Mooneta High School

Mooneta High School
On The Way To Hall


__ADS_3

Tepat setelah selesai makan siang, mereka langsung diarahkan


oleh Bibi Ga Eun untuk segera menuju ruangan aula utama. Ia bahkan tidak


memberi tahu apa tujuannya kepada para siswa. Di sisi lain, memang tidak ada


satu pun dari mereka yang berniat untuk bertanya. Lebih baik menurut saja,


daripada banyak tanya.


Mereka tidak akan menerima bentuk protes dalam bentuk apa


pun. Bahkan, tidak jarang jika beberapa pertanyaan yang terkesan sedikit


menyerang akan dianggap sebagai bentuk perlawanan. Sekali lagi perlu ditegaskan


jika mereka tidak akan menerima penolakan.


Jika sampai ada yang berani melakukan hal tersebut, maka


sepertinya ia sudah tahu dengan jelas apa yang akan mereka lakukan. Anggota keluarga


serta komisaris bagian kesiswaan tidak akan tinggal diam. Hukuman paling


rendanya adalah skorsing. Hal tersebut sama sekali tidak menutup kemungkinan


terburuk untuk tetap terjadi. Pada hakikatnya, semua hukuman akan ditetapkan


berdasarkan keputusan bersama. Hukuman terbaik tergantung kepada seberapa fatal


kesalahan yang ia perbuat.


Ketika orang lain merasa kebingungan saat dipanggil untuk


berkumpul di aula secara tiba-tiba, Nhea dan teman-temannya malah bersikap


sebaliknya. Mereka sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya datar.


Bahkan hal tersebut bukan lagi sesuatu yang mengejutkan bagi mereka. Sejak tadi


pagi, rumor soal penobatan Eun Ji Hae sudah sampai di telinga mereka. Jadi,


wajar saja jika mereka tidak kaget.


Semuanya sesuai dengan prediksi Nhea. Sepertinya acara


sakral Eun Ji Hae akan dilangsungkan di aula utama sebentar lagi. Hanya dalam


hitungan menit, maka ia akan dinyatakan sah sebagai pemimpin terbaru akademi


sihir Mooneta. Itu pun jika acaranya berjalan dengan lancar sampai akhir.


Namun, bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya. Nasib gadis itu tengah


dipertaruhkan hari ini.


Mungkin Nhea tidak akan berulah untuk sementara. Namun jika


Eun Ji Hae yang memaksa, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu tidak akan


diam saja kali ini, jika Eun Ji Hae berani-beraninya mencoba untuk mencari


gara-gara dengannya. Nhea bukan lagi orang yang sama dengan yang pernah ia


jumpai beberapa hari yang lalu. Kepribadian gadis ini banyak berubah. Terutama ketika

__ADS_1


keluar dari ruang penyimpanan. Bermodalkan semua informasi yang ia miliki


tentang akademi ini, Nhea menjadi lebih berani.


Pada akhirnya gadis itu sadar, jika diam bukan cara terbaik


untuk menyelesaikan masalah. Beberapa hal memang perlu di diamkan. Namun,


sisanya perlu disuarakan. Mungkin selama ini orang sering bersikap acuh tak


acuh. Padahal kau bisa mendapatkan keadilan dengan mudah hanya dengan


berbicara. Bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Tapi, banyak dari mereka


yang enggan melakukannya dengan berbagai macam alasan.


Untuk kali ini Nhea bertekad untuk menuntut keadilan bagi


dirinya sendiri. Selama ini ia telah melewatkan begitu banyak kesempatan. Tidak


ada satu pun yang pernah ia manfaatkan. Semakin kesini, Nhea semakin sadar jika


perlahan dirinya mulai masuk ke dalam tipu daya Eun Ji Hae. Gadis itu berniat


untuk memperdaya dirinya. Padahal tidak semudah itu. Kini Nhea sudah berubah. Setidaknya


ada satu hal yang menjad poin plus bagi dirinya. Yaitu, menjadi lebih berani.


