
Jin Hae In langsung berpamitan pergi setelah mengantarkan
mereka semua sampai ke depan gedung asrama. Katanya ada urusan lain. Entah kenapa
gadis itu tampak begitu sibuk, padahal ia bukan siapa-siapa. Posisinya ternyata
tidak sepenting itu. Jin Hae In hanya pesuruh di tempat ini. Tapi, entah kenapa
ia selalu berlagak paling hebat.
Eun Ji Hae masih tak habis pikir dengan fasilitas yang
mereka berikan. Sama sekali tidak layak, apalagi mengingat jumlah mereka yang
cukup besar. Tidak bisakah pihak Reodal berpikir lebih realistis lagi.
Eun Ji Hae dan yang lainnya sama sekali belum bergerak dari
tempat mereka berdiri saat ini. Semua orang mematung di tempat. Lebih tepatnya,
mereka tidak akan berani pergi kemana-mana sebelum Eun Ji Hae memberikan
perintah.
Belum ada satu hari di tempat ini saja sudah membuat Eun Ji
Hae tidak betah. Ada banyak hal yang ia sayangkan. Terutama soal sopan santun
dan tata krama mereka. Berada di tempat yang sama dengan mereka sama saja
dengan menguji kesabaran. Sepertinya, lain kali Eun Ji Hae harus meningkatkan
rasa sabarnya sampai ke level tertinggi kalau bisa.
Eun Ji Hae segera menyingkirkan semua itu dari pikirannya. Sudah
tidak ada lagi ruang yang tersedia di dalam otaknya untuk menampung hal tidak
berguna seperti itu. Tidak ada jalan lain. Mau tak mau mereka harus tinggal di
dalam sana, atau tidur di luar pada saat musim dingin seperti ini. Pilihannya hanya
ada dua. Dan keduanya sama-sama bukan pilihan yang baik.
“Perhatian semuanya!” sahut Eun Ji Hae dari depan.
“Lantai satu dan dua adalah asrama pria, sisanya kalian para
gadis naiklah ke lantai atas dan isi lantai tiga dengan lantai empat,” jelas
gadis itu dengan panjang lebar.
“Kalian masuklah lebih dulu, aku masih ada urusan,” timpalnya.
“Kalau ada sesuatu panggil saja. Aku ada di taman depan,”
final Eun Ji Hae sebelum beranjak pergi dari tempat itu.
Begitu ia berbalik, seluruh siswa langsung membelah barisan
dengan sengaja. Mereka menyisakan ruang bagi Eun Ji Hae untuk melangkah. Karena
lorongnya terlalu padat, sehingga tidak ada jalan keluar lagi selain berputar
balik. Tidak lupa, mereka juga sedikit menunduk untuk memberikan hormat. Bahkan,
__ADS_1
Nhea juga melakukan hal tersebut biar pun ia termasuk anggota keluarga. Mereka selalu
menjaga rasa sopan santun dan etika dimana pun berada. Hal itu pula yang
membuat Mooneta berbeda dengan akademi sihir lainnya. Salah satunya adalah soal
etika dan soan santun yang tidak diajarkan di akademi lain. Hanya Mooneta yang
melakukan hal tersebut. Mereka tidak hanya fokus kepada sihir saja.
***
Eun Ji Hae hampir lupa jika ia memiliki janji untuk bertemu
dengan orang lain di taman depan. Ia telah membuat kesepakata bersama dengan
orang tersebut sebelumnya. Siapa lagi jika bukan Hwang Ji Na. Dia tidak
memiliki urusan dengan orang-orang dari Reodal. Eun Ji Hae memang sedikit
berbeda dengan anggota keluarga yang lainnya. Berbeda dengan Bibi Ga Eun dan
kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan para petinggi di akademi sihir
Reodal. Eun Ji Hae tidak terlalu suka untuk ikut campur dalam permasalahan
internal seperti itu.
