
Tepat setelah selesai makan siang, mereka langsung diarahkan
oleh Bibi Ga Eun untuk segera menuju ruangan aula utama. Ia bahkan tidak
memberi tahu apa tujuannya kepada para siswa. Di sisi lain, memang tidak ada
satu pun dari mereka yang berniat untuk bertanya. Lebih baik menurut saja,
daripada banyak tanya.
Mereka tidak akan menerima bentuk protes dalam bentuk apa
pun. Bahkan, tidak jarang jika beberapa pertanyaan yang terkesan sedikit
menyerang akan dianggap sebagai bentuk perlawanan. Sekali lagi perlu ditegaskan
jika mereka tidak akan menerima penolakan.
Jika sampai ada yang berani melakukan hal tersebut, maka
sepertinya ia sudah tahu dengan jelas apa yang akan mereka lakukan. Anggota keluarga
serta komisaris bagian kesiswaan tidak akan tinggal diam. Hukuman paling
rendanya adalah skorsing. Hal tersebut sama sekali tidak menutup kemungkinan
terburuk untuk tetap terjadi. Pada hakikatnya, semua hukuman akan ditetapkan
berdasarkan keputusan bersama. Hukuman terbaik tergantung kepada seberapa fatal
kesalahan yang ia perbuat.
Ketika orang lain merasa kebingungan saat dipanggil untuk
berkumpul di aula secara tiba-tiba, Nhea dan teman-temannya malah bersikap
sebaliknya. Mereka sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya datar.
Bahkan hal tersebut bukan lagi sesuatu yang mengejutkan bagi mereka. Sejak tadi
pagi, rumor soal penobatan Eun Ji Hae sudah sampai di telinga mereka. Jadi,
wajar saja jika mereka tidak kaget.
Semuanya sesuai dengan prediksi Nhea. Sepertinya acara
sakral Eun Ji Hae akan dilangsungkan di aula utama sebentar lagi. Hanya dalam
hitungan menit, maka ia akan dinyatakan sah sebagai pemimpin terbaru akademi
sihir Mooneta. Itu pun jika acaranya berjalan dengan lancar sampai akhir.
Namun, bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya. Nasib gadis itu tengah
dipertaruhkan hari ini.
Mungkin Nhea tidak akan berulah untuk sementara. Namun jika
Eun Ji Hae yang memaksa, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu tidak akan
diam saja kali ini, jika Eun Ji Hae berani-beraninya mencoba untuk mencari
gara-gara dengannya. Nhea bukan lagi orang yang sama dengan yang pernah ia
jumpai beberapa hari yang lalu. Kepribadian gadis ini banyak berubah. Terutama ketika
__ADS_1
keluar dari ruang penyimpanan. Bermodalkan semua informasi yang ia miliki
tentang akademi ini, Nhea menjadi lebih berani.
Pada akhirnya gadis itu sadar, jika diam bukan cara terbaik
untuk menyelesaikan masalah. Beberapa hal memang perlu di diamkan. Namun,
sisanya perlu disuarakan. Mungkin selama ini orang sering bersikap acuh tak
acuh. Padahal kau bisa mendapatkan keadilan dengan mudah hanya dengan
berbicara. Bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Tapi, banyak dari mereka
yang enggan melakukannya dengan berbagai macam alasan.
Untuk kali ini Nhea bertekad untuk menuntut keadilan bagi
dirinya sendiri. Selama ini ia telah melewatkan begitu banyak kesempatan. Tidak
ada satu pun yang pernah ia manfaatkan. Semakin kesini, Nhea semakin sadar jika
perlahan dirinya mulai masuk ke dalam tipu daya Eun Ji Hae. Gadis itu berniat
untuk memperdaya dirinya. Padahal tidak semudah itu. Kini Nhea sudah berubah. Setidaknya
ada satu hal yang menjad poin plus bagi dirinya. Yaitu, menjadi lebih berani.
