Mooneta High School

Mooneta High School
Attention


__ADS_3

Eun Ji Hae langsung membawa Nhea untuk sedikit menepi.


Mereka perlu menjauh dari keramaian untuk beberapa saat sementara membicarakan


hal ini. Tidak boleh ada orang yang tahu. Cukup mereka berdua saja. Tampaknya


topik kali ini tergolong kepada sesuatu yang cukup sensitive. Tapi, kita tidak


pernah bisa menyimpulkan hal seperti itu jka belum ada bukti yang mengarah ke


sana sama ekali.


Setelah sampai, Eun Ji Hae kembali mengedarkan pandangan ke


sekeliling. Memastikan jika tempat yang mereka pilih ini benar-benar aman.


Mencari tempat aman pada suasana ramai seperti ini cukup mustahil. Tapi,


setidaknya pasti ada satu ruang kosong yang jauh dari keramaian. Sehingga


mereka tidak akan menjadi pusat perhatian orang-orang.


Eun Ji Hae membawa adiknya untuk keluar dari kamp. Pasalnya,


di sana ada terlalu banyak orang yang berpotensi menguping pembicaraan mereka.


Setahu dia, ada satu tempat yang sedang tidak terlalu ramai. Tempatnya tidak


jauh dari sini. Untuk sementara waktu mereka bisa menggunakannya. Tidak aka


nada yang protes jika mereka meminjamnya untuk bicara sebentar. Lagipula tempat


tersebut tidak mempunyai pemilik.


Mereka memutuskan untuk pergi ke salah satu aliran anak


sungai yang berada tidak jauh dari kamp. Sebenarnya ada banyak anak sungai yang


mengalir di kota ini. Mereka tersebar di seluruh penjuru kota. Namun, sungai


yang mereka datangi kali ini bukanlah sungai yang sama dengan kemarin.


“Ada apa sampai membawaku kemari?” tanya Nhea secara


langsung.


Dia tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan celotehan


dari Eun Ji Hae. Gadis itu sudah menyita sebagian besar waktunya sekarang.


Padahal ia bisa membicarakannya nanti. Saat ini jauh lebih penting bagi Nhea


untuk mempersiapkan diri sebelum bertanding. Sebab, ia tidak pernah tahu ada di


urutan keberapa mereka.


“Jadi, kau tidak ingin bicara sama sekali?” tanya Nhea


sekali lagi.


Dia berusaha untuk memancing Eun Ji Hae agar berbicara lebih


banyak lagi. Setidaknya berikan penjelasan kenapa mereka harus ke sini. Tidak


bisakah gadis itu membaca sorot mata Nhea yang sedang menuntut penjelasan?


Kenapa Eun Ji Hae masih tetap bungkam. Ia tetap bergeming. Membisu seribu


bahasa saat ditanya.

__ADS_1


Eun Ji Hae menghela napasnya panjang. Kemudian kedua


tangannya ia lipat dengsan sengaja di depan dada. Pose tersebut berhasil


menambah kesan angkuh pada dirinya. Padahal, tidak perlu melakukan hal semacam


itu saja ia sudah terlihat begitu angkuh.


“Apa begini caramu berbicara kepada kakakmu sendiri?” tanya


Eun Ji Hae dengan nada datar, namun terkesan serius.


“Ayah dan Ibu saja bahkan tidak mempermasalahkan sikapku


yang seperti ini kepada mereka,” balas Nhea acuh tak acuh.


Mendengar jawaban seperti itu berhasil membuat Eun Ji Hae


tertawa jengah. Semakin hari mereka memang semakin dekat. Tapi, bukan dalam


artian dekat secara positif. Lihat saja apa yang terjadi sekarang. Nhea sudah


berubah. Ia bahkan sudah tidak menaruh rasa hormat lagi kepada Eun Ji Hae


seperti dulu. Sangat disayangkan jika ia harus kehilangan hal berarti semacam


itu dari dalam dirinya. Padahal dulu ia dikenal sebagai gadis yang paling sopan


di tempat ini. Namun, Nhea mendadak berubah begitu saja tanpa ada yang tahu


pasti apa penyebabnya.


