selama ini biasanya selalu dipegang oleh
Bibi Ga Eun.
“Aku hanya ingin bertanya apakah luka di tanganmu kemarin
sudah jauh lebih baik atau tidak sama sekali,” ungkap gadis itu sambil berdeham
pelan.
“Sebenarnya aku sedang berbaik hati hari ini. Aku
berinisiatif untuk mengecek kondisimu setelah kejadian kemarin. Memastikan
apakah kau siap untuk bertanding atau tidak. Padahal tidak ada yang memintaku
untuk melakukannya,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
Jujur, ia pasti merasa kecewa dengan balasan yang diterima
dari Nhea. Dari awal mereka memang sudah saling tak menyukai satu sama lain.
Tapi, apa salahnya untuk menghargai orang lain yang berniat baik. Tidak akan
__ADS_1
ada pihak yang merasa dirugikan di sini.
“Tapi, sepertinya kau tidak suka jika aku perhatikan seperti
ini,” sindir Eun Ji Hae.
“Kau tahu jika aku tidak pernah mendapatkan perhatian dalam
bentuk apa pun sebelumnya,” balas Nhea.
“Jadi, kau tidak perlu repot-repot untuk memberikannya
kepadaku,” tukas gadis itu kemudian.
Suasana kembali hening ketika dua gadis ini tak lagi saling
bersahutan satu sama lain. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Karena
setelahnya Nhea kembali buka suara untuk memecah keheningan suasana yang kian
membelenggu jika terus dibiarkan.
“Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya
Nhea sekali lagi untuk memastikan.
“Jika tidak ada, maka aku harus kembali ke dalam kamp untuk
bersiap,” lanjutnya sembari menunggu jawaban dari Eun Ji Hae.
Nhea berisap untuk beranjak pergi dari sini jika memang benar-benar
tidak ada jawaban pasti dari Eun Ji Hae. Seperti yang sudah ia katakan di awal,
jika dirinya tidak ingin membuang banyak waktu. Seharusnya sekarang ia sedang
berada di dalam kamp dan bersiap. Namun, Eun Ji Hae datang dan mengacaukan
semua rencananya. Ini masih dalam ruang lingkup yang kecil.
Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Sepertinya itu
sudah cukup. Dia tidak bisa menanti lebih lama lagi.
“Tunggu!” cegah Eun Ji Hae tepat saat Nhea melangkahkan
kakinya.
Mau tak mau ia terpaksa harus berhenti lagi. Kali ini
setidaknya Nhea masih mau berbalik. Meski dengan keadaan terpaksa sebenarnya.
Tampak saat ia berdecak sebal. Ekspresinya juga cukup untuk membuktikan jika
benar kalau ia memang sedang kesal.
“Sepertinya kau perlu ini. Jadi, pakailah!” ujar Eun Ji Hae
sembari melempar kain pelindung tangan.
Secepat kilat pula Nhea menyambar benda tersebut. Patut
diakui jika gerakan refleksnya cukup bagus.
“Jangan sampai terluka lagi!”
tegas Eun Ji Hae sekali lagi sebelum pada akhirnya ia pergi meninggalkan Nhea
di sana.
__ADS_1