Jika ditinjau dari sisi lain, secara tidak langsung Nhea


juga sudah belajar tentang dasar kepemimpinan. Gadis itu termasuk cepat dalam


menyerap sesuatu yang baru. Bisa dipastikan jika dalam waktu dekat, ia akan


memahami hal tersebut. Dengan begitu, menjadi seorang pemimpin tidak akan lagi


berbagai hal yang cukup menantang.


Tanpa ia sadari, selama ini semesta telah mengajarkannya


jauh lebih banyak hal tentang kepemimpinan. Bahkan bisa dikatakan jika gadis


itu sudah belajar jauh lebih banyak dari pada Eun Ji Hae. Tapi, memangnya apa


untungnya saling membandingkan antara satu sama lain seperti itu.


“Tidak ada sama sekali,” batin Nhea dalam hati.


“Aku adalah diriku, dan mereka adalah dirinya masing-masing,”


lanjutnya.


Berkali-kali gadis itu terus berusaha untuk meyakinkan


dirinya sendiri. Tidak peduli dengan orang lain. Sebab Nhea tahu dengan jelas


jika ia bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Mungkin di dunia ini


ada beberapa orang yang memiliki nama yang sama persis dengan gadis itu. Namun,


tidak satu pun dari mereka memiliki kepribadian yang sama. Hanya Nhea yang


memiliki hal tersebut. Sudah sepatutnya ia bersyukur atas keunikan yang ia


miliki, sehingga membuatnya tampak berbeda dengan orang lain.

__ADS_1


Mungkin orang lain terus menganggapnya sebagai seseorang


yang biasa saja. Ia tidak lebih dari sekedar seorang putri dari generasi


pertama keluarga penerus akademi sihir Mooneta. Kedudukannya di sana


digadang-gadang sebagai salah satu faktor paling penting terhadap eksistensi


dirinya sendiri.


Orang-orang sering kali menganggap jika ia hanyalah seorang


gadis yang beruntung. Tidak lebih dari itu. terlahir dari keluarga penting dan


terpandang. Popularitas ternyata cukup membantunya. Mungkin ia tidak akan jadi


apa-apa tanpa bantuan dari keluarganya sendiri. Kalau pun mereka kehilangan


Nhea, itu bukan sebuah bencana. Bukan sesuatu yang berarti sama sekali.


Dengan atau tanpa adanya gadis itu, akademi sihr Mooneta


tetap akan berjalan sesuai dengan biasanya. Gadis itu bukan salah satu bagian


yang berperan penting. Mungkin itu pula sebabnya, kenapa para anggota keluarga


tidak melakukan tindakan khusus ketika gadis itu menghilang. Ternyata memang  sejak awal kehadirannya tidak pernah dianggap


begitu penting. Nhea hanya sebagai pelengkap formasi saja. Keberadaannya hanya


sekedar formalitas belaka. Tidak lebih.


“Mari kita lihat apa yang akan mereka lakukan nanti,” gumam


gadis itu sembari tersenyum miring.


Sebenarnya, Nhea sama sekali tidak memiliki niat jahat.


Namun, ia telah menyiapkan beberapa rencana sebelumnya. Anggap saja sebagai


bentuk antisipasi, jika sewaktu-waktu ada seseorang yang menyerangnya tanpa


peringatan. Sejauh ini Nhea masih menetapkan Eun Ji Hae dan anggota keluarga


lainnya sebagai pihak yang paling beresiko untuk menyerang.


“Eun Ji Hae, aku berharap agar acara pelantikanmu kali ini


berjalan lancar sesuai dengan yang kau harapkan,” batinnya di dalam hati.


Nhea dan teman-temannya yang lain sedang dalam perjalanan


untuk menuju aula utama. Tentu saja mereka tidak sendiri. Anak-anak itu pergi


ke sana bersama dengan puluhan siswa lainnya. Sebentar lagi ruangan tersebut


akan segera penuh.


“Sebaiknya kita duduk berdekatan saja ketika di dalam nanti!”


usul Jang Eunbi secara tiba-tiba.


“Aku setuju!” balas Oliver yang ternyata malah ikut


menimpali perkataan gadis itu barusan.

__ADS_1


“Aku terserah kepada kalian


saja,” balas Nhea acuh tak acuh.


__ADS_2