“Sepertinya nilai tata krama dan sopan santunmu pada tahun


ajaran kali ini akan anjlok,” ucap Eun Ji Hae secara gamblang.


apa yang sebenarnya. Besar kemungkinan jika perkataan Eun Ji Hae barusan akan


menjadi kenyataan. Tidak sulit baginya untuk memanipulasi nilai para siswa.


Mengingat saat ini posisinya cukup memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.


Bibi Ga Eun perlahan mulai mundur secara tidak langsung dari pekerjaannya dan


digantikan oleh Eun Ji Hae. Gadis itu telah diberikan tanggung jawab untuk


menyelesaikan nyaris setiap hal yang selama ini biasanya selalu dipegang oleh


Bibi Ga Eun.


“Aku hanya ingin bertanya apakah luka di tanganmu kemarin


sudah jauh lebih baik atau tidak sama sekali,” ungkap gadis itu sambil berdeham


pelan.


“Sebenarnya aku sedang berbaik hati hari ini. Aku


berinisiatif untuk mengecek kondisimu setelah kejadian kemarin. Memastikan


apakah kau siap untuk bertanding atau tidak. Padahal tidak ada yang memintaku


untuk melakukannya,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.


Jujur, ia pasti merasa kecewa dengan balasan yang diterima


dari Nhea. Dari awal mereka memang sudah saling tak menyukai satu sama lain.


Tapi, apa salahnya untuk menghargai orang lain yang berniat baik. Tidak akan

__ADS_1


ada pihak yang merasa dirugikan di sini.


“Tapi, sepertinya kau tidak suka jika aku perhatikan seperti


ini,” sindir Eun Ji Hae.


“Kau tahu jika aku tidak pernah mendapatkan perhatian dalam


bentuk apa pun sebelumnya,” balas Nhea.


“Jadi, kau tidak perlu repot-repot untuk memberikannya


kepadaku,” tukas gadis itu kemudian.


Suasana kembali hening ketika dua gadis ini tak lagi saling


bersahutan satu sama lain. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Karena


setelahnya Nhea kembali buka suara untuk memecah keheningan suasana yang kian


membelenggu jika terus dibiarkan.


“Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya


Nhea sekali lagi untuk memastikan.


“Jika tidak ada, maka aku harus kembali ke dalam kamp untuk


bersiap,” lanjutnya sembari menunggu jawaban dari Eun Ji Hae.


Nhea berisap untuk beranjak pergi dari sini jika memang benar-benar


tidak ada jawaban pasti dari Eun Ji Hae. Seperti yang sudah ia katakan di awal,


jika dirinya tidak ingin membuang banyak waktu. Seharusnya sekarang ia sedang


berada di dalam kamp dan bersiap. Namun, Eun Ji Hae datang dan mengacaukan


semua rencananya. Ini masih dalam ruang lingkup yang kecil.


Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Sepertinya itu


sudah cukup. Dia tidak bisa menanti lebih lama lagi.


“Tunggu!” cegah Eun Ji Hae tepat saat Nhea melangkahkan


kakinya.


Mau tak mau ia terpaksa harus berhenti lagi. Kali ini


setidaknya Nhea masih mau berbalik. Meski dengan keadaan terpaksa sebenarnya.


Tampak saat ia berdecak sebal. Ekspresinya juga cukup untuk membuktikan jika


benar kalau ia memang sedang kesal.


“Sepertinya kau perlu ini. Jadi, pakailah!” ujar Eun Ji Hae


sembari melempar kain pelindung tangan.


Secepat kilat pula Nhea menyambar benda tersebut. Patut


diakui jika gerakan refleksnya cukup bagus.


“Jangan sampai terluka lagi!”


tegas Eun Ji Hae sekali lagi sebelum pada akhirnya ia pergi meninggalkan Nhea


di sana.

__ADS_1


__ADS_2