Dari pada mengurusi hal yang tidak jelas arah dan tujuannya,
lebih baik ia menenangkan pikirannya sendiri. Belakangan ini Eun Ji Hae memang
tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Bertemu dengan Hwang Ji Na adalah kegiatan terakhir yang ada
asrama untuk beristirahat bersama dengan yang lainnya.
Seperti dugaannya sebelumnya, Hwang Ji Na sudah sampai di
taman lebih dulu. Tentu saja ia tidak sendiri. Chanwo ada bersamanya. Entah sejak
kapan mereka sudah berada di sini. Semoga tidak terlalu lama. Sejujurnya, Eun
Ji Hae tidak suka jika harus membuat orang lain menunggu lama seperti ini. Karena,
ia sendiri juga tidak mau begitu. Memangnya siapa yang sudi berada di posisi
tersebut.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Eun Ji Hae mempercepat
langkah kakinya agar cepat sampai di sana. Temponya juga turut naik. Ia hampir
berlari. Eun Ji Hae menghampiri mereka berdua yang sudah menunggu di bangku
taman. Padahal, besi penyangga tempat duduknya pasti terasa sangat dingin
karena saat ini suhunya memang termasuk rendah.
“Apa kalian sudah dari tadi di sini?” tanya gadis itu dengan
napas yang sedikit memburu.
“Maaf karena membuat kalian menunggu terlalu lama,” tukasnya.
__ADS_1
Eun Ji Hae kemudian mengambil tempat duduk tepat di samping
Hwang Ji Na. Sementara Chanwo berada di posisi paling ujung.
“Ada hal apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?” tanya Eun
Ji Hae.
Ia tak bisa membendung antusiasnya untuk tahu lebih banyak. Pasalnya,
selama ini Hwang Ji Na tidak pernah menjelaskan apa pun kepadanya. Beruntung Eun
Ji Hae berhasil menahan rasa penasarannya sampai detik ini tiba.
“Tidak banyak. Aku hanya ingin menjelaskan alasanku kenapa
bisa sampai ke sini dan kenapa kita bisa bertemu di hutan itu tadi,” ujar Hwang
Ji Na.
“Sepertinya kami juga akan berpamitan,” timpal Chanwo secara
tiba-tiba.
Eun Ji Hae memutar bola matanya malas. Dia sama sekali tak
berniat untuk menggubris perkataan pria itu barusan. Eun Ji Hae bahkan tidak
berharap agar Chanwo berada di sini. Entah hal apa yang membawanya keluar dari
dalam hutan itu. Padahal semua orang thau jika klan vampir tidak bisa terkena
cahaya matahari, atau mereka akan terbunuh karena hal itu. Terdengar tidak
masuk akal, tapi semua itu benar adanya.
Tak ingin ambil pusing soal pria itu, Eun Ji Hae segera
mengalihkan pandangannya. Ia kembali fokus pada topik pembahasan mereka yang
sebelumnya. Lagi pula Eun Ji Hae sama sekali tidak memiliki urusan dengan pria
itu. Jika bukan karena Hwang Ji Na, ia tak akan datang ke sini.
“Ayo, mulai!” desak Eun Ji Hae yang tak sabar untuk
mendengar penjelasan dari gadis itu.
Hwang Ji Na tidak langsung menjawab. Ia menghela napas
terlebih dahulu sebelum mulai berbicara. Entah apa artinya.
“jadi, sebenarnya aku baru saja sampai satu malam sebelum
kalian berangkat meninggalkan akademi,” ungkap Hwang Ji Na di awal.
“Lalu?” pancing Eun Ji Hae. Terlihat jelas jika gadis itu
ingin tahu lebih banyak.
“Maksudku, kenapa kau datang ke akademi sihir kami? Apa ada
sesuatu yang penting?” timpalnya.
Ia bahkan tidak memberikan kesempatan bagi Hwang Ji Na untuk
__ADS_1
menjelaskan segalanya pada beberapa detik di awal. Tapi, itu bukan masalah sama
sekali bagi mereka berdua. Hwang Ji Na bisa memahami situasinya saat ini.