Jika ditinjau dari sisi lain, secara tidak langsung Nhea
juga sudah belajar tentang dasar kepemimpinan. Gadis itu termasuk cepat dalam
menyerap sesuatu yang baru. Bisa dipastikan jika dalam waktu dekat, ia akan
memahami hal tersebut. Dengan begitu, menjadi seorang pemimpin tidak akan lagi
berbagai hal yang cukup menantang.
Tanpa ia sadari, selama ini semesta telah mengajarkannya
jauh lebih banyak hal tentang kepemimpinan. Bahkan bisa dikatakan jika gadis
itu sudah belajar jauh lebih banyak dari pada Eun Ji Hae. Tapi, memangnya apa
untungnya saling membandingkan antara satu sama lain seperti itu.
“Tidak ada sama sekali,” batin Nhea dalam hati.
“Aku adalah diriku, dan mereka adalah dirinya masing-masing,”
lanjutnya.
Berkali-kali gadis itu terus berusaha untuk meyakinkan
dirinya sendiri. Tidak peduli dengan orang lain. Sebab Nhea tahu dengan jelas
jika ia bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Mungkin di dunia ini
ada beberapa orang yang memiliki nama yang sama persis dengan gadis itu. Namun,
tidak satu pun dari mereka memiliki kepribadian yang sama. Hanya Nhea yang
memiliki hal tersebut. Sudah sepatutnya ia bersyukur atas keunikan yang ia
miliki, sehingga membuatnya tampak berbeda dengan orang lain.
__ADS_1
Mungkin orang lain terus menganggapnya sebagai seseorang
yang biasa saja. Ia tidak lebih dari sekedar seorang putri dari generasi
pertama keluarga penerus akademi sihir Mooneta. Kedudukannya di sana
digadang-gadang sebagai salah satu faktor paling penting terhadap eksistensi
dirinya sendiri.
Orang-orang sering kali menganggap jika ia hanyalah seorang
gadis yang beruntung. Tidak lebih dari itu. terlahir dari keluarga penting dan
terpandang. Popularitas ternyata cukup membantunya. Mungkin ia tidak akan jadi
apa-apa tanpa bantuan dari keluarganya sendiri. Kalau pun mereka kehilangan
Nhea, itu bukan sebuah bencana. Bukan sesuatu yang berarti sama sekali.
Dengan atau tanpa adanya gadis itu, akademi sihr Mooneta
tetap akan berjalan sesuai dengan biasanya. Gadis itu bukan salah satu bagian
yang berperan penting. Mungkin itu pula sebabnya, kenapa para anggota keluarga
tidak melakukan tindakan khusus ketika gadis itu menghilang. Ternyata memang sejak awal kehadirannya tidak pernah dianggap
begitu penting. Nhea hanya sebagai pelengkap formasi saja. Keberadaannya hanya
sekedar formalitas belaka. Tidak lebih.
“Mari kita lihat apa yang akan mereka lakukan nanti,” gumam
gadis itu sembari tersenyum miring.
Sebenarnya, Nhea sama sekali tidak memiliki niat jahat.
Namun, ia telah menyiapkan beberapa rencana sebelumnya. Anggap saja sebagai
bentuk antisipasi, jika sewaktu-waktu ada seseorang yang menyerangnya tanpa
peringatan. Sejauh ini Nhea masih menetapkan Eun Ji Hae dan anggota keluarga
lainnya sebagai pihak yang paling beresiko untuk menyerang.
“Eun Ji Hae, aku berharap agar acara pelantikanmu kali ini
berjalan lancar sesuai dengan yang kau harapkan,” batinnya di dalam hati.
Nhea dan teman-temannya yang lain sedang dalam perjalanan
untuk menuju aula utama. Tentu saja mereka tidak sendiri. Anak-anak itu pergi
ke sana bersama dengan puluhan siswa lainnya. Sebentar lagi ruangan tersebut
akan segera penuh.
“Sebaiknya kita duduk berdekatan saja ketika di dalam nanti!”
usul Jang Eunbi secara tiba-tiba.
“Aku setuju!” balas Oliver yang ternyata malah ikut
menimpali perkataan gadis itu barusan.
__ADS_1
“Aku terserah kepada kalian
saja,” balas Nhea acuh tak acuh.