Mooneta High School

Mooneta High School
Park


__ADS_3

Jin Hae In langsung berpamitan pergi setelah mengantarkan


mereka semua sampai ke depan gedung asrama. Katanya ada urusan lain. Entah kenapa


gadis itu tampak begitu sibuk, padahal ia bukan siapa-siapa. Posisinya ternyata


tidak sepenting itu. Jin Hae In hanya pesuruh di tempat ini. Tapi, entah kenapa


ia selalu berlagak paling hebat.


Eun Ji Hae masih tak habis pikir dengan fasilitas yang


mereka berikan. Sama sekali tidak layak, apalagi mengingat jumlah mereka yang


cukup besar. Tidak bisakah pihak Reodal berpikir lebih realistis lagi.


Eun Ji Hae dan yang lainnya sama sekali belum bergerak dari


tempat mereka berdiri saat ini. Semua orang mematung di tempat. Lebih tepatnya,


mereka tidak akan berani pergi kemana-mana sebelum Eun Ji Hae memberikan


perintah.


Belum ada satu hari di tempat ini saja sudah membuat Eun Ji


Hae tidak betah. Ada banyak hal yang ia sayangkan. Terutama soal sopan santun


dan tata krama mereka. Berada di tempat yang sama dengan mereka sama saja


dengan menguji kesabaran. Sepertinya, lain kali Eun Ji Hae harus meningkatkan


rasa sabarnya sampai ke level tertinggi kalau bisa.


Eun Ji Hae segera menyingkirkan semua itu dari pikirannya. Sudah


tidak ada lagi ruang yang tersedia di dalam otaknya untuk menampung hal tidak


berguna seperti itu. Tidak ada jalan lain. Mau tak mau mereka harus tinggal di


dalam sana, atau tidur di luar pada saat musim dingin seperti ini. Pilihannya hanya


ada dua. Dan keduanya sama-sama bukan pilihan yang baik.


“Perhatian semuanya!” sahut Eun Ji Hae dari depan.


“Lantai satu dan dua adalah asrama pria, sisanya kalian para


gadis naiklah ke lantai atas dan isi lantai tiga dengan lantai empat,” jelas


gadis itu dengan panjang lebar.


“Kalian masuklah lebih dulu, aku masih ada urusan,” timpalnya.


“Kalau ada sesuatu panggil saja. Aku ada di taman depan,”


final Eun Ji Hae sebelum beranjak pergi dari tempat itu.


Begitu ia berbalik, seluruh siswa langsung membelah barisan


dengan sengaja. Mereka menyisakan ruang bagi Eun Ji Hae untuk melangkah. Karena


lorongnya terlalu padat, sehingga tidak ada jalan keluar lagi selain berputar


balik. Tidak lupa, mereka juga sedikit menunduk untuk memberikan hormat. Bahkan,

__ADS_1


Nhea juga melakukan hal tersebut biar pun ia termasuk anggota keluarga. Mereka selalu


menjaga rasa sopan santun dan etika dimana pun berada. Hal itu pula yang


membuat Mooneta berbeda dengan akademi sihir lainnya. Salah satunya adalah soal


etika dan soan santun yang tidak diajarkan di akademi lain. Hanya Mooneta yang


melakukan hal tersebut. Mereka tidak hanya fokus kepada sihir saja.


***


Eun Ji Hae hampir lupa jika ia memiliki janji untuk bertemu


dengan orang lain di taman depan. Ia telah membuat kesepakata bersama dengan


orang tersebut sebelumnya. Siapa lagi jika bukan Hwang Ji Na. Dia tidak


memiliki urusan dengan orang-orang dari Reodal. Eun Ji Hae memang sedikit


berbeda dengan anggota keluarga yang lainnya. Berbeda dengan Bibi Ga Eun dan


kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan para petinggi di akademi sihir


Reodal. Eun Ji Hae tidak terlalu suka untuk ikut campur dalam permasalahan


internal seperti itu.


Dari pada mengurusi hal yang tidak jelas arah dan tujuannya,


lebih baik ia menenangkan pikirannya sendiri. Belakangan ini Eun Ji Hae memang


tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Bertemu dengan Hwang Ji Na adalah kegiatan terakhir yang ada


asrama untuk beristirahat bersama dengan yang lainnya.


Seperti dugaannya sebelumnya, Hwang Ji Na sudah sampai di


taman lebih dulu. Tentu saja ia tidak sendiri. Chanwo ada bersamanya. Entah sejak


kapan mereka sudah berada di sini. Semoga tidak terlalu lama. Sejujurnya, Eun


Ji Hae tidak suka jika harus membuat orang lain menunggu lama seperti ini. Karena,


ia sendiri juga tidak mau begitu. Memangnya siapa yang sudi berada di posisi


tersebut.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Eun Ji Hae mempercepat


langkah kakinya agar cepat sampai di sana. Temponya juga turut naik. Ia hampir


berlari. Eun Ji Hae menghampiri mereka berdua yang sudah menunggu di bangku


taman. Padahal, besi penyangga tempat duduknya pasti terasa sangat dingin


karena saat ini suhunya memang termasuk rendah.


“Apa kalian sudah dari tadi di sini?” tanya gadis itu dengan


napas yang sedikit memburu.


“Maaf karena membuat kalian menunggu terlalu lama,” tukasnya.

__ADS_1


Eun Ji Hae kemudian mengambil tempat duduk tepat di samping


Hwang Ji Na. Sementara Chanwo berada di posisi paling ujung.


“Ada hal apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?” tanya Eun


Ji Hae.


Ia tak bisa membendung antusiasnya untuk tahu lebih banyak. Pasalnya,


selama ini Hwang Ji Na tidak pernah menjelaskan apa pun kepadanya. Beruntung Eun


Ji Hae berhasil menahan rasa penasarannya sampai detik ini tiba.


“Tidak banyak. Aku hanya ingin menjelaskan alasanku kenapa


bisa sampai ke sini dan kenapa kita bisa bertemu di hutan itu tadi,” ujar Hwang


Ji Na.


“Sepertinya kami juga akan berpamitan,” timpal Chanwo secara


tiba-tiba.


Eun Ji Hae memutar bola matanya malas. Dia sama sekali tak


berniat untuk menggubris perkataan pria itu barusan. Eun Ji Hae bahkan tidak


berharap agar Chanwo berada di sini. Entah hal apa yang membawanya keluar dari


dalam hutan itu. Padahal semua orang thau jika klan vampir tidak bisa terkena


cahaya matahari, atau mereka akan terbunuh karena hal itu. Terdengar tidak


masuk akal, tapi semua itu benar adanya.


Tak ingin ambil pusing soal pria itu, Eun Ji Hae segera


mengalihkan pandangannya. Ia kembali fokus pada topik pembahasan mereka yang


sebelumnya. Lagi pula Eun Ji Hae sama sekali tidak memiliki urusan dengan pria


itu. Jika bukan karena Hwang Ji Na, ia tak akan datang ke sini.


“Ayo, mulai!” desak Eun Ji Hae yang tak sabar untuk


mendengar penjelasan dari gadis itu.


Hwang Ji Na tidak langsung menjawab. Ia menghela napas


terlebih dahulu sebelum mulai berbicara. Entah apa artinya.


“jadi, sebenarnya aku baru saja sampai satu malam sebelum


kalian berangkat meninggalkan akademi,” ungkap Hwang Ji Na di awal.


“Lalu?” pancing Eun Ji Hae. Terlihat jelas jika gadis itu


ingin tahu lebih banyak.


“Maksudku, kenapa kau datang ke akademi sihir kami? Apa ada


sesuatu yang penting?” timpalnya.


Ia bahkan tidak memberikan kesempatan bagi Hwang Ji Na untuk

__ADS_1


menjelaskan segalanya pada beberapa detik di awal. Tapi, itu bukan masalah sama


sekali bagi mereka berdua. Hwang Ji Na bisa memahami situasinya saat ini.


__ADS_2